
23 September 2008
Amerika Serikat Negara super power, Negara mana yang tidak diatur-atur olehnya?. Negara yang kaya dan makmur, sehingga banyak orang pintar dari suku bangsa manapun yang mencoba menetap di Amerika, karena Negara ini menjanjikan kehidupan yang lebih baik, mapan dan mampu memberikan tunjangan yang sangat baik.
Dalam memainkan perannya didunia ini, Amerika mau tidak mau harus terjun dan terlibat langsung dalam beberapa konflik, dimana dalam operasi militernya banyak mengorbankan anak bangsanya. Perang Vietnam adalah sejarah kelamnya yang sangat parah, perang selama 20 tahun yang digelutinya mengakibatkan tewasnya 58.208 prajurit, sementara yang luka-luka 153.303 orang. Perang Vietnam diakhirinya dengan pahit, berupa kekalahan politis dan militer. Afghanistan, adalah bagian dari perangnya terhadap musuh utamanya Al Qaeda. Irak adalah medan tempurnya yang telah menelan korban jiwa pasukannya diatas angka 4000 personil. Belum lagi bagian perangnya dibeberapa front Eropa dan Afrika. Kawasan Timur Tengah bukan daerah aman bagi WN Amerika. Kedubes AS di Yaman baru-baru ini diserang teroris, dibom.
Semua yang dilakukan Amerika adalah demi kepentingan nasionalnya, resiko sebagai sebuah negara dengan politik globalnya yang berambisi memainkan peran sebagai polisi dunia. Sebagai negara super power dia harus bermain dibanyak negara, demi kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan. AS sangat tergantung dengan suplai minyak dari kawasan Timur Tengah, tempat dimana banyak sel-sel musuh utamanya Al Qaeda beroperasi.
Kini, Amerika akan memasuki babak baru dalam pemilihan Presidennya, muncul tokoh muda Barack Obama dari Partai Demokrat dan tokoh tua John McCain dari Partai Republik. Obama yang baru berumur 47 tahun mewakili kaum muda dan warga kulit berwarna, terkenal di Indonesia karena pernah tinggal di Jakarta sewaktu kecil. Sementara McCain yang berumur 72 Tahun berkulit putih, mewakili politisi tua.
Obama, memilih Joseph Biden (65 th) sebagai calon wakil presidennya. Biden Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat, puluhan tahun berpengalaman dalam keamanan nasional untuk tiket demokrat, menjadi anggota kongres sejak tahun 1972. Obama berkampanye akan menarik pasukan dari Irak dalam 16 bulan dan hanya memfokuskan perangnya di Afghanistan, tempat Al Qaeda musuh utamanya berada. AS akan melepaskan ketergantungan minyak dari Timur Tengah dalam 10 tahun, menciptakan lima juta lowongan pekerjaan dalam 10 tahun dibidang energi, dan yang terpenting memulihkan harga diri bangsa AS.
Obama justru tidak mengambil Hillary Clinton tetapi mengambil Joseph Biden sebagai capresnya. Pilihan tersebut sangat realistis, mengingat kariernya sebagai senator yang mewakili Negara bagian Illinois yang baru sekitar empat tahun belum cukup lama. Selain itu pasti ada beban psikologis antara Obama dan Hillary. Oleh karena itu akhirnya diputuskan mengambil Joseph Biden sebagai cawapres. Joseph Biden dikenal sebagai tokoh Partai Demokrat yang sudah banyak makan asam garam baik didunia politik maupun pemerintahan.
Sementara John McCain Senator senior AS dari Negara bagian Arizona dan mewakili Partai Republik memutuskan mengambil Sarah Palin (44) sebagai cawapres, karena meyakini secara head to head capres Republik John McCain merasa kemungkinan akan kalah dengan Obama yang name awareness-nya jauh diatasnya. Oleh karena itu dibutuhkan nilai lebih dari pasangannya. Maka kartu cawapres dimainkan sebagai vote getter yang diharapkan dan diperhitungkan akan mengimbangi popularitas Obama.
McCain yang mencoba menarik simpati dengan akan meneruskan kehebatan AS dalam politik luar negerinya, diperkirakan akan semakin turun popularitasnya. McCain dinilai banyak orang sebagai kepanjangan tangan dari rezim Presiden Bush yang menerapkan politik menekan siapapun baik diluar maupun didalam negerinya. Memang sesaat setelah ditetapkannya Sarah Palin sebagai cawapres, popularitasnya mampu mengungguli Obama. Hingga beberapa minggu berselang posisi kedua kandidat terlihat sama kuat. Tetapi kini hasil jajak pendapat melalui telpon CNN dan Opinion Research Corp, Obama mendapat dukungan 51% dan McCain 38%. Sementara jajak pendapat CBS News menyebutkan Obama meraih dukungan 39% dan McCain hanya 25% koresponden.
Jadi bagaimana kira-kira hasil pemilu tersebut?. Konstituen Amerika yang pintar dan realistis diperkirakan akan lebih cenderung memilih Obama, yang dipandang lebih realistis baik penerapan politik luar negerinya maupun peningkatan kesejahteraan didalam negeri. Salah satu program kuncinya adalah janjinya yang akan memperbaiki perekonomian dan memulihkan harga diri bangsa AS. Rakyat Amerika mulai menyadari bahwa masalah perekonomian didalam negerinya mulai menunjukkan penurunan dan berpotensi akan mempersulit mereka dimasa mendatang.
Kemerosotan perekonomian yang dirasakan masyarakat AS diantaranya krisis Subprime Mortgage Loan, yang mengimbas merugikan Investment Bank. Bank Sentral dan Private Equity Fund tercatat paling besar terimbas krisis tersebut. Kebangkrutan menimpa Lembaga Keuangan AS Nerrill Lynch dan Lehman Brother, yang selain memukul lembaga keuangan AS juga Lembaga-lembaga keuangan lain di dunia. Dalam situasi yang tidak baik tersebut, yang mengherankan Capres Republik John McCain dalam menanggapi krisis mengeluarkan pernyataan bahwa pondasi keuangan AS tetap kuat dan tidak akan membiarkan hal itu terulang.
Pada kasus ini kubu Partai Republik jelas terpukul, Otoritas keuangan AS justru tidak mau membantu krisis Lehman. Gubernur Bank Sentral AS (The FED) dan Menteri Keuangan AS menegaskan tidak akan memberi pinjaman kepada Lehman. Signal lampu bahaya juga telah dikeluarkan Presiden George Bush yang mengatakan bahwa perekonomian AS dalam bahaya dan Amerika membutuhkan anggaran USD 700 milyar untuk penyelamatan perekonomiannya. Hal ini jelas menurunkan kredibilitas McCain sebagai sesama anggota Partai Republik.
Mendatang, kelihatannya masyarakat AS akan lebih realistis dalam memainkan peran negaranya didunia internasional. Mereka memang tetap bangga sebagai warga negara AS, bangga AS sebagai negara yang besar dan hebat, juga bangga dengan pemimpinnya. Tetapi mendatang mereka tidak membutuhkan pemimpin yang arogan, terlalu bangga menepuk dada didunia internasional. Berperang disana sini, mengorbankan warganya dalam perang yang kurang jelas, sementara didalam negerinya mengalami kesulitan masalah perekonomian yang akan mencekik leher mereka sendiri.
Jadi, itulah suatu strategi dan cara berfikir dalam rangka memenangkan pilpres di Amerika Serikat. Memang AS adalah negara yang masyarakatnya sudah jauh lebih maju dibandingkan Indonesia, perebutan pengaruh selain ditujukan terhadap konstituen partainya masing-masing juga diarahkan kepada pemilih independen yang dinegara kita umumnya disebut sebagai masa mengambang. Walau pilpres di AS kelas konstituennya dinilai lebih memahami masalah politik dan kenegaraan dibandingkan kita, ada baiknya juga kalau pilpres ini dijadikan sebagai studi kasus yang mungkin bermanfaat bagi pilpres kita pada 2009. Walau masyarakat kita banyak yang kurang mengerti masalah politik, tetapi penentuan cawapres untuk mendampingi seorang capres pada pilpres 2009 akan sangat berpengaruh.
Bagi Capres-capres pria yang senior, mungkin akan lebih berhasil meningkatkan perolehan suaranya apabila mengambil cawapresnya dari kalangan muda atau perempuan, yang penting kredibel, aseptabel, berpredikat bersih dan jujur melekat pada sang cawapres. Syarat jujur dan bersih akan menjadi kriteria esensial sebagai efek psikologis dari semangat pemberantasan korupsi. Keberhasilan Rustriningsih sebagai cawagub pada pilkada Jawa Tengah dan kehebatan Khofifah sebagai cagub Pilkada Jawa Timur kiranya patut menjadi bahan pertimbangan tersendiri bagi para elit partai. Khusus untuk Megawati sebagai capres wanita, sebaiknya mengambil cawapres pria dengan syarat seperti tersebut diatas.



















