Kamis, 25 Desember 2008

SBY People Of The Year Politik 2008

Oleh Prayitno Ramelan - 23 Desember 2008 - Dibaca 1023 Kali -

Hari Senin kemarin (22/12) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor kepresidenan menerima penghargaan People of The Year (POTY) yang diserahkan oleh Pemimpin Umum Harian SINDO Hary Tanoesoedibjo. SBY menerima penghargaan POTY bidang politik tahun 2008 yang diberikan oleh harian Seputar Indonesia (Koran SINDO). Selain penghargaan bidang politik, juga penghargaan diberikan dibidang bidang ekonomi yang diraih Sri Mulyani Indrawati, kategori bidang hukum oleh Suciwati, dan kategori budaya diraih Deddy Mizwar.

Untuk mengukur penilaian publik siapa tokoh yang paling berperan dalam empat kategori tersebut SINDO menggunakan survei di sembilan kota besar di Indonesia,yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Medan, Pelembang, dan Denpasar dengan jumlah responden sebanyak 1.620 orang. Bertindak sebagai juri POTY adalah Hikmahanto Juwana,Taufiequrrahman Ruki, Taufik Abdullah, Ikrar Nusa Bhakti, Bambang PS Brodjonegoro,Winny E Hassan,dan Arswendo Atmowiloto.

Dalam sambutannya Pemimpin Umum Koran SINDO Hary Tanoesoedibjo mengatakan, tujuan diselenggarakannya POTY adalah untuk menggali apresiasi masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang dinilai telah memainkan peranan penting sepanjang tahun 2008 di empat bidang, yaitu politik, ekonomi, hukum dan budaya. Hary mengatakan, issue of the year yang paling populer adalah pemberantasan korupsi. Sementara isu lainnya adalah kenaikan harga minyak dunia, musibah lumpur Lapindo, krisis finansial global, anggaran pendidikan, anjloknya pasar saham anjlok, bencana alam, dan bantuan langsung tunai (BLT).

Ketua Tim Juri POTY,Hikmahanto Juwana, mengatakan survei yang dilakukan selama sebulan lebih dari 20 Oktober–28 November 2008 itu menghasilkan lima tokoh besar dalam kategori politik. Kelima orang tokoh itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (59,75%),Sri Sultan Hamengku Buwono X (16,48%),Megawati Soekarnoputri (6,17%), Jusuf Kalla (3,76%) dan Abdurrahman Wahid (3,58%).

Pemimpin Redaksi Koran SINDO Sururi Alfaruq mengatakan, untuk penerima penghargaan lain,yaitu Sri Mulyani Indrawati,Suciwati Munir,dan Deddy Mizwar,akan disampaikan dalam waktu dekat ke kediaman masing-masing. POTY merupakan acara rutin yang digelar SINDO setiap tahun, dimulai tahun 2005, dan terus berlanjut hingga kini.

Pada saat menjelang perhelatan akbar pemilu dan pilpres 2009, setiap langkah yang mempopulerkan seseorang tokoh bisa dikatakan agak berbau upaya pencitraan. Pada survei LSI yang terakhir, PDI Perjuangan setelah berusaha menaikan citra melalui iklan sembako maka citranya naik pesat, demikian juga citra Megawati ikut terangkat dan popularitasnya hanya dibawah SBY sekitar 2%.

Kini, dengan diterimanya penghargaan POTY 2008 tadi, akankah ini ikut mengangkat popularitas SBY? Jelas popularitas SBY akan terangkat, karena pemberi penghargaan memiliki jaringan media massa yang cukup kuat. Ada suatu pesan yang diterima masyarakat bahwa orang yang paling berperan dibidang politik pada 2008 adalah SBY, disusul Sri Sultan dan pada posisi ketiga baru Megawati. Mega sebagai kompetitor kuat SBY saat ini dari hasil survei tersebut posisinya jauh berada dibawah SBY hingga minus 53,58%.

Mengingat demikian besarnya peran mass media baik dalam membentuk sebuah opini ataupun pembentukan citra baik dalam dalam pemilu maupun pilpres, maka ada pembacaan tertentu dari setiap gerak sebuah jaringan media massa. Dari kubu-kubu parpol akan membaca peta politik, ini yang harus diwaspadai sebuah jaringan, karena akan menyangkut kelangsungan dimasa depannya. Kita ikuti saja persaingan pencitraan ini, yang dikenal dengan istilah “Silent Revolution”.

PRAYITNO RAMELAN,Guest Blogger Kompasiana.

SBY People Of The Year Politik 2008

Oleh Prayitno Ramelan - 23 Desember 2008 - Dibaca 1045 Kali -

Hari Senin kemarin (22/12) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor kepresidenan menerima penghargaan People of The Year (POTY) yang diserahkan oleh Pemimpin Umum Harian SINDO Hary Tanoesoedibjo. SBY menerima penghargaan POTY bidang politik tahun 2008 yang diberikan oleh harian Seputar Indonesia (Koran SINDO). Selain penghargaan bidang politik, juga penghargaan diberikan dibidang bidang ekonomi yang diraih Sri Mulyani Indrawati, kategori bidang hukum oleh Suciwati, dan kategori budaya diraih Deddy Mizwar.
Untuk mengukur penilaian publik siapa tokoh yang paling berperan dalam empat kategori tersebut SINDO menggunakan survei di sembilan kota besar di Indonesia,yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Medan, Pelembang, dan Denpasar dengan jumlah responden sebanyak 1.620 orang. Bertindak sebagai juri POTY adalah Hikmahanto Juwana,Taufiequrrahman Ruki, Taufik Abdullah, Ikrar Nusa Bhakti, Bambang PS Brodjonegoro,Winny E Hassan,dan Arswendo Atmowiloto.

Dalam sambutannya Pemimpin Umum Koran SINDO Hary Tanoesoedibjo mengatakan, tujuan diselenggarakannya POTY adalah untuk menggali apresiasi masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang dinilai telah memainkan peranan penting sepanjang tahun 2008 di empat bidang, yaitu politik, ekonomi, hukum dan budaya. Hary mengatakan, issue of the year yang paling populer adalah pemberantasan korupsi. Sementara isu lainnya adalah kenaikan harga minyak dunia, musibah lumpur Lapindo, krisis finansial global, anggaran pendidikan, anjloknya pasar saham anjlok, bencana alam, dan bantuan langsung tunai (BLT).

Ketua Tim Juri POTY,Hikmahanto Juwana, mengatakan survei yang dilakukan selama sebulan lebih dari 20 Oktober–28 November 2008 itu menghasilkan lima tokoh besar dalam kategori politik. Kelima orang tokoh itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (59,75%),Sri Sultan Hamengku Buwono X (16,48%),Megawati Soekarnoputri (6,17%), Jusuf Kalla (3,76%) dan Abdurrahman Wahid (3,58%).

Pemimpin Redaksi Koran SINDO Sururi Alfaruq mengatakan, untuk penerima penghargaan lain,yaitu Sri Mulyani Indrawati,Suciwati Munir,dan Deddy Mizwar,akan disampaikan dalam waktu dekat ke kediaman masing-masing. POTY merupakan acara rutin yang digelar SINDO setiap tahun, dimulai tahun 2005, dan terus berlanjut hingga kini.
Pada saat menjelang perhelatan akbar pemilu dan pilpres 2009, setiap langkah yang mempopulerkan seseorang tokoh bisa dikatakan agak berbau upaya pencitraan. Pada survei LSI yang terakhir, PDI Perjuangan setelah berusaha menaikan citra melalui iklan sembako maka citranya naik pesat, demikian juga citra Megawati ikut terangkat dan popularitasnya hanya dibawah SBY sekitar 2%.

Kini, dengan diterimanya penghargaan POTY 2008 tadi, akankah ini ikut mengangkat popularitas SBY? Jelas popularitas SBY akan terangkat, karena pemberi penghargaan memiliki jaringan media massa yang cukup kuat. Ada suatu pesan yang diterima masyarakat bahwa orang yang paling berperan dibidang politik pada 2008 adalah SBY, disusul Sri Sultan dan pada posisi ketiga baru Megawati. Mega sebagai kompetitor kuat SBY saat ini dari hasil survei tersebut posisinya jauh berada dibawah SBY hingga minus 53,58%.

Mengingat demikian besarnya peran mass media baik dalam membentuk sebuah opini ataupun pembentukan citra baik dalam dalam pemilu maupun pilpres, maka ada pembacaan tertentu dari setiap gerak sebuah jaringan media massa. Dari kubu-kubu parpol akan membaca peta politik, ini yang harus diwaspadai sebuah jaringan, karena akan menyangkut kelangsungan dimasa depannya. Kita ikuti saja persaingan pencitraan ini, yang dikenal dengan istilah “Silent Revolution”.

PRAYITNO RAMELAN,Guest Blogger Kompasiana.

Share on Facebook

27 tanggapan untuk “SBY People Of The Year Politik 2008”

nuni,
— 23 Desember 2008 jam 9:05 am
Selamat pagi pak Pray,wah pagi ini saya behasil menjadi pembaca pertama tulisan Bapak……semoga selalu sehat sehingga menjadi semakin produktif untuk memberikan pencerahan di kompasiana pak. Amin.
syaifuddin sayuti,
— 23 Desember 2008 jam 9:40 am
kalo pak beye jadi people of the year, saya nobatkan pak pray jadi blogger of the year di kompasiana. hehehe…gimana pak pray?
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 10:01 am
@Mbak Nuni…selamat paggi juga, bagaimana dgn IPB nya, kapan selesai program doktoralnya nij? Wah masih berat ya jalannya, semoga sukses deh. Terima kasih ya atas komentarnya, sangat saya hargai…btw buat Face Book juga?Saya baru buka, karena semua anak, mantu, kerabat pada buka disana, dan saya juga memposting artikel saya setelah agak lama muncul di Kompasiana. Disana ketemu Mas Pepih, Yulyanto, Yunanto, Novrita. Ok deh, semoga sehat2.Salam hangat.Pray
@ Mas Syaifuddin Sayuti…wah wartawan yg satu ini ada-ada saja…jangan ah nanti beken terus gak enak. Ada `cerita, Kan saya pernah jadi nara sumber di Metro TV saat kasus teror DR Azahari, eh baru dua kali tayang, terus tidak bebas, di PI Mall itu para yg jaga toko nanya2, wah tidak ada privacy. Ok Mas Syaifuddin, yg pake gelar2 gitu mereka yg perlu2 saja kali, yg Top…awak ini apalah, yah cukup nulis, terus pada nanggepin, kita diskusi di Kompasiana, kan jadi baik berteman, bersahabat…penanggapnya hebat2 tuh, banyak kasih masukan, jadi kan melengkapi semua kekurangan tulisan itu sendiri. Tengkyu ya Mas…Salam Hangat nij.Pray
Novri,
— 23 Desember 2008 jam 11:01 am
Sebelumnya terima kasih ya pak Pray.. saya sudah bisa diterima sowan di Facebook bapak.
Kalau awards semacam itu yang penilaiannya secara jujur.. tentu akan semakin mengangkat citra/image sang penerima awards. Bagi sang tokoh pun hal demikian merupakan apresiasi atas apa yang sudah dia capai selama ini. Bagi masyarakat luas, bisa sebagai bahan pertimbangan seperti apa tokoh-tokoh tersebut, sehingga jika nantinya sang tokoh akan mengikuti suatu pemilihan tertentu, akan mudah bagi masyarakat untuk memberikan suaranya.Jadi ya… bermanfaat sekali buat saya (dan masyarakat luas pastinya) dengan adanya pemberian penghargaan semacam ini…
Tapi… itu jika penilaian yang diberikan jujur dan seimbang. Dan insya Allah kalau SBY sebagai people of the year politic 2008, itu pantas bagi beliau..
Jangan sampai ada awards yang diadakan atas pesanan pihak tertentu untuk mendongkrak citra dirinya. (Maaf, dalam hal ini saya tidak menyudutkan pihak tertentu, karena memang saya tidak tahu dan tidak ada data bahwa ada pihak yang memesan untuk bisa mendapatkan suatu penghargaan).
Semoga pak BeYe bisa menjaga amanah ini..Bukankah pemberian penghargaan semacam ini adalah merupakan suatu amanah juga..?
Harasono Inos,
— 23 Desember 2008 jam 11:19 am
Semoga pak beye mampu membuktikan bhw penghargaan tidak sia sia belaka. Kalo sehabis menerima penghargaan, pak beye meningkatkan popularitasnya, yah…harus diterima semua pihak. memang pak beye tidak ada duanya…..(saat ini). Salam
Ahmad S,
— 23 Desember 2008 jam 11:31 am
AllSBY terima POTY, menurut saya kurang pantas karena dia pejabat publik yang seharusnya memang ada dalam posisi itu, Yang memberi dan yang deberi pasti ada konspirasi untung dan rugi. Perjuang SBY bila dibandingkan dengan Obama kayaknya belum setimpal dilihat dari dimensi apapun. Saya lebih setuju kalau POTY diberikan kepada Antasari Azhar…(Ketua KPK)Perjuangan dan karya nyatanya bisa dilihat semua orang. Masalahnya kalau POTY diberikan kepada Antasari Azhar..yang memberikan POTY pasti tidak akan mendapat apa-apa.
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 12:08 pm
@Novri, terima kasih juga, maka semakin lengkaplah kita mengetahui mereka2 yang berada di komuniti Kompasiana, juga tulisannya di blog Media Indonesia itu bagus, coba dikirimkan ke Admin Kompasiana, Biar dibaca warga disini….ups maaf kebiasaan sbg pak RT dilingkungan jadi pakai ioastilah warga. Bagus tanggapannya Novri, pemberian penghargaan harus jujur tanpa ada maksud2 tertentu. Juga berpendapat pak SBY pantas menerima hal tersebut, dan pemberian penghargaan adalah amanah, jadi harus dijaga amanahnya, begitu Novri ya…Salam.Pray,
@Mas Harasono, pendukung pak SBY yang santun, semangat. Benar harus dijaga penerimaan penghargaan tersebut…menurut saya akan jelas akan membantu meningkatkan popularitasnya, yang heran kok sama Bu Mega jauh sekali hasil surveinya ya?.Salam Mas Har>Pray.
@Mas Ahmad, berpendapat award lebih pantas diberikan kepada Antasari Azhar yg Ketua KPK, tapi yg diterima SBY itu kategori politik Mas, tapi ya tidak apa2 pendapatnya sbg pendukung anti korupsi di negara kita. Terima kasih ya>Pray.
Novrita,
— 23 Desember 2008 jam 12:36 pm
Nuwun sewu pak Pray…apa yang dimaksud Novri itu adalah orang lain?… Sebetulnya yang tulis comment di atas (Novri) itu saya : Novrita.. Cuma tadi kurang nulisnya.. kebetulan beberapa teman memanggil saya dengan Novri. Jadi lupa kalau di sini harus pakai ‘ta’ biar gak dikira ‘mas’ .. he he..
Abuga,
— 23 Desember 2008 jam 12:36 pm
Penghargaan semacam ini sudah sangat lazim dan masyarakat menganggapnya biasa saja. Akan lebih terasa kalau dengan kerja keras, tegas dan tanpa pamrih. Meski Pak SBY yang terbaik untuk saat ini tetapi harus lebih tegas untuk mendisiplinkan aparat pemerintahan. Saya merindukan President yang menghukum mati koruptor dalam jumlah tertentu, memecat PNS/aparatyang suka mbolos, menghukum dengan tegas para penegak hukum yang menyelewengkan (contoh: hukum mati polisi pengedar narkoba, jaksa/hakim suap2an, guru perkosa murid), dilain pihak menyantuni janda dan anak yatim (menyekolahkan sampai PT dan jaminan kerja) dari aparat yang gugur dalam bertugas membela bangsa dan negara, tumpas habis premanisme baik di terminal maupun senayan. Dalam tataran tertentu disiplin kemiliteran bisa diadopsi untuk pembelajaran disiplin hidup berbangsa dan bernegara. Satu lagi BTL itu loh dasarnya apa? Bukankah lebih baik berupa padat karya? Taruhlah masyarakat penerima BTL yang masih sanggup bekerja disuruh bersih- bersih lingkungan (sungai, jalan, pasar tradisional) baru dibayar yang sedikit lebih dari pemerintah lebih terasa manfaatnya. Program bisa lebih populer di mata masyarakat. Saya sendiri tidak tahu apa yang dipikirkan Pak SBY hari - hari ini (tentu buanyak). Wong saya wong cilik saja bisa mikir seperti itu harusnya beliau lebih arif lagi.
Ada lagi nasionalismenya kalah sama JK. Berbagai kesempatan JK lebih merakyat dan nasionalisme. Meski lebih kaya bajunya lebih sederhana.
Ada tips untuk Pak SBY supaya lebih merakyat. 1. sering pakai batik dan kaos oblong, 2. ikut lari pagi di senayan, main bola di kampung. 3. Naik kereta ekonomi (Kertajaya) dari Surabaya ke Jakarta. Nah disitu kan bisa interaksi sama wong cilik, asongan, pengamen, pengemis dll.
Buruan nanti diserobot kuda hitam Prabowo……..
Wallahu alam
Maaf Pak Pray…….. aku baru terbangun he.. he…………dari yang rindu tulisanmu
Gabus,
— 23 Desember 2008 jam 1:14 pm
Saya rasa SBY cocok utk menerima penghargaan Potty.terutama peran SBY dalam memberantas korupsi melalui KPKnya. pak..ngomong2 kalo saya lihat foto bapak, Bapak mirip Pak Abubakar Nataprawira he..he…
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 1:57 pm
@Novritra, lho yg saya maksud ya Novrita kan, saya baca Blognya Novrita yg di log Media Indonesia itu, tentang kesuakaannya membaca Kompasiana, bener?Engak kok Novri, saya selalu merekam setiap yang saya kenal…walaupun virtual friend. Terima kasih ya.Pray
@Hei Mas Abu, kok manggilnya begitu…artinya kan Mas Bapak…Ok saya panggil Abu saja, wah baru bangun jam 12.36, berarti di Doha jam 6.36 pagi ya…Nah kalau merindukan Presiden yg menghukum mati koruptor dalam jumlah tertentu, nanti seperti di Jeddah itu, setiap jumat, ada hukuman putung tangan buat maling, hukuman pancung buat pembunuh dan penjahat, serem sekali Abu. Tapi ngomong2 anda nih jauh di Qatar, tapi rajin ya selain sbg tukang suntik juga masih sempat mengikuti berita perkembangan ditanah air nij,bagus deh, jadi nasionalismenya tidak luntur. Ok, syukur kalau suka tulisan2nya si Mbah satu ini. Salam buat your children and wife also.Salam.Pray
@Mas Gabus, Ok boleh juga berpendapat SBY pantas menerima POTY itu. Eh…maksudnya saya mirip pak Abubakar Nataprawira…iya mungkin ada benernya ya, sama2 laki, dia polisi saya mantan TNI, tapi maaf ya…rasanya saya agak keren dikit (dia banyakan) …tanya deh sama Nuni, Novri,Lintang…biar fair….Maaf neh Pak Abubakar, satu guru satu ilmu, he,he,he. Salam>Pray
Abuga,
— 23 Desember 2008 jam 4:31 pm
Pak Pray,….. nggak tahu ya sekali baca tulisannya langsung cintrong. Sampai - sampai menggeser Gede Prama, Emha dll dari daftar penulis yang kukagumi……. he……. he………
Hebatnya lagi Pak Pray langsung menyapa dan menemukan persembunyianku di negri teluk. Dunia ini kecil kata orang perminyakan tapi lebih kecil lagi bagi para blogger. Adakah hikmah di baliknya? Tentu saja ada yaitu supaya kita lebih berhati2 dalam bersikap. Kita harus bersikap jujur dan santun di manapun dan kepada siapapun karena suatu saat kita bisa ketemu atau ditemukan orang yang pernah ‘bersama’ kita. Maaf njladur……
Kembali ke laptop eh… topik.Saya sering miris dengan jumlah uang yang dikorupsi di tanah air. Kita yang di sini mengumpulkan real demi real dengan perjuangan yang berat. Alhamdulillah dengan bekerja di sektor formal nasib saya lebih baik dari TKW maupun TKI. Demi real mereka sering disiksa dan dianiaya. Sudah puluhan bahkan ratusan TKW lari ke KBRI. TKI banyak yang tertipu hingga kita sering urunan untuk memulangkan mereka ke tanah air. Di bandara tanah air masih banyak dari mereka menjadi sapi peraan. Mungkin di bandara kedatangan lampunya remang2 he. he………Itulah duka buruh migran Pak.
Apakah para koruptor itu sadar bahwa mereka sebenarnya merampok uang orang - orang ini hingga merantau ke negeri orang?
Tindakan hukuman mati koruptor pernah dilakukan di Cina dan berhasil memangkas angka korupsi. Kalau hukuman mati dianggap kejam sekarang gini saja deh. Kalo maling satu ayam 3 bulan kalau korupsi 1 milyar pantasnya berapa tahun? Jawabnya 1 M dibagi harga ayam kali tiga dibagi duabelas. Wuih………… dengan asumsi harga ayam per ekor maka korupsi satu milyar bisa dihukum 12.500 tahun
Kalo SBY berani menindak semua praktik kotor di negeri kita pasti efeknya akan lebih dasyat daripada penghargaan POTY.
Mohon maaf bial tidak berkenan
anto,
— 23 Desember 2008 jam 5:47 pm
Selamat sore Pak Prayitno. Senang sekali bisa menemukan tulisan-tulisan bapak yang isinya sangat mencerahkan. Terus terang Pak, kalau kita membaca atau mendengar pendapat para ahli politik apalagi yang tergabung dalam satu partai isinya kok cuma menjelek-jelekkan pihak lain saja ya. Padahal dalam kondisi menjelang pemilu seperti ini harusnya kita mendapatkan pendidikan politik dari para ahli tersebut, tidak untuk menjadi ahli baru, tapi paling tidak kita bisa mendapatkan pendapat yang jujur dan fair (yang baik disampaikan, yang buruk juga diungkapkan), yah paling tidak buat modal “nyoblos”lah.Mengenai tulisan ini, saya rasa SBY pantas mendapatkan award tersebut. Saya tidak bisa menyampaikan alasan berdasar data (karena memang bukan ahlinya), tapi bisa saya rasakan sejak SBY jadi presiden memang ada perubahan. Terutama dari pemberantasan korupsi (pencegahan dan pengungkapannya) dan peningkatan pelayanan ke masyarakat. Yah mungkin tidak bisa sekaligus kita rasakan tapi paling tidak sudah ada langkah yang nyata daripada cuma janji janji belaka. Perubahan juga butuh proses kan, perubahan sudah terjadi di di bawah SBY dan saya ingin merasakan perubahan apa lagi yang bisa terjadi bila SBY terpilih lagi.
erfanmunif,
— 23 Desember 2008 jam 5:55 pm
sore pak pry, salam kenal
menurut saya peran media memang sangat besar dalam mengangkat dan atau menghancurkan sesuatu, kondisi inilah yang disadari tidak hanya bagi seseorang [capres atau siapapun dia yang menginginkan sesuatu] namun juga bagi pemilik modal pers itu sendiri. dan sepertinya fragmentasi media dengan pilihannya masing-masing sudah mulai kelihatan, kalau membca headline media indonesia hari ini, tayangan kick andy minggu kemarin, dan minggu ini, [yang mana mereka ada dalam satu group] udah kelihatan arah dari media tersebut.
sebenarnya hal ini tidak begitu menjadi masalah, malah bisa menjadi hal yang produktif ketika arah media tersebut dibawa berdasar atas logika akan arah yang lebih baik kepada bangsa bukan karena si pemilik modal pers tersebut ingin menjadi calon wakil presiden
frizzy,
— 23 Desember 2008 jam 7:44 pm
Salam sukses deh, buat para penerima dan pemberi penghargaan. Mumpung yang ngasih dan yang nerima sama2 akur. Pokoke kalo demi INDONESIA aku selalu mendukung.
Tidak lupa salam sukses selalu untuk Eyang Prayitno Ramelan.
Cheers, frizzy2008http://frizzy2008.blogspot.com
Rahardjo,
— 23 Desember 2008 jam 9:36 pm
Menurut saya Pak Beye mendapat penghargaan tersebut ya sah2 saja dan memang sudah sepantasnya, yang saya kagumi justru suciwati termasuk penerima penghargaan tersebut dalam bidang hukum. Demikian juga Sri Mulyani termasuk tokoh yang saya kagumi, saya setuju kalau Sri Mulyani mendampingi Pak Beye sebagai cawapres nanti, seperti jaman Sri Sultan HB IX menjadi Wapres kan khusus membidangi ekonomi demikian juga Sri mulyani nanti Wapres yang mendapat tugas khusus bidang ekonomi. Bukankah begitu Pak Pray ?
prayitno ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 9:45 pm
@Abu, wah bangga sekali saya dibilang begitu, sebenarnya tidak juga, kalau beliau yang anda sebut itu kelas berat, sayapun pengagum mereka. Iya betul, dunia sangat kecil bagi para netter itu, mau lari kemana bisa dicari-cari, yg hebatnya begitu selesai mengetik dan klik, langung yg jauh di Doha, di Ohio, Di Jerman, di NZ semua langsung bisa membaca…memang hebat teknologi ini. Saya sangat setuju, dimanapun kita berada kita harus jujur dan santun kepada orang, karena kalau bohong, lama2 capek, kalau tidak santun…wah bisa dijauhi orang, terlebih di blog begini, apa yg kita ketik dan posting akan dibaca orang, lama2 kan malu sendiri ya Abu. Pengguna internet ini ada sekitar 3 juta, dan jelas bukan kalangan bawah, tapi agak menengah keatas, nah artinya yg ngerti sopann santun, iya kan. Tapi ya begitulah…dibeberapa blog, dijaman kebebasan ini, banyak yang rusuh, jadi tidak nyaman, komentarnya juga rusuh. Maka berbahagialah di Kompasiana ini, ini blog terpelajar…namanya juga blog journalis kan, bukan blog hutan rimba yg bebas cakar2an dan gigit2an. Coba saja kalau berani…kan akan berhadapan dengan para wartawan yg memiliki blog ini. Penggede saja takut, terlebih yg mau rusuh. Jadi mari kita nikmati bersama kebersamaan ini, kita diskusikan dengan enak, berkawan, bersahabat, saling menghargai…Nah lho jadi cerita nij Abu. Balik ke tpoik…tentang yg anda bilang koruptor itu, yang ketangkep sih masih yg cere2, kalau bisa meringkus yg masuk kasus BLBI nah itu baru jago…berapa ratus triliun uang yg dibawa kabur tuh. Lha kalau itungan anda korupsi 1 M dihukum 12.500 Th, kalau korupsi 1 trilyun berarti 12.500.000 tahun…ngeri betul tuh. Presiden SBY kelihatannya sudah komit mau memberantas korupsi…tapi karena korupsi sudah bukan budaya lagi, tapi sudah komoditas, nah jadi sulit, seperti gurita sudah membelit kesana kesini. Mestinya MUI mengeluarkan fatwa “bahwa korupsi itu haram!”, kok disarankan Golput yg haram, artinya Golput lebih parah dibanding korupsi bukan???.Udah dulu ya Abu, salam hangat>Pray
@Mas Anto, terima kasih kalau menyukai tulisan2 saya, kan blogger itu independen, artinya tidak memihak, harus jujur, hanya itu syaratnya kalau mau jadi blogger yg baik, kalau kadang2 terpeleset sedikit ya harap maklum, namanya juga manusia ya. Memang sih, kalau berbicara politik maka yg memegang peranan utama ya tokoh2 politik itu baik di eksekutif maupun di legislatif. Saya kira SINDO sudah menghitung masak2 pemberian penghargaan tersebut. Saya menghargai pendapat anda tentang SBY yg dikatakan pantas mendapatnya dan berhasil membuat perubahan. OK, salam ya Anto>Pray.
@Mas Erfanmunif, terima kasih juga, salam kenal juga. memang media kelihatannya akan sangat berperan baik dalam pemilu maupun pilpres, saya setuju kalau dukungan media kearah yg positif ya, istilahnya demi bangsa dan masyarakat. Tapi bisa saja media digunakan sebagai alat ambisi pemiliknya…tapi akhirnya yg menilai kan juga masyarakat. Jadi sikap, karakter, tingkah laku, tutur kata, nasionalisme, patriotisme…mesti dijaga kalau mau maju kan ya?.Ok, Salam.>Pray.
@Frizzy, terima kasih ya tanggapannya, saya suka dengan kalimatnya “Pokokke kalau demi Indonesia aku selalu mendukung!” ini ucapan seorang patriot lho…terima kasih ya Mas Fahmi, blognya bagus tu…khusus yg tentang toilet. Salam hangat dari si Eyang nij>Pray.
@Mas Rahardjo kemana saja nih, sudah lama tidak muncul…eh saya kok sependapat Mbak Ani (sri mulyani) ini orang pinter, spesialis ekonom, saya kok sependapat juga sama Mas Rahardjo kalau dipadukan sama SBY sbg cawapresnya…bagus tu, sama2 orang pinter. Dan cantas juga ya, pergaulan internasionalnya bagus. Ini mungkin terwujud, kalau Partai Demokrat mampu menjadi parpol papan atas pada pemilu 2009 nanti, karena SBY tidak harus terkunci dengan Golkar. SBY akan firm sekali dengan orang yg sudah dikenal dan membantunya agak lama, Pak Sudi salah satu contohnya. Terima kasih Mas Rahardjo.Salam>Pray.
aridadan,
— 23 Desember 2008 jam 10:16 pm
Salam kenal buat semuanya, oke juga ya popularitas presiden kita, oke juga penghargaan semacam ini apalagi topik2 yang katanya lagi hangat itu juga memang “INDONESIA BANGET”. terus terang awalnya saya skeptis, tapi dengan diberikannya penghargaan pada ibu suciwati ya saya sedikit percayalah pada maksud dari penghargaan ini. Tapi (skeptis lagi) survey yang dilakukan itu penyebarannya kepada siapa saja ya…apakah juga menjangkau teman2 kita yang sedang merenung karena mahalnya BBM sehingga tidak bisa melaut, dan mungkin pusing mencari alasan untuk berhutang ke warung sebelah supaya anaknya bisa makan, atau juga para pedagang asongan yang lebih sibuk “ngumpet” dari kejaran Tramtib daripada menawarkan jualan….anyway, saya suka tulisan pak pray…”BERISI” sekali pak….sebuah pencerahan yang terang buat saya…
terima kasih, salam
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 10:35 pm
@Mas Dadan, terima kasih dengan tanggapannya, langsung salam kenalnya diterima saya dan keluarga besar Kompasiana. Tentang survei itu kelihatannya coba di lakukan jujur, terlihat dari anggota timnya, Ketuanya Profesor, anggotanya ada yg bekas Ketua KPK Taufikurrahman Ruki (He is my friend, sama2 satu angkatan di Akabri dulu, jujurlah, bekas KPK), survei kelihatannya bukan untuk popularitas/elektabilitas, tetapi survei khusus siapa yg berperan utama dibidang poliitik gitu Ari ya…Ngomong2 terima kasih banyak nij kalau suka dengan tulisan saya yg disebut berisi, syukur kalau bisa membuat sebuah pencerahan, karena itulah tujuan kita di blog Kompasiana ini, sharing demi kepentingan bersama. Ok deh, once again thaks.Salam>Pray
mahendra,
— 24 Desember 2008 jam 8:13 pm
jelas sajalah sby dpt peringkat pertama, karena dia kan presiden lagi diatas angin gitu, jadi sangat wajar bila dia yg terpilih. klo presidennya sultan pasti dia jg yg nomer wahid. kira2 begitu pak? salam
prayitno ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 9:16 pm
@Mas Mahendra, begitu ya logikanya…? Boleh juga, sebenarnya yang berperan dibidang politik kan juga ada Ketua DPR, Ketua MPR, tapi menurut hasil survei katanya pada kalah. Begitu kali Mas,Salam juga.Pray
mBang,
— 25 Desember 2008 jam 11:44 pm
Malam pak Pray,Gimana kabarnya pak?,Semoga pak Pray dan seluruh keluarga besarnya selalu mendapat lindungan Allah SWT.amin.
Mo ikutan omdo disini, pak Pray..Untuk penghargaan POTY 2008,bidang Politik, Hukum dan budaya kriterianya apa ya..?Untuk Pak SBY ( bid Politik ), Bu SMI ( bid Ekonomi ) dan Bung DM ( bid Budaya ) menurut saya ya Ok.2 dan pantes2saja, tapi untuk bid Hukum yang dapet Bu SjM , rasanya kok kurang pas ya… karena selama ini sepak terjang beliau dibidang hukum secara general nggak tampak, kecuali memperjuangkan dibukanya kasus meninggalnya mendiang suaminya, dan itupun sampai sekarang kan belum klaar ..( maaf, barangkali hanya saya saja yang kurang baca berita ya pak Pray..?).Pencitraan..?, saya rasa mubadhzir, karna masyarakat kita pada cerdas, kalo hanya main pencitraan dan nggak sesuai.. maka balonpres atau balonleg akan semakin dicibir dan dijahui oleh masyarakat.salam.
Prayitno Ramelan,
— 26 Desember 2008 jam 7:28 am
Mas Kumambang, Maaf nij baru dibalas pagi ini, tadi malam kena ngantuk berat, maklum orang tua, kemarin kan libur, jadi keluar rumah sampai malam, Alhamdulillah kabar baik Mas, terima kasih doanya, semoga demikian juga dengan Mas Mbang ya. Kalau ditanya kriterianya, wah itu tidak dijelaskan secara rinci oleh pihak SINDO, Hary Tanoesoedibjo pimpinan umum koran SINDO hanya mengatakan , issue of the year yang paling populer adalah pemberantasan korupsi. Sementara isu lainnya adalah kenaikan harga minyak dunia, musibah lumpur Lapindo, krisis finansial global, anggaran pendidikan, anjloknya pasar saham anjlok, bencana alam, dan bantuan langsung tunai (BLT).Kelihatannya fokus ke masalah2 itu. Tentang penerima POTY bidang hukum, yang diterima Suciwati istri alm Munir, itu kalau secara umum di pikir memang sepertinya kok fokus hanya ke satu kasus, memperjuangkan kematian suaminya. Tapi dibalik itu masyarakat justru mengapresiasi upayanya membuka kasus kematian suami yang dicintai dinilai masyarakat nilainya tinggi. Kan judulnya tokoh yang memainkan peranan penting dibidang hukum, suka tidak suka itulah pilihan pemilih yg disurvei. Nah disini ada hal penting dan positif yang bisa kita lihat, bahwa peran pendamping (istri/wanita) itu besar, artinya menjelang pilpres nanti jangan lupa memainkan kartu Garwa (”Sigaring Nyawa”) atau istri tercinta, selalu bersama-sama saat tampil, Insyaallah akan disukai masyarakat…dari pada jalan sendiri. Boleh sih kalau tidak setuju dengan masalah pencitraan, tapi elektabilitas seseorang kini sangat berkait dengan upaya menaikkan citranya. Kalau citra seseorang tokoh jatuh, otomatis elektabilitasnya akan ambruk. Begitu ya Mas mBang>Selamat libur panjang>Salam utk keluarga juga>Pray.
R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 27 Desember 2008 jam 7:10 am
..sugeng enjang, Bapak…Menelusur rasa sejuk di ujung sukma ini ikuti perbincangan di ruang Bapak ini. Terasa ringan & adem..meski topik yang diangkat tergolong hangat.Jadi teringat kenangan bersama (Alm.) Ayah..di kala kami berbincang-bincang tentang apa pun.. (juga tentang Politik).. Menenteramkan. Naluri khas gaya tuntun seorang Ayah pada sang puteri bungsu yang senantiasa ingin terpuaskan rasa ingin tahunya.…maturnuwun, nggih..
prayitno ramelan,
— 27 Desember 2008 jam 9:05 pm
Mbak Anastasia, kesuwun ya tanggapannya, syukur kalau apa yang tersirat ini dapat menjadi pengobat suatu rasa ingin tahu panjenengan, sebagai orang tua sudah tugasnya memberi sedikit wuwur, tutur dan sembur kepada sesamanya, dengan harapan kita bisa bergandeng tangan mencerdaskan sebagian masyarakat dalam menggapai cita2nya. Salam bu Dokter>Pray.
Julius Cesar Hassan,
— 17 Januari 2009 jam 11:25 am
Selamat Pagi Pak Pray !!!Saya setuju dengan peran besarnya mass media baik dalam membentuk sebuah opini ataupun pembentukan citra baik dalam dalam pemilu maupun pilpres. Saya masih berpikir Presiden SBY calon terbaik Presiden 2009, tapi dampak NEGATIF untuk Bpk. SBY juga akan terjadi, apabila kita melihat IKLAN Partai Demokrat tentang Penurunan Harga BBM 3X, Memangnya HARGA TURUN karena Partai Demokrat, apakah ini Bukan Perkeliruan alias PEMBODOHAN wawasan Politik Rakyat yang seharusnya di bangun, Idealnya Belajarlah dari Partai GOLKAR alias Wapres Jusuf Kala, yang kader - kader Partainya bermain Cantik, Kan Demokrat dan Golkar satu KUBU jadi enggak apa - apa, belajar dari SOHIB sendiri, semoga Rakyat Indonesia diberi kemudahan oleh ALLAH SWT dalam mendapatkan Presidennya di th.2009. amiiieen . salam Hangat untuk Pak Pray sekeluarga
Prayitno Ramelan,
— 18 Januari 2009 jam 5:54 am
Julius, memang betul kalau mdia massa memegang peran ya sangat besar dalam masa kampanye baik pemilu maupun pilpres 2009. Karena itu parpol harus lebih cerdik dalam beriklan, karena salah sedikit saja akan memberikan efek negatif yang cepat meluas. Iya saya juga berdoa semoga pemilu dan pilpres 2009 berjalan dengan aman,tertib dan lancar ya. Salam>Pray

Selasa, 23 Desember 2008

Sultan Menanggapi Megabuwono


Oleh : Prayitno Ramelan - 21 Desember 2008

Sumber : Kompasiana.com - Dibaca 2179 Kali -

Berita tentang Mega-Buwono yang disampaikan oleh Ketua DPP PDIP Tjahjo Kumolo mendapat tanggapan dari Sri Sultan HB-X. Hari Sabtu kemarin (20/12) Sri Sultan menegaskan deklarasinya pada 28 Oktober 2008 lalu adalah untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini, bukan hanya menjadi wakil presiden. Penegasan disampaikan Sultan dengan berkembangnya wacana bahwa dirinya akan disandingkan dengan capres PDIP Megawati.

Sultan menegaskan ” Deklarasi saya pada 28 Oktober 2008 dulu untuk jadi calon presiden”. Mengenai istilah “Mega-Buwono” Sultan enggan memberikan komentar, “Jangan tanya aku, Nanti saja” kata Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Juga saat ditanya sikapnya apabila Mega yang menjadi calon wakil presiden, “Ya, ora ngerti aku (tidak tahu saya). Jangan tanya sekarang. Itu hasil partai politik”.

Menanggapi masalah tersebut, Ketua Gerakan Indonesia Bersatu, Suko Sudarso mengatakan bahwa Megawati diagendakan bertemu Sultan di Yogyakarta, namun waktunya belum dipastikan, jelasnya. Fungsionaris PDI Perjuangan yang juga putri Megawati, Puan Maharani pun membenarkan tentang rencana pertemuan antara Sultan dengan ibunya.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Pramono Anung mengakui opsi menduetkan Megawati dengan Sultan dalam pemilu 2009 belum merupakan keputusan final. Apalagi Sultan sudah menyatakan diri hendak maju sebagai calon RI-1. Selanjutnya dikatakan Pramono, bahwa antara Megawati dan Sultan sudah saling menjajaki. Oleh karena itu partainya akan terus berkomunikasi dengan Sultan dan Partai Golkar dimana Sultan masih tercatat kader.

Berkembangnya wacana duet antara Megawati-Sri Sultan ditanggapi dingin oleh Sekjen Partai Demokrat Marzuki Ali, yang mengatakan partainya belum menyiapkan skenario khusus menguatnya pasangan tersebut, karena wacana tersebut dinilainya hanya sebuah manuver politik saja.

Dengan demikian terlihat masih ada hambatan terwujudnya duet yang diistilahkan Tjahjo Kumolo sebagai “Megabuwono”, karena Sultan masih mempertahankan posisinya sebagai calon presiden. Wajar memang apabila dipikirkan, karena selama ini seingat penulis belum ada satupun yang secara resmi mencalonkan dirinya sebagai calon wakil presiden. Semuanya mencalonkan sebagai calon presiden, kalau nanti gagal masih ada peluang ada yang melamar menjadi calon wakil presiden. Kalau seseorang mencalonkan sebagai cawapres dan gagal, maka habislah harapannya. Sedangkan para calon wakil presiden pilihan responden dalam beberapa hasil survei yang menguat namanya adalah Sri Sultan, Jusuf Kalla dan Hidayat Nur Wahid.

Nah, kini kita tunggu bagaimana perjalanan dari para capres dan cawapres yang mulai memantas-mantas dan memilih-milih pasangannya, mungkin ada satu yang dilupakan para elit dengan masih berkembangnya keinginan masyarakat yang menghendaki pasangan capres (militer)-wapres(sipil) atau Capres (sipil)-cawapres (militer). PDI Perjuangan sudah mempunyai dua calon mantan militer sebagai capres yang masuk dalam hitungannya, Jenderal (Pur) Wiranto atau Letjen (Pur) Prabowo Subijanto.

Kita tunggu dahulu perkembangan lamaran PDI Perjuangan kepada Sri Sultan, diterima ataukah ditolak, apabila ditolak, maka sudah menanti calon potensial sipil lainnya yaitu Hidayat Nur Wahid, dan berubahlah nama gabungan itu menjadi Mega-Nur Wahid, MNW atau Me-Nu-Wa, atau mengambil cawapres militer, hingga gabungan namanya menjadi Megawir atau Megabowo. Mari kita tunggu ramai-ramai.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana
47 tanggapan untuk “Sultan Menanggapi Megabuwono”

Rukyal Basri,
— 22 Desember 2008 jam 12:24 am

Jadi benarkan hanya fatamorgana pak Pray? Tunggu kejutan selanjutnya, awal tahun baru 1430 H nanti. Sekedar ikut ‘meramal’ nanti Prabowo yang akan cawapres bu Mega. Pak SBY? Terserah pak Pray aja……..he he he…..salam hormat saya,dan kepada seluruh bloggers, selamat natal dan tahun baru 2010 M dan tahun baru 1 muharram 1430 H. Semoga rangkaian kasih dan rahmatan lillalamin merangkai kedamaian bangsa.

prayitno ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 7:03 am

Pak Rukyal yg masih di Ohio, sementara ini memang benar rencana tersebut baru wacana, atau yg bapak sebut “fatamorgana”, semuanya belum ada yg berani memastikan pasangan pasti, yah kita tunggu deh, sepertinya tidak sabar ya ingin segera ke tahun 2009….mau melihat siapa pasangan Megawati itu, Prabowo memang salah satu kandidat kuat…masih deg-degan juga kubunya tuh, kalau terpilih bisa juga jd pasangan ideal dan memperkuat posisi PDIP. Terima kasih ya tanggapannya, salam hangat saya, selamat tahun baru.Pray.


mahendra,
— 22 Desember 2008 jam 8:05 am


semangat pagi pak pray,nggak ada habis2nya ya membahas cawapresnya mega? kalo sultan tidak mau itu wajar2 saja, masa raja mau jadi patih? kan tidak ada kan pak? kalo wiranto, masa dulu jadi capres sekarang cawapres? apa mau beliaunya? pak prabowo? may be yes, may be no? kalau pak JK, mending meneruskan dg SBY aja, udah kadung klop. kalo hidayat dia kan orang jawa? masa’ jawa sama jawa? non jawa iri donk? sama Fadel Muhammad aja kayaknya bagus, karena dia sudah berhasil pimpin gorontalo. dia juga non jawa. siapa tau bisa jadi kuda hitam bersaing dg JK nantinya.cheers.


prayitno ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 8:36 am


Mas Mahendra, Selamat pagi juga, iya tidak ada habis-habisnya membahas cawapresnya Mega, karena pesaingnya “sangat berat” ya Pak SBY itu, incumbent yang semakin piawai…salah saja sedikit perhitungan PDI Perjuangan memilih Cawapres, seperti John McCain yang meilih Sarah Palin, justru yg tadinya diharapkan sebagai vote getter, eh malah jadi melemahkan posisi McCain karena kurannya kemampuannya. Rasanya sudah tidak sabar ya menunggu siapa yg terpilih, Saya sejak awal berfikir yg terbaik Prabowo, dan pak Rukyal juga sama pilihannya Prabowo….tapi terserah PDIP. Terima kasih ya.Salam>Pray.


Hendro DT,
— 22 Desember 2008 jam 9:11 am edit


Salam Merdeka,membicarakan Capres-Cawapres, kayaknya jangan set back, jangan mempermasalahkan Jawa+Jawa, Jawa+Non Jawa dll. Kita harus maju, siapapun calonnya, yang penting kita harus memilih pasangan yang sangat solid kerjasamanya karena lima tahun kedepan tantangannya semakin besar.Semoga kita bisa mendapatkan pasangan yang serasi dan terbaik.Indonesia yang lebih baik dan sejahtera, itu yang kita pikirkan, bukan yang lain.Bravo Pemilu.


TITAH SOEBAJOE,
— 22 Desember 2008 jam 10:49 am edit
MENURUT KALANGAN SPIRITUAL, MEGA, BINTANG, BULAN, BERADA DILUAR. ANGIN, AIR, DAN TANAH MENYATU DALAM DUNIA ATAU BUWONO. AKAN CANTIK JAGAD INI BILA UNSUR-2 TERSEBUT TIDAK DIPISAH-PISAHKAN. TETAPI KEKUATAN YANG MENYATUKAN ITU HANYA YANG MAHAKUASA. YANG RUHNYA DITIUPKAN DALAM DIRI TIAP MANUSIA.SUARANYA AKAN TERWUJUD BILA SUARA RAKYAT BANYAK MENJADI SATU VOX POPULI VOX DEI, SUARA TUHAN ADALAH SUARA RAKYAT. JANGAN MEREMEHKAN INI. BAGAIMANA DENGAN ANCAMAN GUNUNG MERAPI? MENGINGAT MONDOLANNYA YANG BERJUTA-JUTA METER KUBIK SIAP MERATAKAN YOGYAKARTA? WALAUAPUN ADA BUKIT KALIURANG YANG MELINTANG MANJADI BENTENG BAGI LAHAR MERAPI. TAPI KALAU SEMBURAN SIAPA YANG BISA MENAHAN? ADA 2 BUWONOI DITANAH JAWA. SOLO DAN YOGYA. SIAPA YANG DIPILIH? KEMBALI RAKYAT YANG MENENTUKAN. TANYA PADA GURUNYA PAK SUKO SUDARSO. HANYA SAJA TANAH JAWA INI, BISANYA DISELESAIKAN DENGAN GUYONAN. INGAT CERITA TERJADINYA PETRUK DAN GARENG DARI RAJA DEDEMIT MENJADI RAJA GUYON.


Vivito,
— 22 Desember 2008 jam 10:49 am edit
Eit,…Jangan Lupa Pak ada Satu Orang yang sudah mendeklarasikan diri sebagai Cawapres,…Yakni JK. liat aja komentarnya di TV beliau ini lebih senang jadi Wapres tapi Wapres yang lebih berperan dari pada Presiden,…Alias Wapres “The Real President”.,..Untuk konsep Megabuwono saya setuju,..tapi toh kalau pun Sri Sultan Hamengku Buwono X tetap bersikukuh menjadi Capres ya biarkan saja,…Apa semua rakyat DIY (100%) bakal mih Sultan???Kalau Maju jadi Capres terus kalah apa ya masih berniat jadi Gubernur DIY ya? kalau saya ya siapa pun wakilnya asal presidennya MEGAWATI ya saya Dukung 100%!!!Hidup MEGA!!!


Vivito,
— 22 Desember 2008 jam 10:55 am edit
Dulu waktu awal2 2004 di Jogja sendiri malah sudah ada poster yang berbentuk kalender yang memasangkan duet Prabowo dan Sri Sultan Hamengubuwono X, menurut Bapak bagaimana???


Abuga,
— 22 Desember 2008 jam 11:50 am edit
Bagusnya sih Mega-mendung. Siapapun pasangan Mega akan menjadi mendung karena berpasangan dengan siapapun Mega pasti kalah. mega tidak punya kapabilitas sama sekali untuk memimpin bangsa ini. Diapun bermental anak2 dan tidak tahu etika berdemokrasi. Dia hanya mengandalkan nama besar Soekarno yang isunya sudah usang. Rakyat tidak memerlukan patriotisme tetapi kesejahteraan dan keadilan yang sama di depan hukum. Saya adalh penganut golput di pileg tetapi akan tetap mendukung SBY di pilpres nanti.


Prayitno Ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 12:33 pm edit
Wah jadi rame juga nij, banyak tanggapan, ada pro kontra ke pihak Sultan dan pihak Mega, mari kita bahas masing2 penanggap :


@Mas Hendro DT, Salam “Merdeka” juga…Saya sangat setuju dengan pendapat anda, kenapa sih masih meributkan suku, kan beliau2 yang maju yang terpenting sma2 anak bangsa ini yang akan terpilih ya, juga pandangan kebutuhan pasangan solid dan serasi dengan tujuan membuat Indonesia lebih baik dan sejahtera….100% saya sangat setuju Mas Hendro! Ini baru anak bangsa.Salam hangat.Pray
@Titah Sibajoe, mega artinya diatas bumi, buwono adalah tanah, kalau disatukan akan hebat, tapi harus disatuka Yang Maha Kuasa….saya kira yang mendukung pasangan ini perlu banyak2 berdoa, begitu ya Mas Sibajoe. Nah inilah ramalan pertama yang masuk di blog saya, dari kalangan spiritual. Tks Mas Bajoe. Ditunggu ramalannya yg lebih cespleng>Salam>Pray.
@Vivito ini pendukung Bu Mega ya…banyak2 berdoa supaya jagonya menang.Tentang kalender menuetkan Prabowo dan Sri Sultan yah namanya ada yang berusaha, boleh2 saja sih, namanya juga demokrasi kan Vivito. Terima kasih ya tanggapannya.Salam>Pray.
@Mas Abuga, golput di pileg, tapi dukung SBY di Pilpres…semoga sukses deh, sebentar…saya kasih tahu tokoh : Mas Hadi Utomo dan Kang Yahya Socawirya (ini dua tokoh Demokrat), ini ada pendukung SBY yg jujur, selamat sudah dapat satu suara di pilpres. Terima kasih ya Abuga>Salam>Pray.
Novrita,
— 22 Desember 2008 jam 12:34 pm edit
Menurut pandangan saya, kalau sedari awal sultan memang siap untuk dicalonkan jadi presiden, tentu sebagai raja Jawa, beliau akan teguh dengan pernyataannya. Apalagi beliau juga sudah menegaskan hal tersebut.
Saya jadi nunggu-nunggu juga …kira-kira siapa ya pasangan bu Mega..Kan beliau maunya yang sepadan, kalau bu Mega cantik pasangan kan harus good looking… (itu candaan beliau lho..)
Saya sependapat dengan pak Pray, bahwa kalau salah memilih pasangan sebagai cawapresnya, maka bisa-bisa posisi bu Mega jadi lemah.. Kalau pilihannya tepat pasti akan medongkrak popularitas bu Mega. Selanjutnya tinggal dilihat dari hasil perolehan suara yang didapat dari lembaga survei.Boleh juga bu Mega berpasangan dengan Prabowo. Kan jadi MegaBowo..(artinya apa ya pak Pray?)


Prayitno Ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 12:36 pm edit
Mbak Novrita, gak salah nyebut Mas nih…terima kasih ya tanggapannya, memang susah juga ya jadi Raja itu. Karena dikalangan penduduk Yogya Sri Sultan selain sebagai Gubernur DKI juga adalah rajanya. Nah penegasan sebagai Capres memang harus dipertahankannya, karena menyangkut status dan harga diri sebagai raja yang jelas tidak ingin dinilai tidak konsisten. Lihat saja kekuatan Sultan, tanpa upaya dukungan popularitas partainya (bahkan agak disindir) dan tanpa mengiklankan diri, sebelum mendeklarasikan diri sebagai capres maka elektabilitasnya terbentuk dengan sendirinya di masyarakat, apa artinya ini?Artinya ada sesuatu yg diharapkan dari Sultan itu, yg selama ini oleh orang Jawa dianggap sebagai raja, pemimpin, mereka banyak yg mulai jenuh, mencoba mencari tokoh baru kini, maka diantaranya munculah beliau. Tapi ada yang perlu diingat Sultan dan Tim Pelangi, kalau Sultan kini memasuki wilayah politik, jadi harus berfikir dan bersikap sebagai politisi….mengalah untuk menang lebih baik daripada “kekeuh” tetapi kalah. Sedang untuk Bu Mega,kalau mau mencari yang good looking…Prabowo boleh juga tuh, Jenderal, sudah kaya, ganteng, pinter, bahasa Inggrisnya bagus, ini realistis ya Novrita, saya bukan pendukung Bowo. Mungkin boleh juga kalau digadang-gadang,tapi ya terserah hasil survei internal PDIP yang kelihatannya akan menjadi partai favorit nih. Kalau Megabowo, artinya PDI Perjuangan rasional dan pinter kali. Maksud saya PDIP bisa memainkan kartu Sipil-Militer. Ok, Novrita, Salam>Pray.


Jojo,
— 22 Desember 2008 jam 2:58 pm edit
Menurut saya, mau megabuwono, megabowo, dan megabintang skalipun.. Bu mega msh kalah dg sby.. Fakta membuktikan, perbndingan saat pemerintahan sby dan mega jaman dulu…


Prayitno Ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 3:03 pm edit
Jojo, pendukung SBY ya?Ngomong2 Megabintang siapa?mungkin Megawati-Sri Bintang Pamungkas?, Boleh kok mempunyai keyakinan seperti itu….Salam > Pray.


Fendry Tjokro,
— 22 Desember 2008 jam 4:16 pm edit
Bhineka Tunggal Ika itu lah Indonesia. Berbeda2 tetapi satu satu misi satu tujuan. semangat gotong royong. Hormat terhadap atasan, orang tua. sopan santun itulah indonesia. Indonesia memerlukan seseorang bapa yang bisa mendidik anaknya. Ibarat president itu bapanya and wakil itu ibunya. dan semua rakyat itu anak2nya. dan tujuannya satu mensejaterahkan anak2nya. Mana ada orang tua yang tidak sayang kepada anak2nya. Dan anak2 tidak mencintai orangtuanya. Siapahkah orang tua yang akan dipilih oleh anak2nya…??? Dan apakah anak2nya akan patuh kepada orang tua yang telah mereka pilih…???Dan bagaimana orang tua menjaga anak2nya???


achmad subechi,
— 22 Desember 2008 jam 4:58 pm edit
Kalau analisa saya, kemungkinan besar kedepan mereka yang menjadi RI 1 tetap SBY. Hitung-hitungannya sederhana. 1. Selama SBY memimpin, tidak ada gejolak politik yang berlebihan bahkan menjurus kepada instabilitas politik. 2. Kondisi ekonomi secara nasional aman-aman saja walau krisis global sudah mengancam.. 3. SBY sangat fair dalam mengambil keputusan. Misalnya, ketika harga minya mentah dunia turun, maka harga BBM ikut diturunkan. 4. SBY suka marah-marah. Pemimpiin memang begitu. Kalau enggak marah, bawahannya ndablek, cuek bebek. Coba kalau ada pemimpin enggak bisa marah? So pasti kacau balau, jalan sendiri-sendiri. Pemimpin itu diadakan karena yang dibawa belum tentu bisa menggerakan roda organisasi.
Siapa wakilnya? Kalau menurut saya, SBY akan menggandeng Sultan Hamengkubowono. Mengapa? saya kira Pak Prayit sudah dapat bocoran skenarionya.. He.. he.. he….


Abi Hasantoso,
— 22 Desember 2008 jam 6:08 pm edit
Pak Pray yang baik,
Sri Sultan itu bukan pribadi yang mencla-mencle. Dia seperti bapaknya, tegas dan kuat dalam berpendirian. Apa yang sudah dia putuskan pada 28 Oktober lalu akan dijalankannya dengan sungguh-sungguh….
Sekali mencalonkan diri jadi RI 1, ya, akan tetap menjadi calon RI 1.
Jangan samakan Sri Sultan dengan ketua sebuah partai besar yang merasa cukup hanya dengan menjadi orang nomor dua….
Sri Sultan itu bukan asal mengejar kedudukan. Ia ingin membawa perubahan. Perubahan itu bisa dijalankan kalau dia jadi Presiden RI.
Kalau cuma mau jabatan cawapres siapapun boleh saja mengajukan diri. Jabatan cawapres itu bukan jabatan bergengsi. Jabatan itu cuma jabatan kursi, bukan jabatan kunci….
Sri Sultan memang lain. Kita butuh pemimpin yang teguh pada pendirian dan tegas dalam bersikap seperti dia….
Wah, jadi semakin jatuh cinta saja, nih, pada Sri Sultan….
AH


Rukyal Basri,
— 22 Desember 2008 jam 7:36 pm edit
Pak Pray, kita justru sedang larak lirik, siapa bakal calon cawapres sultan. Seorang yang harus mampu mengimplementasikan The Indonesian Dream, visi masa depan bangsa. Seorang yang harus sudah terbukti karya dharma bhaktinya. Seorang yang bukan ‘gede’ karena iklan, tetapi fakta karya yang sudah dilakukannya untuk rakyat, bangsa dan negara selama ini.


Prayitno Ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 7:40 pm edit
@Mas Fendry Tjokro, kata Bhineka Tunggal Ika itu jarang lho sekarang disebut orang, baru anda yg menyebut, terima kasih. Iya kita bersama akan meilih pemimpin yang akan mensejahterakan negara ini, mari kita pilih pasangan capres-cawapres yang dirasa cocok ya.Salam>Pray.
@Mas Subechi, ngepro sama Pak SBY nih, ya boleh, tapi kalau pasangan SBY-Sultan???Wah baru saja konflik sudah diramal betrgabung tuh. Memang yg enak SBY, posisinya kuat, tinggal memilih cawapres yg pas, maksudnya yg bisa menang gitu lho Mas Bechi, Kalau saya sih memperkirakan SBY tetap akan berpasangan dengan JK, kita lihat nanti ya.Eh ngomong2 diprotes tuh sama Mas…eh salah Mbak Novrita, sudah baca komentarnya?
@Mas Abi Hasantoso, iya…iya…saya agak tahu dikit ttg Sultan, my wife orang Yogya dan saya pernah 3 th di yogya, memang benar seperti yg dikatakan Mas Abi itu, ok deh, saya hargai penilaiannya dan kecintaan pada Sultan, selamat ya. Kita jadi tidak sabar mau cepat2 tahun 2009. Salam>Pray.
@Pak Rukyal Basri, apa ada pandangan siapa cawapresnya Sultan?…tapi yg paling penting Sultan mau maju sebagai Capres partai apa pendukungnya??Karena memenuhi syarat 25% itu sangat sulit sekali, yg jelas kemungkinan hanya akan ada 3 calon, yg sudah ada dua SBY dan Mega, tinggal satu lagi calon…nah yg satu lagi calon alternatif akan diperebutkan banyak pihak, ada rencana poros tengah jilid II, ada pak Wiranto, Prabowo, Hidayat Nur Wahid dengan PKSnya…terus (maaf) Sultan diposisi mana, tanpa mengecilkan Partai RapublikaN sebagai pendukung Sultan, maaf ini partai baru, apakah bisa mencapai persyaratan untuk mengajukan capres?. Saya kira Sultan harus taktis, berposisi yg jelas, kalau mungkin merebut posisi capres di Golkar…nah, ini saya baru yakin, maka akan berdatanganlah cawapres2 yg melamar. Itu saya kira pendapat saya ni Pak Rukyal, maaf ya, jadi agak panjang nih. Salam hangat my friend.Pray.


dumb,
— 22 Desember 2008 jam 8:39 pm edit
Mungkin yg merasakan hidupnya enak bs saja tetap memilih SBY.Golongan pemodal ataupun lingkup birokrasi.Tetapi kalo gol. petani,nelayan,buruh semoga tetap memperhitungkan untuk memilih SBY.Kami hanya memberikan dan mengharapkan pemimpin yg mempunyai jiwa ekonomi kerakyatan.Ekonomi yg berdiri diatas bangsa sendiri.Pemimpin yg mempunyai bingkai/konsep membawa indonesia untuk mandiri bukan ekonomi neoliberal yg tetap akan menggerus bangsa,menguras SDA.Semuanya hampir kebalikan.Hampir penuh dgn koorporasi asing.Kapan akan ada loncatan ekonomi?Ekonomi negara memegang peranan penting.Semoga ada satu dr blanderan pemimpin yg berjiwa nasionalis atau himpunan2 patriot yg bs menyaingi SBY.Udah hampir genap 5 thn belum terlihat terobosan2 ekonomi/celah2 ekonomi rakyat bangun.No liberalis,No Capitalis


arief b hardono,
— 22 Desember 2008 jam 11:13 pm edit
om Prayitno Ramelan… wah tulisan om banyak menginspirasi pembaca untuk terus mengexplore calon yang tebaik untuk bangsa ini. Tapi tuk tuk gatuk formulanya bisa saja menjadi kenyataan melihat perhitungan kekuatan mbak mega dan kanjeng sultan kok makin menjadi jadi… walau isuenya berawal dari sembako dan rakyat kecil.disisi lain jendral sby makin ok juga gaul di tingkat internationalnya, figurnya handerbeni… dan bisa jadi contoh. tapi kawan kawan yang banyak membantu menjadi presiden kelihatannya banyak yang kecewa karena ditinggalli… mungkin ndak komit atas konsesi tertentu yang sudah direncanakan dulu….calon lainnnya juga banyak yang bagus lo om… para jendral lainnya dan tokoh tokoh muda yang fresh…tapi… saya setuju om, tulisan om, adalah bagian dari sosialisasi dan pencerdasan sang pemilih…semoga siapapun yang dipilih akan memberikan kesejahterahan yang lebih baik bagi bangsa.om, sambil refleksi nanti kita diskusi lagi ya…..


imran rusli,
— 23 Desember 2008 jam 12:03 am edit
sultan dan mega sama-sama produk nggak laku, yang satu cuma mengakar di yogya, itu juga tak semua, satu lagi sudah terbukti gagal jadi presiden dan kualitas kepribadiannya sudah ketahuan (feodal, kekanak-kanakan, picik, berjiwa kerdil, tak bertanggungjawab, pembohong wong cilik, menganggap rakyat indonesia sapi (jadi mau dibujuk dengan sembako murah) dan banyak lagi namun minus semua, tapi untuk sekedar meramai-ramaikan pemilu 2009, bolehlah, siapa yang larang, asal siap dicuekin aja


Rukyal Basri,
— 23 Desember 2008 jam 12:53 am edit
Pak Pray, insyaallah setelah 1 muharram 1430 H (28/12) nanti akan ada ‘hembusan angin’ dari sang ‘kuncen’. Soal kendaraan, insyaallah - karena memang harus insyaallah kan pak, adalah partai golkar. Soal siapa yang akan jadi wakil sri sultan, insyaallah lagi nih pak Pray, akan menjadi bagian dari prerogativ ‘kuncen’ untuk menentukannya, karena memang sesuai dengan kedudukan sebagai ‘juru-kunci’ . Pak ‘Juru Kuncen’ lah nanti yang akan mengusulkan sebuah nama sebagai calon wakil sri sultan, dan terjadilah yang disebut dengan ‘an- nabaa’, berita besar.


Pamungkas,
— 23 Desember 2008 jam 1:03 am edit
Seru juga Pak Pray………. jaman gini masih ada pendukung Mega ya?? melek blogger lagi. Itulah modal Mega berani maju karena anak bangsa ini masih banyak yang buta politik dan kesengsem kharisma. Saya masih bersimpati pada Bu Mega seandainya pas kalah pilpres mengakui kalah dan memberi selamat pada SBY. Ya kayak di Amrik gitu lho. Tapi si Mega ini ngacir kayak anak TK dan sampai sekarang masih ngambek. Tapi gue dukung dia nyapres biar duitnya berkurang ya minimal rakyat kebagian sembako murah. Soal milih sorry la yao. Masih banyak yang lebih baik ……………. he… he…………


Brusselis,
— 23 Desember 2008 jam 2:42 am edit
Satu pertanyaaan nih untuk Hamengkubuwono.Dia itu katakan bahwa Indonesia perlu seorang pemimpin nasionalis. Bahkan ia memberikan model (yg mengkritisi Sukarno dan Soeharto) yng jawa-sentris.
Tapi kalo menyimak cara Hamengkubuwono menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan, ia banyak memakai kata-kata dan istilah jawa. Apa ini menunjukkan dia figur pemimpin nasionalis? Bukankah dia juga bisa memakai istilah dan bahasa Indonesia yang lebih mengungkapkan pesan nasionalisme dia? Ataukah ia ini belum mencapai nasionalis-jawa-sentris?
Kritik yg sama saya tujukan pada Mega. Komentar-komentarnya banyak memakai bahasa Indonesia (aku emoh lho karo …). Sori kalo sy sedikit alergi dengan ucapan pemimpin yang kesukuan.
Akhirnya, baik Mega maupun Hamengkubuwono bukanlah calon yang dilihat dari ungkapan bahasanya tidak merepresentasikan keinginan akan Indonesia yang plural-nasionalis.


prayitno ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 6:23 am edit
@Dumb, terima kasih atas tanggapannya, mengharapkan pemimpin yang mempunyai ekonomi jiwa kerakyatan, ini kelihatannya yang akan jadi fokus dan keinginan utama masyarakat pada umumnya, ya realistis, kan kita memilih pemimpin agar sejahtera, hidup berkecukupan. Bisa makan, bisa punya tempat tinggal itu saja ya Dumb. No Liberalis, no kapitalis…sudah baca artikel saya di Kompasiana ttg bahaya Neoliberalisme? Btw, where do you come from Dumb? Ideot.com it’s yours?Salam.Pray.
@Mas Arief, terima kasih atas tanggapannya ya. Memang kelihatannya sementara ini perhatian kita fokus baru membahas dua calon terkuat SBY-Mega, yah namanya juga politik, seru, enak dibahas karena kita akan menggantungkan nasib kita kepada kepemimpinan mereka. persaingan pencitraan antara SBY dengan kompetitor2nya akan semakin rame beberapa bulan mendatang, oleh karena tujuan Kopasiana sejak awal adalah semacam ruang kuliah terbuka, setiap isu kita diskusikan ramai2, sebagai pencerahan, karena penanggapnya banyak yang hebat2, sementara penulis hanyalah pemberi bahasatau topik bahasan…Gitu lho ARief. Salam.Pray.
@Mas Imran Rusli, Wah ini kelihatannya kok anti baik Mega maupun Sultan?Ya jelas boleh maju kalau ada partai yg mampu mencalonkan diri. Kita lihat nanti. Jangan marah2 Imran, nanti darah tinggi.Salam>Pray,
@Pak Rukyal, Katanya ada ramalan atau informasinya setelah 1 Muharram 1430 H atau 28 des 2008 katanya akan ada terobosan ya kita tunggu saja…semoga “kuncennya” itu sahih ya. Karena Golkar kelihatannya masih menunggu setelah pemilu legislatif April 2009, entah bagaimana keputusan itu akan muncul untuk menetapkan Sultan sbg capres Golkar bln Desember ini?Tapi bukan “joke” kan?karena ini dibaca banyak orang lho pak.Tapi ngomong2 kok sudah di AS masih ada info dari kuncen nih…tidak apa2 sih, ya kita tunggu saja ya. Salam>Pray.
@Pamungkas yang sedang berada di Doha Qatar, Saya baru tahu artinya nama Abuga yg anda pakai itu, Abu Bapak,Ga nama anak kecilnya…ngomong2 jadi mantri suntik kok jauh2 ke Qatar, mungkin gajinya besar ya di Qatar Petroleum. Wah pak Abu ini bukan pendukung Mega ya, ya boleh2 saja. Tks komentnya, salam buat Gaga, Gik, Sarah dan Farah your beloved kids ang also your wife. Nanti kalau pulang ketanah air yg untung anak2 anda tuh, bisa berbahasa Arab, jadi Ustad atau Ustadzah. Pray.
@Brusselis, kalau orang jawa totok itu susah mau menghilangkan kebiasaan dan logat Jawanya, tidak bisa dipaksa kan, terlebih ini Sultan yg hidup dilingkungan kraton yg kental bahasa Jawa dan istiadat. Pasti terbawa ya gaya Jawanya. Demikian juga Mega sama2 sulit membuang beberapa istilah Jawanya, seperti dari suku2 lain…kalau mau orang yang lebih gawat orang Betawi, elu, gua, paye, ngape, ting klonongan…mari kita lihat isi pemikirannya yg bermanfaat bagi kemajuan bangsa ini.Bukan begitu kan Mas Sumaji?Salam>Pray.


ibm,
— 23 Desember 2008 jam 7:49 am edit
Pokok ee Mega - Prabowo, yang lain ga nyambung….!!!


ibm,
— 23 Desember 2008 jam 8:00 am edit
Kalo saya boleh berharap sebaiknya Pak Prabowo sebelum jadi Presiden baiknya jadi Wapres dulu…!!.Maaf tidak ada maksud merendahkan kredibel-nya.


Ande-Ande Lumuten,
— 23 Desember 2008 jam 8:39 am edit
saya cm berharap spy presidennya bukan Tante MEGA…pribadinya bikin ilfilsukanya menghina partai atau pemimpin lainpdhl Tante sendiri gk mau ngaca pas jd presidenliat donk apa aja keberhasilan Tante selama kepemimpinannya??aplg pas muncul di “Kick Andy” kmrn, kyknya tiket tempat duduk diborong antek2nya, jd pad diwawancarai, semua penonton antusias dan (mau2nya) bertepuk tangan
semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati doa sayaAmin


Achmad Rodiyanto,
— 23 Desember 2008 jam 9:43 am edit
Ada yg memprediksikan bila duet MEGABUWONO terealisasikan maka selesei sdh peta persaingan mnj RI 1 2009 nanti krn dua kutub besar sdh terbentuk yaitu, SBY-JK dan MEGABUWONO.Apakah prediksi itu bnr? sy pribadi tdk setuju dgn prediksi itu krn bg sy masih ada kekuatan lain yg tdk klh dahsyatnya dgn dua kekuatan di atas yaitu kekuatan ”POROS TENGAH” yg akir2 ini tengah di gagas untuk di bangkitkan lg (sy sich berhrp dpt trwujud agar ada penyeimbang dr dua kutub besar) dan prediks sy nanti di 2009 akan ada 4 psngan calon yg akan maju, selain 3 psngan di atas di tambah satu lg yaitu pasangan dr gab partai2 br dan partai 2 kecil non islam dgn leader Prabowo dan Wiranto.


prayitno ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 11:06 pm edit
@Ibm, saya setuju juga pendapat anda kalau bu Mega mengambil Prabowo sebagai cawapresnya,…tapi ada perhitungannya, saya berfikir Prabowo militer, bisa tegas, bisa mendukung bu Mega, militer bisa diandalkan kalau diperlukan dalam keadaan darurat. Dia punya partai, elektabilitasnya lumayan, dan…..duitnya banyak! Salam nih,Pray.
@Ande2 Lumuten, wah ini yg anti Mega nih, ya boleh saja si. salam>Pray
@Mas Achmad, kekuatan yg sudah terpolarisasi adalah SBY dan Mega, perkara siapa pendampingnya akan tergantung kepada kedua beliau tadi…yg enak dengan siapa, karena 100%, maka diperkirakan ada calon ketiga….ini sekarang yang masih coba dibentuk oleh kalangan elit politik, Ada poros tengah jilid II, Ada kekuatan PKS kalau hasil pemilunya cukup memadai (PKS sudah deklarasi 8 Capres), Ada kemungkinan capres dari Golkar sendiri, bisa jadi Sultan yang akan di capreskan, Ada kemungkinan Prabowo atau Wiranto, kalau partainya meraih suara cukup besar. Jadi itulah kira2 menurut saya…partai2 kecil akan otomatis masuk ke partai papan atas.Ok>Salam>Pray.


Dicky Saputra,
— 24 Desember 2008 jam 7:32 am edit
Salam Sejahtera untuk seluruh penCINTA Indonesia
Seru amat ya kalo ngomongin siapa pemimpin kita kedepan?
Mas Pray, Dicky calonkan diri untuk mencadi kandidat Presiden Indonesia tahun 2009 gimana? Bisa bantu cariin partai yang mau mendukung? Atau sebaikany ambil jalur independe? Dan yang pasti Mas Pray yang jadi Ketua Tim Suksesnya, gimana?
Kalo kemarin Dicky memprediksikan pasangan dan sekarang mau coba partai pendukung terkuat Capres yang ada (kao bisa Dicky masuk disalah satunya)
1. Golkar - PDIP2. PKS - Demokrat3. Gabungan Seluruh Partai
Ini baru namanya pertarungan yang mantap untuk dinikmati dan yang pasti lembaga survey kalang kabut (kecuali dibayarin oleh salah satu Capres)
Oke dech itu aja, ini sebagai bentuk permulaan Dicky Saputra dari Lhokseumawe Nanggroe Aceh Darussalam mencalonkan diri sebagai CAPRES Indonesia 2009.
Salam dari Ujung Barat Indonesia (Aceh)


prayitno ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 9:17 am edit
Wah, kok dari penanggap terus mau mencalonkan diri jadi Capres nih…kalau di Aceh, saya pikir coba uji coba kan ada 6 partai lokal tuh…jangan seperti beberapa yg pada mencalonkan dari jalur independen, karena aturannya tetap harus dari pencalonan partai. begitu ya…kalau saya sih mana mau jadi politisi atau gabung di parpol…capek!


anto,
— 24 Desember 2008 jam 10:43 am edit
Yang pasti kalo duet sama bu mega bisa bikin nama pasangan yang seru-seru ya Pak? Barusan ada Megawir, Megabowo, mungkin ntar bisa juga ada Megaramli, Megamin, Megakala, Megatanjung, Megadur,… atau Megayitno barangkali..(atau Megamelan??)..


viant,
— 24 Desember 2008 jam 2:40 pm edit
salam pak pray.. benar pak.. kalau melihat kondisi parpol dan cara2 politisi saat ini hanya bikin capek kalau mengikuti mereka dan cara2nya, mubazir pak.. waktu dan segala-galanya, lebih baik kita cari cara lainnya untuk segera mencari pemimpin bangsa ini, karena sampai saat ini (secara pribadi) saya belum melihat sama sekali pemimpin atau calon pemimpin yang betul2 dapat memimpin yang tetap menjadi rakyat, sebenarnya bukan karena sifat manusia atau keadaan yang membuat seseorang pemimpin menjadi korup atau bertele-tele katika memimpin, tapi karena kemauan diri dan hatinyalah yang memang sudah berniat sebelumnya (siapa sih pak yang bisa tahu niat seseorang dari dalam hatinya), cari pemimpin benar mudah pak.. tapi cari pemimpin baik yang susah, karena kalau benar belum tentu baik, kalau baik sudah pasti benar, keep strugle within.. hidup Indonesia Raya


payitno ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 3:49 pm edit
@Anto…ha,ha,ha…ada-ada saja nih…tolong dijauhkan nama simbah ini dari sebutan2 itu, itu teman2 saya nanti pada ngejek. Saya akan bilang itu ulah Anto yng bandel dan suka iseng.
@Nah, kalau begitu, katanya ucapan golput, ada beberapa macam, Golput yg apatis, yg ideologis atau yg pragmatis. Viant diposisi mana?Saya suka Viant menutup dengan Hidup…Indonesia Raya!!!Salam>Pray


Acan,
— 26 Desember 2008 jam 8:24 am edit
Wah semakin hangat aja forumnya. Mungkin karena tulisan Pak payitno menarik dan bermutu. Ada beberapa hal melihat kekuatan para calon presiden kedepan :
1. Kekuatan massa2. Kekuatan Dana3. Gencar Beriklan4. Penguasaan teknologi Informasi dan situs jaringan sosial5. Kekuatan Lobiying6. Modal sosial* ini yang lebih penting. Modal sosial adalah sejauh mana karya yang telah kita berikan kepada masyarakat di negeri ini. Silahkan kira-kira jasa-jasa apa saja yang sudah dirasakan oleh kita dari para kandidat-kandat diatas. nah, Modal sosial pun dapat diraih di dunia web 2.0 media blog dan situs pertemanan salah satunya. Silahkan membaca tulisan ulasan saya di “Partai Facebook” dan “Partai Friendster” Dua Partai Baru di Indonesia. Bravo pakkapan-kapan main ke Bandung pak?


prayitno ramelan,
— 27 Desember 2008 jam 9:11 pm edit
Yth Acan, terima kasih ya mas Agus, bagus tu enam pointnya, benar juga itu tulisan, semoga ada lagi tulisan2 pengetahuan seperti itu lagi ya Mas Agus. Ttg ke Bandung, kadang2 suka juga iseng jalan kesana sama istri, kan hanya 1,5 jam sampai…nanti saya kasih kabar deh…dan kita ngobrol2 ya>Salam>Pray.


ilyassan,
— 28 Desember 2008 jam 9:43 pm edit
Pak Pray….salam kenal dulu….saya pendatang baru di kompassiana ini…..Berbicara mengenai capres dan cawapres saya pikir kita ini kelihatan krisis kader pak ya.Masak yang nongol yang itu-itu saja….tidak ada calon yang baru.Tadi pagi saya baca di REPUBLIKA ada berita kesiapan Pak Amin Rais untuk dicalonkan….nah ini lagi…saya bukan tak mendukung…tapi ada apa kok pak Amin mau-maunya dicalonkan lagi…..ada apa seusngguhnya Pak Pray?Terimakasih.


Prayitno Ramelan,
— 29 Desember 2008 jam 12:01 am edit
Yth Pak Ilyassan, selamat bergabung dalam diskusi politik di blog kompasiana, salam kenal juga pak. Memang benar kader bangsa ini belum siap kok, makanya yg nongol yang itu2 saja. Tapi seperti kata William Liddle profesor pengamat politik Indonesia, bahwa kini beberapa poitisi muda mulai menggeliat dibeberapa daerah di Indonesia, Dan kita jangan kaget kalau nanti tahun 2014 akan muncul semacam Obama di Indonesia. Sayapun berpendapat sama “Tahun 2014 saatnya Indonesia akan mulai dipimpin oleh generasi muda, generasi penerus bangsa, karena itu dari 2009-2014 adalah saat yang tepat kita mempersiapkan kader pimpinan bangsa yang tangguh, mumpuni dan setia kepada bangsa dan negara ini!!!”. Terus tentang Pak Amin, saya pribadi jujur nih, heran untuk apa mendeklarasikan kesiapannya sebagai Capres 2009.Padahal di kalangan PAN dan Muhammadiah sudah ada dua juniornya Sutrisno Bahir dan Din Samsuddin yang juga bersemangat akan maju sebagai capres. Ini memperlihatkan bahwa perpecahan dikalangan konstituen Muhammadiah sudah pecah ke posisi PAN dan PMB, sehingga Boss Besarnya perlu turun tangan akan mempersatukannya. Kalau tidak ya kedua partai itu saya perkirakan sulit menjadi papan menengah. Segmennya itu2 saja tapi diperebutkan oleh dua partai, kesimpulannya ambisi pribadi dalam politik sering mengalahkan kepentingan yg lebih besar yaitu kelompok, Begitu ya pak, terima kasih sudah memberikan pendapat>Salam.Pray


Koeswinarno,
— 30 Desember 2008 jam 10:54 am edit
Apa tidak ada isu lain yang lebih menarik? Sudahlah Mega memang lagi bingung…Habis secara hisstiris memang tidak fenomenal ketika dia jadi presiden. Kecuali mantan anak presiden. Konsep-konsep membangun bangsanya juga nggak jelas amat tuh… Apalagi diundang upacara 17 Agusts nggak pernah dateng. Ini berarti tidak ada jiwa negarawannya. Nah…tentu orang ingat betul itu. Jadi…sudah sajalah membicarakan megabuwono. Nggak menarik lagi….


Prayitno Ramelan,
— 30 Desember 2008 jam 11:11 pm edit
Mas Koeswinarno, iya memang kelihatannya pembicaraan ini sudah mereda…nanti akan muncul lagi akhir januari kali.Pray


imran rusli,
— 8 Januari 2009 jam 10:58 pm edit
nggak marah kok mas, cuma sebel (dikit, boleh kan?) he he.


Prayitno Ramelan,
— 9 Januari 2009 jam 7:01 pm edit
Mas Imran Rusli…syukur deh kalau tidak marah…cuma sebel dikit…boleh2 kok…he,he,he.Salam ya.Pray


Yatno Haryanto,
— 10 Januari 2009 jam 11:06 am edit
Pakde Pray, saya pendatang baru nih di Kompasiana. sebelumnya sering baca ulasan2 pak pray+pak Chappy Hakim…menarik sekali.. sudah baca bukunya Prof.Lesmana tentang cerita2 di balik layar mengenai para mantan presiden dari Soekarno sampai SBY? judulnya saya lupa lagi,tapi menarik dan bermanfaat untuk merenungkan siapa yang mesti saya pilih sebagai pemimpin Indonesia berikutnya. mungkin pak Pray bisa menambahkan buku-buku bagus lainnya?Trims, Pakde!


Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 6:01 pm edit
Mas Yatno, terima kasih tanggapannya. Syukur kalau sua dengan ulasan yg kami buat, sumbangan peikiran dilautan politik masa kini. Saya belum membaca bukunya Prof Lesmana tersebut, nanti saya akan cari, saya suka membaca biografi para pimpinan nasional dan cerita dibaliknya, untuk mengetahui karakter, kepribadian dan perjuangan beliau2 tadi. Begitu ya. Salam>Pray


wandi,
— 20 Januari 2009 jam 8:12 am edit
Buku yang dimaksud Pak Yanto adalah DARI SOEKARNO SAMPAI SBY: Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa (Soft cover Rp 75 rb, hardcover rp 100 rb)

SBY People Of The Year Politik 2008

Oleh : Prayitno Ramelan
Sumber : Kompasiana.com
23 Desember 2008 - Dibaca 947 Kali -

Hari Senin kemarin (22/12) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di kantor kepresidenan menerima penghargaan People of The Year (POTY) yang diserahkan oleh Pemimpin Umum Harian SINDO Hary Tanoesoedibjo. SBY menerima penghargaan POTY bidang politik tahun 2008 yang diberikan oleh harian Seputar Indonesia (Koran SINDO). Selain penghargaan bidang politik, juga penghargaan diberikan dibidang bidang ekonomi yang diraih Sri Mulyani Indrawati, kategori bidang hukum oleh Suciwati, dan kategori budaya diraih Deddy Mizwar.

Untuk mengukur penilaian publik siapa tokoh yang paling berperan dalam empat kategori tersebut SINDO menggunakan survei di sembilan kota besar di Indonesia,yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Medan, Pelembang, dan Denpasar dengan jumlah responden sebanyak 1.620 orang. Bertindak sebagai juri POTY adalah Hikmahanto Juwana,Taufiequrrahman Ruki, Taufik Abdullah, Ikrar Nusa Bhakti, Bambang PS Brodjonegoro,Winny E Hassan,dan Arswendo Atmowiloto.

Dalam sambutannya Pemimpin Umum Koran SINDO Hary Tanoesoedibjo mengatakan, tujuan diselenggarakannya POTY adalah untuk menggali apresiasi masyarakat terhadap tokoh-tokoh yang dinilai telah memainkan peranan penting sepanjang tahun 2008 di empat bidang, yaitu politik, ekonomi, hukum dan budaya. Hary mengatakan, issue of the year yang paling populer adalah pemberantasan korupsi. Sementara isu lainnya adalah kenaikan harga minyak dunia, musibah lumpur Lapindo, krisis finansial global, anggaran pendidikan, anjloknya pasar saham anjlok, bencana alam, dan bantuan langsung tunai (BLT).

Ketua Tim Juri POTY,Hikmahanto Juwana, mengatakan survei yang dilakukan selama sebulan lebih dari 20 Oktober–28 November 2008 itu menghasilkan lima tokoh besar dalam kategori politik. Kelima orang tokoh itu adalah Susilo Bambang Yudhoyono (59,75%),Sri Sultan Hamengku Buwono X (16,48%),Megawati Soekarnoputri (6,17%), Jusuf Kalla (3,76%) dan Abdurrahman Wahid (3,58%).

Pemimpin Redaksi Koran SINDO Sururi Alfaruq mengatakan, untuk penerima penghargaan lain,yaitu Sri Mulyani Indrawati,Suciwati Munir,dan Deddy Mizwar,akan disampaikan dalam waktu dekat ke kediaman masing-masing. POTY merupakan acara rutin yang digelar SINDO setiap tahun, dimulai tahun 2005, dan terus berlanjut hingga kini.

Pada saat menjelang perhelatan akbar pemilu dan pilpres 2009, setiap langkah yang mempopulerkan seseorang tokoh bisa dikatakan agak berbau upaya pencitraan. Pada survei LSI yang terakhir, PDI Perjuangan setelah berusaha menaikan citra melalui iklan sembako maka citranya naik pesat, demikian juga citra Megawati ikut terangkat dan popularitasnya hanya dibawah SBY sekitar 2%.

Kini, dengan diterimanya penghargaan POTY 2008 tadi, akankah ini ikut mengangkat popularitas SBY? Jelas popularitas SBY akan terangkat, karena pemberi penghargaan memiliki jaringan media massa yang cukup kuat. Ada suatu pesan yang diterima masyarakat bahwa orang yang paling berperan dibidang politik pada 2008 adalah SBY, disusul Sri Sultan dan pada posisi ketiga baru Megawati. Mega sebagai kompetitor kuat SBY saat ini dari hasil survei tersebut posisinya jauh berada dibawah SBY hingga minus 53,58%.

Mengingat demikian besarnya peran mass media baik dalam membentuk sebuah opini ataupun pembentukan citra baik dalam dalam pemilu maupun pilpres, maka ada pembacaan tertentu dari setiap gerak sebuah jaringan media massa. Dari kubu-kubu parpol akan membaca peta politik, ini yang harus diwaspadai sebuah jaringan, karena akan menyangkut kelangsungan dimasa depannya. Kita ikuti saja persaingan pencitraan ini, yang dikenal dengan istilah “Silent Revolution”.

PRAYITNO RAMELAN,Guest Blogger Kompasiana.

27 tanggapan untuk “SBY People Of The Year Politik 2008”

nuni,
— 23 Desember 2008 jam 9:05 am
Selamat pagi pak Pray,wah pagi ini saya behasil menjadi pembaca pertama tulisan Bapak……semoga selalu sehat sehingga menjadi semakin produktif untuk memberikan pencerahan di kompasiana pak. Amin.
syaifuddin sayuti,
— 23 Desember 2008 jam 9:40 am
kalo pak beye jadi people of the year, saya nobatkan pak pray jadi blogger of the year di kompasiana. hehehe…gimana pak pray?
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 10:01 am
@Mbak Nuni…selamat paggi juga, bagaimana dgn IPB nya, kapan selesai program doktoralnya nij? Wah masih berat ya jalannya, semoga sukses deh. Terima kasih ya atas komentarnya, sangat saya hargai…btw buat Face Book juga?Saya baru buka, karena semua anak, mantu, kerabat pada buka disana, dan saya juga memposting artikel saya setelah agak lama muncul di Kompasiana. Disana ketemu Mas Pepih, Yulyanto, Yunanto, Novrita. Ok deh, semoga sehat2.Salam hangat.Pray
@ Mas Syaifuddin Sayuti…wah wartawan yg satu ini ada-ada saja…jangan ah nanti beken terus gak enak. Ada `cerita, Kan saya pernah jadi nara sumber di Metro TV saat kasus teror DR Azahari, eh baru dua kali tayang, terus tidak bebas, di PI Mall itu para yg jaga toko nanya2, wah tidak ada privacy. Ok Mas Syaifuddin, yg pake gelar2 gitu mereka yg perlu2 saja kali, yg Top…awak ini apalah, yah cukup nulis, terus pada nanggepin, kita diskusi di Kompasiana, kan jadi baik berteman, bersahabat…penanggapnya hebat2 tuh, banyak kasih masukan, jadi kan melengkapi semua kekurangan tulisan itu sendiri. Tengkyu ya Mas…Salam Hangat nij.Pray
Novri,
— 23 Desember 2008 jam 11:01 am
Sebelumnya terima kasih ya pak Pray.. saya sudah bisa diterima sowan di Facebook bapak.
Kalau awards semacam itu yang penilaiannya secara jujur.. tentu akan semakin mengangkat citra/image sang penerima awards. Bagi sang tokoh pun hal demikian merupakan apresiasi atas apa yang sudah dia capai selama ini. Bagi masyarakat luas, bisa sebagai bahan pertimbangan seperti apa tokoh-tokoh tersebut, sehingga jika nantinya sang tokoh akan mengikuti suatu pemilihan tertentu, akan mudah bagi masyarakat untuk memberikan suaranya.Jadi ya… bermanfaat sekali buat saya (dan masyarakat luas pastinya) dengan adanya pemberian penghargaan semacam ini…
Tapi… itu jika penilaian yang diberikan jujur dan seimbang. Dan insya Allah kalau SBY sebagai people of the year politic 2008, itu pantas bagi beliau..
Jangan sampai ada awards yang diadakan atas pesanan pihak tertentu untuk mendongkrak citra dirinya. (Maaf, dalam hal ini saya tidak menyudutkan pihak tertentu, karena memang saya tidak tahu dan tidak ada data bahwa ada pihak yang memesan untuk bisa mendapatkan suatu penghargaan).
Semoga pak BeYe bisa menjaga amanah ini..Bukankah pemberian penghargaan semacam ini adalah merupakan suatu amanah juga..?

Harasono Inos,
— 23 Desember 2008 jam 11:19 am
Semoga pak beye mampu membuktikan bhw penghargaan tidak sia sia belaka. Kalo sehabis menerima penghargaan, pak beye meningkatkan popularitasnya, yah…harus diterima semua pihak. memang pak beye tidak ada duanya…..(saat ini). Salam

Ahmad S,
— 23 Desember 2008 jam 11:31 am
AllSBY terima POTY, menurut saya kurang pantas karena dia pejabat publik yang seharusnya memang ada dalam posisi itu, Yang memberi dan yang deberi pasti ada konspirasi untung dan rugi. Perjuang SBY bila dibandingkan dengan Obama kayaknya belum setimpal dilihat dari dimensi apapun. Saya lebih setuju kalau POTY diberikan kepada Antasari Azhar…(Ketua KPK)Perjuangan dan karya nyatanya bisa dilihat semua orang. Masalahnya kalau POTY diberikan kepada Antasari Azhar..yang memberikan POTY pasti tidak akan mendapat apa-apa.

Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 12:08 pm
@Novri, terima kasih juga, maka semakin lengkaplah kita mengetahui mereka2 yang berada di komuniti Kompasiana, juga tulisannya di blog Media Indonesia itu bagus, coba dikirimkan ke Admin Kompasiana, Biar dibaca warga disini….ups maaf kebiasaan sbg pak RT dilingkungan jadi pakai ioastilah warga. Bagus tanggapannya Novri, pemberian penghargaan harus jujur tanpa ada maksud2 tertentu. Juga berpendapat pak SBY pantas menerima hal tersebut, dan pemberian penghargaan adalah amanah, jadi harus dijaga amanahnya, begitu Novri ya…Salam.Pray,
@Mas Harasono, pendukung pak SBY yang santun, semangat. Benar harus dijaga penerimaan penghargaan tersebut…menurut saya akan jelas akan membantu meningkatkan popularitasnya, yang heran kok sama Bu Mega jauh sekali hasil surveinya ya?.Salam Mas Har>Pray.
@Mas Ahmad, berpendapat award lebih pantas diberikan kepada Antasari Azhar yg Ketua KPK, tapi yg diterima SBY itu kategori politik Mas, tapi ya tidak apa2 pendapatnya sbg pendukung anti korupsi di negara kita. Terima kasih ya>Pray.

Novrita,
— 23 Desember 2008 jam 12:36 pm
Nuwun sewu pak Pray…apa yang dimaksud Novri itu adalah orang lain?… Sebetulnya yang tulis comment di atas (Novri) itu saya : Novrita.. Cuma tadi kurang nulisnya.. kebetulan beberapa teman memanggil saya dengan Novri. Jadi lupa kalau di sini harus pakai ‘ta’ biar gak dikira ‘mas’ .. he he..

Abuga,
— 23 Desember 2008 jam 12:36 pm
Penghargaan semacam ini sudah sangat lazim dan masyarakat menganggapnya biasa saja. Akan lebih terasa kalau dengan kerja keras, tegas dan tanpa pamrih. Meski Pak SBY yang terbaik untuk saat ini tetapi harus lebih tegas untuk mendisiplinkan aparat pemerintahan. Saya merindukan President yang menghukum mati koruptor dalam jumlah tertentu, memecat PNS/aparatyang suka mbolos, menghukum dengan tegas para penegak hukum yang menyelewengkan (contoh: hukum mati polisi pengedar narkoba, jaksa/hakim suap2an, guru perkosa murid), dilain pihak menyantuni janda dan anak yatim (menyekolahkan sampai PT dan jaminan kerja) dari aparat yang gugur dalam bertugas membela bangsa dan negara, tumpas habis premanisme baik di terminal maupun senayan. Dalam tataran tertentu disiplin kemiliteran bisa diadopsi untuk pembelajaran disiplin hidup berbangsa dan bernegara. Satu lagi BTL itu loh dasarnya apa? Bukankah lebih baik berupa padat karya? Taruhlah masyarakat penerima BTL yang masih sanggup bekerja disuruh bersih- bersih lingkungan (sungai, jalan, pasar tradisional) baru dibayar yang sedikit lebih dari pemerintah lebih terasa manfaatnya. Program bisa lebih populer di mata masyarakat. Saya sendiri tidak tahu apa yang dipikirkan Pak SBY hari - hari ini (tentu buanyak). Wong saya wong cilik saja bisa mikir seperti itu harusnya beliau lebih arif lagi.
Ada lagi nasionalismenya kalah sama JK. Berbagai kesempatan JK lebih merakyat dan nasionalisme. Meski lebih kaya bajunya lebih sederhana.
Ada tips untuk Pak SBY supaya lebih merakyat. 1. sering pakai batik dan kaos oblong, 2. ikut lari pagi di senayan, main bola di kampung. 3. Naik kereta ekonomi (Kertajaya) dari Surabaya ke Jakarta. Nah disitu kan bisa interaksi sama wong cilik, asongan, pengamen, pengemis dll.
Buruan nanti diserobot kuda hitam Prabowo……..
Wallahu alam
Maaf Pak Pray…….. aku baru terbangun he.. he…………dari yang rindu tulisanmu

Gabus,
— 23 Desember 2008 jam 1:14 pm
Saya rasa SBY cocok utk menerima penghargaan Potty.terutama peran SBY dalam memberantas korupsi melalui KPKnya. pak..ngomong2 kalo saya lihat foto bapak, Bapak mirip Pak Abubakar Nataprawira he..he…

Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 1:57 pm
@Novritra, lho yg saya maksud ya Novrita kan, saya baca Blognya Novrita yg di log Media Indonesia itu, tentang kesuakaannya membaca Kompasiana, bener?Engak kok Novri, saya selalu merekam setiap yang saya kenal…walaupun virtual friend. Terima kasih ya.Pray
@Hei Mas Abu, kok manggilnya begitu…artinya kan Mas Bapak…Ok saya panggil Abu saja, wah baru bangun jam 12.36, berarti di Doha jam 6.36 pagi ya…Nah kalau merindukan Presiden yg menghukum mati koruptor dalam jumlah tertentu, nanti seperti di Jeddah itu, setiap jumat, ada hukuman putung tangan buat maling, hukuman pancung buat pembunuh dan penjahat, serem sekali Abu. Tapi ngomong2 anda nih jauh di Qatar, tapi rajin ya selain sbg tukang suntik juga masih sempat mengikuti berita perkembangan ditanah air nij,bagus deh, jadi nasionalismenya tidak luntur. Ok, syukur kalau suka tulisan2nya si Mbah satu ini. Salam buat your children and wife also.Salam.Pray

@Mas Gabus, Ok boleh juga berpendapat SBY pantas menerima POTY itu. Eh…maksudnya saya mirip pak Abubakar Nataprawira…iya mungkin ada benernya ya, sama2 laki, dia polisi saya mantan TNI, tapi maaf ya…rasanya saya agak keren dikit (dia banyakan) …tanya deh sama Nuni, Novri,Lintang…biar fair….Maaf neh Pak Abubakar, satu guru satu ilmu, he,he,he. Salam>Pray

Abuga,
— 23 Desember 2008 jam 4:31 pm
Pak Pray,….. nggak tahu ya sekali baca tulisannya langsung cintrong. Sampai - sampai menggeser Gede Prama, Emha dll dari daftar penulis yang kukagumi……. he……. he………
Hebatnya lagi Pak Pray langsung menyapa dan menemukan persembunyianku di negri teluk. Dunia ini kecil kata orang perminyakan tapi lebih kecil lagi bagi para blogger. Adakah hikmah di baliknya? Tentu saja ada yaitu supaya kita lebih berhati2 dalam bersikap. Kita harus bersikap jujur dan santun di manapun dan kepada siapapun karena suatu saat kita bisa ketemu atau ditemukan orang yang pernah ‘bersama’ kita. Maaf njladur……
Kembali ke laptop eh… topik.Saya sering miris dengan jumlah uang yang dikorupsi di tanah air. Kita yang di sini mengumpulkan real demi real dengan perjuangan yang berat. Alhamdulillah dengan bekerja di sektor formal nasib saya lebih baik dari TKW maupun TKI. Demi real mereka sering disiksa dan dianiaya. Sudah puluhan bahkan ratusan TKW lari ke KBRI. TKI banyak yang tertipu hingga kita sering urunan untuk memulangkan mereka ke tanah air. Di bandara tanah air masih banyak dari mereka menjadi sapi peraan. Mungkin di bandara kedatangan lampunya remang2 he. he………Itulah duka buruh migran Pak.
Apakah para koruptor itu sadar bahwa mereka sebenarnya merampok uang orang - orang ini hingga merantau ke negeri orang?
Tindakan hukuman mati koruptor pernah dilakukan di Cina dan berhasil memangkas angka korupsi. Kalau hukuman mati dianggap kejam sekarang gini saja deh. Kalo maling satu ayam 3 bulan kalau korupsi 1 milyar pantasnya berapa tahun? Jawabnya 1 M dibagi harga ayam kali tiga dibagi duabelas. Wuih………… dengan asumsi harga ayam per ekor maka korupsi satu milyar bisa dihukum 12.500 tahun
Kalo SBY berani menindak semua praktik kotor di negeri kita pasti efeknya akan lebih dasyat daripada penghargaan POTY.
Mohon maaf bial tidak berkenan

anto,
— 23 Desember 2008 jam 5:47 pm
Selamat sore Pak Prayitno. Senang sekali bisa menemukan tulisan-tulisan bapak yang isinya sangat mencerahkan. Terus terang Pak, kalau kita membaca atau mendengar pendapat para ahli politik apalagi yang tergabung dalam satu partai isinya kok cuma menjelek-jelekkan pihak lain saja ya. Padahal dalam kondisi menjelang pemilu seperti ini harusnya kita mendapatkan pendidikan politik dari para ahli tersebut, tidak untuk menjadi ahli baru, tapi paling tidak kita bisa mendapatkan pendapat yang jujur dan fair (yang baik disampaikan, yang buruk juga diungkapkan), yah paling tidak buat modal “nyoblos”lah.Mengenai tulisan ini, saya rasa SBY pantas mendapatkan award tersebut. Saya tidak bisa menyampaikan alasan berdasar data (karena memang bukan ahlinya), tapi bisa saya rasakan sejak SBY jadi presiden memang ada perubahan. Terutama dari pemberantasan korupsi (pencegahan dan pengungkapannya) dan peningkatan pelayanan ke masyarakat. Yah mungkin tidak bisa sekaligus kita rasakan tapi paling tidak sudah ada langkah yang nyata daripada cuma janji janji belaka. Perubahan juga butuh proses kan, perubahan sudah terjadi di di bawah SBY dan saya ingin merasakan perubahan apa lagi yang bisa terjadi bila SBY terpilih lagi.

erfanmunif,
— 23 Desember 2008 jam 5:55 pm
sore pak pry, salam kenal
menurut saya peran media memang sangat besar dalam mengangkat dan atau menghancurkan sesuatu, kondisi inilah yang disadari tidak hanya bagi seseorang [capres atau siapapun dia yang menginginkan sesuatu] namun juga bagi pemilik modal pers itu sendiri. dan sepertinya fragmentasi media dengan pilihannya masing-masing sudah mulai kelihatan, kalau membca headline media indonesia hari ini, tayangan kick andy minggu kemarin, dan minggu ini, [yang mana mereka ada dalam satu group] udah kelihatan arah dari media tersebut.
sebenarnya hal ini tidak begitu menjadi masalah, malah bisa menjadi hal yang produktif ketika arah media tersebut dibawa berdasar atas logika akan arah yang lebih baik kepada bangsa bukan karena si pemilik modal pers tersebut ingin menjadi calon wakil presiden

frizzy,
— 23 Desember 2008 jam 7:44 pm
Salam sukses deh, buat para penerima dan pemberi penghargaan. Mumpung yang ngasih dan yang nerima sama2 akur. Pokoke kalo demi INDONESIA aku selalu mendukung.
Tidak lupa salam sukses selalu untuk Eyang Prayitno Ramelan.
Cheers, frizzy2008http://frizzy2008.blogspot.com

Rahardjo,
— 23 Desember 2008 jam 9:36 pm
Menurut saya Pak Beye mendapat penghargaan tersebut ya sah2 saja dan memang sudah sepantasnya, yang saya kagumi justru suciwati termasuk penerima penghargaan tersebut dalam bidang hukum. Demikian juga Sri Mulyani termasuk tokoh yang saya kagumi, saya setuju kalau Sri Mulyani mendampingi Pak Beye sebagai cawapres nanti, seperti jaman Sri Sultan HB IX menjadi Wapres kan khusus membidangi ekonomi demikian juga Sri mulyani nanti Wapres yang mendapat tugas khusus bidang ekonomi. Bukankah begitu Pak Pray ?

prayitno ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 9:45 pm
@Abu, wah bangga sekali saya dibilang begitu, sebenarnya tidak juga, kalau beliau yang anda sebut itu kelas berat, sayapun pengagum mereka. Iya betul, dunia sangat kecil bagi para netter itu, mau lari kemana bisa dicari-cari, yg hebatnya begitu selesai mengetik dan klik, langung yg jauh di Doha, di Ohio, Di Jerman, di NZ semua langsung bisa membaca…memang hebat teknologi ini. Saya sangat setuju, dimanapun kita berada kita harus jujur dan santun kepada orang, karena kalau bohong, lama2 capek, kalau tidak santun…wah bisa dijauhi orang, terlebih di blog begini, apa yg kita ketik dan posting akan dibaca orang, lama2 kan malu sendiri ya Abu. Pengguna internet ini ada sekitar 3 juta, dan jelas bukan kalangan bawah, tapi agak menengah keatas, nah artinya yg ngerti sopann santun, iya kan. Tapi ya begitulah…dibeberapa blog, dijaman kebebasan ini, banyak yang rusuh, jadi tidak nyaman, komentarnya juga rusuh. Maka berbahagialah di Kompasiana ini, ini blog terpelajar…namanya juga blog journalis kan, bukan blog hutan rimba yg bebas cakar2an dan gigit2an. Coba saja kalau berani…kan akan berhadapan dengan para wartawan yg memiliki blog ini. Penggede saja takut, terlebih yg mau rusuh. Jadi mari kita nikmati bersama kebersamaan ini, kita diskusikan dengan enak, berkawan, bersahabat, saling menghargai…Nah lho jadi cerita nij Abu. Balik ke tpoik…tentang yg anda bilang koruptor itu, yang ketangkep sih masih yg cere2, kalau bisa meringkus yg masuk kasus BLBI nah itu baru jago…berapa ratus triliun uang yg dibawa kabur tuh. Lha kalau itungan anda korupsi 1 M dihukum 12.500 Th, kalau korupsi 1 trilyun berarti 12.500.000 tahun…ngeri betul tuh. Presiden SBY kelihatannya sudah komit mau memberantas korupsi…tapi karena korupsi sudah bukan budaya lagi, tapi sudah komoditas, nah jadi sulit, seperti gurita sudah membelit kesana kesini. Mestinya MUI mengeluarkan fatwa “bahwa korupsi itu haram!”, kok disarankan Golput yg haram, artinya Golput lebih parah dibanding korupsi bukan???.Udah dulu ya Abu, salam hangat>Pray

@Mas Anto, terima kasih kalau menyukai tulisan2 saya, kan blogger itu independen, artinya tidak memihak, harus jujur, hanya itu syaratnya kalau mau jadi blogger yg baik, kalau kadang2 terpeleset sedikit ya harap maklum, namanya juga manusia ya. Memang sih, kalau berbicara politik maka yg memegang peranan utama ya tokoh2 politik itu baik di eksekutif maupun di legislatif. Saya kira SINDO sudah menghitung masak2 pemberian penghargaan tersebut. Saya menghargai pendapat anda tentang SBY yg dikatakan pantas mendapatnya dan berhasil membuat perubahan. OK, salam ya Anto>Pray.

@Mas Erfanmunif, terima kasih juga, salam kenal juga. memang media kelihatannya akan sangat berperan baik dalam pemilu maupun pilpres, saya setuju kalau dukungan media kearah yg positif ya, istilahnya demi bangsa dan masyarakat. Tapi bisa saja media digunakan sebagai alat ambisi pemiliknya…tapi akhirnya yg menilai kan juga masyarakat. Jadi sikap, karakter, tingkah laku, tutur kata, nasionalisme, patriotisme…mesti dijaga kalau mau maju kan ya?.Ok, Salam.>Pray.

@Frizzy, terima kasih ya tanggapannya, saya suka dengan kalimatnya “Pokokke kalau demi Indonesia aku selalu mendukung!” ini ucapan seorang patriot lho…terima kasih ya Mas Fahmi, blognya bagus tu…khusus yg tentang toilet. Salam hangat dari si Eyang nij>Pray.

@Mas Rahardjo kemana saja nih, sudah lama tidak muncul…eh saya kok sependapat Mbak Ani (sri mulyani) ini orang pinter, spesialis ekonom, saya kok sependapat juga sama Mas Rahardjo kalau dipadukan sama SBY sbg cawapresnya…bagus tu, sama2 orang pinter. Dan cantas juga ya, pergaulan internasionalnya bagus. Ini mungkin terwujud, kalau Partai Demokrat mampu menjadi parpol papan atas pada pemilu 2009 nanti, karena SBY tidak harus terkunci dengan Golkar. SBY akan firm sekali dengan orang yg sudah dikenal dan membantunya agak lama, Pak Sudi salah satu contohnya. Terima kasih Mas Rahardjo.Salam>Pray.

aridadan,
— 23 Desember 2008 jam 10:16 pm
Salam kenal buat semuanya, oke juga ya popularitas presiden kita, oke juga penghargaan semacam ini apalagi topik2 yang katanya lagi hangat itu juga memang “INDONESIA BANGET”. terus terang awalnya saya skeptis, tapi dengan diberikannya penghargaan pada ibu suciwati ya saya sedikit percayalah pada maksud dari penghargaan ini. Tapi (skeptis lagi) survey yang dilakukan itu penyebarannya kepada siapa saja ya…apakah juga menjangkau teman2 kita yang sedang merenung karena mahalnya BBM sehingga tidak bisa melaut, dan mungkin pusing mencari alasan untuk berhutang ke warung sebelah supaya anaknya bisa makan, atau juga para pedagang asongan yang lebih sibuk “ngumpet” dari kejaran Tramtib daripada menawarkan jualan….anyway, saya suka tulisan pak pray…”BERISI” sekali pak….sebuah pencerahan yang terang buat saya…
terima kasih, salam

Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 10:35 pm
@Mas Dadan, terima kasih dengan tanggapannya, langsung salam kenalnya diterima saya dan keluarga besar Kompasiana. Tentang survei itu kelihatannya coba di lakukan jujur, terlihat dari anggota timnya, Ketuanya Profesor, anggotanya ada yg bekas Ketua KPK Taufikurrahman Ruki (He is my friend, sama2 satu angkatan di Akabri dulu, jujurlah, bekas KPK), survei kelihatannya bukan untuk popularitas/elektabilitas, tetapi survei khusus siapa yg berperan utama dibidang poliitik gitu Ari ya…Ngomong2 terima kasih banyak nij kalau suka dengan tulisan saya yg disebut berisi, syukur kalau bisa membuat sebuah pencerahan, karena itulah tujuan kita di blog Kompasiana ini, sharing demi kepentingan bersama. Ok deh, once again thaks.Salam>Pray

mahendra,
— 24 Desember 2008 jam 8:13 pm
jelas sajalah sby dpt peringkat pertama, karena dia kan presiden lagi diatas angin gitu, jadi sangat wajar bila dia yg terpilih. klo presidennya sultan pasti dia jg yg nomer wahid. kira2 begitu pak? salam

prayitno ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 9:16 pm
@Mas Mahendra, begitu ya logikanya…? Boleh juga, sebenarnya yang berperan dibidang politik kan juga ada Ketua DPR, Ketua MPR, tapi menurut hasil survei katanya pada kalah. Begitu kali Mas,Salam juga.Pray
mBang,
— 25 Desember 2008 jam 11:44 pm
Malam pak Pray,Gimana kabarnya pak?,Semoga pak Pray dan seluruh keluarga besarnya selalu mendapat lindungan Allah SWT.amin.
Mo ikutan omdo disini, pak Pray..Untuk penghargaan POTY 2008,bidang Politik, Hukum dan budaya kriterianya apa ya..?Untuk Pak SBY ( bid Politik ), Bu SMI ( bid Ekonomi ) dan Bung DM ( bid Budaya ) menurut saya ya Ok.2 dan pantes2saja, tapi untuk bid Hukum yang dapet Bu SjM , rasanya kok kurang pas ya… karena selama ini sepak terjang beliau dibidang hukum secara general nggak tampak, kecuali memperjuangkan dibukanya kasus meninggalnya mendiang suaminya, dan itupun sampai sekarang kan belum klaar ..( maaf, barangkali hanya saya saja yang kurang baca berita ya pak Pray..?).Pencitraan..?, saya rasa mubadhzir, karna masyarakat kita pada cerdas, kalo hanya main pencitraan dan nggak sesuai.. maka balonpres atau balonleg akan semakin dicibir dan dijahui oleh masyarakat.salam.

Prayitno Ramelan,
— 26 Desember 2008 jam 7:28 am
Mas Kumambang, Maaf nij baru dibalas pagi ini, tadi malam kena ngantuk berat, maklum orang tua, kemarin kan libur, jadi keluar rumah sampai malam, Alhamdulillah kabar baik Mas, terima kasih doanya, semoga demikian juga dengan Mas Mbang ya. Kalau ditanya kriterianya, wah itu tidak dijelaskan secara rinci oleh pihak SINDO, Hary Tanoesoedibjo pimpinan umum koran SINDO hanya mengatakan , issue of the year yang paling populer adalah pemberantasan korupsi. Sementara isu lainnya adalah kenaikan harga minyak dunia, musibah lumpur Lapindo, krisis finansial global, anggaran pendidikan, anjloknya pasar saham anjlok, bencana alam, dan bantuan langsung tunai (BLT).Kelihatannya fokus ke masalah2 itu. Tentang penerima POTY bidang hukum, yang diterima Suciwati istri alm Munir, itu kalau secara umum di pikir memang sepertinya kok fokus hanya ke satu kasus, memperjuangkan kematian suaminya. Tapi dibalik itu masyarakat justru mengapresiasi upayanya membuka kasus kematian suami yang dicintai dinilai masyarakat nilainya tinggi. Kan judulnya tokoh yang memainkan peranan penting dibidang hukum, suka tidak suka itulah pilihan pemilih yg disurvei. Nah disini ada hal penting dan positif yang bisa kita lihat, bahwa peran pendamping (istri/wanita) itu besar, artinya menjelang pilpres nanti jangan lupa memainkan kartu Garwa (”Sigaring Nyawa”) atau istri tercinta, selalu bersama-sama saat tampil, Insyaallah akan disukai masyarakat…dari pada jalan sendiri. Boleh sih kalau tidak setuju dengan masalah pencitraan, tapi elektabilitas seseorang kini sangat berkait dengan upaya menaikkan citranya. Kalau citra seseorang tokoh jatuh, otomatis elektabilitasnya akan ambruk. Begitu ya Mas mBang>Selamat libur panjang>Salam utk keluarga juga>Pray.

R.Ngt.Anastasia Ririen Pramudyawati,
— 27 Desember 2008 jam 7:10 am
..sugeng enjang, Bapak…Menelusur rasa sejuk di ujung sukma ini ikuti perbincangan di ruang Bapak ini. Terasa ringan & adem..meski topik yang diangkat tergolong hangat.Jadi teringat kenangan bersama (Alm.) Ayah..di kala kami berbincang-bincang tentang apa pun.. (juga tentang Politik).. Menenteramkan. Naluri khas gaya tuntun seorang Ayah pada sang puteri bungsu yang senantiasa ingin terpuaskan rasa ingin tahunya.…maturnuwun, nggih..

prayitno ramelan,
— 27 Desember 2008 jam 9:05 pm
Mbak Anastasia, kesuwun ya tanggapannya, syukur kalau apa yang tersirat ini dapat menjadi pengobat suatu rasa ingin tahu panjenengan, sebagai orang tua sudah tugasnya memberi sedikit wuwur, tutur dan sembur kepada sesamanya, dengan harapan kita bisa bergandeng tangan mencerdaskan sebagian masyarakat dalam menggapai cita2nya. Salam bu Dokter>Pray.

Julius Cesar Hassan,
— 17 Januari 2009 jam 11:25 am
Selamat Pagi Pak Pray !!!Saya setuju dengan peran besarnya mass media baik dalam membentuk sebuah opini ataupun pembentukan citra baik dalam dalam pemilu maupun pilpres. Saya masih berpikir Presiden SBY calon terbaik Presiden 2009, tapi dampak NEGATIF untuk Bpk. SBY juga akan terjadi, apabila kita melihat IKLAN Partai Demokrat tentang Penurunan Harga BBM 3X, Memangnya HARGA TURUN karena Partai Demokrat, apakah ini Bukan Perkeliruan alias PEMBODOHAN wawasan Politik Rakyat yang seharusnya di bangun, Idealnya Belajarlah dari Partai GOLKAR alias Wapres Jusuf Kala, yang kader - kader Partainya bermain Cantik, Kan Demokrat dan Golkar satu KUBU jadi enggak apa - apa, belajar dari SOHIB sendiri, semoga Rakyat Indonesia diberi kemudahan oleh ALLAH SWT dalam mendapatkan Presidennya di th.2009. amiiieen . salam Hangat untuk Pak Pray sekeluarga

Prayitno Ramelan,
— 18 Januari 2009 jam 5:54 am
Julius, memang betul kalau mdia massa memegang peran ya sangat besar dalam masa kampanye baik pemilu maupun pilpres 2009. Karena itu parpol harus lebih cerdik dalam beriklan, karena salah sedikit saja akan memberikan efek negatif yang cepat meluas. Iya saya juga berdoa semoga pemilu dan pilpres 2009 berjalan dengan aman,tertib dan lancar ya. Salam>Pray