Oleh Prayitno Ramelan -
Sumber : http://www.kompasiana.com/ 13 Desember 2008 - Dibaca 270 Kali -
Hingga kini elektabilitas SBY sulit untuk tertandingi, pesaing utamanya Megawati dinilai masih memerlukan kerja keras untuk menandinginya. Penulis mencoba meyusun ulasan dengan metoda K-3 yang biasa di gunakan dalam menilai keberhasilan/kegagalan subyek yang diteliti. K-3 yang di maksud adalah singkatan dari kekuatan, kemampuan dan kerawanan. K-3 biasanya digunakan untuk mengukur dan menilai sebuah sasaran sebelum di lakukan tindakan. K-3 dibuat oleh dua belah pihak atau beberapa pihak baik sebagai sekutu atau lawan, berupa sebuah kumpulan fakta-fakta yang kemudian di analisa sehingga menghasilkan apa yang disebut kemungkinan cara bertindak.
Nah, menjelang pemilu legislatif dan pilpres 2009 mari kita bahas sedikit bagaimana kekuatan, kemampuan dan kerawanan dari Pak SBY yang menurut penilaian hasil survei masih menduduki posisi teratas sebagai capres 2009. Mengenai posisi terkuat kedua, K-3 Ibu Megawati pernah dibahas dalam tulisan terdahulu dengan judul “Masih Besarkah Peluang Megawati?”.
Kekuatan SBY kini dapat diukur dalam beberapa hal, SBY memiliki Partai Demokrat yang pada pemilu 2004 berada di kelompok papan tengah, mendapat 57 kursi di DPR. Kini Partai Demokrat berada di urutan teratas seperti yang disebutkan Lembaga Survei Indonesia, Demokrat mendapat 16,8%, Golkar 15,8%, PDIP 14,2%. Dibandingkan pemilu 2004 Partai Demokrat hanya mendapat 7,4 % suara. Peningkatan tajam dari survei tersebut disebabkan karena swing voter memberikan simpati kepada Demokrat sebesar 9,6%. Kunci ketertarikan swing voter karena “leadership SBY”, program partai, perhatian partai pada rakyat dan bersih dari korupsi.
Partai Demokrat kini di untungkan dalam posisinya sebagai partai penguasa, disamping SBY dengan jabatan sebagai presiden yang mempunyai wewenang untuk melakukan langkah-langkah positif yang bermanfaat bagi masyarakat, secara langsung ini akan mengangkat nama baik dan popularitas baik partai maupun SBY sebagai ujung tombak Demokrat. Kekuatan lainnya dari SBY adalah nama besar yang sudah disandangnya, dia adalah seorang jenderal yang diidentikkan masyarakat sebagai pemimpin, dia seorang yang pintar dengan gelar doktor, dia seorang demokrat sejati karena partainya pun diberi nama Partai Demokrat, dan dia seorang penggerak pemberantasan korupsi, masyarakat juga menyimpulkan bahwa korupsi yang membuat bangsa ini terpuruk. Itulah kekuatan SBY yang sudah menjadi “trade mark” di dunia perpolitikan.
Dari sisi kemampuan, kalau pada kampanye 2004 SBY terkenal sebagai penyanyi “pelangi di matamu”, kini masyarakat melihat kiprahnya saat memimpin dan berpidato, terlihat sebagai pemimpin yang menguasai berbagai bidang dan permasalahan. Ini pemimpin yang bijaksana dan “pintar” kata banyak orang. Terlebih kini banyak ditayangkan media massa kemunculannya di forum-forum internasional terlihat ”sangat mumpuni” berbicara di muka forum internasional dengan bahasa Inggris yang “faseh”. Dia menjadi salah satu tokoh di dunia internasional yang sulit dibandingkan.
SBY dinilai sebagai salah satu pemimpin yang mampu meredam gejolak krisis dunia yang mengimbas negaranya, mampu menenteramkan masyarakat dan dunia bisnis, walaupun dalam kondisi yang sangat sulit dan tertekan dia mampu meyakinkan masyarakat agar tidak panik seperti tahun 1998. SBY mampu memainkan kartu “troef” nya Menteri Keuangan Sri Mulyani yang berhasil melakukan loby di dunia internasional mendapatkan janji pinjaman “emergency” untuk mengatasi dan menutup kemungkinan terburuk apabila krisis dunia yang terus melanda Indonesia semakin berat dan devisa ambruk.
Bagaimana kerawanannya?. Kerawanan adalah titik terlemah, apabila ini tersentuh atau terserang maka akan menyebabkan kelumpuhan, menyebabkan tidak berfungsinya sebuah sistem. Dalam dunia perpolitikan kerawanan bagi sebuah partai atau seorang calon presiden yang apabila terserang akan mengakibatkan jatuhnya popularitas, para konstituen akan meninggalkannya. Sehingga mengakibatkan merosotnya jumlah pemilih yang tadinya merupakan pendukung setia.
Sebagaimana juga beberapa parpol lain yang menggunakan pola “patron” seperti PDIP, PAN, Hanura, Gerindra, PBB maka kedudukan SBY sebagai ujung tombak sangatlah rawan. Perolehan Demokrat akan sangat tergantung kepada popularitas dan nama baik SBY. Begitu nama SBY jatuh maka secara otomatis nama Demokrat juga akan jatuh, itulah resiko sebuah partai yang terbangun dengan budaya paternalistik. Hal serupa juga akan terjadi pada PDIP, Hanura, Gerindra, PAN dan lainnya. Kekuatannya hanya disandarkan kepada figur seseorang belaka, Berbeda dengan Partai Golkar dan PKS kini yang lebih mengandalkan mesin partai yang berfungsi seperti sebuah sistem, tidak tergantung kepada pucuk pimpinan, masing-masing sub sistem bergerak saling mendukung dengan ritme yang sudah ditentukan . Mungkin cara ini dinilai jauh lebih aman, walaupun kadang terkalahkan dalam sistem pilpres langsung.
Kerawanan lain berkait dengan “imbas” krisis keuangan dunia yang mulai terasa di Indonesia, Majalah Forbes tanggal 11 Desember 2008 menyatakan kekayaan bersih Indonesia merosot drastis dengan pasar modal yang anjlok 54% dibanding tahun lalu, penurunan harga komoditas, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Total kekayaan bersih 40 orang terkaya Indonesia anjlok hampir 50% dibanding tahun lalu. Devisa negarapun konon sudah tergerus lebih dari 12 milyar dollar.
Secara perlahan krisis diperkirakan akan semakin berat dan bisa melanda masyarakat luas, bagaimana nanti apabila harga-harga terus naik, sembako menjadi barang mahal, stabilitas harga sulit dijaga?. Bagaimana juga kalau terjadi PHK besar-besaran?. Kondisi ini di perkirakan akan menjadi kerawanan tersendiri dan sangat berbahaya bagi citra dan popularitas SBY dan Demokrat. Kalau krisis menjadi lebih serius dan berada “diluar kuasa” SBY, maka dapat diperkirakan akan menjadi pukulan berat dengan kesimpulan konstituen berkait dengan ”ketidak mampuan”. Artinya konstituen akan beralih dan mencari tokoh alternatif yang mereka nilai jauh lebih mampu dalam mengatasi permasalahan.
Nah, dari apa yang telah disampaikan dan dibahas, dari segi kekuatan dan kemampuan, memang SBY dan Partai Demokrat kini masih berada diperingkat teratas, SBY dapat dikatakan belum “tertandingi”. Yang penting dan harus diperhatikan adalah titik rawan SBY, sebagai ujung tombak, tidak boleh cacat, tidak boleh tercederakan, harus tetap dijaga terus “mengkilap”. Untuk menjaga secara normalpun, imbas krisis diperkirakan akan tetap berat. Tekanan menjelang pemilu dan pilpres akan semakin serius dan berat. Bagaimana kalau ada yang melakukan penyerangan, “black campaign” karena ulah politik di negara ini kadang membuat miris, masih ada yang tega melakukan tindakan “menghalalkan cara”. Semoga informasi ini bermanfaat bagi para elit, yang masih kita percaya akan membawa negara ini menuju cita-cita bangsa yang makmur dan sejahtera. PRAY.
Eep Khunaefi,
— 13 Desember 2008 jam 2:17 pm
Pak De, saya setuju dengan teori “K-3″-nya. Seperti yang terjadi pada Bapak saya, K-2 (kekuatan dan kemampuan) SBY mampu menggelontorkan rasa fanatik ke-NU-an dan ke-Gus Dur-annya. Sedang K-1 (kerawanan) SBY tidaklah terlalu beresiko. Untuk kasus BBM, menjelang pilpres 2009 saya melihat SBY melakukan gebrakan yang cukup bagus yaitu menurunkan harga premium. Saya yakin, ke depan akan ada lagi harga-harga yang diturunkan SBY sebelum perhelatan besar itu terjadi. SBY itu cerdik dan pintar. Ia memimpin dengan hati dan tahu apa yang mesti dilakukannya. Jangan-jangan, saya juga bisa seperti bapak saya nanti, “Pengagum Baru SBY” -meski hingga sekarang belum.
By the way, Pak De nih senang banget ya ngulas tentang SBY. Oya, hobi Pak De ‘kan membaca SBY dan Kompasiana. Satu lagi, Pak De nih -meski sudah uzur tapi ganteng sih, tetap produktif nih menulis. Padahal, Pak De sibuk sekali. Semoga Pak De sehat selalu.
mahendra,
— 13 Desember 2008 jam 3:20 pm
selamat siang pak pray,sby memang mengeluarkan jurusnya diakhir masa jabatannya, tapi kelihatannya berjalan baik2 saja selama ini. dia meracik segala strateginya dengan cerdik dan pintar. mudah 2 an saja tidak hanya “tebar sepona” eh “pesona”. tapi daripada megawati sih mending SBY, tapi saya kok masih krg bisa berpihak kepada sby ya?? seperti masih ada yang mengganjal gt lho? tapi yasudahlah saya juga ga ambil pusing, yang penting sekarang bagaiman bekerja dengan baik agar tidak terkena dampak krisis global. yang terpenting sekarang adalah kenyamanan dan ketenangan dalam bekerja, soal presiden yang terpenting adalah memberi lapangan pekerjaan seluas2nya bagi rakyatnya. pasti rakyat akan suka padanya.salam,mahendra
Andreas,
— 13 Desember 2008 jam 4:03 pm
Salam Pak Prayit,
Saya rangkumkan tanggapan blog Bapak dua sekaligus dengan yang Bapak tulis mengenai Ibu Mega di http://prayitnoramelan.kompasiana.com/2008/11/25/masih-besarkah-peluang-megawati/.
Memang melihat keadaan sekarang ini, kans Pak SBY masih lebih tinggi dibanding Ibu Mega. Saya katakan kans lebih tinggi, bukan mutlak, bukan absolut, bukan pasti. Saya tidak terpengaruh oleh hasil daripada lebaga survei-lembagai survei, tapi murni dari analisa saya. Kebetulan hasilnya lebih kurang sama, walapun jalannya berbeda.
Melihat faktanya, Pak SBY lebih pantas jadi Presiden periode yang akan datang dibanding Ibu Mega. Berikut adalah hal-hal yang menguatkan kans Pak SBY:1. Pak SBY punya rekam jejak yang jelas, latar belakang pendidikan jelas, prestasi jelas. Ketika reformasi sedang hangat tahun 1999, reformasi terjadi ditubuh ABRI (saat itu masih ABRI, belum TNI, Pak Prayit tentu lebih tau sebagai purnawirawan), saat itu dibawah kepemimpinan Wiranto sebagai Pangab. Oleh Wiranto, SBY ditugaskan menjadi menjadi Kaster ABRI (Kepala Staff Teritori ABRI (mohon dibetulkan kepanjangannya kalau saya salah), muncul tulisan di salah satu majalah international yang bermarkas di NY USA sono dengan judul: “The right man leads ABRI”. Artinya dunia international pun mendukungnya.2. Ketika Gus Dur jadi presiden, SBY diangkat oleh Wiranto sebagai Menteri Pertambangan, walau SBY sendiri masih ingin di ABRI/TNI untuk meneruskan reformasi TNI, namun tetap harus meninggalkan posnya tersebut demi tugas negara yang tidak ada kena-mengenanya dengan disiplin ilmu yang dikuasainya.3. Ketika pertengahan pemerintahan Gus Dur, Gus Dur ingin mengangkatnya sebagai Menteri Pertama (yang artinya sama dengan perdana Menteri, di mana tidak ada di Indonesia), SBY tidak memberi tanggapan yang berlebihan.4. Masa akhir pemerintahan Gus Dur, Gus Dur memberi semacam supersemar kepada SBY sebagai Menkopolkam untuk mengambil tindakan yang diperlukan terhadap suasanya politik yang ribut, namun SBY tidak menggunakannya karena sadar itu adalah tindakan inkonstitusional, SBY memilih Mundur.5. Ketika Ibu Mega terpilih sebagai presiden, SBY kembali jadi Menkopolkan.6. Ketika keinginan kuat jadi presiden makin mengkristal, SBY mendirikan Partai Demokrat untuk jadi kendaraan politiknya, berbeda dengan Wiranto yang tetap ingin bernaung dibawah rindangnya pohon beringin menahan teriknya iklim politik. SBY terlihat percaya diri dengan kemampuannya, sementara, baik Gus Dur dan Ibu Mega mengangkat Pak SBY sebagai presiden lebih sebagai untuk perbaikan citra mereka sendiri. Mereka berdualah yang butuh SBY, bukan SBY yang butuh mereka (walau memang pada hakekatnya SBY juga butuh mereka).
Jika kita membandingkan peer-to-peer, SBY vs Mega, SBY vs Wiranto, SBY vs Prabowo, SBY vs Sutiyoso, SBY vs Sultan, SBY vs siapa saja, maka akan terlihat kemungkinananya sebagai berikut:1. SBY vs Mega: Cukup jelas, SBY mengalahkan Mega dalam Pilpres 2004. Suka tidak suka, rakyat meilih SBY dengan perbandingan yang cukup telak.2. SBY vs Wiranto: Wiranto sudah terbukti bahkan 2 besarpun tidak pada Pilpres 2004, dia masih menggunakan Golkar sebagai kendaraan politiknya, dan suara Golkan masih cukup kuat, pemenang dalam Pemilu 2004. Selain itu, Wiranto pernah harus keluar dari kabinet Gus Dur dengan cara yang tidak terhormat karena tersangkut kasus Timtim jika tidak salah.3. SBY vs Prabowo: Prabowo jelas merupakan figur yang membingungkan. Mungkin dia memang tidak terkait dengan kasus-kasus penculikan dan kasus kerusuhan Mei, tapi banyak orang menganggapnya seperti itu (untuk yang ini, Pak Prabowo sudah dengan tegas mengcounternya ketika menanggapi buku Pak Habibie di Kick Andy Metro TV). Selain itu, apakah nilai positif lain yang telah ditunjukkan oleh Prabowo kalau mau jadi presiden? Apa track recordnya?4. SBY vs Sutiyoso. Sutiyoso bisa dikatakan cukup hebat sebagai gubernur Jakarta, berani babat habis. Namun, dua kali masa pemerintahannya, Jakarta banjir besar. Ada keengganan masyarakat akan memilihnya karena factor X. Di samping itu, Bang Yos ruang lingkupnya masih hanya DKI, dia belum tentu diterima daerah lain.5. SBY vs Sultan. Sultan mungkin punya hati yang tulus dan iklas untuk memajukan negeri ini, tapi dia tidak punya pamor yang cukup untuk maju ke tingkat nasional. Sifatnya yang njawa tidak cocok memimpin negeri ini.6. SBY vs siapa saja: Siapa pun yang mau maju jadi capres, kalau tidak ada track record, tidak akan menang.
Di masa hiruk pikuk kampanye presiden tahun 2004 lalu, saya sering duduk di warung kecil, ngobrol2 dengan tukang warung, ngobrol dengan tukang ojek, dengan poenjuan nasi goreng, dan sebangsanya (maksudnya yang lebih kurang profesinya selevel). Amazing. Pada saat itu, analisa mereka sudah sangat mengena ke inti permasalahan negari ini. Mereka sudah sangat mengerti apa sebenarnya yang dibutuhkan bangsa ini. Saat itu, candidate sudah mengerucut jadi hanya dua, Mega dan SBY, walaupun Pilpres putaran pertama masih belum dilaksakan. Faktor Hasyim Muzadi tidak berpengaruh kepada mereka walaupun di dinding warungnya tergantung sebuah kalender besar NU. Amin Rais, jelas lebih tidak masuk pada hitungan mereka. Wiranto? Mereka sudah tidak suka pada track recordnya, yaitu kasus Timtim dan didepaknya dari kabinet Gus Dur. Hamzah Haz malah seperti tidak ada dalam pikiran mereka.
Apa yang ingin saya katakan di sini, bahwa rakyat kita sudah mengerti siapa sebenarnya yang dibutuhkan untuk memimpin negeri ini. Pemeikiran seperti ini sudah kira-kira masuk ke pemikiran pada umumnya orang di Pulau Jawa dan daerah-daerah yang informasi sudah terbuka. Faktor agama? No way. Seperti saya sebut di atas, Faktor NU tidak berpengaruh kepada pasangan Mega - Hasyim walau mereka adalah pengikut NU. Memang, faktor Agama (gender) ikut mempengaruhi kejatuhan Mega, tapi itu lebih pada memastikan kekalahannya, bukan faktor utama, yang utama adalah masalah kemampuan.
Jadi, kalau SBY vs Mega (atau Mega vs SBY) lagi, saya yakin, rakyat akan memilih SBY. Bagaimana kalau SBY vs yang lain? Sejauh ini, belum ada tokoh yang kira2 mumpuni dibawa ke tigkat international dan diterima rakyat. Belum ada calon yang punya visi yang jelas. Prabowo memang gencar dengan iklannya, tapi dia tidak punya rekam jejak yang jelas, apalagi yang baik. Bagaimana dengan calon dari partai Islam seperti PKS? Mereka adalah partai yang lagi naik daun, tapi tidak punya figur yang bisa dicalonkan memimpin bangsa ini. Mereka mungkin akan mendulang banyak suara legislatif, tapi tidak jika mereka mengajukan sendiri capresnya.
Singkatnya, setuju tidak setuju, kita masih harus bersabar hingga Pilpres 2014 kalau menginginkan presiden yang baru. Saya bukanlah pendukung SBY, saya secara pribadi kurang respek karena kurang tegas, tapi beliaulah yang terbaik yang ada saat ini, tidak ada satu pun emerging fugures. Mungkin analisa bisa salah, tapi saya yakin itulah yang akan terjadi. Atau kalau mau presiden baru, calon yang lain harus merobah strategi jualannya.
Salam.
Prayitno Ramelan,
— 13 Desember 2008 jam 6:39 pm
Mas Eep, terima kasih ya tanggapannya, tolong diperhatikan, dalam menggunakan metoda K-3, justru yang paling harus di waspadai adalah faktor kerawanan subyek. Ini bisa menjadi sebuah mala petaka apabila tidak di cermati, “sebuah kerawanan apabila diexploitir akan menyebabkan kelumpuhan”. Saya tekankan betul yg harus diwaspadai apabila krisis berada “diluar kuasa” SBY, akan menjadi ancaman nyata. Itu kira-kira pesan yg terkandung dan terpenting Mas Eep. Kalau anda mulai seperti bapaknya yg mulai mengagumi Pak SBY ya boleh saja, toh beliau salah satu calon presiden yg akan dipilih bukan. Saya kalau menulis ya tergantung mood kali ya, kebetulan yang saya bahas mereka yang elektabilitasnya sudah agak tinggi, seperti SBY, Bu Mega, Prabowo, Golkar, Partai Demokrat, PKS, Gerindra. Saya sedang mengumpulkan dan mempelajari tentang Hanura dan Pak Wiranto, Hidayat Nur Wahid juga menarik dijadikan bahan penelitian. Gitu ya Mas Eep, saya harus “fair”. jujur tidak boleh memihak, menulis apa kata fakta2 saja. Tentang komentar terhadap saya pribadi, wah terima kasih nih, kan “Old Soldier Never Die”, maksudnya jangan mati semangatnya…gitu ya Mas Eep, terimakasih juga doanya, dan juga doa saya juga kepada anda ya…semoga Allah memberikan nikmatnya hingga andapun juga pulih seperti sedia kala.Amin.Ok, salam Hangat.Pray
Prayitno Ramelan,
— 13 Desember 2008 jam 9:30 pm
Mas Mahendra, Terima kasih tanggapannya, iya saya pikir bagi yg bukan partisan parpol, ikuti saja perkembangan para calon, kan lama2 jadi suka kepada seseorang. Wajarlah Mas, kita putuskan nanti kalau sudah dekat2. Saya setuju sekarang konsentrasi menghadapi kemungkinan terburuk, heran sepertinya pada tenang2 ya, padahal kalau membaca penjelasan para pengamat ekonomi sayapun ikut serem juga. Salam.Pray.
Mas Andreas, wah jadi berturut2 ni menanggapinya, sya berterima kasih sudah dimasukkan blog archive artikel ini ke artikel ttg Bu Mega, tentang pendapat dan analisanya itu…boleh juga isinya…so kenapa tidak membuat suatu ulasan politik, karena beberapa argumennya masuk tuh Mas. Saya kira kalau tidak ada ancaman krisis berat, memang SBY masih susah dilawan, kebijaksanaan pemerintah, dengan dukungan penuh dari lembaga-lembaga pemerintah secara otomatis akan menaikkan pamor SBY. Jadi siapa yg bisa melawan? Sementara parpol2 itu sudah banyak yg senin-kamis nafasnya ya. Gitu ya Mas Andreas. Salam.Pray
Adhy,
— 14 Desember 2008 jam 4:11 pm
“… Singkatnya, setuju tidak setuju, kita masih harus bersabar hingga Pilpres 2014 kalau menginginkan presiden yang baru…. ” - Andreas -
saya setuju dg pendapat anda. pertempuran sengit 2009 bakal terjadi antara golkar, PDIP, Demokrat dan PKS. partai-partai lain sedang krisismacam-macam. PKB pecah, PAN tenggelam seiring tenggelam Amin Rais-nya , PPP monoton manuver politiknya(Gak gaul/gak ngikutin zaman). kalo partai baru kayak HAnura, Gerindra dll bisa jadi partai menengah juga sdh untung banget ditengah masyarakat indonesia sekarang yang sudah jenuh dg PILKADA.
Golkar masih belum PD menyatakan calonnya melihat merosot hasil-hasil PILKADA. mesin politiknya sedang bermasalah.
PKS menunggu hasil legislatif 2009. menarik partai ini. PKS menyadari betul kalo pasar pemilih islam terbatas. walau smua suara partai islam dijumlah, tetep blm bisa melampoi jumlah partai nasionalis (golkar+PDIP). walau pun Indonesia jumlah penganut agamanya mayoritas islam, tp ini realitas politiknya. melihat manuver-manuver terakhirnya, terlihat PKS mulai menyebrang dari “kanan” ke “tengah”. apakah langkah ini bakal berhasil, atau justru malah gagal? kita lihat 2009.
Oleh karena itu peta pertarungan presiden 2009 tinggal menunggu Golkar dan PKS.
prayitno ramelan,
— 14 Desember 2008 jam 7:50 pm
Adhy, boleh juga pendapatnya itu, nah kita sebaiknya terus mengikuti perkembangan situasi dan kondisi tanah air agar kita “terbangun” dan tidak “tertidur”. itulah sebuah realita disini dengan besarnya pengaruh globalisasi.Salam.
Kamis, 18 Desember 2008
Senin, 15 Desember 2008
Iklan Politik Gerindra, Demokrat Dan PDIP
Oleh : Prayitno Ramelan -
Sumber : www.kompasiana.com , 11 Desember 2008 - Dibaca 764 Kali
Beberapa hari yang lalu penulis membuat artikel tentang gerilya PKS yang mengejutkan banyak pihak lewat iklan kontroversialnya “sang pahlawan” dan PKS Award. Kini, yang coba diangkat adalah trend iklan politik dari Partai Gerindra, Demokrat dan PDIP, dimana titik berat permasalahan yang diangkat berbeda satu sama lainnya. Prabowo Subianto hampir setiap hari muncul di layar kaca dengan slogan kemandirian, swasembada dan penguatan sektor pertanian, mencoba menarik minat masyarakat bergabung di Gerindra. Kemudian PDIP muncul dengan iklan sembakonya “Mana kita tahan ???” Megawati mencoba menarik perhatian konstituen memperjuangkan sembako murah. Dan yang terkini Partai Demokrat muncul lewat media elektronik dan media cetak, iklan dengan slogan “tidak”, maksudnya katakan tidak pada korupsi, mencoba menarik simpati publik dengan menampilkan tokohnya “SBY” penggerak anti korupsi.
Gencarnya cara-cara berkampanye lewat jalur iklan di media massa menurut peneliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi menunjukkan bahwa peran media massa banyak menggantikan peran parpol dalam menjangkau calon pemilih. Munculnya media televisi sebagai media utama penyebaran informasi politik dan sebagai media persuasi paling masif membuat partai semakin kehilangan relevansi sebagai saluran sosialisasi politik. “Inilah silent revolution, revolusi diam-diam yang sedang terjadi dalam kompetisi antar partai di Indonesia,” terangnya.
Korban dari silent revolution ini, adalah partai yang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengakses media massa, terutama televisi melalui slot iklan. Imbasnya, partai baru bukan saja tidak dipilih oleh publik, tapi juga tidak masuk dalam kategori partai yang dikenal.
Silent revolution ternyata membuktikan efektivitas beriklan tadi, hasilnya mulai nampak pada survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional pada bulan November 2008 yang menyebutkan Partai Demokrat mendapat 9,6 % suara dari swing voter dan Gerindra berhasil memikat swing voter 3,7 %. Hingga kini LSN melansir bahwa swing voter baik positif maupun negatif merupakan mayoritas calon pemilih, prosentasenya mencapai 85 % dibandingkan mereka yang merupakan loyalis partai yang hanya 15 %. Inilah sebenarnya “real target” dan harus di kondisikan oleh para konsultan komunikasi masing-masing parpol untuk menaikkan perolehan suara.
Apa sebenarnya sasaran dari iklan-iklan tersebut?. Jelas yang diharapkan adalah terbentuknya opini positif, iklan harus mampu mencakup dua hal, memperkenalkan dan memasarkan calon serta menarik minat terhadap partai. Dari beberapa hasil survei, terdapat beberapa hal yang menjadi fokus konstituen. Ini yang penting harus diketahui para pemasang iklan, sebagai jawaban atas kebutuhan hakiki mereka. Yang menjadi fokus swing voter adalah masalah kejujuran, perekonomian rakyat dan kinerja pemerintah. Lebih jelas hasil survei Johan Polling Lembaga Riset Informasi (LRI) pada bulan mei 2008 menyampaikan bahwa responden sebagian besar menginginkan figur pemimpin yang jujur (84 %), ketegasan figur (71 %), dapat dipercaya (62 %), konsisten (44 %) dan integritas (28 %).
Lembaga Survei Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada bulan Oktober 2008 menyebutkan iklan yang dipandang baik oleh Responden adalah iklan partai Demokrat dan SBY (53,9%), Gerindra dan Prabowo Subianto (53,8%), Golkar dan JK (43,8%), Sutrisno Bachir (41,5%), Rizal Mallarangeng (33,7%). Sebanyak 69% responden memandang tidak baik terhadap iklan yang menonjolkan kelemahan tokoh dan partai lain, 50,1% memandang tidak baik iklan yang menonjolkan tokoh dan partai sendiri, dan 44,3% memandang tidak baik politik yang menggunakan orang miskin.
Partai Demokrat menjelang peringatan hari anti korupsi sedunia yg jatuh pada 9 Desember 2008 telah mengiklankan “katakan tidak pada korupsi”, banyak yang mempertanyakan kenapa memasang iklan anti korupsi. Disini Demokrat mencoba memenuhi keinginan responden atas kebutuhan butuh figur jujur tadi. lklan ini merupakan sub sistem dari sistem lain yang mendukung keberhasilan pemerintahan SBY di beberapa bidang, seperti kesehatan, keamanan, pendidikan dan pertanian yang pertama kalinya surplus dalam 10 tahun terakhir. Namun hasil survei ada yang menyebutkan bahwa responden menyatakan tidak puas pada program pemerintah dalam pengendalian sembako, mengatasi pengangguran dan pengentasan kemiskinan.
Ketidak puasan responden ini dijawab oleh PDIP bersama Megawati dengan iklannya “Mana kita tahan ???” perjuangkan sembako murah. Sebenarnya iklan ini mencoba menjawab rasa tidak puas masyarakat terhadap pemerintah, mungkin iklan PDIP akan lebih berbobot dengan mengiklankan konsep bagaimana menangani masalah yang lebih luas selain sembako seperti mengatasi masalah pengangguran, menciptakan lapangan kerja dan upaya pengentasan kemiskinan.
Sementara Iklan Prabowo dinilai mengandung pesan-pesan simpatik mewakili masyarakat petani, nelayan, dan pedagang pasar tradisional. Dalam iklannya itu bisa terbaca bahwa Prabowo mempunyai visi yang prorakyat. Dinilai agak berbeda dengan Sutrisno Bachir yang juga gencar beriklan, tetapi tidak menolong dalam menaikkan elektabilitasnya, karena pesan iklannya kurang menyentuh kebutuhan hati konstituen.
Nah, kalau ada iklan positif, apakah ada iklan negatif ?. Keributan masalah kenaikan BBM yang ditayangkan media elektronik adalah salah satu contoh iklan negatif bagi pemerintah. Langsung tanpa dapat ditahan popularitas SBY jatuh dan berada dibawah Megawati pada bulan Juni 2008 lalu. Kini, dengan masih berlangsungnya krisis di dunia, yang juga berimbas di Indonesia, kemungkinan yang akan terjadi adalah PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) oleh beberapa perusahaan. Kalau kurang hati-hati masalah pengangguran ini bisa menjadi iklan negatif bagi SBY dan Partai Demokrat, karena merupakan salah satu fokus responden disamping sembako dan kemiskinan.
Jadi itulah sedikit gambaran seni iklan mengiklan politik di media massa yang kini ternyata memegang peran sangat penting dalam membangun citra dan opini. Yang perlu diingat para elit politik jangan terpikir membuat iklan yang menonjolkan kelemahan tokoh dan partai lain, karena ini bagian yang tidak disukai oleh 69 % responden. Prabowo kelihatannya juga harus mulai mengatur kemunculannya sebagai tokoh menonjol karena 50,1 % responden memandangnya kurang baik terlalu menonjolkan diri.
Kemasan seperti iklan Demokrat di televisi mungkin lebih “pas” dimana SBY hanya muncul terakhir dan itupun berupa fotonya saja, diam memandang dengan pandangan tajam, inilah tokoh anti korupsi, tokoh kejujuran itulah kira-kira inti pesannya. Yang aktif hanya Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum dan bekas Ratu Indonesia yang cantik itu. Sementara Partai Hanura yang pernah mengangkat tema kemiskinan juga sebaiknya meninggalkan tema ini karena 44,3 % responden berpendapat tidak baik politik yang menggunakan orang miskin, yang diangkat seharusnya bagaimana mengurangi kemiskinan.
Jadi bagaimana dengan Parpol yang dananya terbatas?. Beberapa parpol papan tengah masih yakin dengan pemilih tradisionalnya, tetapi secara “silent” para swing voter mulai dituai oleh Partai Demokrat, Gerindra, PDIP, Golkar dan PKS. Banyak partai baru kelihatannya akan gigit jari apabila masih menggunakan pola berfikir dengan paradigma lama, tidak menyadari telah terjadi perubahan selain perilaku pemilih juga pola penyampaian pesan. Partai-partai Islam sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih rasional, karena para pemilih kini lebih menggunakan cara berfikir rasional, mengalahkan perintah agama.
Bagi yang dananya kurang mungkin dapat belajar dari “campaign coordinator” PKS tentang ilmu “nekat”, kontroversi. Kalau mencoba membuat cara kontroversi sendiri dan salah, para swing voter yang semakin pintar akan tertawa dan bahkan meninggalkan mereka. Terlihat pada pemilu 2009 akan semakin sulit bagi partai baru untuk mencapai batas ambang yang ditetapkan, pilihannya kini hanya dua “nyerah” atau “nekat”. Kelihatannya nekat yang dipilih…siapa tahu kan, namanya juga usaha dijaman krisis ini. Selamat berjuang pak, semoga informasi ini bermanfaat.Pray
30 tanggapan untuk “Iklan Politik Gerindra, Demokrat Dan PDIP”
Rukyal Basri,
— 12 Desember 2008 jam 2:38 am
Pak Pray, bisa juga semakin dekat ke pilpres nanti, iklan iklan itu akan mendapat pertanyaan rakyat : Apa Yang SUDAH Anda Lakukan Untuk Negara dan Rakyat selama ini ? Iklan yang tidak sesuai kandungan isinya, ya hanya akan bermakna retorika kosong ‘AKAN….AKAN….’ tentu nyaris sebagaimana juga dagelan pepesan kosong. Memang sih akan ada yang ‘terpesona’ tapi karena waktu pilpres masih lama, nasibnya nanti mungkin seperti kerupuk kulit masuk angin…………….
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 6:20 am
Pak Rukyal, apa kabar nih, dingin disana?Kalau disini walau hujan, kadang banjir tapi panas, maksudnya mulai agak panas menjelang awal 2009.makin dekat ke pemilu,panasnya mulai pasang bendera2, nyetak kaos2. Kan namanya juga “akan” pemilu, semua tergantung kepada pengemas iklan itu saya kira. Jangan terlalu hebat membuat iklan ya…terus kalau tidak ada aksi apa2…ya seperti yg dikatakan itu dagelan pepesan kosong. Saya kemarin ke Magelang ada acara reuni Akabri abituren 1970, saat bertemu dengan kakak ipar yg tinggal disalah satu desa di klaten, dia dan teman2nya masuk ke gerindra, karena anggota gerindra dikasih pupuk katanya. Nah selain iklan2 kelihatannya perlu langkah2 dilapangan. Rakyat kan butuh bukti. Kini, kita lihat di TV masyarakat mulai sulit mencari gas tabung 3 kg, terus masaknya bagaimana, pada antri. Ini kan yg disalahkan pemerintah, imbasnya pasti ke penguasa bukan. Kalau kurang hati2 yg seperti ini akan membuat calon pemilih tidak nyaman..artinya ya pilih partai harapan saja. Maka jadilah seperti yg pak Rukyal katakan seperti “kerupuk kulit masuk angin”. Salam ya.Pray.
iman nugraha,
— 12 Desember 2008 jam 6:48 am
pak pray, apakah dengan trend iklan seperti ini, model kampanye di Indonesia nantinya akan seperti di AS sana? Saya sih menduga akan ke arah sana - meski dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda. Jika memang demikian, ya sebagaimana disampaikan pak pray, ‘kiamat’ buat partai2 baru dan yg berbudget rendah…mungkin itu juga sebabnya mereka masih mengandalkan iklan kampanye di ruang terbuka, makanya kasihan pohon2, tiang listrik, papan reklame, traffic light jadi korban kampanye parpol..mungkin juga saya kali ya..hehehe
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 7:45 am
Mas Iman, saya kira mungkin akan begitu, kan katanya pengaruh globalisasi….nyontoh2 dari Amerika selain makanan cepat saji, jin butut yg paling suka ditiru. Iya ya, kira2 akan ditiru pola kampanyenya, hanya kuantitas dan kualitasnya agak beda. Oleh karena itu bagi partai yang dananya tipis benar kira2 akan kiamat, kecuali kalau bisa meyakinkan masyarakat seperti Obama yg dapat sumbangan 640 juta dollar baru hebat…tapi disini sekarang siapa yg mau nyumbang? Parpol banyak yg mengalami krisis keuangan. Buat hidup saja susah, konglomeratpun mulai pada sulit, jadi hanya parpol yg berduit saya perkirakan akan meningkat perolehan suaranya. Yg jadi perhatian saya…rakyat menjadi lebih pintar, belajar otodidak sepertinya, padahal baru belajar sekitar 4,5 tahun. Terima kasih Mas Iman tanggapannya terutama kata-kata “kiamat” itu, sereeeem.Salam Pray.
ibm,
— 12 Desember 2008 jam 7:49 am
Syah-2 saja itu Parpol bikin iklan politik karena ada pesta demokrasi di tahun 2009.Bagaimana dengan banyaknya iklan-2 yang dilakukan departemen-2 milik pemerintah. Apakah beriklan dengan gratisan, tidak menggunakan kas negara. Kalau menggunakan kas negara berapa yang sudah dikeluarkan..??. Saya lihat di TV sebagian besar menteri-2 muncul di TV dengan iklannya masing-2. Yang menjadi pertanyaan saya berapa besar uang rakyat dihambur-2 kan tanpa tujuan yg jelas…!!!
Lamsihar Verlando,
— 12 Desember 2008 jam 7:59 am
Saya rasa iklan tidak perlu di adakan kalau si calon pemimpin sudah menciptakan track record yang baik dan ada bukti nyata dari apa yang dilakukannya khususnya untuk masyarakat.Semua yang ada sekarang tidak membuktikan apa apa, hanya janji yang selama ini rakyat sudah bosan. Masalah ekonomi dan pengangguran bukan menjadi faktor suksesnya seseorang karena dinegara majupun banyak penggangguran. Tetapi selama ini mereka, baik yang pernah atau tidak pernah duduk dipemerintahan tidak pernah menciptakan hal baru. Meneruskan saja mereka tidak mampu alias tidak konsisten, tidak serius atau hanya ingin memanfaatkan jatah 5 tahunan aja. Tidak adanya support dari berbagai pihak yang merasa pintar juga ada kaitannya.Inilah ciri khas masyarakat kita baik itu orang penting ataupun TKI diluar negeri mempunyai perasaan iri, dengki dan munafik antar sesama membuat bangsa kita terpuruk.Mungkin mereka berbuat itu karena dorongan ekonomi atau terlalu banyak tertindas ? Tapi bagaimana dengan keadaan 20 tahun yang lalu ? kita bisa menjadi bangsa yang hebat walau sama keadaannya seperti sekarang.Mudah2 an kita tidak perlu lagi diktator karena masyarakat kita seakan seperti anak TK.Trims ya pak Prayitno.
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 8:30 am
@ibm, tentang iklan politik di media massa jelas syah, karena mereka pakai uang sendiri, lebih penting lagi cerdik karena seperti itulan trend kampanye masa kini. Semua membuat iklan karena Tv sudah mencapai hampir seluruh pelosok, bahkan sampai kepedalaman. Tks tanggapannya.Pray
@Bang Lamsihar, wah agak protes nih…tapi ok saja deh, setiap apa yg disampaikan penanggap akan dibaca oleh pembaca, banyak yg menggemari tanggapan2, nah tanggapan anda jelas akan dibaca oleh banyak orang, terlepas itu saran, keluhan, rasa kurang puas. Ok, terima kasih ya sudah menanggapi. Salam.Pray.
Adhy,
— 12 Desember 2008 jam 10:01 am
dalam dunia maeketing, untuk perusahaan kecil/partai kecil yang gak punya duit banyak, ada sebenarnya cara memasarkan partainya yang efektif, yaitu direct salling. cuma syaratnya harus punya kader-kader yang militan, yang punya jiwa salles, yang siap door to door memasarkan partainya.ada banyak keuntungan dg strategi ini:1. biaya lebih murah2.bisa menjangkau ke daerah yang gak ada sinyal TV/radio3.akan mendapat peta real pertempuran yang nyata di lapangan. mana basis kita, mana basis lawan kitasilahkan coba. sudah terbukti sangat efektif oleh perusahaan MLM
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 10:21 am
Mas Adhy, wah ini ada masukan kampanye pakai cara perusahaan MLM, kalau ada yg berminat silahkan berkonsultasi disini, nanti akan dijawab oleh Adhy. Tks & Salam, Pray.
Kang Baim,
— 12 Desember 2008 jam 11:49 am
Pak Pray, ada yang ketinggalan pak, ada juga iklan dari jaringan nusantara yang katanya mengcounter isu sembako murah PDIP, mereka sebut “MANA MUNGKIN..?”dan mereka menjelaskan bahwa program sembako murah hanyalah iklan pragmatis PDIP yang hanya diangan-angan, bagaimana tu..? coba dianalisis juga pak, tks.
nuni,
— 12 Desember 2008 jam 12:01 pm
selamat siang pak Pray,lama nich saya tidak muncul tapi saya selalu setia buka dan baca tulisan-tulisan di kompasiana koq pak. hanya karena saya merasa tidak kompeten untuk berkomentar makanya saya jadi silence reader saja hehehe…
saya pribadi lebih setuju dengan cara kampanye lewat iklan media elektronik maupun media cetak tanpa perlu pengerahan massa yang berpotensi untuk menimbulkan keributan. kampanye lewat media massa sepanjang bukan black campaign akan lebih mendidik masyarakat.
dan yang paling penting dari semua itu adalah bahwa kita semua harus belajar berdemokrasi dengan saling menghargai sehingga pemili dapat berjalan dengan baik tanpa perlu saling gontok-gontokan dan merusak fasilitas pribadi maupun umum, toh yang akan rugi kita sendiri…..
Novrita,
— 12 Desember 2008 jam 12:42 pm
Sah sah aja kalau mau beriklan.. karena bagaimanapun juga untuk bisa dikenal kan harus memasarkan diri… Menonjolkan setiap kebaikan yang ada..Cuma saya agak miris nih pak Pray.. apa iya yang ditampilkan memang betul sehebat itu or se ideal itu..? Karena dari pengalaman saya, jika saya mengenal dekat seseorang ‘tokoh’, biasanya saya malah kecewa. Kok kecewa…? ..Ya iya, karena ternyata mereka tidak sehebat dan seindah kalau saya belum mengenal mereka.Makanya saya kadang agak mencibir jika melihat iklan2 yang menawarkan ‘kebaikan’. Padahal kan kita tidak boleh untuk berprasangka buruk dulu…Terus terang saya bingung dengan banyaknya partai… bingung yang mana yang benar2 memperjuangkan rakyat, dan tidak mencela satu sama lain…Insya Allah pada saatnya nanti saya bisa mantap untuk memilih.. (kok seperti mau memilih jodoh ya pak., he he..)Semoga pak Pray dan keluarga sehat selalu..sehingga pak Pray bisa terus menghasilkan tulisan2 yang bisa jadi bahan pembelajaran saya.
Prayitno Ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 1:15 pm
@Nuni,Terima kasih sudah mengomentari kembali, tidak apa2 kalau komentar kan pandangan kita terhadap apa yg dibaca dan berkembang sebagai suatu wawasan ya. Ok, memeng sengaja topik ini saya angkat, sebagai sumbangan pengetahuan tentang perubahan perilaku para pemilih dan pola serta metoda penyampaian pesan kepada konstituen. Kalau parpol tidak mau mengikutinya , yah saya pikir akan sulit menangguk perolehan suara bulan April nanti. Kecuali beberapa parpol yg sudah mempunai anggota ataupun pendukung tradisional. Nanti ada waktunya diperbolehkan mengadakan pertemuan2. Saya setuju kalau berdemokrasi sebaiknya menghargai hak orang lain, tapi ya itu tadi, rakyat sedang dalam tahap pembelajaran demokrasi kebebasan…saya sebut kini masa transisi, kita harus hati2. Semoga pemilu nanti aman ya. Salam.Pray
@ NovritaIya tuh Novrita,benar, gunungpun dari jauh terlihat indah…biru ada awan disekitarnya, kalau didekati, isinya hutan rimba, bocel-bocel, ada jurangnya, naik turun. Jadi relatif kali ya istilahnya pengenalan parpol dan tokoh. Tapi sekarang, mudah2an beliau2 tidak begitu, jaman sudah lebih transparan, kalau main2 dan bohong2 memang mau dikritik rakyat?Belum lagi di sumpahin…serem. Saya senang Novrita mengatakan mau meilih, nah gunakan hak pilihnya itu kan hanya sekali lima tahun, sesuaikan saja dengan keyakinannya itu, pergunakan referensi yg ada, kan sudah ada nih….kompasiana, he,he,he…jadi ngiklankan kompasiana. Memang I love this blog, sudah smart, wise, comfort dan friendly lagi…seperti doa Novrita kepada saya agar sehat…Thank you so much. Semoga Novrita juga diberi nimat kesehatan.Salam hangat.Pray.
Prayitno Ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 5:02 pm
Kang Baim, namanya juga iklan mengiklan, iklan jamu itu kan hebat2 asam urat, kolesterol, pegel linu, tapi ternyata ada yg tidak benar juga isinya paracetamol katanya, ini pabrik jamu kagak jelas Kang. Kalau beli jamu jangan sembarangan makanya, pabrik dan pembuatnya mesti kredibel. Nah kalau iklan PDIP itu jelas, maksud saya jelas yg buat sebuah partai besar, papan atas, kan mereka hanya mau menarik minat siapa tahu swing voter pada melirik, iya kan. tentang ada yg mengcounter itu…ya namanya juga disini move disana khawatir, tapi tidak apa2, kan nanti kalau PDIP menang mesti ditanya rakyat mana sembako murahnya?. Tapi dari data sembako adalah bagian terpenting dalam kehidupan kita kan?. Gitu ya Kang Baim, ente dari Betawi apa dari Cianjur? Salam>Pray.
Eep Khunaefi,
— 12 Desember 2008 jam 9:28 pm
Bapak saya adalah orang NU tulen. Ia pengagum Gus Dur. Tetapi, kemarin, saya pulang kampung untuk bersilaturrahmi dengan orang tua. Sambil minum kopi, iseng-iseng kami ngobrol masalah politik. Perbincangan akhirnya mengerucut soal pemerintahan sekarang. “Bapak bingung, Ep?” ujar Bapak saya.
“Bingung apanya, Pak?” tanya saya heran.
“Saya senang pada Gus Dur (yang otomatis akan milih PKB -red), tapi SBY sukses di bidang pemberantasan korupsi. Bapak kayaknya nyoblos SBY aja,” jawabnya ringan.
Saya kaget dengan jawaban Bapak saya di atas. Saya tahu bahwa bapak saya sangat mengagumi NU dan Gus Dur. Jadi, ketika pilihannya jatuh pada SBY, hal ini membuat saya sedikit terkejut. Saya pikir, kejadian serupa pasti dialami banyak orang. Mungkin, pendukung SBY ada yang lari ke partai lain. Tapi, pendukung partai lain pun ada yang mulai masuk menjadi pendukung SBY. Jadi, keadaannya sebenarnya berimbang.
Soal iklan politik di TV, saya melihat dua yang efektif: iklan Prabowo dan iklan SBY. Kenapa iklan SBY efektif? Soalnya, isu yang dibangun dalam iklan tersebut adalah sesuatu yang sudah berhasil dijalankan oleh pemerintahan SBY. Jadi, SBY bukan ngomong kosong jika “Stop” Korupsi.
Lalu, kenapa iklan Prabowo efektif? Selain gencar beriklan, juga tepat sasaran. Lebih penting lagi, Prabowo terlibat aktif sebagai ketua HKTI. Jadi, orang percaya jika Prabowo terpilih sebagai Presiden, maka akan memajukan pertanian Indonesia.
Persoalannya, bapak saya adalah seorang petani tulen. Sebagian besar hidupnya dari nanam padi. Tapi, kenapa ia tidak tergoda dengan iklan Prabowo yang menawarkan kemajuan pertanian. Ia justru kepincut dengan SBY. Karena di mata Bapak saya, SBY dianggap berhasil dalam memimpin negeri ini, terlepas dari masih banyak kelemahannya. Sehingga citra positif itu mampu menggulingkan rasa fanatisme Bapak saya terhadap NU dan Gus Dur.
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 10:31 pm
Wah ini baru berita baru nih Mas Eep, bagus juga info tentang bagaimana si Bapak NU tulen itu bisa bergeser menjadi pengagum SBY…ada sesuatu kekecewaan yg ada dipikiran beliau terhadap kondisi di PKB, kecewa dengan Gus Dur, kecewa yang tidak ada jalan keluarnya, karena dahulu PKB dinahkodai Gus Dur sebagai Dewan Syuro, Ketua Partainya para senior yang juga menjadi tokoh2 besar seperti Pak Matori, Pak Alwi Shihab. Begitu PKB berhasil di ambil alih oleh kaum muda, maka banyak pengikut PKB dan NU yang kecewa, karena PKB adalah partai kelompok santri, kaum Nahdliyin yang menempatkan kiai pada tempat terhormat. Kini PKB dikelola bukan dengan pakemnya, tanpa Dewan Syuro, kelompok Dewan Tanfidz yg penuh memegang kontrol. Maaf mas Eep, kenapa ini saya ungkapkan, agar kita berimbang melihat suatu fakta, kebetulan saya dahulu sewaktu menjadi penasehat Pak Matori sering mengikuti ke pesantren2 dan saya pernah membuat dua tulisan di Sindo tentag PKB, Gus Dur dan Cak Imin membela yg benar. Tapi mungkin juga kemudian pelarian bapaknya itu mencari tokoh yg sesuai dengan keinginannya…munculah SBY dengan citra positifnya. Begitu ya Mas Eep, tks banyak komentarnya. Salam Pray.
Darmanto,
— 13 Desember 2008 jam 10:17 am
Apakah SBY benar2 seorang tokoh & pemimpin yang jujur…bebas dari KKN ?Tulisan mas Inu di Kompasiana yang menceritakan tentang keluarga SBY sangat menggelitik:“……kegemaran akan mobil ternyata juga terlihat dari putra bungsu pak beye, edhie baskoro yudhoyono alias ibaz. lulusan universitas australia dan singapura yang belum sempat bekerja profesional ini saat ini aktif di partai politik yang didirikan pak beye dan saat ini diketuai pakdenya hadi utomo. saat ini, ibaz merintis karir politik menjadi calon anggota legislatif dari daerah pemilihan jatim vii dimana pacitan masuk dalam salah satu cakupan daerahnya.
setidaknya, ada tiga mobil yang ditumpangi ibaz berganti-gantian tergantung acara yang hendak dihadiri. mobil itu antara lain dari toyota alphard, chevrolet, dan audi. tentu saja semua mobil itu model terbaru.”
Jika kita berfikir secara logis & rasional, dari mana anak bungsu SBY yang menurut tulisan tsb belum sempat bekerja profesional bisa memiliki mobil2 mewah tersebut ? semoga kita bisa membuka mata & hati kita agar tidak terkecoh dengan sikap & ucapan manis sang idol.
Belum lagi dengan sikap marah yg ditunjukkan SBY kemarin terhadap aksi demo di istana negara yg menurutnya sangat mengganggu karena menggunakan pengeras suara. Suatu tindakan yang menunjukkan SBY tidak aspiratif terhadap tuntutan (demo) masyarakat, karena tidak melihat esensi & tujuan dari dilakukannya demo tersebut. Dalam dialog antara Kadiv Humas Polri R. Abubakar Nataprawira dgn aktivis Forkot Mixil Mina Munir di tvOne semalam, Abubakar menyatakan bahwa demo dgn menggunakan pengeras suara akan dilarang…akankah kita akan kembali ke era orde baru dimana segala bentuk unjuk rasa dimuka umum merupakan pelanggaran hukum ?
Wass,Darmanto
NB: tulisan lengkap mas Inu dapat dibaca di http://wisnunugroho.kompasiana.com/category/keluarga/
Dicky Saputra,
— 13 Desember 2008 jam 12:56 pm
Salam sejahtera untuk semua penCINTA Indonesia
Wajah perpolitikan di negeri kita masih sangat konvensional dalam menunjukan identitas dan cita-citanya. Kebanyakan orang-orang yang yang berkecimpung didalamnya selalu mengikuti “musim” yang berlaku disuatu tempat. Maksudnya kalo musim mangga semua ngomongin mangga, kalo musim durian semua ngomongin durian
Sekarang lagi musin kampanye dan orang-orang yang berkecimpung didalam dunia politik jor-joran mengeluarkan dana untuk “menyihir” orang-orang yang diluar dunia politik. Dan menurut saya hampir semua yang ditampilkan dalam iklan tidak lebih hanya sebuah “pembohongan”. Tanya kenapa!!!
Karena yang pasang iklan adalah orang-orang yang selalu kita jumpai pada saat musim “5 tahunan”
Salam dari Ujung Barat Indonesia (Aceh)
Eep Khunaefi,
— 13 Desember 2008 jam 1:30 pm
Betul Pak Pray. Di mata Bapak saya, selain faktor keberhasilan SBY dalam memberantas korupsi juga karena sepertinya Bapak saya “agak kecewa” dengan persoalan internal PKB yang tak kunjung selesai. Apalagi, kenyataannya, orang yang didukung bapak saya yaitu Gus Dur tidak mendapat tempat lagi di PKB.
By the way, saya tidak menyangka ya ternyata Bapak pernah menjadi penasehat Pak Matori juga. Semoga Bapak sehat dan sukses selalu! Amien.
mahendra,
— 13 Desember 2008 jam 3:43 pm
iklan politik partai2 lewat TV memang sangat berpengaruh besar sekali terhadap kemajuan partai tersebut, contohnya di setiap perjalanan pulang saya jawa - bali - jawa (lewat darat tentunya) banyak sekali memasang daftar2 caleg kebanyakan dari partai2 yang sudah beriklan di TV itu, dan kayaknya para caleg dengan jumlah yang paling banyak ya dari partai yang beriklan di tv tersebut, sepertinya mereka juga tidak mau kalah, malah dengan ukuran yang sangat besar, terutama di Bali khususnya denpasar hampir setiap sudut jalan atau tempat keramain jalan raya pasti anda akan melihat wajah2 para caleg dikiri kanan jalan raya. dan yang terbesar para caleg itu berangkat dari partai 2 yang beriklan di tv itu, (Demokrat,PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura,) ada juga caleg dari partai religius seperti PAN, tapi juga tidak banyak pesertanya. apalgi PKB? nyaris tak terdengar!! mengutip pernyataan rizal ramli “sepertinya pkb sekarang seperti kereta api, tapi gerbonnya kosong” tidak ada penumpangnya. Pertanyaan saya pak sebenarnya partai2 sekarang itu berapa sih jumlahnya? saya juga tidak hapal semuanya.salam,mahendra
Prayitno Ramelan,
— 13 Desember 2008 jam 10:16 pm
@Mas Darmanto, maaf ya terlambat membalas….memang Wisnu itu wartawan yang selalu berada disekitar…ups maksudnya didalam istana, setiap ada kejadian agak menyolok pasti terekam sama dia, saya juga sudh membaca kalau Presiden marah sama demonstran yg bawa pengeras suara, barangkali pake yg 1000 watt, sampai menggelegar, dan pasti menggangu kedalam istana. Nah lho, jadi ada konflik nih, yg penting kan sebenarnya demo sudah ada aturannya, mungkin belum diatur ttg pengeras suara itu, kan demonstran sekarang sudah makin pintar, kalau cuma pakai loadspeaker biasa paling yg dengar hanya tiang bendera saja. Sekarang pada menggunakan pengeras yg sangat keras, maka sampailah pesan mereka kedalam istana, pokoknya ganggu dulu, perkara didengar atau tidak urusan nanti, gitu kali ya. Nah tentang masalah mobil yang 3 biji itu, saya terus terang belum tahu. Begitu Mas Darmanto, yg jelas tanggapannya pasti dibaca oleh banyak orang. Salam.Pray.
@Mas Dicky, di Aceh lagi musim apa?, di Jakarta kadang musim banjir, dan musim yang tidak pernah berganti adalah musim macet!! Iya ya, sekarang musim kompanye, iyalah yang muncul pemain musiman lima tahunan….pada mengeluarkan uang banyak walau seringnya tidak berhasil juga. Dan saya dengar sudah ada yg mulai guluung tikar perusahaannya karena terlalu berambisi beriklan. Kalau di Kompasiana…musimnya…ya musim nulis dan tanggap menanggapi kali ya. Salam>Pray.
@Mas Eep, benar juga ya perkiraan saya ttg bapaknya, idolanya runtuh, maka runtuhlah kepercayaan dan kesetiaannya. Iya 2,5 tahun saya mendampingi Alm Pak Matori. Btw nanti saya nulis juga ttg PKB.
@Mas Mahendra, Awalnya partai peserta pemilu ada 34 tingkat nasional dan 6 partai lokal di Aceh, kemudian sesuai keputusan PTUN, KPU akhirnya memutuskan mengikutkan 4 parpol lagi tingkat nasional yaitu Partai Syarikat Indonesia, Partai Buruh, Partai Merdeka dan Partai persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia. Jadi total jumlahnya 38 Parpol peserta tingkat nasional dan 6 tingkat lokal di Aceh. Tapi yg beken yang sepertinya tidak ada 25% nya kali. Partai baru yang mulai dikenal hanya Hanura, Gerindra, PMB, PKNU ya kira-kira baru itu. Maklum lagi pada bingung nyari dana barangkali ya. Salam>Pray
Kang Baim,
— 14 Desember 2008 jam 1:40 pm
Tanggapan atas mas Darmanto, saya pikir terlalu naif kalau harus mengomentari jumlah mobil, apalagi hanya 3 buah, untuk anak seorang presiden dan cucu Pangkostrad Sarwo Edhie Wibowo, mestilah juga bukan calang2 orang, beliau memang terlahir dari keluarga yang berada, lihat saja sejarah keluarganya yang cukup mengesankan, pengukir sejarah dimasanya, saya kira mobil 3 buah bukanlah sebuah bentuk pertunjukan Show off kepada masyarakat, tapi sebuah bentuk adaptasi diri, untuk menyesuaikan kebutuhan tamu yang datang dan daerah konstituen yang mau dikunjungi.
Mobil yang agak mewah mungkin diperlukan kalau kunjungan dari negera-negara sahabat, mungkin mereka ingin berkenalan dengan keluarga presiden, bisa dari keluarga negara sahabat juga atau dari kerabat2 exlusive lainnya, nah mobil yang agak sederhana, bisa digunakan untuk turun gunung menjumpai konstituen yang ada akar rumput, jadi itu adalah bentuk kepedulian yang sebetulnya sangat jauh dari Show Off tadi, kalau dari penampilan menurut terawangan saya, masih biasa2 aja dan terkesan sederhana, pernah jumpa diLuar negeri tahun ini, tepatnya di Malaysia, biasa aja tuh, pakai sepatu kain, ikat pinggang biasa juga, sangat sederhana dan terkesan culun, karena kebanyakan belajar kali jadi belum begitu wah, seperti kutu buku begitu, menurut saya bahkan saya terpikir dalam hati saya, apakah anak presiden hanya seperti itu..? Karena dalam pikiran saya anak presiden 250 juta rakyat Indonesia, tentu tidak akan sesederhana itu, jadi mungkin perlu kita berpikir lebih jernih tanpa pretensi apa-apa, orang biasa aja bisa beli mobil lebih dari 3 kok, kalau PNS Gol III di daerah aja, menggunakan Bank Lokal, cukup dengan menggunakan SK, bisa dapat pinjaman 100juta, jadi bukan sesuatu yang luar biasa begitu, kalau perdebatan untuk mobil 3 buah itu, menurut hemat kami, bahkan kalau tidak tau apa2 tidak usah berpretensi apa2, dari pada nanti berujung kepada fitnah, malah berdosa dan orang yang anda sangkakan, akan mendapat pengurangan dosa karena fitnah anda, bukan begitu pak Pray..???
prayitno ramelan,
— 14 Desember 2008 jam 2:15 pm
Kang Baim, iya deh namanya juga memberi tanggapan ya, disatu sisi dengan dilain sisi kadang berbeda terutama sudut pandangnya, terlebih ini sudah mengidolakan ini yg itu sudah mengidolakan itu, mari kita berjalan membahas menuju kesuatu arah kepentingan bangsa ini. Mengenai jalannya kesana memang kadang banyak yg suka dan tidak suka, sering terjadi perbedaan pendapat. Semoga tidak terbawa sampai ditempat tidur, kan ceritanya hanya saling membahas ya. Memang saya setuju jangan mengutarakan fitnah di forum ini, terserah masing2 yg menulis kan fitnah itu diartikan apa. Ok, Terima kasih tanggapannya>Pray.
eepkhunaefi,
— 14 Desember 2008 jam 8:54 pm
Saya tunggu tulisan PKB-nya, Pak De.
Prayitno Ramelan,
— 15 Desember 2008 jam 4:18 pm
Insyaallah saya nanti buat ya Mas Eep, sabar ya, saluran first media di rumah langi ngadat nih, ini baru sampi di kantor langsung buka kompasiana, ternyata banyak tanggapan yg belum dijawab. Tks , salam.
Gi,
— 17 Desember 2008 jam 1:10 pm
Saya juga (kalau berkenan) menunggu tulisan tentang kelompok partai “banteng”:1. PNI Marhaenisme2. PDI Perjuangan3. PPDI4. PELOPOR5. PNBK Indonesia6. PDP (yang terbaru, pimpinan Laksamana Sukardi dan Roy B. B. Janis)Masih dalam satu koridoy yang sama, namun menarik juga jika ada yang bersedia mengupasnya.
Oia, buat mas Kang Khunaefi, boleh juga tuh PKB, di partai ini juga ada banyak versi:1. PKB2. PKNU3. PPNUI4. GATARA (baru muncul, bukan peserta Pemilu 2009)Kira-kira akan seperti apa ya distribusi suaranya? Wah, semakin menarik untuk dikupas!
Prayitno Ramelan,
— 17 Desember 2008 jam 4:04 pm
Aggi, terima kasih tanggapannya, iya nih saya sedang mencoba menyusun fakta2 tentang PKB, tentang PDIP saya sudah pernah menulis tetpi fokus tentang bu Mega. Nanti deh Gi ya perlahan-lahan kita tulis yg anda maksud itu, hanya perlu waktu collecting data ni.Tks Salam >Pray.
Eire,
— 18 Desember 2008 jam 9:29 am
Salam,Sebelumnya saya Eire (laki-laki), pernah berkomentar di blog yang atraktif ini sebelumnya. Terima kasih Pak atas tanggapannya yang hangat untuk didiskusikan.
Terkait parpol sempalan (serupa tapi tak sama) memanglah sudah banyak di Pemilu kita ini. Kadang rakyat dibuat jadi bingung. Tidak hanya oleh iklan-iklan mereka, tetapi juga karena content parpol yang hanya berganti wajah, nama, tokoh, atau lambang. Padahal dulunya dari satu induk yang sama.
Dalam kasus ini saya melihatnya karena manajemen konflik dan manajemen organisasi parpol (juga kaderisasi) yang kurang dibina secara profesional. Semoga pendapat saya ini tidak tepat, sehingga akan banyak parpol yang berbenah dan menjadi profesional.
Saya juga sempat dibuat bingung dengan parpol “serupa tapi tak sama” itu, ada banyak. Kalau boleh menampilkan data (maklum, saya suka dengan penjabaran data) jadi insya Allah tidak asal menulis tapi ada faktanya di lapangan. Dan kualitas netralitas tulisan bisa diupayakan dengan baik. Setelah daftar artis yang menjadi caleg (hehe…) berikut daftar parpol “serupa tapi tak sama” itu:
1. PDI-P = PNI MARHAENISME, PPDI, PNBK INDONESIA, PELOPOR, PDP2. PKB = PPNUI, PKB3. GOLKAR = PKPB, GERINDRA, HANURA, PAKAR PANGAN, dsb. (kebanyakan parpol2 kecil)4. PAN = PMB5. PPP = PBR6. PDS = PKDI8. DEMOKRAT = BARNAS9. MASYUMI (dahulu) = PBB
Menarik untuk dikupas bukan? Politik memanlah dinamis, sangat dinamis bisa berubah setiap menit, manuver yang sulit ditebak hingga kemunculan tokoh baru, sangat mungkin terjadi semuanya, inilah politik. Menariknya mungkin disini ya? Hehe…
Eire
Eire,
— 18 Desember 2008 jam 9:32 am
Kang Eep Kunaefi, usulan yang bagus.
PKB memiliki parpol sempalan juga yaitu PPNUI dan PKNU. Terakhir ada GATARA yang baru saja dibentuk tapi belum ikutan Pemilu, entah kapan. Wah, bagaimana ya distribusi suaranya ke depan? Menarik sekali.
Prayitno Ramelan,
— 18 Desember 2008 jam 3:28 pm
@Eire, terima kasih tanggapannya, kalau melihat daftar parpol yg anda sebutkan diatas, memang pelaku dalam dunia perpolitikan ini sebenarnya hanya tiga, dulu ada Nasionalis, Agama dan Komunis. Tapi sekarang faham komunis kan dilarang buat partai, jadi partai-partai umumnya berlatar belakang nasionalis atau Agama. yah wajar kan pengelompokan seperti itu, jadi memang betul yg diungkapkan itu banyak partai yg serupa tapi tak sama, karena dari masing-masing parpol itu ada yg memecahkan diri, tapi ya asasnya sama juga dengan induknya. Maka jadilah banyak partai seperti sekarang ini. Cak Choirul Anam kan dahulu Ketua DPW PKB Jatim, terus bikin partai sendiri jadi PKNU, tapi ya tetap gerbong massanya yg digarap dari PKB juga, karena itu partai Islam susah besarnya karena segmen pasarnya ya itu2 juga tapi diperebutkan banyak partai. Gitu ya Eire. Salam>Pray.
Sumber : www.kompasiana.com , 11 Desember 2008 - Dibaca 764 Kali
Beberapa hari yang lalu penulis membuat artikel tentang gerilya PKS yang mengejutkan banyak pihak lewat iklan kontroversialnya “sang pahlawan” dan PKS Award. Kini, yang coba diangkat adalah trend iklan politik dari Partai Gerindra, Demokrat dan PDIP, dimana titik berat permasalahan yang diangkat berbeda satu sama lainnya. Prabowo Subianto hampir setiap hari muncul di layar kaca dengan slogan kemandirian, swasembada dan penguatan sektor pertanian, mencoba menarik minat masyarakat bergabung di Gerindra. Kemudian PDIP muncul dengan iklan sembakonya “Mana kita tahan ???” Megawati mencoba menarik perhatian konstituen memperjuangkan sembako murah. Dan yang terkini Partai Demokrat muncul lewat media elektronik dan media cetak, iklan dengan slogan “tidak”, maksudnya katakan tidak pada korupsi, mencoba menarik simpati publik dengan menampilkan tokohnya “SBY” penggerak anti korupsi.
Gencarnya cara-cara berkampanye lewat jalur iklan di media massa menurut peneliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi menunjukkan bahwa peran media massa banyak menggantikan peran parpol dalam menjangkau calon pemilih. Munculnya media televisi sebagai media utama penyebaran informasi politik dan sebagai media persuasi paling masif membuat partai semakin kehilangan relevansi sebagai saluran sosialisasi politik. “Inilah silent revolution, revolusi diam-diam yang sedang terjadi dalam kompetisi antar partai di Indonesia,” terangnya.
Korban dari silent revolution ini, adalah partai yang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengakses media massa, terutama televisi melalui slot iklan. Imbasnya, partai baru bukan saja tidak dipilih oleh publik, tapi juga tidak masuk dalam kategori partai yang dikenal.
Silent revolution ternyata membuktikan efektivitas beriklan tadi, hasilnya mulai nampak pada survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Nasional pada bulan November 2008 yang menyebutkan Partai Demokrat mendapat 9,6 % suara dari swing voter dan Gerindra berhasil memikat swing voter 3,7 %. Hingga kini LSN melansir bahwa swing voter baik positif maupun negatif merupakan mayoritas calon pemilih, prosentasenya mencapai 85 % dibandingkan mereka yang merupakan loyalis partai yang hanya 15 %. Inilah sebenarnya “real target” dan harus di kondisikan oleh para konsultan komunikasi masing-masing parpol untuk menaikkan perolehan suara.
Apa sebenarnya sasaran dari iklan-iklan tersebut?. Jelas yang diharapkan adalah terbentuknya opini positif, iklan harus mampu mencakup dua hal, memperkenalkan dan memasarkan calon serta menarik minat terhadap partai. Dari beberapa hasil survei, terdapat beberapa hal yang menjadi fokus konstituen. Ini yang penting harus diketahui para pemasang iklan, sebagai jawaban atas kebutuhan hakiki mereka. Yang menjadi fokus swing voter adalah masalah kejujuran, perekonomian rakyat dan kinerja pemerintah. Lebih jelas hasil survei Johan Polling Lembaga Riset Informasi (LRI) pada bulan mei 2008 menyampaikan bahwa responden sebagian besar menginginkan figur pemimpin yang jujur (84 %), ketegasan figur (71 %), dapat dipercaya (62 %), konsisten (44 %) dan integritas (28 %).
Lembaga Survei Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada bulan Oktober 2008 menyebutkan iklan yang dipandang baik oleh Responden adalah iklan partai Demokrat dan SBY (53,9%), Gerindra dan Prabowo Subianto (53,8%), Golkar dan JK (43,8%), Sutrisno Bachir (41,5%), Rizal Mallarangeng (33,7%). Sebanyak 69% responden memandang tidak baik terhadap iklan yang menonjolkan kelemahan tokoh dan partai lain, 50,1% memandang tidak baik iklan yang menonjolkan tokoh dan partai sendiri, dan 44,3% memandang tidak baik politik yang menggunakan orang miskin.
Partai Demokrat menjelang peringatan hari anti korupsi sedunia yg jatuh pada 9 Desember 2008 telah mengiklankan “katakan tidak pada korupsi”, banyak yang mempertanyakan kenapa memasang iklan anti korupsi. Disini Demokrat mencoba memenuhi keinginan responden atas kebutuhan butuh figur jujur tadi. lklan ini merupakan sub sistem dari sistem lain yang mendukung keberhasilan pemerintahan SBY di beberapa bidang, seperti kesehatan, keamanan, pendidikan dan pertanian yang pertama kalinya surplus dalam 10 tahun terakhir. Namun hasil survei ada yang menyebutkan bahwa responden menyatakan tidak puas pada program pemerintah dalam pengendalian sembako, mengatasi pengangguran dan pengentasan kemiskinan.
Ketidak puasan responden ini dijawab oleh PDIP bersama Megawati dengan iklannya “Mana kita tahan ???” perjuangkan sembako murah. Sebenarnya iklan ini mencoba menjawab rasa tidak puas masyarakat terhadap pemerintah, mungkin iklan PDIP akan lebih berbobot dengan mengiklankan konsep bagaimana menangani masalah yang lebih luas selain sembako seperti mengatasi masalah pengangguran, menciptakan lapangan kerja dan upaya pengentasan kemiskinan.
Sementara Iklan Prabowo dinilai mengandung pesan-pesan simpatik mewakili masyarakat petani, nelayan, dan pedagang pasar tradisional. Dalam iklannya itu bisa terbaca bahwa Prabowo mempunyai visi yang prorakyat. Dinilai agak berbeda dengan Sutrisno Bachir yang juga gencar beriklan, tetapi tidak menolong dalam menaikkan elektabilitasnya, karena pesan iklannya kurang menyentuh kebutuhan hati konstituen.
Nah, kalau ada iklan positif, apakah ada iklan negatif ?. Keributan masalah kenaikan BBM yang ditayangkan media elektronik adalah salah satu contoh iklan negatif bagi pemerintah. Langsung tanpa dapat ditahan popularitas SBY jatuh dan berada dibawah Megawati pada bulan Juni 2008 lalu. Kini, dengan masih berlangsungnya krisis di dunia, yang juga berimbas di Indonesia, kemungkinan yang akan terjadi adalah PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) oleh beberapa perusahaan. Kalau kurang hati-hati masalah pengangguran ini bisa menjadi iklan negatif bagi SBY dan Partai Demokrat, karena merupakan salah satu fokus responden disamping sembako dan kemiskinan.
Jadi itulah sedikit gambaran seni iklan mengiklan politik di media massa yang kini ternyata memegang peran sangat penting dalam membangun citra dan opini. Yang perlu diingat para elit politik jangan terpikir membuat iklan yang menonjolkan kelemahan tokoh dan partai lain, karena ini bagian yang tidak disukai oleh 69 % responden. Prabowo kelihatannya juga harus mulai mengatur kemunculannya sebagai tokoh menonjol karena 50,1 % responden memandangnya kurang baik terlalu menonjolkan diri.
Kemasan seperti iklan Demokrat di televisi mungkin lebih “pas” dimana SBY hanya muncul terakhir dan itupun berupa fotonya saja, diam memandang dengan pandangan tajam, inilah tokoh anti korupsi, tokoh kejujuran itulah kira-kira inti pesannya. Yang aktif hanya Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum dan bekas Ratu Indonesia yang cantik itu. Sementara Partai Hanura yang pernah mengangkat tema kemiskinan juga sebaiknya meninggalkan tema ini karena 44,3 % responden berpendapat tidak baik politik yang menggunakan orang miskin, yang diangkat seharusnya bagaimana mengurangi kemiskinan.
Jadi bagaimana dengan Parpol yang dananya terbatas?. Beberapa parpol papan tengah masih yakin dengan pemilih tradisionalnya, tetapi secara “silent” para swing voter mulai dituai oleh Partai Demokrat, Gerindra, PDIP, Golkar dan PKS. Banyak partai baru kelihatannya akan gigit jari apabila masih menggunakan pola berfikir dengan paradigma lama, tidak menyadari telah terjadi perubahan selain perilaku pemilih juga pola penyampaian pesan. Partai-partai Islam sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih rasional, karena para pemilih kini lebih menggunakan cara berfikir rasional, mengalahkan perintah agama.
Bagi yang dananya kurang mungkin dapat belajar dari “campaign coordinator” PKS tentang ilmu “nekat”, kontroversi. Kalau mencoba membuat cara kontroversi sendiri dan salah, para swing voter yang semakin pintar akan tertawa dan bahkan meninggalkan mereka. Terlihat pada pemilu 2009 akan semakin sulit bagi partai baru untuk mencapai batas ambang yang ditetapkan, pilihannya kini hanya dua “nyerah” atau “nekat”. Kelihatannya nekat yang dipilih…siapa tahu kan, namanya juga usaha dijaman krisis ini. Selamat berjuang pak, semoga informasi ini bermanfaat.Pray
30 tanggapan untuk “Iklan Politik Gerindra, Demokrat Dan PDIP”
Rukyal Basri,
— 12 Desember 2008 jam 2:38 am
Pak Pray, bisa juga semakin dekat ke pilpres nanti, iklan iklan itu akan mendapat pertanyaan rakyat : Apa Yang SUDAH Anda Lakukan Untuk Negara dan Rakyat selama ini ? Iklan yang tidak sesuai kandungan isinya, ya hanya akan bermakna retorika kosong ‘AKAN….AKAN….’ tentu nyaris sebagaimana juga dagelan pepesan kosong. Memang sih akan ada yang ‘terpesona’ tapi karena waktu pilpres masih lama, nasibnya nanti mungkin seperti kerupuk kulit masuk angin…………….
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 6:20 am
Pak Rukyal, apa kabar nih, dingin disana?Kalau disini walau hujan, kadang banjir tapi panas, maksudnya mulai agak panas menjelang awal 2009.makin dekat ke pemilu,panasnya mulai pasang bendera2, nyetak kaos2. Kan namanya juga “akan” pemilu, semua tergantung kepada pengemas iklan itu saya kira. Jangan terlalu hebat membuat iklan ya…terus kalau tidak ada aksi apa2…ya seperti yg dikatakan itu dagelan pepesan kosong. Saya kemarin ke Magelang ada acara reuni Akabri abituren 1970, saat bertemu dengan kakak ipar yg tinggal disalah satu desa di klaten, dia dan teman2nya masuk ke gerindra, karena anggota gerindra dikasih pupuk katanya. Nah selain iklan2 kelihatannya perlu langkah2 dilapangan. Rakyat kan butuh bukti. Kini, kita lihat di TV masyarakat mulai sulit mencari gas tabung 3 kg, terus masaknya bagaimana, pada antri. Ini kan yg disalahkan pemerintah, imbasnya pasti ke penguasa bukan. Kalau kurang hati2 yg seperti ini akan membuat calon pemilih tidak nyaman..artinya ya pilih partai harapan saja. Maka jadilah seperti yg pak Rukyal katakan seperti “kerupuk kulit masuk angin”. Salam ya.Pray.
iman nugraha,
— 12 Desember 2008 jam 6:48 am
pak pray, apakah dengan trend iklan seperti ini, model kampanye di Indonesia nantinya akan seperti di AS sana? Saya sih menduga akan ke arah sana - meski dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda. Jika memang demikian, ya sebagaimana disampaikan pak pray, ‘kiamat’ buat partai2 baru dan yg berbudget rendah…mungkin itu juga sebabnya mereka masih mengandalkan iklan kampanye di ruang terbuka, makanya kasihan pohon2, tiang listrik, papan reklame, traffic light jadi korban kampanye parpol..mungkin juga saya kali ya..hehehe
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 7:45 am
Mas Iman, saya kira mungkin akan begitu, kan katanya pengaruh globalisasi….nyontoh2 dari Amerika selain makanan cepat saji, jin butut yg paling suka ditiru. Iya ya, kira2 akan ditiru pola kampanyenya, hanya kuantitas dan kualitasnya agak beda. Oleh karena itu bagi partai yang dananya tipis benar kira2 akan kiamat, kecuali kalau bisa meyakinkan masyarakat seperti Obama yg dapat sumbangan 640 juta dollar baru hebat…tapi disini sekarang siapa yg mau nyumbang? Parpol banyak yg mengalami krisis keuangan. Buat hidup saja susah, konglomeratpun mulai pada sulit, jadi hanya parpol yg berduit saya perkirakan akan meningkat perolehan suaranya. Yg jadi perhatian saya…rakyat menjadi lebih pintar, belajar otodidak sepertinya, padahal baru belajar sekitar 4,5 tahun. Terima kasih Mas Iman tanggapannya terutama kata-kata “kiamat” itu, sereeeem.Salam Pray.
ibm,
— 12 Desember 2008 jam 7:49 am
Syah-2 saja itu Parpol bikin iklan politik karena ada pesta demokrasi di tahun 2009.Bagaimana dengan banyaknya iklan-2 yang dilakukan departemen-2 milik pemerintah. Apakah beriklan dengan gratisan, tidak menggunakan kas negara. Kalau menggunakan kas negara berapa yang sudah dikeluarkan..??. Saya lihat di TV sebagian besar menteri-2 muncul di TV dengan iklannya masing-2. Yang menjadi pertanyaan saya berapa besar uang rakyat dihambur-2 kan tanpa tujuan yg jelas…!!!
Lamsihar Verlando,
— 12 Desember 2008 jam 7:59 am
Saya rasa iklan tidak perlu di adakan kalau si calon pemimpin sudah menciptakan track record yang baik dan ada bukti nyata dari apa yang dilakukannya khususnya untuk masyarakat.Semua yang ada sekarang tidak membuktikan apa apa, hanya janji yang selama ini rakyat sudah bosan. Masalah ekonomi dan pengangguran bukan menjadi faktor suksesnya seseorang karena dinegara majupun banyak penggangguran. Tetapi selama ini mereka, baik yang pernah atau tidak pernah duduk dipemerintahan tidak pernah menciptakan hal baru. Meneruskan saja mereka tidak mampu alias tidak konsisten, tidak serius atau hanya ingin memanfaatkan jatah 5 tahunan aja. Tidak adanya support dari berbagai pihak yang merasa pintar juga ada kaitannya.Inilah ciri khas masyarakat kita baik itu orang penting ataupun TKI diluar negeri mempunyai perasaan iri, dengki dan munafik antar sesama membuat bangsa kita terpuruk.Mungkin mereka berbuat itu karena dorongan ekonomi atau terlalu banyak tertindas ? Tapi bagaimana dengan keadaan 20 tahun yang lalu ? kita bisa menjadi bangsa yang hebat walau sama keadaannya seperti sekarang.Mudah2 an kita tidak perlu lagi diktator karena masyarakat kita seakan seperti anak TK.Trims ya pak Prayitno.
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 8:30 am
@ibm, tentang iklan politik di media massa jelas syah, karena mereka pakai uang sendiri, lebih penting lagi cerdik karena seperti itulan trend kampanye masa kini. Semua membuat iklan karena Tv sudah mencapai hampir seluruh pelosok, bahkan sampai kepedalaman. Tks tanggapannya.Pray
@Bang Lamsihar, wah agak protes nih…tapi ok saja deh, setiap apa yg disampaikan penanggap akan dibaca oleh pembaca, banyak yg menggemari tanggapan2, nah tanggapan anda jelas akan dibaca oleh banyak orang, terlepas itu saran, keluhan, rasa kurang puas. Ok, terima kasih ya sudah menanggapi. Salam.Pray.
Adhy,
— 12 Desember 2008 jam 10:01 am
dalam dunia maeketing, untuk perusahaan kecil/partai kecil yang gak punya duit banyak, ada sebenarnya cara memasarkan partainya yang efektif, yaitu direct salling. cuma syaratnya harus punya kader-kader yang militan, yang punya jiwa salles, yang siap door to door memasarkan partainya.ada banyak keuntungan dg strategi ini:1. biaya lebih murah2.bisa menjangkau ke daerah yang gak ada sinyal TV/radio3.akan mendapat peta real pertempuran yang nyata di lapangan. mana basis kita, mana basis lawan kitasilahkan coba. sudah terbukti sangat efektif oleh perusahaan MLM
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 10:21 am
Mas Adhy, wah ini ada masukan kampanye pakai cara perusahaan MLM, kalau ada yg berminat silahkan berkonsultasi disini, nanti akan dijawab oleh Adhy. Tks & Salam, Pray.
Kang Baim,
— 12 Desember 2008 jam 11:49 am
Pak Pray, ada yang ketinggalan pak, ada juga iklan dari jaringan nusantara yang katanya mengcounter isu sembako murah PDIP, mereka sebut “MANA MUNGKIN..?”dan mereka menjelaskan bahwa program sembako murah hanyalah iklan pragmatis PDIP yang hanya diangan-angan, bagaimana tu..? coba dianalisis juga pak, tks.
nuni,
— 12 Desember 2008 jam 12:01 pm
selamat siang pak Pray,lama nich saya tidak muncul tapi saya selalu setia buka dan baca tulisan-tulisan di kompasiana koq pak. hanya karena saya merasa tidak kompeten untuk berkomentar makanya saya jadi silence reader saja hehehe…
saya pribadi lebih setuju dengan cara kampanye lewat iklan media elektronik maupun media cetak tanpa perlu pengerahan massa yang berpotensi untuk menimbulkan keributan. kampanye lewat media massa sepanjang bukan black campaign akan lebih mendidik masyarakat.
dan yang paling penting dari semua itu adalah bahwa kita semua harus belajar berdemokrasi dengan saling menghargai sehingga pemili dapat berjalan dengan baik tanpa perlu saling gontok-gontokan dan merusak fasilitas pribadi maupun umum, toh yang akan rugi kita sendiri…..
Novrita,
— 12 Desember 2008 jam 12:42 pm
Sah sah aja kalau mau beriklan.. karena bagaimanapun juga untuk bisa dikenal kan harus memasarkan diri… Menonjolkan setiap kebaikan yang ada..Cuma saya agak miris nih pak Pray.. apa iya yang ditampilkan memang betul sehebat itu or se ideal itu..? Karena dari pengalaman saya, jika saya mengenal dekat seseorang ‘tokoh’, biasanya saya malah kecewa. Kok kecewa…? ..Ya iya, karena ternyata mereka tidak sehebat dan seindah kalau saya belum mengenal mereka.Makanya saya kadang agak mencibir jika melihat iklan2 yang menawarkan ‘kebaikan’. Padahal kan kita tidak boleh untuk berprasangka buruk dulu…Terus terang saya bingung dengan banyaknya partai… bingung yang mana yang benar2 memperjuangkan rakyat, dan tidak mencela satu sama lain…Insya Allah pada saatnya nanti saya bisa mantap untuk memilih.. (kok seperti mau memilih jodoh ya pak., he he..)Semoga pak Pray dan keluarga sehat selalu..sehingga pak Pray bisa terus menghasilkan tulisan2 yang bisa jadi bahan pembelajaran saya.
Prayitno Ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 1:15 pm
@Nuni,Terima kasih sudah mengomentari kembali, tidak apa2 kalau komentar kan pandangan kita terhadap apa yg dibaca dan berkembang sebagai suatu wawasan ya. Ok, memeng sengaja topik ini saya angkat, sebagai sumbangan pengetahuan tentang perubahan perilaku para pemilih dan pola serta metoda penyampaian pesan kepada konstituen. Kalau parpol tidak mau mengikutinya , yah saya pikir akan sulit menangguk perolehan suara bulan April nanti. Kecuali beberapa parpol yg sudah mempunai anggota ataupun pendukung tradisional. Nanti ada waktunya diperbolehkan mengadakan pertemuan2. Saya setuju kalau berdemokrasi sebaiknya menghargai hak orang lain, tapi ya itu tadi, rakyat sedang dalam tahap pembelajaran demokrasi kebebasan…saya sebut kini masa transisi, kita harus hati2. Semoga pemilu nanti aman ya. Salam.Pray
@ NovritaIya tuh Novrita,benar, gunungpun dari jauh terlihat indah…biru ada awan disekitarnya, kalau didekati, isinya hutan rimba, bocel-bocel, ada jurangnya, naik turun. Jadi relatif kali ya istilahnya pengenalan parpol dan tokoh. Tapi sekarang, mudah2an beliau2 tidak begitu, jaman sudah lebih transparan, kalau main2 dan bohong2 memang mau dikritik rakyat?Belum lagi di sumpahin…serem. Saya senang Novrita mengatakan mau meilih, nah gunakan hak pilihnya itu kan hanya sekali lima tahun, sesuaikan saja dengan keyakinannya itu, pergunakan referensi yg ada, kan sudah ada nih….kompasiana, he,he,he…jadi ngiklankan kompasiana. Memang I love this blog, sudah smart, wise, comfort dan friendly lagi…seperti doa Novrita kepada saya agar sehat…Thank you so much. Semoga Novrita juga diberi nimat kesehatan.Salam hangat.Pray.
Prayitno Ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 5:02 pm
Kang Baim, namanya juga iklan mengiklan, iklan jamu itu kan hebat2 asam urat, kolesterol, pegel linu, tapi ternyata ada yg tidak benar juga isinya paracetamol katanya, ini pabrik jamu kagak jelas Kang. Kalau beli jamu jangan sembarangan makanya, pabrik dan pembuatnya mesti kredibel. Nah kalau iklan PDIP itu jelas, maksud saya jelas yg buat sebuah partai besar, papan atas, kan mereka hanya mau menarik minat siapa tahu swing voter pada melirik, iya kan. tentang ada yg mengcounter itu…ya namanya juga disini move disana khawatir, tapi tidak apa2, kan nanti kalau PDIP menang mesti ditanya rakyat mana sembako murahnya?. Tapi dari data sembako adalah bagian terpenting dalam kehidupan kita kan?. Gitu ya Kang Baim, ente dari Betawi apa dari Cianjur? Salam>Pray.
Eep Khunaefi,
— 12 Desember 2008 jam 9:28 pm
Bapak saya adalah orang NU tulen. Ia pengagum Gus Dur. Tetapi, kemarin, saya pulang kampung untuk bersilaturrahmi dengan orang tua. Sambil minum kopi, iseng-iseng kami ngobrol masalah politik. Perbincangan akhirnya mengerucut soal pemerintahan sekarang. “Bapak bingung, Ep?” ujar Bapak saya.
“Bingung apanya, Pak?” tanya saya heran.
“Saya senang pada Gus Dur (yang otomatis akan milih PKB -red), tapi SBY sukses di bidang pemberantasan korupsi. Bapak kayaknya nyoblos SBY aja,” jawabnya ringan.
Saya kaget dengan jawaban Bapak saya di atas. Saya tahu bahwa bapak saya sangat mengagumi NU dan Gus Dur. Jadi, ketika pilihannya jatuh pada SBY, hal ini membuat saya sedikit terkejut. Saya pikir, kejadian serupa pasti dialami banyak orang. Mungkin, pendukung SBY ada yang lari ke partai lain. Tapi, pendukung partai lain pun ada yang mulai masuk menjadi pendukung SBY. Jadi, keadaannya sebenarnya berimbang.
Soal iklan politik di TV, saya melihat dua yang efektif: iklan Prabowo dan iklan SBY. Kenapa iklan SBY efektif? Soalnya, isu yang dibangun dalam iklan tersebut adalah sesuatu yang sudah berhasil dijalankan oleh pemerintahan SBY. Jadi, SBY bukan ngomong kosong jika “Stop” Korupsi.
Lalu, kenapa iklan Prabowo efektif? Selain gencar beriklan, juga tepat sasaran. Lebih penting lagi, Prabowo terlibat aktif sebagai ketua HKTI. Jadi, orang percaya jika Prabowo terpilih sebagai Presiden, maka akan memajukan pertanian Indonesia.
Persoalannya, bapak saya adalah seorang petani tulen. Sebagian besar hidupnya dari nanam padi. Tapi, kenapa ia tidak tergoda dengan iklan Prabowo yang menawarkan kemajuan pertanian. Ia justru kepincut dengan SBY. Karena di mata Bapak saya, SBY dianggap berhasil dalam memimpin negeri ini, terlepas dari masih banyak kelemahannya. Sehingga citra positif itu mampu menggulingkan rasa fanatisme Bapak saya terhadap NU dan Gus Dur.
prayitno ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 10:31 pm
Wah ini baru berita baru nih Mas Eep, bagus juga info tentang bagaimana si Bapak NU tulen itu bisa bergeser menjadi pengagum SBY…ada sesuatu kekecewaan yg ada dipikiran beliau terhadap kondisi di PKB, kecewa dengan Gus Dur, kecewa yang tidak ada jalan keluarnya, karena dahulu PKB dinahkodai Gus Dur sebagai Dewan Syuro, Ketua Partainya para senior yang juga menjadi tokoh2 besar seperti Pak Matori, Pak Alwi Shihab. Begitu PKB berhasil di ambil alih oleh kaum muda, maka banyak pengikut PKB dan NU yang kecewa, karena PKB adalah partai kelompok santri, kaum Nahdliyin yang menempatkan kiai pada tempat terhormat. Kini PKB dikelola bukan dengan pakemnya, tanpa Dewan Syuro, kelompok Dewan Tanfidz yg penuh memegang kontrol. Maaf mas Eep, kenapa ini saya ungkapkan, agar kita berimbang melihat suatu fakta, kebetulan saya dahulu sewaktu menjadi penasehat Pak Matori sering mengikuti ke pesantren2 dan saya pernah membuat dua tulisan di Sindo tentag PKB, Gus Dur dan Cak Imin membela yg benar. Tapi mungkin juga kemudian pelarian bapaknya itu mencari tokoh yg sesuai dengan keinginannya…munculah SBY dengan citra positifnya. Begitu ya Mas Eep, tks banyak komentarnya. Salam Pray.
Darmanto,
— 13 Desember 2008 jam 10:17 am
Apakah SBY benar2 seorang tokoh & pemimpin yang jujur…bebas dari KKN ?Tulisan mas Inu di Kompasiana yang menceritakan tentang keluarga SBY sangat menggelitik:“……kegemaran akan mobil ternyata juga terlihat dari putra bungsu pak beye, edhie baskoro yudhoyono alias ibaz. lulusan universitas australia dan singapura yang belum sempat bekerja profesional ini saat ini aktif di partai politik yang didirikan pak beye dan saat ini diketuai pakdenya hadi utomo. saat ini, ibaz merintis karir politik menjadi calon anggota legislatif dari daerah pemilihan jatim vii dimana pacitan masuk dalam salah satu cakupan daerahnya.
setidaknya, ada tiga mobil yang ditumpangi ibaz berganti-gantian tergantung acara yang hendak dihadiri. mobil itu antara lain dari toyota alphard, chevrolet, dan audi. tentu saja semua mobil itu model terbaru.”
Jika kita berfikir secara logis & rasional, dari mana anak bungsu SBY yang menurut tulisan tsb belum sempat bekerja profesional bisa memiliki mobil2 mewah tersebut ? semoga kita bisa membuka mata & hati kita agar tidak terkecoh dengan sikap & ucapan manis sang idol.
Belum lagi dengan sikap marah yg ditunjukkan SBY kemarin terhadap aksi demo di istana negara yg menurutnya sangat mengganggu karena menggunakan pengeras suara. Suatu tindakan yang menunjukkan SBY tidak aspiratif terhadap tuntutan (demo) masyarakat, karena tidak melihat esensi & tujuan dari dilakukannya demo tersebut. Dalam dialog antara Kadiv Humas Polri R. Abubakar Nataprawira dgn aktivis Forkot Mixil Mina Munir di tvOne semalam, Abubakar menyatakan bahwa demo dgn menggunakan pengeras suara akan dilarang…akankah kita akan kembali ke era orde baru dimana segala bentuk unjuk rasa dimuka umum merupakan pelanggaran hukum ?
Wass,Darmanto
NB: tulisan lengkap mas Inu dapat dibaca di http://wisnunugroho.kompasiana.com/category/keluarga/
Dicky Saputra,
— 13 Desember 2008 jam 12:56 pm
Salam sejahtera untuk semua penCINTA Indonesia
Wajah perpolitikan di negeri kita masih sangat konvensional dalam menunjukan identitas dan cita-citanya. Kebanyakan orang-orang yang yang berkecimpung didalamnya selalu mengikuti “musim” yang berlaku disuatu tempat. Maksudnya kalo musim mangga semua ngomongin mangga, kalo musim durian semua ngomongin durian
Sekarang lagi musin kampanye dan orang-orang yang berkecimpung didalam dunia politik jor-joran mengeluarkan dana untuk “menyihir” orang-orang yang diluar dunia politik. Dan menurut saya hampir semua yang ditampilkan dalam iklan tidak lebih hanya sebuah “pembohongan”. Tanya kenapa!!!
Karena yang pasang iklan adalah orang-orang yang selalu kita jumpai pada saat musim “5 tahunan”
Salam dari Ujung Barat Indonesia (Aceh)
Eep Khunaefi,
— 13 Desember 2008 jam 1:30 pm
Betul Pak Pray. Di mata Bapak saya, selain faktor keberhasilan SBY dalam memberantas korupsi juga karena sepertinya Bapak saya “agak kecewa” dengan persoalan internal PKB yang tak kunjung selesai. Apalagi, kenyataannya, orang yang didukung bapak saya yaitu Gus Dur tidak mendapat tempat lagi di PKB.
By the way, saya tidak menyangka ya ternyata Bapak pernah menjadi penasehat Pak Matori juga. Semoga Bapak sehat dan sukses selalu! Amien.
mahendra,
— 13 Desember 2008 jam 3:43 pm
iklan politik partai2 lewat TV memang sangat berpengaruh besar sekali terhadap kemajuan partai tersebut, contohnya di setiap perjalanan pulang saya jawa - bali - jawa (lewat darat tentunya) banyak sekali memasang daftar2 caleg kebanyakan dari partai2 yang sudah beriklan di TV itu, dan kayaknya para caleg dengan jumlah yang paling banyak ya dari partai yang beriklan di tv tersebut, sepertinya mereka juga tidak mau kalah, malah dengan ukuran yang sangat besar, terutama di Bali khususnya denpasar hampir setiap sudut jalan atau tempat keramain jalan raya pasti anda akan melihat wajah2 para caleg dikiri kanan jalan raya. dan yang terbesar para caleg itu berangkat dari partai 2 yang beriklan di tv itu, (Demokrat,PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura,) ada juga caleg dari partai religius seperti PAN, tapi juga tidak banyak pesertanya. apalgi PKB? nyaris tak terdengar!! mengutip pernyataan rizal ramli “sepertinya pkb sekarang seperti kereta api, tapi gerbonnya kosong” tidak ada penumpangnya. Pertanyaan saya pak sebenarnya partai2 sekarang itu berapa sih jumlahnya? saya juga tidak hapal semuanya.salam,mahendra
Prayitno Ramelan,
— 13 Desember 2008 jam 10:16 pm
@Mas Darmanto, maaf ya terlambat membalas….memang Wisnu itu wartawan yang selalu berada disekitar…ups maksudnya didalam istana, setiap ada kejadian agak menyolok pasti terekam sama dia, saya juga sudh membaca kalau Presiden marah sama demonstran yg bawa pengeras suara, barangkali pake yg 1000 watt, sampai menggelegar, dan pasti menggangu kedalam istana. Nah lho, jadi ada konflik nih, yg penting kan sebenarnya demo sudah ada aturannya, mungkin belum diatur ttg pengeras suara itu, kan demonstran sekarang sudah makin pintar, kalau cuma pakai loadspeaker biasa paling yg dengar hanya tiang bendera saja. Sekarang pada menggunakan pengeras yg sangat keras, maka sampailah pesan mereka kedalam istana, pokoknya ganggu dulu, perkara didengar atau tidak urusan nanti, gitu kali ya. Nah tentang masalah mobil yang 3 biji itu, saya terus terang belum tahu. Begitu Mas Darmanto, yg jelas tanggapannya pasti dibaca oleh banyak orang. Salam.Pray.
@Mas Dicky, di Aceh lagi musim apa?, di Jakarta kadang musim banjir, dan musim yang tidak pernah berganti adalah musim macet!! Iya ya, sekarang musim kompanye, iyalah yang muncul pemain musiman lima tahunan….pada mengeluarkan uang banyak walau seringnya tidak berhasil juga. Dan saya dengar sudah ada yg mulai guluung tikar perusahaannya karena terlalu berambisi beriklan. Kalau di Kompasiana…musimnya…ya musim nulis dan tanggap menanggapi kali ya. Salam>Pray.
@Mas Eep, benar juga ya perkiraan saya ttg bapaknya, idolanya runtuh, maka runtuhlah kepercayaan dan kesetiaannya. Iya 2,5 tahun saya mendampingi Alm Pak Matori. Btw nanti saya nulis juga ttg PKB.
@Mas Mahendra, Awalnya partai peserta pemilu ada 34 tingkat nasional dan 6 partai lokal di Aceh, kemudian sesuai keputusan PTUN, KPU akhirnya memutuskan mengikutkan 4 parpol lagi tingkat nasional yaitu Partai Syarikat Indonesia, Partai Buruh, Partai Merdeka dan Partai persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia. Jadi total jumlahnya 38 Parpol peserta tingkat nasional dan 6 tingkat lokal di Aceh. Tapi yg beken yang sepertinya tidak ada 25% nya kali. Partai baru yang mulai dikenal hanya Hanura, Gerindra, PMB, PKNU ya kira-kira baru itu. Maklum lagi pada bingung nyari dana barangkali ya. Salam>Pray
Kang Baim,
— 14 Desember 2008 jam 1:40 pm
Tanggapan atas mas Darmanto, saya pikir terlalu naif kalau harus mengomentari jumlah mobil, apalagi hanya 3 buah, untuk anak seorang presiden dan cucu Pangkostrad Sarwo Edhie Wibowo, mestilah juga bukan calang2 orang, beliau memang terlahir dari keluarga yang berada, lihat saja sejarah keluarganya yang cukup mengesankan, pengukir sejarah dimasanya, saya kira mobil 3 buah bukanlah sebuah bentuk pertunjukan Show off kepada masyarakat, tapi sebuah bentuk adaptasi diri, untuk menyesuaikan kebutuhan tamu yang datang dan daerah konstituen yang mau dikunjungi.
Mobil yang agak mewah mungkin diperlukan kalau kunjungan dari negera-negara sahabat, mungkin mereka ingin berkenalan dengan keluarga presiden, bisa dari keluarga negara sahabat juga atau dari kerabat2 exlusive lainnya, nah mobil yang agak sederhana, bisa digunakan untuk turun gunung menjumpai konstituen yang ada akar rumput, jadi itu adalah bentuk kepedulian yang sebetulnya sangat jauh dari Show Off tadi, kalau dari penampilan menurut terawangan saya, masih biasa2 aja dan terkesan sederhana, pernah jumpa diLuar negeri tahun ini, tepatnya di Malaysia, biasa aja tuh, pakai sepatu kain, ikat pinggang biasa juga, sangat sederhana dan terkesan culun, karena kebanyakan belajar kali jadi belum begitu wah, seperti kutu buku begitu, menurut saya bahkan saya terpikir dalam hati saya, apakah anak presiden hanya seperti itu..? Karena dalam pikiran saya anak presiden 250 juta rakyat Indonesia, tentu tidak akan sesederhana itu, jadi mungkin perlu kita berpikir lebih jernih tanpa pretensi apa-apa, orang biasa aja bisa beli mobil lebih dari 3 kok, kalau PNS Gol III di daerah aja, menggunakan Bank Lokal, cukup dengan menggunakan SK, bisa dapat pinjaman 100juta, jadi bukan sesuatu yang luar biasa begitu, kalau perdebatan untuk mobil 3 buah itu, menurut hemat kami, bahkan kalau tidak tau apa2 tidak usah berpretensi apa2, dari pada nanti berujung kepada fitnah, malah berdosa dan orang yang anda sangkakan, akan mendapat pengurangan dosa karena fitnah anda, bukan begitu pak Pray..???
prayitno ramelan,
— 14 Desember 2008 jam 2:15 pm
Kang Baim, iya deh namanya juga memberi tanggapan ya, disatu sisi dengan dilain sisi kadang berbeda terutama sudut pandangnya, terlebih ini sudah mengidolakan ini yg itu sudah mengidolakan itu, mari kita berjalan membahas menuju kesuatu arah kepentingan bangsa ini. Mengenai jalannya kesana memang kadang banyak yg suka dan tidak suka, sering terjadi perbedaan pendapat. Semoga tidak terbawa sampai ditempat tidur, kan ceritanya hanya saling membahas ya. Memang saya setuju jangan mengutarakan fitnah di forum ini, terserah masing2 yg menulis kan fitnah itu diartikan apa. Ok, Terima kasih tanggapannya>Pray.
eepkhunaefi,
— 14 Desember 2008 jam 8:54 pm
Saya tunggu tulisan PKB-nya, Pak De.
Prayitno Ramelan,
— 15 Desember 2008 jam 4:18 pm
Insyaallah saya nanti buat ya Mas Eep, sabar ya, saluran first media di rumah langi ngadat nih, ini baru sampi di kantor langsung buka kompasiana, ternyata banyak tanggapan yg belum dijawab. Tks , salam.
Gi,
— 17 Desember 2008 jam 1:10 pm
Saya juga (kalau berkenan) menunggu tulisan tentang kelompok partai “banteng”:1. PNI Marhaenisme2. PDI Perjuangan3. PPDI4. PELOPOR5. PNBK Indonesia6. PDP (yang terbaru, pimpinan Laksamana Sukardi dan Roy B. B. Janis)Masih dalam satu koridoy yang sama, namun menarik juga jika ada yang bersedia mengupasnya.
Oia, buat mas Kang Khunaefi, boleh juga tuh PKB, di partai ini juga ada banyak versi:1. PKB2. PKNU3. PPNUI4. GATARA (baru muncul, bukan peserta Pemilu 2009)Kira-kira akan seperti apa ya distribusi suaranya? Wah, semakin menarik untuk dikupas!
Prayitno Ramelan,
— 17 Desember 2008 jam 4:04 pm
Aggi, terima kasih tanggapannya, iya nih saya sedang mencoba menyusun fakta2 tentang PKB, tentang PDIP saya sudah pernah menulis tetpi fokus tentang bu Mega. Nanti deh Gi ya perlahan-lahan kita tulis yg anda maksud itu, hanya perlu waktu collecting data ni.Tks Salam >Pray.
Eire,
— 18 Desember 2008 jam 9:29 am
Salam,Sebelumnya saya Eire (laki-laki), pernah berkomentar di blog yang atraktif ini sebelumnya. Terima kasih Pak atas tanggapannya yang hangat untuk didiskusikan.
Terkait parpol sempalan (serupa tapi tak sama) memanglah sudah banyak di Pemilu kita ini. Kadang rakyat dibuat jadi bingung. Tidak hanya oleh iklan-iklan mereka, tetapi juga karena content parpol yang hanya berganti wajah, nama, tokoh, atau lambang. Padahal dulunya dari satu induk yang sama.
Dalam kasus ini saya melihatnya karena manajemen konflik dan manajemen organisasi parpol (juga kaderisasi) yang kurang dibina secara profesional. Semoga pendapat saya ini tidak tepat, sehingga akan banyak parpol yang berbenah dan menjadi profesional.
Saya juga sempat dibuat bingung dengan parpol “serupa tapi tak sama” itu, ada banyak. Kalau boleh menampilkan data (maklum, saya suka dengan penjabaran data) jadi insya Allah tidak asal menulis tapi ada faktanya di lapangan. Dan kualitas netralitas tulisan bisa diupayakan dengan baik. Setelah daftar artis yang menjadi caleg (hehe…) berikut daftar parpol “serupa tapi tak sama” itu:
1. PDI-P = PNI MARHAENISME, PPDI, PNBK INDONESIA, PELOPOR, PDP2. PKB = PPNUI, PKB3. GOLKAR = PKPB, GERINDRA, HANURA, PAKAR PANGAN, dsb. (kebanyakan parpol2 kecil)4. PAN = PMB5. PPP = PBR6. PDS = PKDI8. DEMOKRAT = BARNAS9. MASYUMI (dahulu) = PBB
Menarik untuk dikupas bukan? Politik memanlah dinamis, sangat dinamis bisa berubah setiap menit, manuver yang sulit ditebak hingga kemunculan tokoh baru, sangat mungkin terjadi semuanya, inilah politik. Menariknya mungkin disini ya? Hehe…
Eire
Eire,
— 18 Desember 2008 jam 9:32 am
Kang Eep Kunaefi, usulan yang bagus.
PKB memiliki parpol sempalan juga yaitu PPNUI dan PKNU. Terakhir ada GATARA yang baru saja dibentuk tapi belum ikutan Pemilu, entah kapan. Wah, bagaimana ya distribusi suaranya ke depan? Menarik sekali.
Prayitno Ramelan,
— 18 Desember 2008 jam 3:28 pm
@Eire, terima kasih tanggapannya, kalau melihat daftar parpol yg anda sebutkan diatas, memang pelaku dalam dunia perpolitikan ini sebenarnya hanya tiga, dulu ada Nasionalis, Agama dan Komunis. Tapi sekarang faham komunis kan dilarang buat partai, jadi partai-partai umumnya berlatar belakang nasionalis atau Agama. yah wajar kan pengelompokan seperti itu, jadi memang betul yg diungkapkan itu banyak partai yg serupa tapi tak sama, karena dari masing-masing parpol itu ada yg memecahkan diri, tapi ya asasnya sama juga dengan induknya. Maka jadilah banyak partai seperti sekarang ini. Cak Choirul Anam kan dahulu Ketua DPW PKB Jatim, terus bikin partai sendiri jadi PKNU, tapi ya tetap gerbong massanya yg digarap dari PKB juga, karena itu partai Islam susah besarnya karena segmen pasarnya ya itu2 juga tapi diperebutkan banyak partai. Gitu ya Eire. Salam>Pray.
Jumat, 12 Desember 2008
Siapa Capres Dari Partai Golkar ?
Oleh : Prayitno Ramelan
7 Desember 2008 - Dibaca 434 Kali -
Hingga kini banyak masyarakat yang selalu bertanya siapa calon presiden dari Golkar, belum ada jawaban pasti terhadap hal yang satu ini. Sementara ini kelihatannya ada dua pendapat diinternal Golkar, Golkar mengajukan capres dan Golkar tetap melanjutkan berkoalisi dengan SBY. Hal yang pasti Golkar baru akan menentukan capresnya hingga selesainya pelaksanaan pemilu legislatif 2009. Kasus ini cukup menarik untuk dibahas karena Partai Golkar adalah peraih suara terbanyak pada pemilu 2004, menguasai 128 kursi dari 550 kursi di parlemen, tetapi kini belum mempunyai tokoh unggulan capres.
Ada berita yang menarik dari kota Balikpapan pada tanggal 7 Desember 2008 lalu, pada acara silaturahmi DPD Golkar Kalimantan Timur dengan Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh. Bang Sur (Surya Paloh) menegaskan bahwa Golkar tidak akan menggelar konvensi. Dikatakannya tidak digelarnya konvensi untuk menghindari perpecahan di tubuh Golkar yang justru akan merugikan. “Dari pengalaman tahun 2004 kemarin, konvensi ini berpotensi memicu perpecahan, ini yang harus dihindari” katanya.
Dengan dihapusnya konvensi, kata dia, tidak menutup kemungkinan bagi Golkar untuk mengusung Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla sebagai calon presiden tunggal. “Semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk soal Pak Jusuf kalla sebagai capres, apalagi dia Ketua Umum,” katanya. Golkar juga akan mencari formula dan sistem lain untuk penjaringan calon presiden agar aspirasi kader bisa terserap dan terakomodir. Metode survei dan skoring dapat digunakan terhadap kader yang berminat maju. Tokoh-tokoh yang akan masuk bursa Capres Golkar dalam survei tersebut tidak hanya untuk kader internal tetapi juga untuk tokoh diluar partai. “Tidak menutup kemungkinan kita usung tokoh non kader, makanya kita lihat hasil pemilu legislatif dulu,” kata Surya Paloh.
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Sumarsono menyatakan, penentuan capres harus melalui berbagai pertimbangan. Golkar banyak belajar dari pengalaman pemilihan umum kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah. “Banyak kader internal justru kalah di pilkada karena tingkat elektabilitasnya rendah”.
Dengan penegasan Surya Paloh dan Sekjen Golkar Soemarsono, kelihatannya Partai Golkar sudah lebih fokus dalam penentuan calon presidennya pada pilpres 2009. Calon yang akan dipilih tidak akan melalui jalur konvensi, tetapi melalui “survei” dan skoring di internal. Penghilangan pola konvensi dinilai realistis, karena dalam konvensi yang menentukan adalah suara dari pengurus, kemenangan calon diperkirakan mudah dimanipulasi, calon terpilih belum tentu merupakan calon unggulan di tingkat nasional. Golkar kelihatannya telah banyak belajar dari pengalaman pemilu dan pilpres 2004 hingga beberapa pilkada. Kegagalannya pada 2004 disebabkan kurang dikuasainya “ruh” pilpres langsung, khususnya dalam menilai perilaku konstituen yang tidak bisa dikontrol oleh jejaring partai.
Dari penilaian calon yang akan dipilih melalui pola “survei”, Golkar akan memilih dari sumber internal maupun tokoh luar. Beberapa hasil survei menggambarkan elektabilitas para calon-calon unggulan terlihat mulai lebih stabil. Lembaga Survei Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada bulan Oktober 2008 mengeluarkan hasil tingkat keterpilihan atau elektabilitas (jika pemilihan dilakukan hari ini), SBY (33%), Megawati (17,9%), Wiranto (5%), Prabowo Subianto (4,7%), Hidayat NUr Wahid (2,8%), Amin Rais (2,65%), Abdurrahman Wahid (2,45%), Sri Sultan HB-X (1,6%), Yusril Ihza Mahendra (1,4%), Sutrisno Bahir (0,6%), Sutiyoso (0,45%), Rizal Malarangeng (0,15%), sebanyak 0,75% nama-nama lainnya dan 26,85% belum menentukan pilihannya.
Untuk calon wakil presiden yang cocok mendampingi SBY, 15,2% responden memilih Jusuf Kalla, dan menempati nomor urut dibawahnya Hidayat Nur Wahid, Sultan HB-X, Andi Malarangeng, Akbar Tanjung dan Fadel Muhammad. Survei terakhir Lembaga Survei Center for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS) Surveyor Group menyebutkan SBY masih diunggulkan dengan 37% dukungan suara, Megawati (16,2 %), Sri Sultan HB-X (6,74 %), Prabowo Subianto (5,20 %), Wiranto (4 %).
Dari hasil survei tersebut, maka tokoh internal Golkar yang sudah mempunyai nilai elektabilitas hanyalah Sri Sultan HB-X dengan nilai 6,74%, sementara Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla namanya tidak muncul sebagai capres unggulan, hanya muncul sebagai cawapres terunggul dengan angka 15,2%. Ini berarti memang Golkar hanya memiliki Sri Sultan sebagai capres unggulan, tapi itupun masih kalah jauh dibandingkan Megawati, terlebih dengan SBY. Masih tersisa waktu bagi Sultan untuk meningkatkan elektabilitasnya dengan melakukan langkah-langkah positif agar dapat bersaing dengan dua pesaingnya itu.
Apabila memilih tokoh diluar Golkar, maka pilihan pertama adalah SBY, disusul Megawati, Prabowo, Wiranto dan Hidayat Nur Wahid. Terhadap SBY sementara tidak ada masalah dalam berkoalisi, karena JK sudah faham menjadi wapresnya. Yang perlu dipikirkan adalah pendapat SBY bahwa koalisi adalah “power sharing” artinya Golkar harus mampu meraih suara banyak dahulu untuk berkoalisi dengan Demokrat. SBY kelihatannya ingin membangun koalisi mayoritas, mengingat selama ini merasakan kesulitan, kurang leluasa bergerak, tertekan di parlemen.
Megawati adalah pilihan kedua, apabila Golkar merasa lebih nyaman Mega menjadi presiden dan JK menjadi Wapres, koalisi ini akan kuat di parlemen, lagipula koalisi ini pernah disuarakan oleh beberapa tokohnya. Duet Mega-JK diperkirakan akan dapat mengimbangi SBY, karena JK selama ini dikenal sebagai “bumper” yang tegas, cepat dan berani pengisi kekurangan SBY, nilai elektabilitasnya tinggi. Kemungkinan lainnya adalah mengambil salah satu calon Wiranto, Prabowo atau Hidayat Nur Wahid sebagai capres, dengan catatan apabila setelah selesai pemilu legislatif perolehan partai ketiganya cukup tinggi dan tingkat elektabilitasnya dipandang dapat disandingkan dengan SBY dan Mega. Kira-kira hanya itulah pilihan yang paling realistis dari Golkar, walau demikian masih tersisa waktu dan peluang terjadinya perubahan, karena dinamisasi politik kini sangat cepat.
Jadi bagaimana kira-kira nanti akhirnya? Yang terpenting Golkar harus teguh berpegang pada keputusannya. Untuk apa mengajukan calon atau tetap berhasrat menjadi nomor satu kalau toh nanti kalah. Lebih baik menjadi nomor dua tetapi mempunyai “bargaining power” yang besar. Golkar kini beruntung mempunyai modal tokoh JK sebagai cawapres terunggul dan layak dijual. Mungkin arahnya, tokoh Golkar tetap duduk sebagai bagian dari pimpinan nasional, didukung koalisi parpol mayoritas, pembagian jatah di Kabinet jelas dan adil, ini akan jauh lebih bermanfaat bukan. Kalau hanya mengikuti nafsu segelintir orang dan kalah, apakah akan menjadi oposisi? Kurang elok rasanya. PRAYITNO RAMELAN.
9 tanggapan untuk “Siapa Capres Dari Partai Golkar ?”
Harasono Inos,
— 8 Desember 2008 jam 12:49 am
Bolehkan khan pak saya meramal ? Siapa tahu salah….Dari data berbagai sumber yang saya telaah, nampaknya ada pergeseran serius di RI-2. Ada kecenderungan Golkar akan berkurang suaranya. Melihat bbrp kasus Pilkada ang cenereung kalah melulu. Justru yang meningkat tajam adalah PKS. Jadi,bila elakbilitas pak BEYE tetap terjaga spt yang diilustrasikan di tulisan pak Pray benar, SBY akan tetep menjabat RI-1. Nah siapa yg menjadi RI-2 ? Melihat keinginan untuk memperkuat posisi pemerintah di Parlemen, tentu RI-1 akan menggaet tokoh dari partai yang menguat suarannya, dalam hal ini PKS (prediksi saya lho…). Tampaknya pak BEYE akan menggandeng Hidayat Nur Wahid sebagai cawapresnya. Pasangan ini sangat ideal. Bersih, anti korupsi dan sopan dalam berbicara, serta yang perlu diingat, keduanya memiliki “the highest education achievement (PhD)”. Tentu citarasa dalam mengelola bangsa akan lebih “smoot and smart”.Semoga ramalan ini benar adanya.Salam dari Harasono Inos (Kassel - Germany)
Rukyal Basri,
— 8 Desember 2008 jam 2:18 am
Sampai pileg nanti, pertarungan sri sultan versus pak jk dalam usaha merebut tiket golkar masih berlangsung sangat alot. Walaupun pak jk tidak pernah merasa bertarung, tapi karena ketum dianggap menguasai kunci grendel partai, maka sebenarnya ilmu kanuragan jogja sedang adu kuat melawan jurus silat bugis. Ini juga untuk melihat sejauh mana ‘kesaktian’ sri sultan dalam mendulang dukungan. Kalau dukungan dari partai2 dan rakyat semakin menguat, dan perolehan suara golkar ternyata mendukung, jangan jangan nanti keduanya malah bersatu, sri sultan-jk untuk golkar 2009. Koalisi cukup sampai tataran kursi kabinet dan parlemen.
Prayitno Ramelan,
— 8 Desember 2008 jam 4:01 am
Wah saya mendapat kehormatan nih, yang menanggapi dua orang tokoh, warga negara Indonesia yang sedang berada didua negara besar Jerman dan Amerika Serikat. Terima kasih banyak dipagi yang baik ini dimana bangsa Indonesia khususnya umat muslim akan melaksanakan ibadah sholat Idul Adha. Hari dimana kita akan melaksanakan ibadah qurban menyisihkan sebagian harta, membeli hewan kambing atau sapi yang dagingnya akan diberikan kepada kaum dhuafa. “Selamat merayakan Idul Adha 10 Dzulhijah 1429H”.
@ Pak Harasono Inos, jelas boleh meramal, akan melengkapi tulisan saya itu. Nah ramalannya kalau SBY yang menang maka cawapresnya akan diambil Hidayat Nur Wahid. dengan pemikiran suara PKS akan menguat di Parlemen. Memang bisa saja pak Har, karena nanti setelah ada hasil pemilu legislatif baru akan terlihat jelas komposisi ideal masing-masing capres unggulan dan cawapres unggulan kemana dan dgn siapa mereka akan berkoalisi. Koalisi Demokrat dengan PKS kemungkinan saja terjadi, toh sejak 2004 keduanya sudah berkoalisi bukan, memang sih apa yg disampaikan tentang kelebihan keduanya pasti ada manfaatnya bagi bangsa ini. Persoalannya hanyalah “tingkat kesukaan” masyarakat terhadap wapres, ini akan menjadi penting pada 2009. Dibandingkan dengan JK, sementara ini Pak Hidayat masih kalah satu tingkat lho. Gitu ya, Salam.Pray.
@Pak Rukyal Basri, sepertinya selama ini pendukung Sultan ya, kalau dirumah si nenek (maksudnya isteri saya) saya pendukung Sultan karena dia orang Yogya, masih ada garis juga. Tapi kalau saya tidak (maaf) karena penulis di Kompasiana ya harus independen, jujur tidak memihak. Ok pak, saya pikir bisa saja apa yang disampaikan itu terjadi, tapi syaratnya Sri Sultan elektabilitasnya paling tidak 2/3 dari elektabilitasnya capres terunggul nanti, dengan perimbangan kekurangannya diisi oleh JK. Ini paling rasional. Jadi Golkar saya kira akan benar2 “realistis”, menghitung benar posisi tokoh2nya. Kalau pasangan Sultan-JK jadi, wah jelas lebih nikmat bagi tokoh Golkar kan, banyak deh yang akan duduk dikursi empuk, jadi menteri dll…dikawal lagi…ngeong,ngeong, nguk,nguk, gitu ya kira2 sirine pengawal. Dan pak Rukyal akan tersenyum-senyum…kapan pulang nih?.Salam>Pray.
Adhy,
— 12 Desember 2008 jam 10:25 am
golkar sepertinya sedang mengalami degradasi ideologi kader-kadernya. semua tokoh besarnya perpikir ” gue juga bisa bikin partai baru yang tidak kalah besar dg golkar”. kalau ini berjalan terus, tanpa ngapa-ngapain PDIP bakan jadi no 1 dan no 2 antara Demokrat/PKS
nah PDIP kultur partainya kan kaya kerajaan, dimana power Mega mendominasi. yang gak punya trah Sukarno gak bisa berkuasa di PDIP. melihat sekarang PDIP kekeh mau memajukan Mega lagi, ini memperlihatkan kaderisasi di PDIP lambat. melihat realitas politik saat ini, 2014 akan terjadi musim gugur kepemimpinan. Capres 2014 diprediksikan bakal orang-orang muda smua. 2009 adalah kesempatan terakhir bagi tokoh-tokoh tua.
Dan 2014 bakal milik partai yang berbasis kader, bukan yang berbasis tokoh. partai yang produktif melahirkan tokoh-tokoh nasional baru, buka partai yang tergantung pada popularitas tokoh yang dipunyainya.
Prayitno Ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 3:03 pm
Adhy, pendapatnya boleh juga nih. Memang saya juga berpendapat, para politisi muda kini baru mulai menggeliat, mereka akan mulai berkiprah nanti di 2014. Pada periode 2014-2019 itulah saatnya kaum muda akan muncul dan diuji kemampuannya menerima tongkat estafet kepemimpinan, memimpin bangsa ini yang konon akan melebihi 225 juta jiwa. Karena itu saya terfikir juga akan membuat tulisan tentang para calon pemimpin bangsa dimasa depan. Tks ya tanggapannya. Salam>Pray.
Eep Khunaefi,
— 13 Desember 2008 jam 2:39 pm
Untuk capres Golkar, saya melihat hanya Sultan yang punya integritas moral kuat. JK meski seorang wapres, tapi ia lebih kuat di posisi ini dibanding posisi nomor satu. Menurut saya, pemilu 2009 nanti sebaiknya Golkar tetap milih nomor dua. Setelah itu, persiapkan generasi muda yang memiliki elektabilitas tinggi untuk persiapan 2014. Betul Pak De, buat apa maksakan diri menjadi nomor satu tapi gagal. Mendingan jadi nomor dua tetapi tetap punya power di kabinet.
Prayitno Ramelan,
— 15 Desember 2008 jam 4:22 pm
Yes…. Mas Eep, benar sekali perkiraannya, saya yakin Golkar akan lebih realistis dan sudah jauh lebih mantap menatap kedepan, Yks.
Abuga,
— 24 Desember 2008 jam 3:57 pm
Saya setuju Golkar akan mengalami degradasi. Bahkan saya berpendapat dua pemilu lagi Golkar akan menjadi partai gurem. Keberaadan Golkar sekarang karena adanya sisa bangunan infrastruktur oleh orde baru. Asumsi saya pada pemilu 2014 dan 2019 pemilih tidak ada ikatan emosional dengan Golkar dan partai ini tersisih karena seleksi alam. Degradasi ini juga pada kualitas kader dengan tidak adanya tokoh sentral yang mumpuni dan berani maju sebagai RI 1. Penghilangan konvensi adalah langkah mundur. Seharusnya Golkar tetap konsisten menggelar konvensi dengan sistim yang disempurnakan. Meski kalah 2004 tapi harum dan berjaya di pilpres berikutnya. Mereka sedikit lupa kejayaan Golkar yang tersisa sekarang ini karena imbas positif konvensi jaman Akbar Tanjung. Hitungan Golkar siapapun yang keluar sbg pemenang konvensi tidak akan menang lawan SBY adalah hitungan yang salah. Jadi mereka lebih memilih RI2 tapi menguasai DPR dan kabinet “UEENAK TENAN” kata Ki Timbul. Ini menunjukkan kader PG malas bekerja keras, loyalitas kader2 yang semu dan menggandalkan uang sebagai penggerak roda partai. Ini beda dengan fenomena PKS yang kadernya MILITAN DAN menganggap berpartai adalah ibadah dan berdakwah.
PKS kalau bisa mengusung isu pluralisme dan menjauh dari kesan Islam puritan akan berkibar meski tidak di puncak ya 3 besar lah. Partai ini tidak perlu digerakkan oleh tokoh sentral.
PDIP. Pertanyaan masih harus dijawab sepeninggal Mega atau paling tidak th. 2009 di mana Mega akan mengalami depresi atas kekalahan di Pilpres yang kedua.
Salam
prayitno ramelan,
— 25 Desember 2008 jam 8:46 am
Abu, kok bagus sekali sih tanggapannya…rajin ya baca2 perkembangan di tanah air, iya kalau begini terus, Golkar akan bisa rontok dengan sendirinya, lihat saja dari beberapa survei pularitasnya sudah di posisi ketiga, bahkan dibawah Demokrat. Sebenarnya waktu dipimpin Akbar Tanjung pada th 1998/1999 partai ini mampu melepaskan diri dari kehancran Ketua Dewan Pembinanya yg runtuh, tapi mereka tetap mampu eksis dan tetap menjadi parpol papan atas bersama PDIP. Tetapi setelah pemilu 2004, karena dua kali salah memposisikan diri (yg saya pikir ada apa2nya yg tidak bisa diungkap), maka politik yg tidak berbelas kasihan telah menurunkan AT dan mendudukkan JK sbg Ketum, biasalah Abu banyak juga yg numpang hidup melalui JK. Nah kini mereka sedang pusing lagi tapi tetap sebagai partai favorit…jawabannya tolong Abu baca artikel saya yg terakhir SBY,Prabowo, Mega Dan Peta Politik , Begitu ya Abu. Salam>pray.
7 Desember 2008 - Dibaca 434 Kali -
Hingga kini banyak masyarakat yang selalu bertanya siapa calon presiden dari Golkar, belum ada jawaban pasti terhadap hal yang satu ini. Sementara ini kelihatannya ada dua pendapat diinternal Golkar, Golkar mengajukan capres dan Golkar tetap melanjutkan berkoalisi dengan SBY. Hal yang pasti Golkar baru akan menentukan capresnya hingga selesainya pelaksanaan pemilu legislatif 2009. Kasus ini cukup menarik untuk dibahas karena Partai Golkar adalah peraih suara terbanyak pada pemilu 2004, menguasai 128 kursi dari 550 kursi di parlemen, tetapi kini belum mempunyai tokoh unggulan capres.
Ada berita yang menarik dari kota Balikpapan pada tanggal 7 Desember 2008 lalu, pada acara silaturahmi DPD Golkar Kalimantan Timur dengan Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh. Bang Sur (Surya Paloh) menegaskan bahwa Golkar tidak akan menggelar konvensi. Dikatakannya tidak digelarnya konvensi untuk menghindari perpecahan di tubuh Golkar yang justru akan merugikan. “Dari pengalaman tahun 2004 kemarin, konvensi ini berpotensi memicu perpecahan, ini yang harus dihindari” katanya.
Dengan dihapusnya konvensi, kata dia, tidak menutup kemungkinan bagi Golkar untuk mengusung Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla sebagai calon presiden tunggal. “Semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk soal Pak Jusuf kalla sebagai capres, apalagi dia Ketua Umum,” katanya. Golkar juga akan mencari formula dan sistem lain untuk penjaringan calon presiden agar aspirasi kader bisa terserap dan terakomodir. Metode survei dan skoring dapat digunakan terhadap kader yang berminat maju. Tokoh-tokoh yang akan masuk bursa Capres Golkar dalam survei tersebut tidak hanya untuk kader internal tetapi juga untuk tokoh diluar partai. “Tidak menutup kemungkinan kita usung tokoh non kader, makanya kita lihat hasil pemilu legislatif dulu,” kata Surya Paloh.
Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Sumarsono menyatakan, penentuan capres harus melalui berbagai pertimbangan. Golkar banyak belajar dari pengalaman pemilihan umum kepala daerah (pilkada) di sejumlah daerah. “Banyak kader internal justru kalah di pilkada karena tingkat elektabilitasnya rendah”.
Dengan penegasan Surya Paloh dan Sekjen Golkar Soemarsono, kelihatannya Partai Golkar sudah lebih fokus dalam penentuan calon presidennya pada pilpres 2009. Calon yang akan dipilih tidak akan melalui jalur konvensi, tetapi melalui “survei” dan skoring di internal. Penghilangan pola konvensi dinilai realistis, karena dalam konvensi yang menentukan adalah suara dari pengurus, kemenangan calon diperkirakan mudah dimanipulasi, calon terpilih belum tentu merupakan calon unggulan di tingkat nasional. Golkar kelihatannya telah banyak belajar dari pengalaman pemilu dan pilpres 2004 hingga beberapa pilkada. Kegagalannya pada 2004 disebabkan kurang dikuasainya “ruh” pilpres langsung, khususnya dalam menilai perilaku konstituen yang tidak bisa dikontrol oleh jejaring partai.
Dari penilaian calon yang akan dipilih melalui pola “survei”, Golkar akan memilih dari sumber internal maupun tokoh luar. Beberapa hasil survei menggambarkan elektabilitas para calon-calon unggulan terlihat mulai lebih stabil. Lembaga Survei Indonesian Research and Development Institute (IRDI) pada bulan Oktober 2008 mengeluarkan hasil tingkat keterpilihan atau elektabilitas (jika pemilihan dilakukan hari ini), SBY (33%), Megawati (17,9%), Wiranto (5%), Prabowo Subianto (4,7%), Hidayat NUr Wahid (2,8%), Amin Rais (2,65%), Abdurrahman Wahid (2,45%), Sri Sultan HB-X (1,6%), Yusril Ihza Mahendra (1,4%), Sutrisno Bahir (0,6%), Sutiyoso (0,45%), Rizal Malarangeng (0,15%), sebanyak 0,75% nama-nama lainnya dan 26,85% belum menentukan pilihannya.
Untuk calon wakil presiden yang cocok mendampingi SBY, 15,2% responden memilih Jusuf Kalla, dan menempati nomor urut dibawahnya Hidayat Nur Wahid, Sultan HB-X, Andi Malarangeng, Akbar Tanjung dan Fadel Muhammad. Survei terakhir Lembaga Survei Center for Indonesian Regional and Urban Studies (CIRUS) Surveyor Group menyebutkan SBY masih diunggulkan dengan 37% dukungan suara, Megawati (16,2 %), Sri Sultan HB-X (6,74 %), Prabowo Subianto (5,20 %), Wiranto (4 %).
Dari hasil survei tersebut, maka tokoh internal Golkar yang sudah mempunyai nilai elektabilitas hanyalah Sri Sultan HB-X dengan nilai 6,74%, sementara Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla namanya tidak muncul sebagai capres unggulan, hanya muncul sebagai cawapres terunggul dengan angka 15,2%. Ini berarti memang Golkar hanya memiliki Sri Sultan sebagai capres unggulan, tapi itupun masih kalah jauh dibandingkan Megawati, terlebih dengan SBY. Masih tersisa waktu bagi Sultan untuk meningkatkan elektabilitasnya dengan melakukan langkah-langkah positif agar dapat bersaing dengan dua pesaingnya itu.
Apabila memilih tokoh diluar Golkar, maka pilihan pertama adalah SBY, disusul Megawati, Prabowo, Wiranto dan Hidayat Nur Wahid. Terhadap SBY sementara tidak ada masalah dalam berkoalisi, karena JK sudah faham menjadi wapresnya. Yang perlu dipikirkan adalah pendapat SBY bahwa koalisi adalah “power sharing” artinya Golkar harus mampu meraih suara banyak dahulu untuk berkoalisi dengan Demokrat. SBY kelihatannya ingin membangun koalisi mayoritas, mengingat selama ini merasakan kesulitan, kurang leluasa bergerak, tertekan di parlemen.
Megawati adalah pilihan kedua, apabila Golkar merasa lebih nyaman Mega menjadi presiden dan JK menjadi Wapres, koalisi ini akan kuat di parlemen, lagipula koalisi ini pernah disuarakan oleh beberapa tokohnya. Duet Mega-JK diperkirakan akan dapat mengimbangi SBY, karena JK selama ini dikenal sebagai “bumper” yang tegas, cepat dan berani pengisi kekurangan SBY, nilai elektabilitasnya tinggi. Kemungkinan lainnya adalah mengambil salah satu calon Wiranto, Prabowo atau Hidayat Nur Wahid sebagai capres, dengan catatan apabila setelah selesai pemilu legislatif perolehan partai ketiganya cukup tinggi dan tingkat elektabilitasnya dipandang dapat disandingkan dengan SBY dan Mega. Kira-kira hanya itulah pilihan yang paling realistis dari Golkar, walau demikian masih tersisa waktu dan peluang terjadinya perubahan, karena dinamisasi politik kini sangat cepat.
Jadi bagaimana kira-kira nanti akhirnya? Yang terpenting Golkar harus teguh berpegang pada keputusannya. Untuk apa mengajukan calon atau tetap berhasrat menjadi nomor satu kalau toh nanti kalah. Lebih baik menjadi nomor dua tetapi mempunyai “bargaining power” yang besar. Golkar kini beruntung mempunyai modal tokoh JK sebagai cawapres terunggul dan layak dijual. Mungkin arahnya, tokoh Golkar tetap duduk sebagai bagian dari pimpinan nasional, didukung koalisi parpol mayoritas, pembagian jatah di Kabinet jelas dan adil, ini akan jauh lebih bermanfaat bukan. Kalau hanya mengikuti nafsu segelintir orang dan kalah, apakah akan menjadi oposisi? Kurang elok rasanya. PRAYITNO RAMELAN.
9 tanggapan untuk “Siapa Capres Dari Partai Golkar ?”
Harasono Inos,
— 8 Desember 2008 jam 12:49 am
Bolehkan khan pak saya meramal ? Siapa tahu salah….Dari data berbagai sumber yang saya telaah, nampaknya ada pergeseran serius di RI-2. Ada kecenderungan Golkar akan berkurang suaranya. Melihat bbrp kasus Pilkada ang cenereung kalah melulu. Justru yang meningkat tajam adalah PKS. Jadi,bila elakbilitas pak BEYE tetap terjaga spt yang diilustrasikan di tulisan pak Pray benar, SBY akan tetep menjabat RI-1. Nah siapa yg menjadi RI-2 ? Melihat keinginan untuk memperkuat posisi pemerintah di Parlemen, tentu RI-1 akan menggaet tokoh dari partai yang menguat suarannya, dalam hal ini PKS (prediksi saya lho…). Tampaknya pak BEYE akan menggandeng Hidayat Nur Wahid sebagai cawapresnya. Pasangan ini sangat ideal. Bersih, anti korupsi dan sopan dalam berbicara, serta yang perlu diingat, keduanya memiliki “the highest education achievement (PhD)”. Tentu citarasa dalam mengelola bangsa akan lebih “smoot and smart”.Semoga ramalan ini benar adanya.Salam dari Harasono Inos (Kassel - Germany)
Rukyal Basri,
— 8 Desember 2008 jam 2:18 am
Sampai pileg nanti, pertarungan sri sultan versus pak jk dalam usaha merebut tiket golkar masih berlangsung sangat alot. Walaupun pak jk tidak pernah merasa bertarung, tapi karena ketum dianggap menguasai kunci grendel partai, maka sebenarnya ilmu kanuragan jogja sedang adu kuat melawan jurus silat bugis. Ini juga untuk melihat sejauh mana ‘kesaktian’ sri sultan dalam mendulang dukungan. Kalau dukungan dari partai2 dan rakyat semakin menguat, dan perolehan suara golkar ternyata mendukung, jangan jangan nanti keduanya malah bersatu, sri sultan-jk untuk golkar 2009. Koalisi cukup sampai tataran kursi kabinet dan parlemen.
Prayitno Ramelan,
— 8 Desember 2008 jam 4:01 am
Wah saya mendapat kehormatan nih, yang menanggapi dua orang tokoh, warga negara Indonesia yang sedang berada didua negara besar Jerman dan Amerika Serikat. Terima kasih banyak dipagi yang baik ini dimana bangsa Indonesia khususnya umat muslim akan melaksanakan ibadah sholat Idul Adha. Hari dimana kita akan melaksanakan ibadah qurban menyisihkan sebagian harta, membeli hewan kambing atau sapi yang dagingnya akan diberikan kepada kaum dhuafa. “Selamat merayakan Idul Adha 10 Dzulhijah 1429H”.
@ Pak Harasono Inos, jelas boleh meramal, akan melengkapi tulisan saya itu. Nah ramalannya kalau SBY yang menang maka cawapresnya akan diambil Hidayat Nur Wahid. dengan pemikiran suara PKS akan menguat di Parlemen. Memang bisa saja pak Har, karena nanti setelah ada hasil pemilu legislatif baru akan terlihat jelas komposisi ideal masing-masing capres unggulan dan cawapres unggulan kemana dan dgn siapa mereka akan berkoalisi. Koalisi Demokrat dengan PKS kemungkinan saja terjadi, toh sejak 2004 keduanya sudah berkoalisi bukan, memang sih apa yg disampaikan tentang kelebihan keduanya pasti ada manfaatnya bagi bangsa ini. Persoalannya hanyalah “tingkat kesukaan” masyarakat terhadap wapres, ini akan menjadi penting pada 2009. Dibandingkan dengan JK, sementara ini Pak Hidayat masih kalah satu tingkat lho. Gitu ya, Salam.Pray.
@Pak Rukyal Basri, sepertinya selama ini pendukung Sultan ya, kalau dirumah si nenek (maksudnya isteri saya) saya pendukung Sultan karena dia orang Yogya, masih ada garis juga. Tapi kalau saya tidak (maaf) karena penulis di Kompasiana ya harus independen, jujur tidak memihak. Ok pak, saya pikir bisa saja apa yang disampaikan itu terjadi, tapi syaratnya Sri Sultan elektabilitasnya paling tidak 2/3 dari elektabilitasnya capres terunggul nanti, dengan perimbangan kekurangannya diisi oleh JK. Ini paling rasional. Jadi Golkar saya kira akan benar2 “realistis”, menghitung benar posisi tokoh2nya. Kalau pasangan Sultan-JK jadi, wah jelas lebih nikmat bagi tokoh Golkar kan, banyak deh yang akan duduk dikursi empuk, jadi menteri dll…dikawal lagi…ngeong,ngeong, nguk,nguk, gitu ya kira2 sirine pengawal. Dan pak Rukyal akan tersenyum-senyum…kapan pulang nih?.Salam>Pray.
Adhy,
— 12 Desember 2008 jam 10:25 am
golkar sepertinya sedang mengalami degradasi ideologi kader-kadernya. semua tokoh besarnya perpikir ” gue juga bisa bikin partai baru yang tidak kalah besar dg golkar”. kalau ini berjalan terus, tanpa ngapa-ngapain PDIP bakan jadi no 1 dan no 2 antara Demokrat/PKS
nah PDIP kultur partainya kan kaya kerajaan, dimana power Mega mendominasi. yang gak punya trah Sukarno gak bisa berkuasa di PDIP. melihat sekarang PDIP kekeh mau memajukan Mega lagi, ini memperlihatkan kaderisasi di PDIP lambat. melihat realitas politik saat ini, 2014 akan terjadi musim gugur kepemimpinan. Capres 2014 diprediksikan bakal orang-orang muda smua. 2009 adalah kesempatan terakhir bagi tokoh-tokoh tua.
Dan 2014 bakal milik partai yang berbasis kader, bukan yang berbasis tokoh. partai yang produktif melahirkan tokoh-tokoh nasional baru, buka partai yang tergantung pada popularitas tokoh yang dipunyainya.
Prayitno Ramelan,
— 12 Desember 2008 jam 3:03 pm
Adhy, pendapatnya boleh juga nih. Memang saya juga berpendapat, para politisi muda kini baru mulai menggeliat, mereka akan mulai berkiprah nanti di 2014. Pada periode 2014-2019 itulah saatnya kaum muda akan muncul dan diuji kemampuannya menerima tongkat estafet kepemimpinan, memimpin bangsa ini yang konon akan melebihi 225 juta jiwa. Karena itu saya terfikir juga akan membuat tulisan tentang para calon pemimpin bangsa dimasa depan. Tks ya tanggapannya. Salam>Pray.
Eep Khunaefi,
— 13 Desember 2008 jam 2:39 pm
Untuk capres Golkar, saya melihat hanya Sultan yang punya integritas moral kuat. JK meski seorang wapres, tapi ia lebih kuat di posisi ini dibanding posisi nomor satu. Menurut saya, pemilu 2009 nanti sebaiknya Golkar tetap milih nomor dua. Setelah itu, persiapkan generasi muda yang memiliki elektabilitas tinggi untuk persiapan 2014. Betul Pak De, buat apa maksakan diri menjadi nomor satu tapi gagal. Mendingan jadi nomor dua tetapi tetap punya power di kabinet.
Prayitno Ramelan,
— 15 Desember 2008 jam 4:22 pm
Yes…. Mas Eep, benar sekali perkiraannya, saya yakin Golkar akan lebih realistis dan sudah jauh lebih mantap menatap kedepan, Yks.
Abuga,
— 24 Desember 2008 jam 3:57 pm
Saya setuju Golkar akan mengalami degradasi. Bahkan saya berpendapat dua pemilu lagi Golkar akan menjadi partai gurem. Keberaadan Golkar sekarang karena adanya sisa bangunan infrastruktur oleh orde baru. Asumsi saya pada pemilu 2014 dan 2019 pemilih tidak ada ikatan emosional dengan Golkar dan partai ini tersisih karena seleksi alam. Degradasi ini juga pada kualitas kader dengan tidak adanya tokoh sentral yang mumpuni dan berani maju sebagai RI 1. Penghilangan konvensi adalah langkah mundur. Seharusnya Golkar tetap konsisten menggelar konvensi dengan sistim yang disempurnakan. Meski kalah 2004 tapi harum dan berjaya di pilpres berikutnya. Mereka sedikit lupa kejayaan Golkar yang tersisa sekarang ini karena imbas positif konvensi jaman Akbar Tanjung. Hitungan Golkar siapapun yang keluar sbg pemenang konvensi tidak akan menang lawan SBY adalah hitungan yang salah. Jadi mereka lebih memilih RI2 tapi menguasai DPR dan kabinet “UEENAK TENAN” kata Ki Timbul. Ini menunjukkan kader PG malas bekerja keras, loyalitas kader2 yang semu dan menggandalkan uang sebagai penggerak roda partai. Ini beda dengan fenomena PKS yang kadernya MILITAN DAN menganggap berpartai adalah ibadah dan berdakwah.
PKS kalau bisa mengusung isu pluralisme dan menjauh dari kesan Islam puritan akan berkibar meski tidak di puncak ya 3 besar lah. Partai ini tidak perlu digerakkan oleh tokoh sentral.
PDIP. Pertanyaan masih harus dijawab sepeninggal Mega atau paling tidak th. 2009 di mana Mega akan mengalami depresi atas kekalahan di Pilpres yang kedua.
Salam
prayitno ramelan,
— 25 Desember 2008 jam 8:46 am
Abu, kok bagus sekali sih tanggapannya…rajin ya baca2 perkembangan di tanah air, iya kalau begini terus, Golkar akan bisa rontok dengan sendirinya, lihat saja dari beberapa survei pularitasnya sudah di posisi ketiga, bahkan dibawah Demokrat. Sebenarnya waktu dipimpin Akbar Tanjung pada th 1998/1999 partai ini mampu melepaskan diri dari kehancran Ketua Dewan Pembinanya yg runtuh, tapi mereka tetap mampu eksis dan tetap menjadi parpol papan atas bersama PDIP. Tetapi setelah pemilu 2004, karena dua kali salah memposisikan diri (yg saya pikir ada apa2nya yg tidak bisa diungkap), maka politik yg tidak berbelas kasihan telah menurunkan AT dan mendudukkan JK sbg Ketum, biasalah Abu banyak juga yg numpang hidup melalui JK. Nah kini mereka sedang pusing lagi tapi tetap sebagai partai favorit…jawabannya tolong Abu baca artikel saya yg terakhir SBY,Prabowo, Mega Dan Peta Politik , Begitu ya Abu. Salam>pray.
Sabtu, 06 Desember 2008
Golkar Mulai Membaca Gerilya PKS
Oleh Prayitno Ramelan - 6 Desember 2008 - Dibaca 1725 Kali
Sumber : Kompasiana.Com
Momentum reformasi politik dan demokrasi di Indonesia terjadi setelah dilaksanakannya Pemilu pada 1997. dengan kondisi politik yg ada, maka pemilu yang seharusnya dilaksanakan lima tahun lagi diajukan pada 7 Juni 1999. Peserta pemilu terdiri dari 48 parpol, 34 diantaranya berasas Pancasila, 10 parpol berasas Islam dan 4 parpol berasas lainnya. Pada pemilu 1999 maka PDIP berhasil menjadi partai pemenang dengan 153 kursi, Golkar 120, PPP 58, PKB 51 dan PAN 34 kursi. Pada pemilu ini Partai Keadilan sebagai partai baru tidak memenuhi “electoral treshold”, sehingga tidak bisa mengikuti pemilu selanjutnya pada 2004.
Pada pemilu yang dilaksanakan 5 April 2004, parpol peserta pemlu berjumlah 24 buah. Dari 24 parpol, tercatat ada 7 parpol yang mendapat perolehan suara cukup besar berdasarkan jumlah perolehan kursi dan lolos dari electoral treshold (ambang batas pemilihan). Golkar menduduki peringkat pertama memperoleh 128 kursi, PDIP 109, PPP 58, Partai Demokrat 57, PAN 52, PKB 52 dan PKS 45.
Dari kedua pemilu tersebut terlihat bahwa Partai Golkar dan PDIP adalah parpol papan atas, hanya saling bertukar tempat. Yang menarik pada pemilu 2004 terdapat dua parpol dengan nama baru yang mampu masuk dalam kelompok parpol papan tengah yaitu Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. Partai Demokrat menjulang tinggi karena ada “SBY” sebagai daya tarik utama, sementara PKS sebenarnya Partai Keadilan yang berubah wajah menjadi Partai Keadilan ditambah Sejahtera. Partai yang berasas Islam ini unik, tidak mempunyai tokoh “pemeran utama”, tapi mampu meyakinkan konstituen dengan menjual programnya. Belajar dari kegagalan pada pemilu 1999 PKS dengan cerdik mampu masuk dijajaran elit di papan tengah. Langkahnya yang mendukung SBY untuk maju pada pilpres 2004 diantaranya yang menjadikan SBY menjadi presiden.
PKS yang konon didukung banyak Doktor didalamnya dengan cerdik dan “nekat” mencantumkan beberapa tokoh nasional dalam materi iklannya menjelang pemilu 2009. PKS memasang tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno, KH Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, M Natsir, Muhammad Hatta, Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Yang paling “nekat” PKS juga memasang foto Pak Harto. Di akhir tayangan iklan muncul suara “Terima kasih Guru Bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”.
Dari iklannya yang oleh banyak pihak diprotes dan kemudian menjadi kontroversi, muncul tuduhan bahwa PKS mau menunjukkan, semua kelompok akan diakomodasi, dari orde lama, orde baru, hingga orde reformasi, juga termasuk kelompok nasionalis maupun Islam. Kini, langkah “berani lanjutan” PKS diantaranya akan memberikan PKS Award kepada putri mendiang Pak Harto, Siti Hardiyati Rukmana (Mbak Tutut). Lengkaplah strateginya yang mencoba menarik para pengikut Soeharto agar bersimpati. Selama ini keluarga Cendana selalu ditekan, persoalannya tidak pernah ada kata putus terhadap status hukum Pak Harto. Semua pihak takut bersuara, takut dihujat. Maka langkah PKS ini adalah langkah yang sangat strategis, langsung menusuk kedalam kantong-kantong dan jantung konstituen Golkar.
Mempertimbangkan kondisi tersebut, Ketua Umum Golkar bereaksi dan mengatakan bahwa tidak masalah PKS masuk kedalam lingkungan keluarga Cendana lewat program penghargaan kepada Mbak Tutut. “Namanya kampanye, ingin merebut hati orang, kalau tidak begitu bukan kampanye” katanya. Diakuinya, metode kampanye PKS positif, namun berisiko. Sebaliknya, JK mengatakan Golkar yang menghormati jasa-jasa besar almarhum Soeharto, mengucapkan terima kasih kepada PKS yang juga berpandangan sama dengan partainya. “Kita berterima kasih. Baguslah itu supaya ada kawan yang menghormati Pak Harto, jadi kita berterima kasih juga kepada PKS” katanya.
Didalam dunia perpolitikan, ungkapan seorang Ketua Umum Partai adalah gambaran dari partainya. Kalau yang menyatakan seorang ketua DPP saja, belum tentu itu merupakan pernyataan partai. Dari apa yang dikatakan JK, kita bisa menafsirkan dua hal, pertama Golkar “agak” khawatir dengan langkah “brilian” PKS tersebut. Ada istilah dalam golf yang mungkin tepat dipakai dalam dunia blogger “Lengbet”, artinya kalau tidak waspada maka Golkar kalau “meleng” akan disabet konstituennya oleh PKS. Golkarpun selama ini sebagai bekas “anak buah” Pak Harto kurang berani secara eksplisit masuk diwilayah ini. Sejatinya sejak jaman terbentuknya dahulu Golkar selalu identik dengan Pak Harto. Langkah sang Ketua Umum ini lebih terlihat merupakan usaha dalam menjaga kadernya yang “Soehartois” agar tidak lari kepelukan PKS. Memang tajam “intuisi” bapak yang satu ini.
Yang kedua, JK secara halus mengisyaratkan, persetujuannya atas langkah strategi PKS yang penulis sebut “gempur di semua lini”, dalam bahasa politik kira-kira diartikan “langkahnya bagus, kita bisa sejalan dan mungkin nanti bisa berkoalisi”. Isyarat-isyarat seperti ini jelas akan menyejukkan para tokoh keras Golkar seperti Surya Paloh yang menginginkan Golkar maju sebagai presiden. Mungkin mulai terpikirkan Golkar akan berkoalisi dengan PKS nampaknya.
Memang sangat sulit bagi parpol Islam untuk menggerus suara dari parpol nasionalis, beberapa pemerhati mengatakan parpol Islam disarankan tidak terjebak dalam politik identitas yang hanya mengedepankan simbol keagamaan.
Menurut Direktur riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi, bahwa perubahan perilaku pemilih masyarakat sangat cepat. Mayoritas pemilih Indonesia beragama Islam, namun dalam menentukan piihannya, mereka tidak terlalu perduli dengan identitas parpol. Pemilih muslim lebih mengutamakan pertimbangan rasional dibandingkan perintah agama. “Karena menggunakan pemikiran rasional, partai-partai non-Islam yang dinilai lebih mampu menjaga rasionalitas akan mendapat dukungan besar dari pemilih muslim maupun pemilih non-muslim”.
Parpol besar benar-benar harus mewaspadai langkah rasional yang “hebat dan nekat” PKS ini, PKS kini mencoba masuk ke wilayah nasionalis, parpol yang paling lemah dan rawan adalah Golkar, lemah karena Golkar tidak mempunyai tokoh sentral, “patron” pengikat, juga rawan karena terdapat beberapa faksi didalamnya.
Berbeda dengan Partai Demokrat dan PDIP yang memiliki SBY dan Mega. Kalau kurang hati-hati, salah-salah nanti PKS akan mengimbangi perolehan suara dari Partai Golkar. Maaf, ini hanya sebuah analisa seorang blogger tua pak, belum tentu benar juga. Hanya membaca situasi dan kondisi yang berkembang. PRAY.
26 tanggapan untuk “Golkar Mulai Membaca Gerilya PKS”
mahendra99,
— 6 Desember 2008 jam 5:05 pm
pks memang partai yang sedikit lebih maju dari partai2 lain, dan mereka siap menerima perubahan dengan cepat dan bisa beradaptasi dengan cepat, mereka juga mengetahui “market” apa yang dibutuhkan dalam pemilu 2009 nanti. karena pks mempunyai kader2 yang benar2 militan. mereka tahu benar aspirasi dari bawah seperti apa. tapi sayangnya pks kadang lebih memperhatikan masalah2 yang berkaitan dengan “keislaman” saja, tidak menyentuh masyarakat secara umum (berbagai macam lintas agama) jadi cuma terkesan partai islaminya sangat kentara sekali. bukan bersikap sebagai partai umum yang mengedepankan kepentingan secara umum.
Rukyal Basri,
— 6 Desember 2008 jam 8:13 pm
Strategi ‘desa’ mengepung ‘kota’. Atau teory ulat memakan daun, pak Pray? Siapa sangka, suatu waktu dapat batangnya, dan memitik buahnya. Tapi jangan panjat beringin melalui batangnya, gunakan akar yang menjuntai menyentuh tanah. Namun waspada juga, buahnya agak paiiiiit, hanya burung tertentu yang mampu ‘memakannya’.
Nanang DP,
— 6 Desember 2008 jam 9:22 pm
Pakde Pray..menarik sekali memang Golkar ini,Sebagai partai yang pernah dihujat dan bangun lagi, Golkar memang menjadi penentu dalam pilpres 2009 mendatang. Ini dikatakan sendiri oleh mantan ketua umum Golkar, Akbar Tanjung sendiri. Akbar menyatakan Golkar sebenarnya berpeluang memunculkan calon presiden alternatif pada 2009 mendatang selain pilihan SBY atau Mega. Ini terjadi karena Golkar diprediksi masih bisa meraih 15 persen suara. Sayangnya, Golkar sampai saat ini masih belum menentukan sikap soal siapa capresnya, mengingat JK masih wait and see soal ini karena diduga masih ingin paket SBY-JK dilanjutkan. Akbar secara pedas menyebut langkah JK ini sebagai langkah pedagang karena bisa menguburkan cita-cita politik Golkar sendiri. Kalau keputusan siapa bakal capres Golkar baru ditentukan setelah putaran pertama (pemilihan caleg) selesai, maka jelas capres dari Golkar (yang terpilih) hanya memiliki waktu 2 setengah bulan untuk mengejar ketertinggalan dari capres lainnya. Apakah pakde bisa memprediksi, dalam waktu sesingkat itu si capres itu bisa mengejar dengan taktik pencitraan dllnya?PKS sendiri memungkinkan untuk meraih kader Golkar jika soal capres ini tidak segera diatasi. Soalnya, faksi-faksi di Golkar sendiri kemungkinan akan pecah jika sikap ini tidak jelas-jelas jua. Tapi saya sendiri salut dengan langkah Sri Sultan, yang melalui harian Kompas, Sabtu, 7 Desember ini menyatakan maju sebagai capres. Nah, persoalannya, Golkar apa mau mencalonkan Sultan?Salam ya Pakde Pray…mohon kami terus diberi pencerahan…
edwin,
— 6 Desember 2008 jam 10:25 pm
PK Sejahtera atau PKS memang salah satu contoh partai “mutiara terpendam” di tengah-tengah membanjirnya partai-partai lain yang belum tentu sebersih dan seperduli PKS, apalagi partai-partai yang baru “nongol” yang selama ini para pengurusnya terlibat aktif dalam arus lumpur orde baru di bawah kendali Soeharto. Golkar perlu meniru keteladanan PKS dalam memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara agar bisa disejajarkan dengan PKS dalam arti yang sebenarnya, seperti dalam hal pembinaan kader-kadernya agar ikhlas berjuang demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.
siska,
— 6 Desember 2008 jam 11:40 pm
wah pak pray…anda telat nulis ini…saya lebih dahulu yang mengungkapkannya di milis panyingkul. maaf pak pray.
Prayitno Ramelan,
— 7 Desember 2008 jam 6:18 am
@Mas Mahendra, pendukung PKS nih…iya ini partai unik, tidak punya tokoh yg sangat kuat, maka capresnya ada 8 orang. Salam>Pray.
@Pak Rukyal, sudah di Ohio ini masih ingat sama pepatah2 itu, “buah mangga buah kedondong, pendapat anda benar dong!”. Salam ya.
@Mas Nanang, iya tuh, pak JK sekarang lagi konsentrasi ke pemilu legislatif dahulu, karena kalau sampai perolehan suaranya golkar turun, agak repot juga ya. Herannya para tokoh2 itu kan pada punya pengikut, belum lagi ada yg ikut pak Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, kini digerilya PKS, wah lama2 menipis juga. Oleh karena itu mereka belum menentukan siapa yg mau maju jadi capres, kalau cawapres ya pak JK yg elektabilitasnya tinggi. Gt ya.Salam.
@Mas Edwin, pendukung PKS nih, boleh saja kok mendukung partai yg mana, dalam tulisan yg lalu saya menulis PKS agar jangan terlalu “over confidence”, jangan terlalu percaya pada analisa pilkada. gitu ya,Salam.Pray.
@Mbak Siska, wah tidak tahu nih bahwa anda sudah nulis dan mengungkapkannya di panyingkul hal serupa, yg penting sebuah tulisan bukan plagiat kan ya, bukan copy paste, namanya juga analisa, kebetulan instink kita sama kali ya. Saya belum pernah buka panyingkul, nanti saya lihat. Anda penulis politik juga?Kenapa kok tidak nulis di kompasiana, kan bisa menambah wawasan. Salam.Pray.
siska,
— 7 Desember 2008 jam 8:25 am
kalau saya gak PD gabung dgn penulis senior seperti pak pray di kompasiana ini,…hormat saya kepada bpak pray.
Eep Khunaefi,
— 7 Desember 2008 jam 9:26 am
Saya setuju dengan analisa Bapak. Dengan langkah-langkah brilyan tapi penuh resiko ini, PKS bisa “dimungkinkan” meringsek ke tiga besar dalam pemilu nanti. Menurut saya, jika Golkar ingin kuat harus berani menggadang Sultan Jogya untuk menjadi calon presidennya. Soalnya, saya dengar di berita kalau Golkar belum ada inisiatif untuk mengambilnya sebagai capres, sehingga Sultan Jogya itu sudah siap-siap diri untuk jadi capres alternatif. Sebab, saya lihat tokoh kuat yang memiliki integritas moral tinggi dari Golkar sejauh ini hanya Sultan itu. Ada yang lainnya, tapi sudah mencar ke mana-mana alias bikin partai sendiri. Tapi, saya lihat JK kayaknya agak keberatan. Soalnya, (maaf) JK sendiri sepertinya ingin menjadi capres dari Golkar. Bukan begitu Pak De! Sekali lagi, saya setuju dengan analisa Bapak yang demikian itu.
Prayitno Ramelan,
— 7 Desember 2008 jam 10:56 am
@Sisca, wah jangan begitu, ayo sudah buat saja artikel, kirim ke pengelola, tidak apa2 kok Sis. Ini indie media yang bebas kok. Saya ini disebut senior….. kan karena sudah tua ya…he,he,he…sixty one years old. Ok deh, terima kasih ya Sisca.Salam juga
Andreas,
— 7 Desember 2008 jam 5:28 pm
Pak Pray,Saya setuju dengan PKS kalau mereka menjadi orang partai yang tidak berplatform agama, karena saya kebetulan bukan muslim. Memang saya lihat, PKS sedang bagus saat ini, dan apa salahnya kalau menjadi penyeimbang, untuk memberi shock terapi kepada partai2 yang sudah “mapan” seperti Golkar, PDIP, dan PPP. Karena dengan adanya dobrakan baru, mereka itu akan berbenah, yang hasil akhirnya akan positif terhadap perpolitikan negeri ini.Namun, melihat platform mereka selama ini, mereka masih berasaskan Islam, yang mana saya yang bukan muslim tidak terakomodasi di dalamnya. Itulah sedikit dilema bagi keompok (partai) yang berideologi kelompok (agama). Saya harap akan ada sebuah partai politik yang benar-benar berjuang untuk negara ini, lepas dari sekat-sekat SARA. Memajukan bangsa ini jauh lebih penting karena kalau tidak, negara kita akan habis ditelan bangsa lain, kita akan jadi hamba/budak di negera kita sendiri.
Prayitno Ramelan,
— 7 Desember 2008 jam 6:24 pm
Mas Andreas, terima kasih tanggapannya, wah kalau PKS disuruh merubah asas partai kemungkinannya sangat kecil ya, memang kelihatannya banyak orang yang jenuh dengan parpol2 yang ada, sehingga mencari parpol baru demi untuk perbaikan bangsa ini. Kita tunggu barangkali ada yg dari PKS bisa menjawab pertanyaan anda. Partai nasionalis bisa mewadahi aspirasi politik yang lepas dari pembatasan dibidang agama. Tapi bagus juga pemikirannya bahwa sebagai sebuah bangsa kita harus maju kalau tidak mau jadi budak di negaranya sendiri. Semoga pemimpin2 kita lebih bekerja keras berbuat demi bangsa ini ya Andreas. Salam>Pray.
ary ts,
— 8 Desember 2008 jam 12:46 pm
Iya, saya sangat setuju dengan Andreas, sampai saat ini memang PKS masih merupakan partai yang bersih. Seandainya PKS adalah partai nasionalis, pasti akan lebih banyak lagi mendapatkan suara, bahkan akan menjadi pemenang. Karena asas agama bila dipakai untuk politik, atau “asas” dari suatu partai / negara, akan menimbulkan dilema. Karena agama adalah hak pribadi setiap manusia. Golkar sedang mengalami krisis PD, tidak berani mencalonkan presiden, tetapi hanya ingin menjadi “wakil” saja. Bangkitlah Golkar!! Partai besar jangan kalah dengan partai kecil… Utamakan kepentingan rakyat maka pastilah kepercayaan rakyat akan kembali.
Prayitno Ramelan,
— 8 Desember 2008 jam 4:35 pm
Ary, memang banyak yang berfikir bahwa membuat partai di Indonesia sebaiknya dengan asas Islam, karena kan mayoritas orang Indonesia beragama Islam, tapi ternyata kini masyarakat banyak yang menggunakan pemikiran rasionalis tadi, nah parpol papan atas di Indonesia terbukti dikuasai oleh parpol nasionalis. itulah dilema parpol2 Islam. Pendapat anda dan Andreas kiranya perlu juga direnungkan oleh petinggi2 PKS nih, yg saya pernah tahu Gus Dur faham mengenai masalah ini dan lewat PKB telah mencoba juga menampung konstituen yg non-muslim…Ttg Golkar yg belum berani mencalonkan diri, kalau ada waktu tolong dibaca artikel saya terbaru “Siapa Capres Dari Partai Golkar”, mudah2an menambah sedikit informasi tu Ary. Terima Kasih tanggapannya.Salam>Pray.
ary ts,
— 8 Desember 2008 jam 7:04 pm
Betul Pak Pray, saya paham dengan kondisi partai Golkar sekarang. Justru itu saya komentari kalo Golkar sedang krisis PD. Hanya Sultan saja yg masuk sebagai capres menurut hasil survey. Sedang JK sangat tinggi di Cawapres. Kondisi Golkar tidak sekuat dulu, meskipun kuat secara partai tetapi tidak punya calon yg cukup kuat sebagai capres dari internal mereka. Golkar masih wait and see… karena memang tidak yakin dengan apa yg dipunyainya sebagai nomor satu, hanya yakin sebagai nomor dua. Modal Golkar hanya tingginya bargaining power karena menguasai parlemen. Tetapi itulah realita, dimana SBY yang hny dari partai kecil, bargaining powernya lemah, jadi seakan akan tidak mempunyai ketegasan. Beda dengan JK. Politik, memang harus bermain cantik…
prayitno ramelan,
— 8 Desember 2008 jam 9:34 pm
Wah kelihatannya Mas Ary ini political member ya atau pengamat juga sepertinya faham sekali dengan kondisi Golkar, iya nanti kalau hasil pemilu seperti hasil survei yg dilansir LSN maka Demokrat memiliki bargaining power yg lebih besar dan sebagai partai penentu ya, begitu kira2 menurut saya ya, Salam.Pray.
Indra,
— 9 Desember 2008 jam 7:04 am
@Bang Andreas, mungkin ini bisa menjawab uneg-uneg abang tentang PKS. Saya ambil dari ANTARA News:
(ANTARA News) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menganut asas yang terkandung dalam “Piagam Madinah” (The Constitution of Medina) yang berisi penghormatan terhadap kebhinekaan yang ada di masyarakat.
“Meski teguh menjalankan agama, tetapi dalam Piagam Madinah semua agama dan keyakinan harus dihormati. Itu budaya politik PKS,” kata Presiden PKS, Tifatul Sembiring, dalam Dialog Kepemimpinan Nasional di Medan, Sumut, Jumat malam.
Menurut dia, ada tiga poin penting yang harus dipahami dalam Piagam Madinah, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Poin pertama menganjurkan adanya jaminan dan penghormatan terhadap masyarakat untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
Hal itu dipraktikkan Nabi Muhammad SAW ketika menjadi pemimpin di Madinah yang tetap membiarkan penganut lain, seperti Nasrani, Yahudi dan lain-lain untuk hidup tenang dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.
Kemudian, adanya komitmen bersama untuk menghormati dan menerima penerapan dan penegakan hukum yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sedangkan poin ketiga adalah adanya komitmen bersama untuk membela kepentingan dan martabat bangsa dari serangan pihak luar.
Dengan asas dalam piagam Madinah, maka nasionalisme kader PKS tidak perlu diragukan, meski selalu teguh dalam menjalankan syariat Islam.
“Dalam agama, PKS selalu berprinsip `lakum dinukum waliyadin` (agamamu untukmu, agamaku untukku), namun tetap menghormati agama lain yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, sikap nasionalisme PKS itu dibuktikan ketika memberikan bantuan kemanusiaan terhadap korban gempa bumi di Nabire, Papua, pada November 2004 meski mayoritas penduduknya beragama Nasrani.
“Dengan sikap nasionalisme itu, banyak warga Nabire yang simpatik terhadap PKS, meski mereka beragama Nasrani,” katanya
prayitno ramelan,
— 9 Desember 2008 jam 7:21 am
Terima Kasih Mas Indra ya, mudah2an informasi ini bermanfaat bagi Andreas dan yg lainnnya. Salam>Pray
Dicky Saputra,
— 9 Desember 2008 jam 10:00 am
Salam sejahtera bagi semua pen-CINTA Indonesia
PKS adalah sebuah partai yang mapan dalam menerapaka Idoeloginya. Atas dasar ideologi tersebutlah yang membuat dia punya identitas jelas dan terang serta menjadi REL atau patron bagi setiap keputusan yang diambil.
Tapi terus terang saya menjaga hak ini sebagai sebuah hak identitas sebuah kelompok atau partai dari pada hampir semua partai yang ada punya nama identitas atau ideologi baik itu “nasionalis”, “Islamis nasionalis”, “nasionalis relijius”, nasionalis relijius pancasilais”, “pancasilis” atau apa aja namanya yang menurut saya “mereka” sendiri bingung dengan idoelogi yang dibuatnya sendiri apalagi kita yang orang luar. Seharusnya kita menghargai ke Bhinnekaan yang ada dibumi nusantara ini. Jangan ditakuti, jangan dimusuhi, jangan dicuragai dan jangan dimacam-macamkan agar kesempatan anak bangsa menunjukan identitas, visi dan misinya dalam membangun negeri adalah hak setiap orang.Sampai saat ini terlalu naif (menurut saya) kalo kita masih mempertentangkan sebuah ideologi dari sebuah partai, apalagi ideolagi Islam yang merupakan salah satu ideologi dunia. Jangan kita perkecilkan atau mempersempitkan ideologi tersebut.Dengan hadirnya PKS sebagai sebuah partai yang berideologi Islam maka kita bisa melihat bagaimana Islam dapat memecahkan suatau masalah atau bagaimana Islam bisa menjadi pilihan “alternatif” sebagai solusi membangun negeri ini walau kita bukan seorang yang Islam.Dengan begitu ada kesempatan bagi agama atau ideologi lain juga berkompetisi dalam memberi laternatif-alternatif pilihan dalam membangun negeri yang kita cinta ini.
Yang saya ketahui, Islam itu agama rahmat bagi seluruh alam dan Islam mengakui adanya agama lain dimuka bumi ini.Saya ingin menyampaikan kepada semua pen-CINTA Indonesia, mari bersama sebagai komponen anak bangsa membangun negeri ini bersama-sama tanpa melihat dari mana diberasal, bendera apa yang diabawa, anak siapa dia dana lain sebaginya. Karena itu akan menghilangkan ke-BHINNEKAAN yang diwarisi untuk kita oleh seluruh pendidiri negeri ini.O..ya! Ada satu lagi yang mungkin patut kita renungkan bersama. Dalam sejarah berdiri dan berjalannya negeri ini ada sejarah-sejarah yang salah dan dia merupakan sebuah episode sejarah dan kita punya pilihan untuk tidak mengikutinya kembali tanpa melupakan karya yang telah diukir oleh mereka yang telah berbuat.
Sebagai penutup saya mengambil selogannya PKS yang membuat saya sadar dan kembali punya harapan terhadap negeri yang saya (moga-2 kita semua) cintai ini. “Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada”
Harapan anak negeri Ujung Barat Indonesia (Aceh)
prayitno ramelan,
— 9 Desember 2008 jam 12:05 pm
Bang Dicky Saputra,Terima Kasih informasinya, yang menambah wawasan bagi para pembaca Kompasiana, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Salam.Pray.
Andreas,
— 9 Desember 2008 jam 10:59 pm
Terima kasih atas semua tanggapannya.
Jika yang lama sudah sedemikian buruk, yang baru, walapun buruk, tetapi masih lebih baik daripada yang lama dan sudah sedemikian buruk akan jadi pilihan yang lebih baik. Atau dengan kata lain, “lebih baik meilih yang fifty-fifty kemungkinannya baik atau buruk daripada memilih yang sudah pasti buruk”.Semoga yang sedang bangkit ini bisa lebih baik daripada yang sudah mapan dan bobrok. Terlalu menyedihkan karena ternyata bahkan negeri tetangga kita yang serumpun pun menganggap kita hanya seperempat (tak lagi sebelah) mata karena miskinnya rakyat negeri kita.
Rhodepp,
— 10 Desember 2008 jam 2:43 pm
kok pemilu di negara tercinta ini, terkesan ingin menjadi penguasa dan memajukan partainya masing2 ya? bukannya ingin memajukan dan menyejahterakan orang2 yang masih makan nasi dan garam, tiap musim hujan kebanjiran, dan sgala macem penderitaan yang malah jadi bahan jualan buat persiapan pemilu…..mau jadi apa bangsa ini…hhhhhhhhhhhhhhhhhh
Adhy,
— 10 Desember 2008 jam 3:05 pm
Dalam strategi perang klasik mengatakan bahwa kalau kita kita harus mengetahui betul medan pertempuran agar bisa menang. hubungannya dgn Politik, agar bisa menang kita harus mengetahui realitas-relaitas baru dalam politik Indonesia. Di antara realitas yang sangat penting itu adalah:- Realitas demografi, bahwa tren pertumbuhan masyarakat berusia muda —antara 17 tahun hingga 45 tahun– populasinya mencapai 65 %.- Perbandingan kaum urban-rural. Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media.- Tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri. Setidaknya ada empat macam transformasi yang akan terjadi:- Pertama, Transformasi dari politik aliran menuju politik kemanusiaan. Orang nanti tidak melihat ideologi itu sebagai soal benar salah, tapi bagaimana idelologi itu membangun kemanusiaan, dan terasa nyata hasil kerjanya. Dulu orang berbicara nasionalisme, karena nasionalisme adalah padanan dari anti kolonialisme. Karena nasionalisme adalah alat untuk melawan imperialisme.- Kedua, Transformasi dari politik pencitraan menuju politik konten. Karena itu iklan-iklan politik sekarang mengalami inflasi. Kata-kata dalam iklan itu menjadi sangat artifisial, karena yang ingin dilihat orang adalah artikulasi yang bersifat live, nyata.- Ketiga, Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku bisa jadi tidak relevan.- Keempat, Transformasi dari orientasi kekuasaan kepada orientasi kepemimpinan. Bahwa politik tidak bisa lagi dipersepsi sebagai sarana untuk mengejar ambisi kekuasaan. Itu tidak akan mendapat tempat di masyarakat, seiring dengan realitas-realitas baru. Kepemimpinan & kekuasaan itu berbeda.Contohnya, Golkar di pemilu 98 turun drastis. ini menandakan 30 tahun Golkar hanya berkuasa, tapi tidak memimpin negeri ini. PKB, sempat punya presiden, tapi cuma bertahan 21 bulan, setelah itu selesai, dan sekarang pecah. Begitu juga PDIP, justru ketika terdzalimi suaranya naik 34%, ketika berkuasa suaranya menurun menjadi 19%.
Berdasarkan realitas tadi saya percaya bahwa partai yang akan memenangankan pemilu mendatang bukan lagi partai yang canggih dengan operasi politiknya, duit banyak. tetapi partai yang hadir dengan gagasan yang inovatif dan solutif, fresh idea, yang dapat membangun kembali rasa cinta dan bangga setiap warga negara kepada bangsa dan tanah air.
Ide-ide yang inovatif dan solutif itu adalah ide-ide tentang the next Indonesia. Siapa yang bisa memiliki ide-ide tentang Indoneisa masa depan, dialah yang akan memimpin Indonesia.
Melihat fenomena PKS. Agenda PKS 5 tahun terakhir, dan khususnya dari mulai peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 100 smp sekarang, memperlihatkan bahwa PKS sadar betul realitas-realitas tadi. Dan PKS mempunyai semuanya sebagai partai masa depan. kalau partai-partai besar tidak berubah mengikuti relitas zaman, PKS memimpin Indonesia hanya soal waktu, mau 2009 / 2014.
Tulisan Om Pray (boleh saya menyebut Om?) menggambarkan bahwa singa-singa baru terbangun dan kaget bahwa si rubah cerdik PKS sudah melangkah jauh mengejar dan menghabiskan buruan mereka.
luthfie,
— 11 Desember 2008 jam 8:02 am
Pak Pray yang terhormat,
Saya rasa, langkah2 PKS ini masih belum selesai, masih termasuk strategi yang panjang sampai masuk 2009. Kita nantikan saja “kejutan2″ berikutnya dari PKS, dan kita lihat benang merahnya. Saya melihat ini semua awal dari langkah2 cerdas PKS berikutnya.
Soal platform PKS, bisa dilihat di situsnya, http://www.pks.or.id/ , saya melihat, asas Islam yang diyakini dan dipraktekkan PKS bukan lah mengambil Islam secara formal, tapi lebih kepada menerapkan nilai2 Islam dalam semua aspek kehidupan. Istilah PKS, mungkin, sebagai Rahmatan lil alamin.
Soal kebhinnekaan Indonesia, tidak perlulah dibenturkan dengan ideologi Islam, sama halnya antara Nasionalisme dengan Islam. Kalau bisa diharmoniskan, kenapa harus dibenturkan?
Prayitno Ramelan,
— 11 Desember 2008 jam 12:28 pm
Rekan2 penanggapa yth, saya mohon maaf karena sejak tgl 10 ada urusan keluarkota dan baru saja mendarat sampai dirumah, jadi sangat terlambat menanggapi, mudah2an tidak mengecewakan anda semua dalam kita mendiskusdikan tulisan yg saya buat :
@Rhodepp, tidak usah kecewa, ya memang begitu tahapan para parpol, masih belajar berjuang untuk menang, bayangkan dengan banyaknya pesaing ya, kini masih mikir diri dahulu, nanti mikir kelompok, mudah2an nanri juga mikir rakyat setelah pemilu. Kita positif thinking saja ok.Pray
@Adhy, terima kasih tanggapannya, wah saya suka sekali dengan data2nya, jelas menambah lengkapnya artikel tersebut. Saya sedang menulis ttg peran media yg menurut anda penting. Nah kalau perbandingan penduduk yg berumur 17-45 tahun urban-rural berubah pada 2010 menjadi 54%-46% , akan terjadi titik balik partai2 yang kuat di urban untuk menjadi pemenang pada 2014, nanti say coba ikut mencari data tersebut sbg ref tulisan selanjutnya. Data2 lainnya saya suka juga tuh. Dan betul istilahnya banyak yg kaget dan khawatir atas gerakan PKS, walaupun belum tentu menang secara significant, tapi ini adalah langkah politis yg maju. Salam>Pray.
@Iya Luthfie, saya percaya apa yg diampaikan anda, kita tunggu langkah PKS terus….ya saya buat ulasan lagi, jadi enak nih ada bahan diskusi ya….Eh, sudah lihat tulisan saya “Langkah Berani PKS” yg saya posting di KOmpasiana, diposting juga di Situs PKS tsb…wah yg baca 6500 lebih…..ternyata banyak akivis PKS mengakses internet. Tks Salam Pray.
Asihon Siallagan,
— 11 Desember 2008 jam 4:22 pm
Saya baru pertama kali membaca milist ini, kata-kata ataupun informasi yang disajikan sangat membangun. Dilain pihak para komentatornya nampak sekali berpendidikan, jauh dari kata2 yang tidak senonoh. Saya pendatang baru disini mencoba memberi pendapat” Bagaimana semua partai mencontoh kebaikan-kebaikan Partai PKS dan membuang kejelekan-kejelekannya dan Diharapkan semua Parpol jangan terkesan hanya merebut jabatan”.Untuk Pak Prayitno senang berkenalan dengan bapak..
Prayitno Ramelan,
— 11 Desember 2008 jam 6:15 pm
Bang Asihon, syukur kalau anda suka setelah menemukan kompasiana, pertama selamat datang, atas nama pribadi, the kompasiana’s bloggers dan para pengelola (maaf mas Pepih…), juga para sahabat yg buuuuuanyak sekali disini. Nah anda yg penting baca2 dulu tulisan Mas Pepih, pengelola situs ini, biar tambah asyik. Pendapat2 anda sangat saya hargai dan juga dibaca oleh rekan2 lainnya. Ok itu dulu, selamat kenalan juga. Salam>Pray.
Sumber : Kompasiana.Com
Momentum reformasi politik dan demokrasi di Indonesia terjadi setelah dilaksanakannya Pemilu pada 1997. dengan kondisi politik yg ada, maka pemilu yang seharusnya dilaksanakan lima tahun lagi diajukan pada 7 Juni 1999. Peserta pemilu terdiri dari 48 parpol, 34 diantaranya berasas Pancasila, 10 parpol berasas Islam dan 4 parpol berasas lainnya. Pada pemilu 1999 maka PDIP berhasil menjadi partai pemenang dengan 153 kursi, Golkar 120, PPP 58, PKB 51 dan PAN 34 kursi. Pada pemilu ini Partai Keadilan sebagai partai baru tidak memenuhi “electoral treshold”, sehingga tidak bisa mengikuti pemilu selanjutnya pada 2004.
Pada pemilu yang dilaksanakan 5 April 2004, parpol peserta pemlu berjumlah 24 buah. Dari 24 parpol, tercatat ada 7 parpol yang mendapat perolehan suara cukup besar berdasarkan jumlah perolehan kursi dan lolos dari electoral treshold (ambang batas pemilihan). Golkar menduduki peringkat pertama memperoleh 128 kursi, PDIP 109, PPP 58, Partai Demokrat 57, PAN 52, PKB 52 dan PKS 45.
Dari kedua pemilu tersebut terlihat bahwa Partai Golkar dan PDIP adalah parpol papan atas, hanya saling bertukar tempat. Yang menarik pada pemilu 2004 terdapat dua parpol dengan nama baru yang mampu masuk dalam kelompok parpol papan tengah yaitu Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera. Partai Demokrat menjulang tinggi karena ada “SBY” sebagai daya tarik utama, sementara PKS sebenarnya Partai Keadilan yang berubah wajah menjadi Partai Keadilan ditambah Sejahtera. Partai yang berasas Islam ini unik, tidak mempunyai tokoh “pemeran utama”, tapi mampu meyakinkan konstituen dengan menjual programnya. Belajar dari kegagalan pada pemilu 1999 PKS dengan cerdik mampu masuk dijajaran elit di papan tengah. Langkahnya yang mendukung SBY untuk maju pada pilpres 2004 diantaranya yang menjadikan SBY menjadi presiden.
PKS yang konon didukung banyak Doktor didalamnya dengan cerdik dan “nekat” mencantumkan beberapa tokoh nasional dalam materi iklannya menjelang pemilu 2009. PKS memasang tokoh-tokoh nasional seperti Bung Karno, KH Hasyim Asy’ari, Ahmad Dahlan, M Natsir, Muhammad Hatta, Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Yang paling “nekat” PKS juga memasang foto Pak Harto. Di akhir tayangan iklan muncul suara “Terima kasih Guru Bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”.
Dari iklannya yang oleh banyak pihak diprotes dan kemudian menjadi kontroversi, muncul tuduhan bahwa PKS mau menunjukkan, semua kelompok akan diakomodasi, dari orde lama, orde baru, hingga orde reformasi, juga termasuk kelompok nasionalis maupun Islam. Kini, langkah “berani lanjutan” PKS diantaranya akan memberikan PKS Award kepada putri mendiang Pak Harto, Siti Hardiyati Rukmana (Mbak Tutut). Lengkaplah strateginya yang mencoba menarik para pengikut Soeharto agar bersimpati. Selama ini keluarga Cendana selalu ditekan, persoalannya tidak pernah ada kata putus terhadap status hukum Pak Harto. Semua pihak takut bersuara, takut dihujat. Maka langkah PKS ini adalah langkah yang sangat strategis, langsung menusuk kedalam kantong-kantong dan jantung konstituen Golkar.
Mempertimbangkan kondisi tersebut, Ketua Umum Golkar bereaksi dan mengatakan bahwa tidak masalah PKS masuk kedalam lingkungan keluarga Cendana lewat program penghargaan kepada Mbak Tutut. “Namanya kampanye, ingin merebut hati orang, kalau tidak begitu bukan kampanye” katanya. Diakuinya, metode kampanye PKS positif, namun berisiko. Sebaliknya, JK mengatakan Golkar yang menghormati jasa-jasa besar almarhum Soeharto, mengucapkan terima kasih kepada PKS yang juga berpandangan sama dengan partainya. “Kita berterima kasih. Baguslah itu supaya ada kawan yang menghormati Pak Harto, jadi kita berterima kasih juga kepada PKS” katanya.
Didalam dunia perpolitikan, ungkapan seorang Ketua Umum Partai adalah gambaran dari partainya. Kalau yang menyatakan seorang ketua DPP saja, belum tentu itu merupakan pernyataan partai. Dari apa yang dikatakan JK, kita bisa menafsirkan dua hal, pertama Golkar “agak” khawatir dengan langkah “brilian” PKS tersebut. Ada istilah dalam golf yang mungkin tepat dipakai dalam dunia blogger “Lengbet”, artinya kalau tidak waspada maka Golkar kalau “meleng” akan disabet konstituennya oleh PKS. Golkarpun selama ini sebagai bekas “anak buah” Pak Harto kurang berani secara eksplisit masuk diwilayah ini. Sejatinya sejak jaman terbentuknya dahulu Golkar selalu identik dengan Pak Harto. Langkah sang Ketua Umum ini lebih terlihat merupakan usaha dalam menjaga kadernya yang “Soehartois” agar tidak lari kepelukan PKS. Memang tajam “intuisi” bapak yang satu ini.
Yang kedua, JK secara halus mengisyaratkan, persetujuannya atas langkah strategi PKS yang penulis sebut “gempur di semua lini”, dalam bahasa politik kira-kira diartikan “langkahnya bagus, kita bisa sejalan dan mungkin nanti bisa berkoalisi”. Isyarat-isyarat seperti ini jelas akan menyejukkan para tokoh keras Golkar seperti Surya Paloh yang menginginkan Golkar maju sebagai presiden. Mungkin mulai terpikirkan Golkar akan berkoalisi dengan PKS nampaknya.
Memang sangat sulit bagi parpol Islam untuk menggerus suara dari parpol nasionalis, beberapa pemerhati mengatakan parpol Islam disarankan tidak terjebak dalam politik identitas yang hanya mengedepankan simbol keagamaan.
Menurut Direktur riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) Dodi Ambardi, bahwa perubahan perilaku pemilih masyarakat sangat cepat. Mayoritas pemilih Indonesia beragama Islam, namun dalam menentukan piihannya, mereka tidak terlalu perduli dengan identitas parpol. Pemilih muslim lebih mengutamakan pertimbangan rasional dibandingkan perintah agama. “Karena menggunakan pemikiran rasional, partai-partai non-Islam yang dinilai lebih mampu menjaga rasionalitas akan mendapat dukungan besar dari pemilih muslim maupun pemilih non-muslim”.
Parpol besar benar-benar harus mewaspadai langkah rasional yang “hebat dan nekat” PKS ini, PKS kini mencoba masuk ke wilayah nasionalis, parpol yang paling lemah dan rawan adalah Golkar, lemah karena Golkar tidak mempunyai tokoh sentral, “patron” pengikat, juga rawan karena terdapat beberapa faksi didalamnya.
Berbeda dengan Partai Demokrat dan PDIP yang memiliki SBY dan Mega. Kalau kurang hati-hati, salah-salah nanti PKS akan mengimbangi perolehan suara dari Partai Golkar. Maaf, ini hanya sebuah analisa seorang blogger tua pak, belum tentu benar juga. Hanya membaca situasi dan kondisi yang berkembang. PRAY.
26 tanggapan untuk “Golkar Mulai Membaca Gerilya PKS”
mahendra99,
— 6 Desember 2008 jam 5:05 pm
pks memang partai yang sedikit lebih maju dari partai2 lain, dan mereka siap menerima perubahan dengan cepat dan bisa beradaptasi dengan cepat, mereka juga mengetahui “market” apa yang dibutuhkan dalam pemilu 2009 nanti. karena pks mempunyai kader2 yang benar2 militan. mereka tahu benar aspirasi dari bawah seperti apa. tapi sayangnya pks kadang lebih memperhatikan masalah2 yang berkaitan dengan “keislaman” saja, tidak menyentuh masyarakat secara umum (berbagai macam lintas agama) jadi cuma terkesan partai islaminya sangat kentara sekali. bukan bersikap sebagai partai umum yang mengedepankan kepentingan secara umum.
Rukyal Basri,
— 6 Desember 2008 jam 8:13 pm
Strategi ‘desa’ mengepung ‘kota’. Atau teory ulat memakan daun, pak Pray? Siapa sangka, suatu waktu dapat batangnya, dan memitik buahnya. Tapi jangan panjat beringin melalui batangnya, gunakan akar yang menjuntai menyentuh tanah. Namun waspada juga, buahnya agak paiiiiit, hanya burung tertentu yang mampu ‘memakannya’.
Nanang DP,
— 6 Desember 2008 jam 9:22 pm
Pakde Pray..menarik sekali memang Golkar ini,Sebagai partai yang pernah dihujat dan bangun lagi, Golkar memang menjadi penentu dalam pilpres 2009 mendatang. Ini dikatakan sendiri oleh mantan ketua umum Golkar, Akbar Tanjung sendiri. Akbar menyatakan Golkar sebenarnya berpeluang memunculkan calon presiden alternatif pada 2009 mendatang selain pilihan SBY atau Mega. Ini terjadi karena Golkar diprediksi masih bisa meraih 15 persen suara. Sayangnya, Golkar sampai saat ini masih belum menentukan sikap soal siapa capresnya, mengingat JK masih wait and see soal ini karena diduga masih ingin paket SBY-JK dilanjutkan. Akbar secara pedas menyebut langkah JK ini sebagai langkah pedagang karena bisa menguburkan cita-cita politik Golkar sendiri. Kalau keputusan siapa bakal capres Golkar baru ditentukan setelah putaran pertama (pemilihan caleg) selesai, maka jelas capres dari Golkar (yang terpilih) hanya memiliki waktu 2 setengah bulan untuk mengejar ketertinggalan dari capres lainnya. Apakah pakde bisa memprediksi, dalam waktu sesingkat itu si capres itu bisa mengejar dengan taktik pencitraan dllnya?PKS sendiri memungkinkan untuk meraih kader Golkar jika soal capres ini tidak segera diatasi. Soalnya, faksi-faksi di Golkar sendiri kemungkinan akan pecah jika sikap ini tidak jelas-jelas jua. Tapi saya sendiri salut dengan langkah Sri Sultan, yang melalui harian Kompas, Sabtu, 7 Desember ini menyatakan maju sebagai capres. Nah, persoalannya, Golkar apa mau mencalonkan Sultan?Salam ya Pakde Pray…mohon kami terus diberi pencerahan…
edwin,
— 6 Desember 2008 jam 10:25 pm
PK Sejahtera atau PKS memang salah satu contoh partai “mutiara terpendam” di tengah-tengah membanjirnya partai-partai lain yang belum tentu sebersih dan seperduli PKS, apalagi partai-partai yang baru “nongol” yang selama ini para pengurusnya terlibat aktif dalam arus lumpur orde baru di bawah kendali Soeharto. Golkar perlu meniru keteladanan PKS dalam memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara agar bisa disejajarkan dengan PKS dalam arti yang sebenarnya, seperti dalam hal pembinaan kader-kadernya agar ikhlas berjuang demi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.
siska,
— 6 Desember 2008 jam 11:40 pm
wah pak pray…anda telat nulis ini…saya lebih dahulu yang mengungkapkannya di milis panyingkul. maaf pak pray.
Prayitno Ramelan,
— 7 Desember 2008 jam 6:18 am
@Mas Mahendra, pendukung PKS nih…iya ini partai unik, tidak punya tokoh yg sangat kuat, maka capresnya ada 8 orang. Salam>Pray.
@Pak Rukyal, sudah di Ohio ini masih ingat sama pepatah2 itu, “buah mangga buah kedondong, pendapat anda benar dong!”. Salam ya.
@Mas Nanang, iya tuh, pak JK sekarang lagi konsentrasi ke pemilu legislatif dahulu, karena kalau sampai perolehan suaranya golkar turun, agak repot juga ya. Herannya para tokoh2 itu kan pada punya pengikut, belum lagi ada yg ikut pak Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, kini digerilya PKS, wah lama2 menipis juga. Oleh karena itu mereka belum menentukan siapa yg mau maju jadi capres, kalau cawapres ya pak JK yg elektabilitasnya tinggi. Gt ya.Salam.
@Mas Edwin, pendukung PKS nih, boleh saja kok mendukung partai yg mana, dalam tulisan yg lalu saya menulis PKS agar jangan terlalu “over confidence”, jangan terlalu percaya pada analisa pilkada. gitu ya,Salam.Pray.
@Mbak Siska, wah tidak tahu nih bahwa anda sudah nulis dan mengungkapkannya di panyingkul hal serupa, yg penting sebuah tulisan bukan plagiat kan ya, bukan copy paste, namanya juga analisa, kebetulan instink kita sama kali ya. Saya belum pernah buka panyingkul, nanti saya lihat. Anda penulis politik juga?Kenapa kok tidak nulis di kompasiana, kan bisa menambah wawasan. Salam.Pray.
siska,
— 7 Desember 2008 jam 8:25 am
kalau saya gak PD gabung dgn penulis senior seperti pak pray di kompasiana ini,…hormat saya kepada bpak pray.
Eep Khunaefi,
— 7 Desember 2008 jam 9:26 am
Saya setuju dengan analisa Bapak. Dengan langkah-langkah brilyan tapi penuh resiko ini, PKS bisa “dimungkinkan” meringsek ke tiga besar dalam pemilu nanti. Menurut saya, jika Golkar ingin kuat harus berani menggadang Sultan Jogya untuk menjadi calon presidennya. Soalnya, saya dengar di berita kalau Golkar belum ada inisiatif untuk mengambilnya sebagai capres, sehingga Sultan Jogya itu sudah siap-siap diri untuk jadi capres alternatif. Sebab, saya lihat tokoh kuat yang memiliki integritas moral tinggi dari Golkar sejauh ini hanya Sultan itu. Ada yang lainnya, tapi sudah mencar ke mana-mana alias bikin partai sendiri. Tapi, saya lihat JK kayaknya agak keberatan. Soalnya, (maaf) JK sendiri sepertinya ingin menjadi capres dari Golkar. Bukan begitu Pak De! Sekali lagi, saya setuju dengan analisa Bapak yang demikian itu.
Prayitno Ramelan,
— 7 Desember 2008 jam 10:56 am
@Sisca, wah jangan begitu, ayo sudah buat saja artikel, kirim ke pengelola, tidak apa2 kok Sis. Ini indie media yang bebas kok. Saya ini disebut senior….. kan karena sudah tua ya…he,he,he…sixty one years old. Ok deh, terima kasih ya Sisca.Salam juga
Andreas,
— 7 Desember 2008 jam 5:28 pm
Pak Pray,Saya setuju dengan PKS kalau mereka menjadi orang partai yang tidak berplatform agama, karena saya kebetulan bukan muslim. Memang saya lihat, PKS sedang bagus saat ini, dan apa salahnya kalau menjadi penyeimbang, untuk memberi shock terapi kepada partai2 yang sudah “mapan” seperti Golkar, PDIP, dan PPP. Karena dengan adanya dobrakan baru, mereka itu akan berbenah, yang hasil akhirnya akan positif terhadap perpolitikan negeri ini.Namun, melihat platform mereka selama ini, mereka masih berasaskan Islam, yang mana saya yang bukan muslim tidak terakomodasi di dalamnya. Itulah sedikit dilema bagi keompok (partai) yang berideologi kelompok (agama). Saya harap akan ada sebuah partai politik yang benar-benar berjuang untuk negara ini, lepas dari sekat-sekat SARA. Memajukan bangsa ini jauh lebih penting karena kalau tidak, negara kita akan habis ditelan bangsa lain, kita akan jadi hamba/budak di negera kita sendiri.
Prayitno Ramelan,
— 7 Desember 2008 jam 6:24 pm
Mas Andreas, terima kasih tanggapannya, wah kalau PKS disuruh merubah asas partai kemungkinannya sangat kecil ya, memang kelihatannya banyak orang yang jenuh dengan parpol2 yang ada, sehingga mencari parpol baru demi untuk perbaikan bangsa ini. Kita tunggu barangkali ada yg dari PKS bisa menjawab pertanyaan anda. Partai nasionalis bisa mewadahi aspirasi politik yang lepas dari pembatasan dibidang agama. Tapi bagus juga pemikirannya bahwa sebagai sebuah bangsa kita harus maju kalau tidak mau jadi budak di negaranya sendiri. Semoga pemimpin2 kita lebih bekerja keras berbuat demi bangsa ini ya Andreas. Salam>Pray.
ary ts,
— 8 Desember 2008 jam 12:46 pm
Iya, saya sangat setuju dengan Andreas, sampai saat ini memang PKS masih merupakan partai yang bersih. Seandainya PKS adalah partai nasionalis, pasti akan lebih banyak lagi mendapatkan suara, bahkan akan menjadi pemenang. Karena asas agama bila dipakai untuk politik, atau “asas” dari suatu partai / negara, akan menimbulkan dilema. Karena agama adalah hak pribadi setiap manusia. Golkar sedang mengalami krisis PD, tidak berani mencalonkan presiden, tetapi hanya ingin menjadi “wakil” saja. Bangkitlah Golkar!! Partai besar jangan kalah dengan partai kecil… Utamakan kepentingan rakyat maka pastilah kepercayaan rakyat akan kembali.
Prayitno Ramelan,
— 8 Desember 2008 jam 4:35 pm
Ary, memang banyak yang berfikir bahwa membuat partai di Indonesia sebaiknya dengan asas Islam, karena kan mayoritas orang Indonesia beragama Islam, tapi ternyata kini masyarakat banyak yang menggunakan pemikiran rasionalis tadi, nah parpol papan atas di Indonesia terbukti dikuasai oleh parpol nasionalis. itulah dilema parpol2 Islam. Pendapat anda dan Andreas kiranya perlu juga direnungkan oleh petinggi2 PKS nih, yg saya pernah tahu Gus Dur faham mengenai masalah ini dan lewat PKB telah mencoba juga menampung konstituen yg non-muslim…Ttg Golkar yg belum berani mencalonkan diri, kalau ada waktu tolong dibaca artikel saya terbaru “Siapa Capres Dari Partai Golkar”, mudah2an menambah sedikit informasi tu Ary. Terima Kasih tanggapannya.Salam>Pray.
ary ts,
— 8 Desember 2008 jam 7:04 pm
Betul Pak Pray, saya paham dengan kondisi partai Golkar sekarang. Justru itu saya komentari kalo Golkar sedang krisis PD. Hanya Sultan saja yg masuk sebagai capres menurut hasil survey. Sedang JK sangat tinggi di Cawapres. Kondisi Golkar tidak sekuat dulu, meskipun kuat secara partai tetapi tidak punya calon yg cukup kuat sebagai capres dari internal mereka. Golkar masih wait and see… karena memang tidak yakin dengan apa yg dipunyainya sebagai nomor satu, hanya yakin sebagai nomor dua. Modal Golkar hanya tingginya bargaining power karena menguasai parlemen. Tetapi itulah realita, dimana SBY yang hny dari partai kecil, bargaining powernya lemah, jadi seakan akan tidak mempunyai ketegasan. Beda dengan JK. Politik, memang harus bermain cantik…
prayitno ramelan,
— 8 Desember 2008 jam 9:34 pm
Wah kelihatannya Mas Ary ini political member ya atau pengamat juga sepertinya faham sekali dengan kondisi Golkar, iya nanti kalau hasil pemilu seperti hasil survei yg dilansir LSN maka Demokrat memiliki bargaining power yg lebih besar dan sebagai partai penentu ya, begitu kira2 menurut saya ya, Salam.Pray.
Indra,
— 9 Desember 2008 jam 7:04 am
@Bang Andreas, mungkin ini bisa menjawab uneg-uneg abang tentang PKS. Saya ambil dari ANTARA News:
(ANTARA News) - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menganut asas yang terkandung dalam “Piagam Madinah” (The Constitution of Medina) yang berisi penghormatan terhadap kebhinekaan yang ada di masyarakat.
“Meski teguh menjalankan agama, tetapi dalam Piagam Madinah semua agama dan keyakinan harus dihormati. Itu budaya politik PKS,” kata Presiden PKS, Tifatul Sembiring, dalam Dialog Kepemimpinan Nasional di Medan, Sumut, Jumat malam.
Menurut dia, ada tiga poin penting yang harus dipahami dalam Piagam Madinah, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Poin pertama menganjurkan adanya jaminan dan penghormatan terhadap masyarakat untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
Hal itu dipraktikkan Nabi Muhammad SAW ketika menjadi pemimpin di Madinah yang tetap membiarkan penganut lain, seperti Nasrani, Yahudi dan lain-lain untuk hidup tenang dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya.
Kemudian, adanya komitmen bersama untuk menghormati dan menerima penerapan dan penegakan hukum yang sama bagi seluruh lapisan masyarakat.
Sedangkan poin ketiga adalah adanya komitmen bersama untuk membela kepentingan dan martabat bangsa dari serangan pihak luar.
Dengan asas dalam piagam Madinah, maka nasionalisme kader PKS tidak perlu diragukan, meski selalu teguh dalam menjalankan syariat Islam.
“Dalam agama, PKS selalu berprinsip `lakum dinukum waliyadin` (agamamu untukmu, agamaku untukku), namun tetap menghormati agama lain yang ada,” katanya.
Ia menambahkan, sikap nasionalisme PKS itu dibuktikan ketika memberikan bantuan kemanusiaan terhadap korban gempa bumi di Nabire, Papua, pada November 2004 meski mayoritas penduduknya beragama Nasrani.
“Dengan sikap nasionalisme itu, banyak warga Nabire yang simpatik terhadap PKS, meski mereka beragama Nasrani,” katanya
prayitno ramelan,
— 9 Desember 2008 jam 7:21 am
Terima Kasih Mas Indra ya, mudah2an informasi ini bermanfaat bagi Andreas dan yg lainnnya. Salam>Pray
Dicky Saputra,
— 9 Desember 2008 jam 10:00 am
Salam sejahtera bagi semua pen-CINTA Indonesia
PKS adalah sebuah partai yang mapan dalam menerapaka Idoeloginya. Atas dasar ideologi tersebutlah yang membuat dia punya identitas jelas dan terang serta menjadi REL atau patron bagi setiap keputusan yang diambil.
Tapi terus terang saya menjaga hak ini sebagai sebuah hak identitas sebuah kelompok atau partai dari pada hampir semua partai yang ada punya nama identitas atau ideologi baik itu “nasionalis”, “Islamis nasionalis”, “nasionalis relijius”, nasionalis relijius pancasilais”, “pancasilis” atau apa aja namanya yang menurut saya “mereka” sendiri bingung dengan idoelogi yang dibuatnya sendiri apalagi kita yang orang luar. Seharusnya kita menghargai ke Bhinnekaan yang ada dibumi nusantara ini. Jangan ditakuti, jangan dimusuhi, jangan dicuragai dan jangan dimacam-macamkan agar kesempatan anak bangsa menunjukan identitas, visi dan misinya dalam membangun negeri adalah hak setiap orang.Sampai saat ini terlalu naif (menurut saya) kalo kita masih mempertentangkan sebuah ideologi dari sebuah partai, apalagi ideolagi Islam yang merupakan salah satu ideologi dunia. Jangan kita perkecilkan atau mempersempitkan ideologi tersebut.Dengan hadirnya PKS sebagai sebuah partai yang berideologi Islam maka kita bisa melihat bagaimana Islam dapat memecahkan suatau masalah atau bagaimana Islam bisa menjadi pilihan “alternatif” sebagai solusi membangun negeri ini walau kita bukan seorang yang Islam.Dengan begitu ada kesempatan bagi agama atau ideologi lain juga berkompetisi dalam memberi laternatif-alternatif pilihan dalam membangun negeri yang kita cinta ini.
Yang saya ketahui, Islam itu agama rahmat bagi seluruh alam dan Islam mengakui adanya agama lain dimuka bumi ini.Saya ingin menyampaikan kepada semua pen-CINTA Indonesia, mari bersama sebagai komponen anak bangsa membangun negeri ini bersama-sama tanpa melihat dari mana diberasal, bendera apa yang diabawa, anak siapa dia dana lain sebaginya. Karena itu akan menghilangkan ke-BHINNEKAAN yang diwarisi untuk kita oleh seluruh pendidiri negeri ini.O..ya! Ada satu lagi yang mungkin patut kita renungkan bersama. Dalam sejarah berdiri dan berjalannya negeri ini ada sejarah-sejarah yang salah dan dia merupakan sebuah episode sejarah dan kita punya pilihan untuk tidak mengikutinya kembali tanpa melupakan karya yang telah diukir oleh mereka yang telah berbuat.
Sebagai penutup saya mengambil selogannya PKS yang membuat saya sadar dan kembali punya harapan terhadap negeri yang saya (moga-2 kita semua) cintai ini. “Bangkitlah Negeriku, Harapan itu Masih Ada”
Harapan anak negeri Ujung Barat Indonesia (Aceh)
prayitno ramelan,
— 9 Desember 2008 jam 12:05 pm
Bang Dicky Saputra,Terima Kasih informasinya, yang menambah wawasan bagi para pembaca Kompasiana, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Salam.Pray.
Andreas,
— 9 Desember 2008 jam 10:59 pm
Terima kasih atas semua tanggapannya.
Jika yang lama sudah sedemikian buruk, yang baru, walapun buruk, tetapi masih lebih baik daripada yang lama dan sudah sedemikian buruk akan jadi pilihan yang lebih baik. Atau dengan kata lain, “lebih baik meilih yang fifty-fifty kemungkinannya baik atau buruk daripada memilih yang sudah pasti buruk”.Semoga yang sedang bangkit ini bisa lebih baik daripada yang sudah mapan dan bobrok. Terlalu menyedihkan karena ternyata bahkan negeri tetangga kita yang serumpun pun menganggap kita hanya seperempat (tak lagi sebelah) mata karena miskinnya rakyat negeri kita.
Rhodepp,
— 10 Desember 2008 jam 2:43 pm
kok pemilu di negara tercinta ini, terkesan ingin menjadi penguasa dan memajukan partainya masing2 ya? bukannya ingin memajukan dan menyejahterakan orang2 yang masih makan nasi dan garam, tiap musim hujan kebanjiran, dan sgala macem penderitaan yang malah jadi bahan jualan buat persiapan pemilu…..mau jadi apa bangsa ini…hhhhhhhhhhhhhhhhhh
Adhy,
— 10 Desember 2008 jam 3:05 pm
Dalam strategi perang klasik mengatakan bahwa kalau kita kita harus mengetahui betul medan pertempuran agar bisa menang. hubungannya dgn Politik, agar bisa menang kita harus mengetahui realitas-relaitas baru dalam politik Indonesia. Di antara realitas yang sangat penting itu adalah:- Realitas demografi, bahwa tren pertumbuhan masyarakat berusia muda —antara 17 tahun hingga 45 tahun– populasinya mencapai 65 %.- Perbandingan kaum urban-rural. Menurut data dari BPS, perbandingan ini akan mengalami titik balik pada tahun 2010 di mana perbandingannya menjadi sekitar 54% urban dan 46 rural.- Distribusi informasi yang semakin merata karena peran media.- Tidak ada lagi asimetris informasi. Karena konektifitas, maka disparitas antara desa dan kota dalam soal informasi tidak relevan.
Realitas baru perpolitikan di Indonesia tersebut, akan menyokong terjadinya proses transformasi besar-besaran dalam tradisi perpolitikan itu sendiri. Setidaknya ada empat macam transformasi yang akan terjadi:- Pertama, Transformasi dari politik aliran menuju politik kemanusiaan. Orang nanti tidak melihat ideologi itu sebagai soal benar salah, tapi bagaimana idelologi itu membangun kemanusiaan, dan terasa nyata hasil kerjanya. Dulu orang berbicara nasionalisme, karena nasionalisme adalah padanan dari anti kolonialisme. Karena nasionalisme adalah alat untuk melawan imperialisme.- Kedua, Transformasi dari politik pencitraan menuju politik konten. Karena itu iklan-iklan politik sekarang mengalami inflasi. Kata-kata dalam iklan itu menjadi sangat artifisial, karena yang ingin dilihat orang adalah artikulasi yang bersifat live, nyata.- Ketiga, Transformasi dari tokoh kharismatik kepada tokoh kinerja. Akan ada transformasi bahwa masyarakat semakin mengutamakan tokoh yang berbasis kinerja dari pada tokoh yang berbasis kharisma. Dan, ini merupakan salah satu perspektif penting dalam komunitas urban. Karena itu di sini ikatan-ikatan primordial seperti suku bisa jadi tidak relevan.- Keempat, Transformasi dari orientasi kekuasaan kepada orientasi kepemimpinan. Bahwa politik tidak bisa lagi dipersepsi sebagai sarana untuk mengejar ambisi kekuasaan. Itu tidak akan mendapat tempat di masyarakat, seiring dengan realitas-realitas baru. Kepemimpinan & kekuasaan itu berbeda.Contohnya, Golkar di pemilu 98 turun drastis. ini menandakan 30 tahun Golkar hanya berkuasa, tapi tidak memimpin negeri ini. PKB, sempat punya presiden, tapi cuma bertahan 21 bulan, setelah itu selesai, dan sekarang pecah. Begitu juga PDIP, justru ketika terdzalimi suaranya naik 34%, ketika berkuasa suaranya menurun menjadi 19%.
Berdasarkan realitas tadi saya percaya bahwa partai yang akan memenangankan pemilu mendatang bukan lagi partai yang canggih dengan operasi politiknya, duit banyak. tetapi partai yang hadir dengan gagasan yang inovatif dan solutif, fresh idea, yang dapat membangun kembali rasa cinta dan bangga setiap warga negara kepada bangsa dan tanah air.
Ide-ide yang inovatif dan solutif itu adalah ide-ide tentang the next Indonesia. Siapa yang bisa memiliki ide-ide tentang Indoneisa masa depan, dialah yang akan memimpin Indonesia.
Melihat fenomena PKS. Agenda PKS 5 tahun terakhir, dan khususnya dari mulai peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke 100 smp sekarang, memperlihatkan bahwa PKS sadar betul realitas-realitas tadi. Dan PKS mempunyai semuanya sebagai partai masa depan. kalau partai-partai besar tidak berubah mengikuti relitas zaman, PKS memimpin Indonesia hanya soal waktu, mau 2009 / 2014.
Tulisan Om Pray (boleh saya menyebut Om?) menggambarkan bahwa singa-singa baru terbangun dan kaget bahwa si rubah cerdik PKS sudah melangkah jauh mengejar dan menghabiskan buruan mereka.
luthfie,
— 11 Desember 2008 jam 8:02 am
Pak Pray yang terhormat,
Saya rasa, langkah2 PKS ini masih belum selesai, masih termasuk strategi yang panjang sampai masuk 2009. Kita nantikan saja “kejutan2″ berikutnya dari PKS, dan kita lihat benang merahnya. Saya melihat ini semua awal dari langkah2 cerdas PKS berikutnya.
Soal platform PKS, bisa dilihat di situsnya, http://www.pks.or.id/ , saya melihat, asas Islam yang diyakini dan dipraktekkan PKS bukan lah mengambil Islam secara formal, tapi lebih kepada menerapkan nilai2 Islam dalam semua aspek kehidupan. Istilah PKS, mungkin, sebagai Rahmatan lil alamin.
Soal kebhinnekaan Indonesia, tidak perlulah dibenturkan dengan ideologi Islam, sama halnya antara Nasionalisme dengan Islam. Kalau bisa diharmoniskan, kenapa harus dibenturkan?
Prayitno Ramelan,
— 11 Desember 2008 jam 12:28 pm
Rekan2 penanggapa yth, saya mohon maaf karena sejak tgl 10 ada urusan keluarkota dan baru saja mendarat sampai dirumah, jadi sangat terlambat menanggapi, mudah2an tidak mengecewakan anda semua dalam kita mendiskusdikan tulisan yg saya buat :
@Rhodepp, tidak usah kecewa, ya memang begitu tahapan para parpol, masih belajar berjuang untuk menang, bayangkan dengan banyaknya pesaing ya, kini masih mikir diri dahulu, nanti mikir kelompok, mudah2an nanri juga mikir rakyat setelah pemilu. Kita positif thinking saja ok.Pray
@Adhy, terima kasih tanggapannya, wah saya suka sekali dengan data2nya, jelas menambah lengkapnya artikel tersebut. Saya sedang menulis ttg peran media yg menurut anda penting. Nah kalau perbandingan penduduk yg berumur 17-45 tahun urban-rural berubah pada 2010 menjadi 54%-46% , akan terjadi titik balik partai2 yang kuat di urban untuk menjadi pemenang pada 2014, nanti say coba ikut mencari data tersebut sbg ref tulisan selanjutnya. Data2 lainnya saya suka juga tuh. Dan betul istilahnya banyak yg kaget dan khawatir atas gerakan PKS, walaupun belum tentu menang secara significant, tapi ini adalah langkah politis yg maju. Salam>Pray.
@Iya Luthfie, saya percaya apa yg diampaikan anda, kita tunggu langkah PKS terus….ya saya buat ulasan lagi, jadi enak nih ada bahan diskusi ya….Eh, sudah lihat tulisan saya “Langkah Berani PKS” yg saya posting di KOmpasiana, diposting juga di Situs PKS tsb…wah yg baca 6500 lebih…..ternyata banyak akivis PKS mengakses internet. Tks Salam Pray.
Asihon Siallagan,
— 11 Desember 2008 jam 4:22 pm
Saya baru pertama kali membaca milist ini, kata-kata ataupun informasi yang disajikan sangat membangun. Dilain pihak para komentatornya nampak sekali berpendidikan, jauh dari kata2 yang tidak senonoh. Saya pendatang baru disini mencoba memberi pendapat” Bagaimana semua partai mencontoh kebaikan-kebaikan Partai PKS dan membuang kejelekan-kejelekannya dan Diharapkan semua Parpol jangan terkesan hanya merebut jabatan”.Untuk Pak Prayitno senang berkenalan dengan bapak..
Prayitno Ramelan,
— 11 Desember 2008 jam 6:15 pm
Bang Asihon, syukur kalau anda suka setelah menemukan kompasiana, pertama selamat datang, atas nama pribadi, the kompasiana’s bloggers dan para pengelola (maaf mas Pepih…), juga para sahabat yg buuuuuanyak sekali disini. Nah anda yg penting baca2 dulu tulisan Mas Pepih, pengelola situs ini, biar tambah asyik. Pendapat2 anda sangat saya hargai dan juga dibaca oleh rekan2 lainnya. Ok itu dulu, selamat kenalan juga. Salam>Pray.
Selasa, 02 Desember 2008
Jangan Bunuh Diri, Berbahaya !
Oleh : Prayitno Ramelan
Pada pagi ini, setelah penulis membaca-baca koran, membuat bahasan masalah politik, terbersit keinginan membuat selingan artikel. Hari ini penulis mampu menyelesaikan artikel masalah "gaib" yang sudah sekian lama dibuat tetapi selalu tidak pernah selesai dikerjakan. Beberapa waktu lalu setelah melihat di teve kisah seorang ibu yang yang bunuh diri, setelah sebelumnya meminumkan racun pada anaknya yang masih kecil, tulisan ini di putuskan untuk ditayangkan, dengan harapan ada manfaatnya untuk kita yang masih hidup agar jangan bunuh diri karena "berbahaya" untuk ketenangan ruhnya. Sebuah kisah nyata di keluarga yang diikuti dan disikapi penulis seperti mengalirnya air disebuah sungai. Penulis tidak faham tentang masalah gaib, sehingga tidak akan mampu mengurai lebih jauh lagi.
Bunuh diri adalah keputusan pendek seseorang yang mental dan jiwanya tidak mampu menghadapi masalah atau tekanan hidup didunia. Keputus asaan dan penderitaan yang sangat berat dapat memicu seseorang untuk mengambil jalan pintas menyelesaikan masalahnya dengan membunuh dirinya. Dari beberapa kasus pemberitaan, cara bunuh diri dilakukan dengan meminum racun, gantung diri, menyilet diri, terjun dari gedung bertingkat, dan banyak cara lainnya.
Biasanya penyebab bunuh diri disebabkan karena tekanan masalah ekonomi, penyakit berat, putus cinta, masalah keluarga, dan banyak lagi penyebabnya. Keputusan mengambil jalan pintas yang dirasa akan membebaskan diri dari masalahnya tersebut, ternyata merupakan masalah baru yang ternyata jauh lebih menakutkan, kalau boleh di katakan mengerikan. Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah kisah "gaib" yang coba dikupas sedikit menggunakan referensi agama Islam, karena penulis bukan ahli agama. Penulis mencoba menggabungkan sebuah kejadian gaib dengan pencerahan dari tulisan seorang penulis buku-buku Islam Agus Mustofa dalam serial diskusinya Tasawwuf Modern yang berjudul "Mengubah Takdir".
Agus Mustofa menyampaikan didalam bukunya, "Allah melarang seseorang untuk bunuh diri, Ini menunjukkan bahwa kematian bisa diusahakan oleh seseorang. Sebagaimana pula kesehatan bisa diusahakan. Dengan kata lain, kalau Allah sudah menentukan kematian seseorang secara wajar, mestinya bagaimana pun seseorang melakukan usaha bunuh diri, ia tidak akan bisa terbunuh. Tapi karena ia bisa terbunuh, maka Allah pun melarang mereka untuk bunuh diri".
Referensi Agus Mustofa diambil dari QS. Al Hijr (15) : 56 yang terjemahannya ; Ibrahim berkata : "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat" .
Yang kedua diambil dari surat QS. An Nisaa' (4) : 29 yang terjemahannya ; " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu".
Nah, kini kita memasuki sebuah kisah nyata tentang alam gaib, yang sedikit sekali dibukakan oleh Allah kepada manusia, berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dibuka seluas-luasnya. Hanya orang tertentu yang mendapat rahmat dan ijin Allah di beri kemampuan melihat alam gaib tersebut.
Penulis mempunyai sanak keluarga yang pada enam tahun lalu masih kuliah di Universitas Trisakti. Pada suatu hari si gadis ini sekembalinya dari kuliah dengan terengah-engah menceritakan bahwa dia tadi di fakultasnya ditabrak "kerbau". Dan yang aneh kerbau tadi melewati dirinya tanpa ada rasa apa-apa. Setelah kejadian tersebut, maka mulailah rangkaian peristiwa-peristiwa yang aneh tetapi nyata. Kalau ke toilet dia mengaca, maka dikaca terlihat banyak wanita yang berpakaian putih-putih yang berdiri di belakangnya ikut mengaca, mukanya macam-macam, aneh-aneh.
Perasaan takut dan rasa terganggu terus membayanginya, tapi katanya ada yang aneh, kalau dia mempunyai rasa takut berjalan disuatu tempat mesti ada suara yang mengingatkan dengan berbisik, jangan melihat kekiri atau kekanan. Bisa dipastikan ada mahluk yang aneh dan bentuknya macam-macam dan menakutkan. Berhubung kondisi ini dirasa terus mengganggu, maka penulis atas informasi dari beberapa pihak kemudian membawanya ke daerah Kuningan, kerumah seorang kiai, seorang tokoh Islam yang bertempat tinggal dilereng gunung Ciremai, dikenal bernama Raden Rasmaya Satria Sakembaran, beliau biasanya dipanggil "Romo".
Menurut Romo, si gadis ini ternyata atas kehendak Allah terbuka mata batinnya hingga mampu melihat dua sisi dunia, dunia biasa dilihat dari matanya, dunia gaib dilihat dari mata batinnya. Kita umumnya hanya mampu melihat dengan mata biasa, tidak mampu melihat dengan mata batin, disebabkan karena batin (qolbu) manusia umumnya kotor, jelas Romo. Penulis mohon bantuan Romo untuk menutup frekwensi yang satunya itu karena dirasa sangat mengganggu kehidupan dan kuliah si gadis tadi. Oleh Romo kemudian dijelaskan bagaimana cara berkomunikasi dengan alam gaib tersebut, yang diperkuat dengan doa dan zikir untuk menguatkan batin, dibutuhkan waktu tiga bulan untuk menutup "pandelengan batin" tersebut jelas Romo. Dikatakannya bahwa si gadis mempunyai nama alam gaib "Ratu Ayu Delifah", ini adalah keturunan ketujuh yang menitis dari sesepuh keraton Yogya. Memang dari silsilahnya nenek moyang si gadis dari pihak ibunya mempunyai garis keturunan dari Sri Sultan Hamengku Buwono Kedua.
Setelah kembali dari Ciremai, maka "Ayu" (nama gaib si gadis) banyak menemui mahluk-mahluk aneh dimana-mana, di tempat pamannya dia selalu ketakutan, katanya ada beberapa mahluk setinggi rumah, giginya panjang, ternyata itulah isi (qodam) dari keris si paman. Beberapa kali dia menjumpai sebuah rumah ada yang menjaga mahluk setinggi tiga meter, berpakaikan prajurit jawa, itulah jin penjaga. Dia suatu saat menolong temannya yang kesurupan, ternyata temannya diikuti oleh mahluk yang kakinya hanya satu tapi menempel terus. Pernah dirumah menemukan dikamar kakaknya ada macan putih yang sangat besar sedang duduk, dan setelah diminta baru si macan pergi. Masih banyak lagi kisah seram alam gaib yang dialami oleh Ayu.
Nah, yang paling penting, Ayu pada suatu hari sekitar jam tujuh malam diperintah datang kerumah salah seorang dosennya dibilangan Rangunan. Dimuka rumah si dosen terdapat pohon kelapa, dia terkejut saat melewati pohon kelapa tersebut, ada mahluk halus sedang duduk menangis, jenisnya wanita, rambutnya terurai dan gembel, mukanya agak berlendir, dan banyak kutil-kutilnya. Ayu tahu ini adalah sebuah wujud arwah penasaran, kemudian saat ditanya kenapa duduk dan menangis disitu? Dijawab ruh penasaran tadi " tolong 'ndoro', saya sakit sekali, saya menderita, saya dingin, saya sengsara sudah lama sekali". Baiklah kata Ayu, dia faham bahwa mahluk tadi tersiksa dan butuh didoakan. Kemudian oleh Ayu dibacakan surat Al-Fatihah, dan didoakan agar Allah mengampuni dosa-dosanya, setelah itu "si ruh" tadi tersenyum, berterima kasih, menyembah Ayu dan masuk kedalam pohon kelapa tadi.
Saat bertemu si dosen dan ditanya apa di pohon kelapa pernah ada kejadian, dosen menjelaskan bahwa dahulu anak sipemilik rumah yang kemudian rumahnya dibeli dosen itu "bunuh diri" di pohon tersebut. Astaghfirullah. Saat ditanyakan kepada Romo tentang ruh penasaran tadi, dijelaskan bahwa ruh orang yang bunuh diri tidak bisa kemana-mana, dia akan tersiksa terus menerus ditempat dia bunuh diri. Pengalaman bertemu dengan ruh penasaran juga terjadi beberapa kali, bahkan ada yang mengikuti wujudnya setengah badan, terbang disamping mobil sambil merintih-rintih minta didoakan.
Setelah tiga bulan Ayu kembali dibawa ke Romo dan di tutup mata batinnya, menurut Romo mata batinnya akan otomatis terbuka pada saat di berumur 26 tahun. Kini, Ayu berumur 25 tahun, sudah menjadi sarjana, dan berkerja di sebuah perusahaan, hatinya lembut, bersih, bahkan agak terlalu halus dan perasa. Kalau mendengar penjelasan Romo maka pada tahun depan mata batinnya kembali akan terbuka. Mudah-mudahan stabilitas mentalnya sudah jauh lebih mapan dalam menerima karunia Allah tersebut.
Kira-kira setahun yang lalu Romo meninggal dunia, dan dua bulan setelah wafat, disuatu malam sekitar jam setengah tiga ruhnya membangunkan Ayu. Ayu sangat terkejut, memeluk kaki Romo dan menangis, menyadari bahwa yang datang adalah ruh suci. Romo yang terlihat sangat bersih, berbau sangat wangi, sewangi parfum arab, berpakaian gamis putih, bersorban dan memakai selendang hijau yang dikalungkan dileher dengan tulisan arab "La ilaaha illallaah" menuntun Ayu untuk sholat tahajud dan berzikir. Beliau memesankan jangan meninggalkan sholat lima waktu, berzikir dan berdoa serta selalu mendengar apa kata orang tua agar mendapatkan ridho, itulah pesannya.
Pembaca, apa hal terpenting? Dari yang disampaikan Agus Mustofa, bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan adalah orang yang sesat. Allah tegas-tegas melarang orang untuk bunuh diri. Dikaitkan dengan pertemuan Ayu dengan "ruh penasaran", jelas bahwa bunuh diri adalah jalan yang salah, jelas dilarang oleh Allah dan akibatnya ruh-nya akan tersiksa menangis terus menerus dengan kondisi rusak, terasa sakit yang amat sangat, menderita berkepanjangan menunggu hingga hari kiamat datang yang entah kapan. Penyesalan selalu berada diakhir tidak pernah berada dimuka. Ini yang perlu kita sadari.
Bagi kita yang masih hidup, diingatkan agar jangan lupa mendoakan orang tua, sanak keluarga dan kerabatnya, karena ternyata ruh-ruh orang yang sudah meninggal selalu membutuhkan dan menanti doa. Semoga tulisan ini bermanfaat, tidak ada maksud apapun, hanya memberikan sebuah penjelasan bagi kita yang masih hidup...agar tidak tergelincir mengambil jalan pintas dan akan merasakan akibatnya, merasakan kesengsaraan dalam waktu yang sangat lama, mungkin bermilyar tahun. Dia sudah ditetapkan Allah sebagai orang yang "sesat". Penulis memohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, karena kekurang tahuan atas segala sesuatu dalam masalah gaib yang memang sangat tertutup itu.
Pada pagi ini, setelah penulis membaca-baca koran, membuat bahasan masalah politik, terbersit keinginan membuat selingan artikel. Hari ini penulis mampu menyelesaikan artikel masalah "gaib" yang sudah sekian lama dibuat tetapi selalu tidak pernah selesai dikerjakan. Beberapa waktu lalu setelah melihat di teve kisah seorang ibu yang yang bunuh diri, setelah sebelumnya meminumkan racun pada anaknya yang masih kecil, tulisan ini di putuskan untuk ditayangkan, dengan harapan ada manfaatnya untuk kita yang masih hidup agar jangan bunuh diri karena "berbahaya" untuk ketenangan ruhnya. Sebuah kisah nyata di keluarga yang diikuti dan disikapi penulis seperti mengalirnya air disebuah sungai. Penulis tidak faham tentang masalah gaib, sehingga tidak akan mampu mengurai lebih jauh lagi.
Bunuh diri adalah keputusan pendek seseorang yang mental dan jiwanya tidak mampu menghadapi masalah atau tekanan hidup didunia. Keputus asaan dan penderitaan yang sangat berat dapat memicu seseorang untuk mengambil jalan pintas menyelesaikan masalahnya dengan membunuh dirinya. Dari beberapa kasus pemberitaan, cara bunuh diri dilakukan dengan meminum racun, gantung diri, menyilet diri, terjun dari gedung bertingkat, dan banyak cara lainnya.
Biasanya penyebab bunuh diri disebabkan karena tekanan masalah ekonomi, penyakit berat, putus cinta, masalah keluarga, dan banyak lagi penyebabnya. Keputusan mengambil jalan pintas yang dirasa akan membebaskan diri dari masalahnya tersebut, ternyata merupakan masalah baru yang ternyata jauh lebih menakutkan, kalau boleh di katakan mengerikan. Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah kisah "gaib" yang coba dikupas sedikit menggunakan referensi agama Islam, karena penulis bukan ahli agama. Penulis mencoba menggabungkan sebuah kejadian gaib dengan pencerahan dari tulisan seorang penulis buku-buku Islam Agus Mustofa dalam serial diskusinya Tasawwuf Modern yang berjudul "Mengubah Takdir".
Agus Mustofa menyampaikan didalam bukunya, "Allah melarang seseorang untuk bunuh diri, Ini menunjukkan bahwa kematian bisa diusahakan oleh seseorang. Sebagaimana pula kesehatan bisa diusahakan. Dengan kata lain, kalau Allah sudah menentukan kematian seseorang secara wajar, mestinya bagaimana pun seseorang melakukan usaha bunuh diri, ia tidak akan bisa terbunuh. Tapi karena ia bisa terbunuh, maka Allah pun melarang mereka untuk bunuh diri".
Referensi Agus Mustofa diambil dari QS. Al Hijr (15) : 56 yang terjemahannya ; Ibrahim berkata : "Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat" .
Yang kedua diambil dari surat QS. An Nisaa' (4) : 29 yang terjemahannya ; " Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu".
Nah, kini kita memasuki sebuah kisah nyata tentang alam gaib, yang sedikit sekali dibukakan oleh Allah kepada manusia, berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dibuka seluas-luasnya. Hanya orang tertentu yang mendapat rahmat dan ijin Allah di beri kemampuan melihat alam gaib tersebut.
Penulis mempunyai sanak keluarga yang pada enam tahun lalu masih kuliah di Universitas Trisakti. Pada suatu hari si gadis ini sekembalinya dari kuliah dengan terengah-engah menceritakan bahwa dia tadi di fakultasnya ditabrak "kerbau". Dan yang aneh kerbau tadi melewati dirinya tanpa ada rasa apa-apa. Setelah kejadian tersebut, maka mulailah rangkaian peristiwa-peristiwa yang aneh tetapi nyata. Kalau ke toilet dia mengaca, maka dikaca terlihat banyak wanita yang berpakaian putih-putih yang berdiri di belakangnya ikut mengaca, mukanya macam-macam, aneh-aneh.
Perasaan takut dan rasa terganggu terus membayanginya, tapi katanya ada yang aneh, kalau dia mempunyai rasa takut berjalan disuatu tempat mesti ada suara yang mengingatkan dengan berbisik, jangan melihat kekiri atau kekanan. Bisa dipastikan ada mahluk yang aneh dan bentuknya macam-macam dan menakutkan. Berhubung kondisi ini dirasa terus mengganggu, maka penulis atas informasi dari beberapa pihak kemudian membawanya ke daerah Kuningan, kerumah seorang kiai, seorang tokoh Islam yang bertempat tinggal dilereng gunung Ciremai, dikenal bernama Raden Rasmaya Satria Sakembaran, beliau biasanya dipanggil "Romo".
Menurut Romo, si gadis ini ternyata atas kehendak Allah terbuka mata batinnya hingga mampu melihat dua sisi dunia, dunia biasa dilihat dari matanya, dunia gaib dilihat dari mata batinnya. Kita umumnya hanya mampu melihat dengan mata biasa, tidak mampu melihat dengan mata batin, disebabkan karena batin (qolbu) manusia umumnya kotor, jelas Romo. Penulis mohon bantuan Romo untuk menutup frekwensi yang satunya itu karena dirasa sangat mengganggu kehidupan dan kuliah si gadis tadi. Oleh Romo kemudian dijelaskan bagaimana cara berkomunikasi dengan alam gaib tersebut, yang diperkuat dengan doa dan zikir untuk menguatkan batin, dibutuhkan waktu tiga bulan untuk menutup "pandelengan batin" tersebut jelas Romo. Dikatakannya bahwa si gadis mempunyai nama alam gaib "Ratu Ayu Delifah", ini adalah keturunan ketujuh yang menitis dari sesepuh keraton Yogya. Memang dari silsilahnya nenek moyang si gadis dari pihak ibunya mempunyai garis keturunan dari Sri Sultan Hamengku Buwono Kedua.
Setelah kembali dari Ciremai, maka "Ayu" (nama gaib si gadis) banyak menemui mahluk-mahluk aneh dimana-mana, di tempat pamannya dia selalu ketakutan, katanya ada beberapa mahluk setinggi rumah, giginya panjang, ternyata itulah isi (qodam) dari keris si paman. Beberapa kali dia menjumpai sebuah rumah ada yang menjaga mahluk setinggi tiga meter, berpakaikan prajurit jawa, itulah jin penjaga. Dia suatu saat menolong temannya yang kesurupan, ternyata temannya diikuti oleh mahluk yang kakinya hanya satu tapi menempel terus. Pernah dirumah menemukan dikamar kakaknya ada macan putih yang sangat besar sedang duduk, dan setelah diminta baru si macan pergi. Masih banyak lagi kisah seram alam gaib yang dialami oleh Ayu.
Nah, yang paling penting, Ayu pada suatu hari sekitar jam tujuh malam diperintah datang kerumah salah seorang dosennya dibilangan Rangunan. Dimuka rumah si dosen terdapat pohon kelapa, dia terkejut saat melewati pohon kelapa tersebut, ada mahluk halus sedang duduk menangis, jenisnya wanita, rambutnya terurai dan gembel, mukanya agak berlendir, dan banyak kutil-kutilnya. Ayu tahu ini adalah sebuah wujud arwah penasaran, kemudian saat ditanya kenapa duduk dan menangis disitu? Dijawab ruh penasaran tadi " tolong 'ndoro', saya sakit sekali, saya menderita, saya dingin, saya sengsara sudah lama sekali". Baiklah kata Ayu, dia faham bahwa mahluk tadi tersiksa dan butuh didoakan. Kemudian oleh Ayu dibacakan surat Al-Fatihah, dan didoakan agar Allah mengampuni dosa-dosanya, setelah itu "si ruh" tadi tersenyum, berterima kasih, menyembah Ayu dan masuk kedalam pohon kelapa tadi.
Saat bertemu si dosen dan ditanya apa di pohon kelapa pernah ada kejadian, dosen menjelaskan bahwa dahulu anak sipemilik rumah yang kemudian rumahnya dibeli dosen itu "bunuh diri" di pohon tersebut. Astaghfirullah. Saat ditanyakan kepada Romo tentang ruh penasaran tadi, dijelaskan bahwa ruh orang yang bunuh diri tidak bisa kemana-mana, dia akan tersiksa terus menerus ditempat dia bunuh diri. Pengalaman bertemu dengan ruh penasaran juga terjadi beberapa kali, bahkan ada yang mengikuti wujudnya setengah badan, terbang disamping mobil sambil merintih-rintih minta didoakan.
Setelah tiga bulan Ayu kembali dibawa ke Romo dan di tutup mata batinnya, menurut Romo mata batinnya akan otomatis terbuka pada saat di berumur 26 tahun. Kini, Ayu berumur 25 tahun, sudah menjadi sarjana, dan berkerja di sebuah perusahaan, hatinya lembut, bersih, bahkan agak terlalu halus dan perasa. Kalau mendengar penjelasan Romo maka pada tahun depan mata batinnya kembali akan terbuka. Mudah-mudahan stabilitas mentalnya sudah jauh lebih mapan dalam menerima karunia Allah tersebut.
Kira-kira setahun yang lalu Romo meninggal dunia, dan dua bulan setelah wafat, disuatu malam sekitar jam setengah tiga ruhnya membangunkan Ayu. Ayu sangat terkejut, memeluk kaki Romo dan menangis, menyadari bahwa yang datang adalah ruh suci. Romo yang terlihat sangat bersih, berbau sangat wangi, sewangi parfum arab, berpakaian gamis putih, bersorban dan memakai selendang hijau yang dikalungkan dileher dengan tulisan arab "La ilaaha illallaah" menuntun Ayu untuk sholat tahajud dan berzikir. Beliau memesankan jangan meninggalkan sholat lima waktu, berzikir dan berdoa serta selalu mendengar apa kata orang tua agar mendapatkan ridho, itulah pesannya.
Pembaca, apa hal terpenting? Dari yang disampaikan Agus Mustofa, bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan adalah orang yang sesat. Allah tegas-tegas melarang orang untuk bunuh diri. Dikaitkan dengan pertemuan Ayu dengan "ruh penasaran", jelas bahwa bunuh diri adalah jalan yang salah, jelas dilarang oleh Allah dan akibatnya ruh-nya akan tersiksa menangis terus menerus dengan kondisi rusak, terasa sakit yang amat sangat, menderita berkepanjangan menunggu hingga hari kiamat datang yang entah kapan. Penyesalan selalu berada diakhir tidak pernah berada dimuka. Ini yang perlu kita sadari.
Bagi kita yang masih hidup, diingatkan agar jangan lupa mendoakan orang tua, sanak keluarga dan kerabatnya, karena ternyata ruh-ruh orang yang sudah meninggal selalu membutuhkan dan menanti doa. Semoga tulisan ini bermanfaat, tidak ada maksud apapun, hanya memberikan sebuah penjelasan bagi kita yang masih hidup...agar tidak tergelincir mengambil jalan pintas dan akan merasakan akibatnya, merasakan kesengsaraan dalam waktu yang sangat lama, mungkin bermilyar tahun. Dia sudah ditetapkan Allah sebagai orang yang "sesat". Penulis memohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, karena kekurang tahuan atas segala sesuatu dalam masalah gaib yang memang sangat tertutup itu.
Langganan:
Komentar (Atom)
