Selasa, 02 September 2008

SBY RAGU BUAT KEPUTUSAN?

Sumber : (Koran Sindo-Kamis, 25/10/2007)
*Prayitno Ramelan - Analis Senior Lembaga Studi Indset

Untuk menilai berhasil atau tidaknya sebuah pemerintahan yang sedang berjalan, maka jawabannya bisa diketahui melalui sebuah survei. Siapa yang dianggap bertanggung jawab oleh rakyat? Jawabannya adalah presiden.

Karena itu, yang muncul adalah data berbentuk nilai kepuasan publik pada SBY. Menarik bila disimak kembali hasil survei Lingkaran Survei Indonesia yang dilaksanakan pada 9–14 September 2007 di seluruh Indonesia (33 provinsi). Dari 1.200 orang, tecermin kepuasan publik terhadap SBY 35,3%, turun dari survei tahun 2004 yang berada di atas 80%. Selain itu,hasil survei juga menyebutkan 46,4% menginginkan calon alternatif, 23,7% masih akan memilih SBY. Sebuah survei yang dilaksanakan oleh sebuah lembaga resmi, hasilnya jelas harus dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, kalau tidak benar akan menghilangkan tingkat kepercayaan masyarakat

Yang terpenting kini adalah bagaimana menyikapi penurunan popularitas mereka yang disurvei. Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004,pasangan SBY/JK menang 60,62% (69.266.350 suara) dibandingkan Megawati/ Hasyim Muzadi (39,38%).Suatu nilai fantastis untuk ukuran seorang pendatang baru yang belum lama dikenal konstituen dibandingkan Megawati yang presiden saat itu. Pertanyaannya sekarang, mengapa popularitas SBY turun demikian banyaknya hanya dalam tiga tahun?

Sulitnya Membuat Keputusan

Dalam hidup,yang paling sulit adalah membuat sebuah keputusan.Keputusan harus dibuat setiap saat.Keputusan baik teknis, taktis, ataupun strategis bisa berakibat baik, kurang baik, atau tidak baik. Semua harus dipikirkan karena dapat berdampak terhadap dirinya, keluarga, kelompok,negara,bahkan dunia. SBY menjadi presiden saat proses reformasi dan konsolidasi demokrasi serta penguatan peran sipil sedang berjalan. Dengan latar belakang militer, ilmuwan/ cerdik pandai, birokrat, partai yang bernama demokrat, pengambilan keputusan masa transisi ini dilakukannya dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan.

Kenapa? Politisi atau orang pintar di Indonesia masih trauma dengan kepemimpinan Pak Harto yang purnawirawan jenderal besar TNI, 32 tahun berkuasa, dinilai tidak demokratis (”otoriter”), senyum dan gelengan kepalanya saja saat itu membuat orang tidak berdaya di bawah kendalinya. Itulah yang membuat SBY berhati-hati di alam demokrasi ini. Tidak ingin tergelincir menjadi otoriter, tetap demokrat sejati. Figur SBY dikenal bersih, kepribadian baik, berpengalaman, mempunyai kemampuan, agamais, tegas sebagai pemimpin, serta memperhatikan rakyat kecil. SBY menjadi presiden dengan setumpuk harapan di pundaknya.

Dia diharapkan dapat menolong rakyat dari kesulitan dan akan membuat perubahan besar. Tetapi, dengan sistem birokrasi yang buruk,mental korupsi,kolusi, dan nepotisme yang merajalela, kurang disiplinnya secara umum para pejabat pemerintah, kemudian menjadi hambatan utamanya. Dalam kepemimpinan militer, komando dan rentang kendalinya jelas,kalau panglima memutuskan A, tidak ada bantahan, sampai komandan satuan terbawah pun akan melaksanakan A. Sekali melanggar perintah, akan berhadapan dengan peraturan dan hukum disiplin tentara.

Tetapi sebagai pimpinan nasional di negara yang katanya menganut demokrasi ini, belum tentu keputusan akan berjalan seperti yang diharapkan. Mungkin, perintah presiden baru sampai di second layersaja sudah tersendat. Lihat saja kasus lumpur Lapindo. Presiden sudah jelas memerintahkan segera diselesaikan, tapi sampai rakyat Lapindo menangis-nangis saat ke Cikeas, hingga kini belum beres juga.Yang disalahkan oleh rakyat siapa? Ya Presiden itu. Hal serupa juga terjadi pada beberapa kasus.

Kesulitan minyak tanah (rakyat antre minyak dari pagi sampai sore, tanpa tahu kenapa), kenaikan jalan tol (protes rakyat disikapi enteng oleh pejabat negara), kenaikan harga bensin, upaya mengurangi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja, pendidikan, semua bola panas biasanya berakhir di tangan Presiden. Presiden sudah dilapori dan sudah setuju, katanya. Liputan di TV, di mana rakyat kecil antre minyak tanah pada era globalisasi ini jelas mempunyai pengaruh terhadap citranya, bukan citra wakil atau menterinya. Akhirnya banyak yang menyimpulkan kalau SBY lamban dalam mengambil keputusan, ragu-ragu, kurang berpihak kepada rakyat.

Satu hal yang mungkin kurang kita simak dari Presiden SBY, pengambilan keputusan juga dilatarbelakangi beban amanah yang diterimanya. SBY menyatakan setiap kesalahan dalam pengambilan keputusan, apabila kemudian mengorbankan rakyat banyak, akan berurusan dengan Yang MahaKuasa di kemudian hari. Karena itu harus hati-hati. Ini sisi religius dari presiden kita,yang orang-orang pintar kadang tidak tahu atau tidak mau tahu.

Bagaimana ke Depan?

Apakah benar penurunan popularitas SBY hanya karena dianggap peragu? Survei Puskapis yang dilakukan 2–17 Juli 2007 menyebutkan Indonesia membutuhkan figur pemimpin muka baru yang berani, tegas, visioner, kapabel, dst.Pasangan presiden dan wakilnya paling cocok diisi oleh pasangan calon yang berlatar belakang militer dan sipil/parpol atau sebaliknya (52%),terutama militer yang matang di birokrasi. Hasil survei Lembaga Survei Indonesia pada September–Oktober 2007 menunjukkan, walau popularitas turun, SBY kini masih yang terkuat posisinya.

Rakyat masih cenderung memilih SBY (29%), Megawati (19%), Amien Rais (4%), Wiranto (3%), Sri Sultan HB X (2,5%), Jusuf Kalla (2%), Bang Yos (0,5%) apabila pilpres dilaksanakan kini. Dari beberapa data survei di atas, kecenderungan kurang tegas dalam mengambil keputusan merupakan salah satu penyebab turunnya popularitas SBY sehingga ada keinginan kebutuhan pemimpin baru yang berani dan tegas. Sesuatu yang prinsip dan mungkin terlewatkan diamati adalah pendapat rakyat pada 2004. Saat itu, rakyat mengatakan bahwa masalah paling serius yang dihadapinya adalah masalah ekonomi dan harga yang tidak stabil.

Apakah masalah rakyat yang juga konstituennya tersebut sudah ditangani dan diatasi dan dirasakan rakyat? Ini perlu diteliti karena menyentuh kebutuhan paling mendasar dari konstituen. Penurunan popularitas 45% dalam tiga tahun terbilang rawan dan mengkhawatirkan, rata-rata 15% per tahun. Kalau dibiarkan terus merosot, maka pada 2009 yang tersisa hanya 5–10%. Sangat disayangkan. Mudah-mudahan ini menjadi masukan yang bermanfaat, harus segera dilakukan tindakan penyelamatan, jangan didiamkan atau disikapi secara emosional. Ketegasan memang sering mengundang kritik, tapi kalau demi kemajuan bangsa dan negara, kenapa tidak?(*)

GOLKAR DAN CALON PRESIDEN

Oleh : Prayitno Ramelan
14 November 2007


Hidup ini pilihan, karena itu kita harus memilih, memilih harus hati-hati, karena pilihan itu akan menentukan hidup kita. Kalimat diatas akan popular nanti Tahun 2009 dimana rakyat Indonesia akan memilih pimpinan nasional. Kalau parpol dan konstituennya salah memilih calon pemimpin, dapat berakibat menyusahkan negara, partai dan rakyat. Walau pemilu dan pilpres masih dua tahun lagi, situasi politik mulai menghangat dan ramai. Pertama-tama masing-masing parpol harus kerja keras menjaga konstituennya sendiri tidak lari agar dapat tercapai “electoral treshold”.

Selain itu juga jauh-jauh hari parpol harus memikirkan siapa calon presiden yang akan dijagokannya, termasuk wapresnya, calonnya sendiri atau mendukung calon lainnya. Sudah sejak lama ilmu pengetahuan intelijen dapat digunakan untuk menilai sesuatu kejadian atau masalah, termasuk politik. Intelijen mempunyai kemampuan membuat sebuah perkiraan terhadap sesuatu yang belum terjadi, walau bersifat ramalan/perkiraan, tetapi dapat dipertanggung jawabkan. Ramalan/perkiraan intelijen didasarkan kepada kejadian-kejadian masa lalu (“the past”), masa kini (“the present”), setelah dianalisa secara komprehensif, maka akan dapat diramalkan bagaimana kedepan (“the future”).

Sebagai contoh sederhana tanpa melalui proses analisa mendalam kita lihat Partai Golkar. Dimasa lalu Golkar pada masa pemerintahan orde baru adalah partai pemerintah, setelah kejatuhan Pak Harto, dengan susah payah Golkar dapat terus survive karena dikenal para reformis sebagai partainya Orde Baru. Dalam perjalanan waktu reformasi dan konsolidasi demokrasi upaya kerasnya untuk memperbaiki citra, membalik opini negatif, berhasil, dan memenangkan pemilu legislatif 2004. Kelebihan Golkar ini karena sudah tertatanya jaringan yang selama lebih 32 tahun sampai keseluruh pelosok tanah air, ini salah satu jasa Pak Harto yang kadang sulit untuk diakui, juga jasa tokoh-tokoh Golkar yang eksis antara tahun 1998-2004

Sumber daya manusianya luas tersebar baik di birokrasi, masyarakat, ulama, cerdik pandai, pengusaha, petani, buruh dll. Kekuatan dukungan dananya juga sulit dilawan. Kejadian masa kini, Golkar sebagai Partai pendukung pemerintahan Presiden SBY/JK, walau beberapa tokohnya menilai terlalu sedikit diberikan kursi di Kabinet Indonesia Bersatu, keberatan yang diajukan dinilai masih dalam toleransi dan kepantasan. Gaya kepemimpinan Ketua Umumnya (Jusuf Kalla), yang lugas, sederhana, tidak muter-muter, ditambah munculnya beberapa tokoh muda yang terpelajar, simpatik, pandai, menjadikan partai ini kelihatannya akan lebih disukai kalangan terpelajar karena tidak kampoengan.

Agung Laksono tokoh Golkar yang berpengalaman, sebagai Ketua DPR juga termasuk symbol kepantasan orang Golkar dalam menduduki jabatan penting. Tokoh Surya Paloh ketua Dewan Pembina Golkar, terlihat sebagai peloby ulung, yang berani masuk kesarang competitor kuatnya (PDIP). Walau terdapat beberapa faksi didalam, yang muncul sementara ini baru ambisi perorangan, kepentingan masing-masing kelompok bisa terakomodir dalam Partai, teredam, tidak mencuat keluar terlebih sampai ke pengadilan. Mantan Ketua Umumnya Akbar Tanjung walau tersingkir, masih bersikap sebagai politikus ulung, tidak dengan ngamuk-ngamuk, walau yang dirasakannya mungkin sangat menyakitkan.

Yang agak mengganggu hanya kasus Lumpur Lapindo, dimana kesan masyarakat, Aburizal Bakri (Ical) sebagai salah satu tokoh Golkar terlibat didalamnya dan mau cuci tangan. Hal ini perlu segera dituntaskan secepatnya, potret rakyat sengsara dapat menurunkan citra. Kesimpulannya, ini partai masih hebat. Diperkirakan pada pemilu legislatif 2009 perolehan suaranya tidak akan jauh bergeser dari perolehan pada pemilu 2004, bahkan dapat bertambah. Kecuali kalau ada masalah serius yang mencederai konstituennya. Walau kemungkinan memenangkan pemilu legislatif 2009 cukup besar, dari pengalaman 2004 belum tentu calon presiden yang berasal dari internal Golkar akan menang.

Bukan ambisi tapi realitas, dan bukan rivalitas tapi kompetisi yang dikedepankan, itu kira-kira yang harus diperbuat para petinggi partai. Golkar harus realistis, masih besar keinginan rakyat dalam pilpres 2009 dengan komposisi militer-sipil atau sebaliknya, jadi jangan dipaksakan pasangan yang hanya disukai beberapa orang kuat di Golkar saja. Golkar mempunyai peluang besar merebut kekuasaan pada 2009, atau paling tidak membentuk koalisi permanent tidak perlu dengan banyak Partai. Menempatkan kader-kadernya mayoritas di Kabinet, sehingga adanya kesatuan tindak para pejabat dalam mendukung Presiden.

Sebagai sebuah partai besar, mapan dan terpelajar, sudah waktunya Golkar lebih memikirkan dan menolong bangsa ini untuk lebih maju kedepan, tidak hanya memikirkan kepentingan internal Partai saja. Yaitu dengan menguasai legislatif dan kabinet, memilih pimpinan nasional yang bermanfaat untuk bangsa, negara dan rakyat, cukup pendidikan, pengalaman dan kepribadiannya baik. Bangsa kita sangat besar, karena itu dalam masa transisi ini kita butuh pemimpin besar dan hebat dalam mengantisipasi perkembangan dan ancaman dunia.

Militer (TNI) selalu mempersiapkan calon-calon pimpinannya. Leadership adalah ilmu yang diajarkan dipendidikan TNI, selain sebagai ilmu, juga didatangkan para senior yang pernah sukses sebagai pemimpin, Menteri, Panglima, Kepala Staf Angkatan dan juga ahli-ahli dalam pengetahuan kepemimpinan. Sense of leadership melekat selalu pada diri tiap perwira. Bagaimana sebaiknya melihat kepemimpinan nasional kedepan?.Menurut Dr.Blaine Lee yang mendapat dua kali penghargaan sebagai pemuda berprestasi Amerika (Outstanding Young Men of America), setiap teori kepemimpinan memiliki nilai masing-masing.

Seorang pemimpin tidak akan berhasil membangun pengikutnya jika tidak berhasil melihat suatu masalah yang sedang terjadi. Semua perubahan berawal dari suatu kepekaan atau kesadaran. Dia harus mempunyai visi, dan harus diuji apakah selama ini visinya diikuti masyarakat. Pemimpin sekarang tidak dilengkapi dengan GBHN, maka visi, misi dan programnya yang akan dinilai rakyat. Pemimpin harus bisa menghargai orang yang dipimpinnya dan mampu mengendalikan diri. Banyak pemimpin yang merasa sebagai “boss” dan tidak mendengarkan orang lain sehubungan dengan apa yang telah dilakukannya.

Pemimpin harus memulai dari diri sendiri, bertanya kepada orang lain apa pendapat mereka tentang dirinya. Juga harus belajar dari teguran orang lain kepada dirinya. Golkar sebaiknya mencari pemimpin nasional yang mencintai rakyat, bangsa dan negaranya, selalu berfikir demi untuk kepentingan nasional Indonesia dan NKRI. Bukan hanya memikirkan diri atau kelompoknya saja. Kalau Golkar dan Partai Demokrat menilai komposisi SBY-JK memang yang terbaik dan terkuat untuk capilpres 2009, kenapa tidak. Persiapkan pasangan ini dari sekarang, tidak perlu ragu atau takut jadi sasaran tembak. Bukankah tiap hari pasangan ini juga sudah ditembaki?.

Jangan hanya bertahan, tapi menyerang, kemenangan harus direbut. Dengan demikian Golkar dan Partai Demokrat bisa lebih konsentrasi kepada pemilu legislatif. Untuk membangun, menjaga dan meningkatkan citra calon, diserahkan saja kepada SBY/JK, masih ada waktu dua tahun, kalau keduanya bersatu, sukses dalam sisa pemerintahannya, siapa yang bisa melawan?. Kalau dinamika politik ditubuh Golkar menghendaki lain, dan tidak menghendaki maju bersama SBY, maka Golkar sebaiknya tetap mengambil calon dari Mantan TNI.

Bila Pak JK akan menjadi Capres, ada beberapa calon wapres dari TNI yang mulai muncul di arena politik. Opsi diatas dalam strategi perang dinilai sangat menghemat energi dan dana, lebih efektif dan efisien, istilahnya membagi kekuatan sesuai dengan kebutuhan medan tempur. Bangsa Indonesia sudah sama-sama letih, lelah, susah. Kita sudah merdeka 62 tahun rakyat masih banyak yang menderita, miskin, susah. Siapa yang mau dan bisa menolong, ya harus kita sendiri. Sebagai sebuah Partai hebat dan besar, apa bisa Golkar menjadi harapan?. Ini hanya perkiraan dan masukan saja.

BANG YOS KUDA HITAM


Sumber : Koran Sindo - Rabu, 10/10/2007

*Prayitno Ramelan
Mantan Penasihat Menhan Bidang Intelijen

Setelah era kepemimpinan Soeharto, Indonesia dipimpin tiga presiden dari kalangan sipil, kemudian kembali pimpinan nasional dipegang purnawirawan TNI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Untuk 2009,akankah purnawirawan TNI berhasil kembali menjadi pimpinan nasional? Beberapa kandidat dari kalangan sipil yang mulai terlihat sementara ini adalah Megawati Soekarnoputeri,Jusuf Kalla, Gus Dur, Akbar Tanjung, Surya Paloh. Sementara dari TNI ada SBY, Wiranto, dan kini muncul Sutiyoso alias Bang Yos.Walaupun pengamat mengatakan jangan membuat perbedaan sipil militer, tetapi tetap saja rakyat melihat warna yang agak berbeda dari sumber keduanya.

Para Jenderal dikenal rakyat sebagai pemimpin yang tangguh yang sudah teruji, sementara para tokoh sipil yang muncul adalah para elite politik yang pernah masuk bursa Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004. Kemunculan Bang Yos, walaupun sudah diduga sebelumnya, masih terasa mengejutkan karena mendeklarasikan diri sebagai calon presiden dengan gagah berani jauh hari sebelum pelaksanaan pilpres.Dari beberapa hasil wawancara terlihat bahwa langkah tersebut adalah langkah yang sudah diperhitungkan.

Dari sudut pandang ilmu komunikasi, profil seorang calon presiden ibarat sebuah produk, memiliki dua komponen utama yang harus disebarkan kepada publik atau dalam konteks pemilihan presiden disebut pemilih, yaitu "name awareness" (level pengetahuan publik terhadap nama seseorang) dan "concept awareness" (definisi atau gambaran singkat tentang seorang kandidat calon presiden). Kedua hal tersebut harus benar-benar dimonitor.Bagaimana pemilih akan memilih seorang calon presiden kalau dia tidak tahu siapa dan bagaimana gambaran orang yang akan dipilihnya. Karena itu, tugas tim sukseslah yang harus mampu memengaruhi konstituen agar tertarik kepada figur yang dijagokan.

Berangkat dari pengalaman Pilpres 2004, tidak menjadi jaminan seorang calon dari partai besar akan menjadi presiden.Contohnya Partai Golkar yang bergabung dengan PDIP (dua partai yang memperoleh suara terbanyak pada pemilu) hanya mampu mengusung Mega sampai pilpres putaran kedua,sementara SBY yang diusung Partai Demokrat yang relatif baru, dengan dukungan beberapa partai kecil dan partai menengah,mampu memenangkan pilpres. Yang dikhawatirkan oleh para pengamat saat itu pemerintahan akan tersendat dan terganjal karena tidak didukung partai besar.

Kenyataannya, koalisi akhirnya terbentuk juga antara partainya SBY, Demokrat, dengan Golkar dan beberapa partai lain. Rumus berpolitik adalah berangkat dari suatu kepentingan bersama. Kemenangan SBY bersumber dari popularitasnya yang menonjol. Dalam salah satu hasil polling saat itu, rakyat cenderung membutuhkan pemimpin yang kuat.Pemimpin itu identik dengan jenderal, purnawirawan TNI.Strategi sosialisasi tim SBY sudah benar, konsepnya sudah benar-benar pas, sesuai dengan maksud dan tujuan yang diinginkan dengan peformance yang menarik dan simpatik, dengan slogan bersama kita bisa.

Kekalahan Megawati sebenarnya lantaran name awareness yang terus turun dibandingkan popularitas SBY.Penduduk yang masuk kategori pandai dan berdomisili di kota-kota besar lebih menggunakan logika intelektualitas dan bukti nyata dalam memberikan penilaian. Pada saat itu, secara bersamaan kelompok penduduk ini sangat terdorong pemberitaan beberapa media massa dan public figures yang cenderung antipemerintah, sehingga banyak opini yang terbentuk secara tidak fair,namun masuk akal dan diterima luas secara logika, yang akhirnya merugikan presiden saat itu (Megawati) yang juga calon presiden dari PDIP.

Dari pengalaman Pilpres 2004,maka langkah Bang Yos yang mulai mengenalkan diri sebagai calon presiden adalah langkah dalam rangka name awareness. Pesaing yang saat ini name awareness-nya cukup baik adalah Mega dan SBY.Karena itu,perkenalan kepada konstituen harus dilakukan secara kontinu. Caranya dengan strategi sosialisasi. Apabila upaya conditioning dalam waktu lama tetap konsisten dilakukan, popularitas Bang Yos diperkirakan akan dapat menjadi bahaya bagi kandidat lain pada saatnya nanti.

Sebagai mantan perwira pasukan elite, strategi, kematangan, dan keberanian pengambilan keputusan, serta keberanian mengambil risiko dalam situasi kritis adalah bagian hidup sehari-hari dari Bang Yos. Suatu pilihan bagi Presiden SBY, apabila akan maju dalam Pilpres 2009, diperlukan kewaspadaan ekstra terhadap berita-berita miring dan tindakan dari mereka yang antipemerintah.Karena lebih mudah mencari dan mengekspos kekurangan serta kesalahan daripada menunjukkan kelebihan dan apa yang telah diperbuat oleh pemerintah.

Diakui atau tidak, dengan kondisi yang sulit saat ini, beberapa keputusan pemerintah dianggap merugikan rakyat banyak,terlebih apabila dipelintir,akan sangat merugikan SBY. Walaupun pilpres baru akan dilaksanakan pada 2009, pertempuran sudah mulai berjalan, walaupun masih dalam skala kecil.Siapa yang tidak siap bertempur, dan hanya menanti tiga bulan sebelum pilpres, maka banyak lini dan medan pertempuran yang sudah dikuasai lawan.

Popularitas tidak bisa didapat hanya seketika. Walaupun diyakini kandidatnya sudah populer di wilayah negara yang sangat luas ini, dengan penduduk yang sangat banyak, apabila membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan strategi pemenangan pilpres, maka sang kandidat hanya akan memenangkan pertempuran di beberapa medan saja, sementara hal yang jauh lebih penting, yaitu kemenangan peperangan, telah direbut oleh kandidat lain.

Di sini dapat dilihat, secara perlahan tetapi pasti Bang Yos dapat menjadi kuda hitam yang semakin hari akan semakin kuat. Akhirnya, partai-partai berebut mendukungnya. (*)

KOALISI PDIP DENGAN GOLKAR

Oleh : Prayitno Ramelan
26 April 2008


Berita terhangat menyangkut pilpres 2009 adalah usulan koalisi PDIP dengan Golkar. Mega jadi calon presiden dan Yusuf Kalla jadi calon wakil presiden. Walau masih merupakan pendapat beberapa pribadi, informasi tersebut penting untuk diperhatikan dan disikapi oleh elit PDIP, Golkar maupun Parpol peserta pemilu lainnya. Setiap langkah dan strategi kedua partai tersebut jelas akan sangat mempengaruhi hasil pilpres mendatang. Dari perkembangan situasi politik muncul euphoria baru, calon dari parpol papan tengah dapat mengalahkan calon dari parpol papan atas pada tingkat pilkada. Keyakinan tersebut belum teruji dalam tingkat nasional. Konstituennya lebih heterogen, popularitas, aspek moralitas, visioner, kompetensi dan kapabilitas menjadi bagian penilaian.


Pada pilpres 2004, koalisi keduanya terjadi pada pilpres putaran kedua. Pada putaran pertama keduanya masih bertarung dengan capresnya masing-masing. PDIP yang mengusung Mega/Hasyim mendapat 31.569.104 (26,6 persen), Golkar yang mengusung Wiranto/Salahudin mendapat 26.286.788 (22,154 persen), Partai Demokrat yang mengusung SBY/JK mendapat 39.838.184 (33,574 persen). PAN mengusung Amin/Siswono (14,658 persen), PPP mengusung Hamzah Haz/Agum (3,009 persen) dari suara sah sebanyak 118.656.868 suara. Jumlah suara tidak sah 2.636.976 dan golput berjumlah 33.754.959.


Dari jumlah suara yang diperoleh, maka proporsi angka perolehan suara terhadap jumlah pemilih terdaftar 155.048.803 adalah Megawati 20,360 persen, Wiranto 16,954 persen, SBY 25,694 persen, Amin Rais 11,218 persen, Hamzah Haz 2,302 persen, suara tidak sah 1,701 persen dan golput 21,770 persen. Gambaran diatas menunjukkan dengan hanya mengandalkan pendukungnya yang captive, dengan bermain sendiri Mega hanya mendapat 20 persen, berat mencapai 50 persen plus satu suara. Apabila bergabung dengan Golkar sejak awal, kemungkinan/kira-kira sudah memiliki modal 37 persen, hingga hanya dibutuhkan 13 persen plus satu suara untuk menang.


Hasil survey capres/cawapres 2009


Dari hasil survey nasional Reform institute selama Januari-Pebruari 2008 di 33 propinsi, sebanyak 25,2 persen responden memilih SBY, Mega 17,1 persen, Sri Sultan 5,1 persen, Wiranto 4,1 persen, Hidayat 3,3 persen, Gus Dur 2,9 persen, Amien Rais 2,2 persen, Akbar 1,8 persen, Jusuf Kalla 1,6 persen dan Sutiyoso 1,2 persen. 20,2 persen responden belum menentukan pilihannya. Untuk cawapres Jusuf Kalla menjadi favorit responden dengan 15,4 persen, Sri Sultan dengan 12,2 persen dan Wiranto 7,2 persen. Partai yang banyak dipilih, PDIP 19,3 persen, Golkar 16,1 persen, Partai Demokrat 8,3 persen, PKS 5 persen, PKB 4,5 persen dan PPP 3,1 persen.


Dalam pertanyaan kinerja pemerintah SBY-JK, keberhasilan dibidang pendidikan 21 persen, kesehatan 18,5 persen, kegagalan dibidang ekonomi adalah masalah stabilitas harga (43 persen) dan kesempatan kerja 21,9 persen. Terdapat 20-30 persen responden yang belum menentukan pilihan. Berdasarkan data-data diatas, maka ”the future” (perkiraan kedepan) terlihat suatu peta politik kasar untuk tahun 2009. PDIP dan Golkar diperkirakan akan tetap menjadi dua partai papan atas, apabila digabungkan akan memiliki suara diatas 35 persen.


Partai Demokrat kemungkinan akan meraih suara lebih besar dibandingkan perolehan suaranya pada pemilu 2004 dengan masih kuatnya dukungan terhadap SBY. Pemilih Demokrat sangat tergantung kepada popularitas dan kredibilitas SBY. Berdasarkan jumlah pemilih SBY pada pilpres 2004, survey terhadap SBY yang 25,2 persen serta posisi PD pada urutan ketiga partai favorite, posisi SBY sebagai capres kedepan diperkirakan masih tetap menjadi yang terkuat. Yang menjadi ancaman adalah besarnya pendapat responden tentang kegagalan SBY dalam menangani stabilitas harga. Karena menyangkut harkat hidup rakyat banyak, hal ini yang dapat menurunkan popularitasnya menjelang 2009.


PKS diperkirakan juga akan mendulang suara lebih besar dengan kedudukan keempat. Apabila RUU Pilpres sudah ditetapkan dan partai/koalisi partai dapat mengajukan capres dengan syarat 15-20 persen, maka PDIP dan Golkar diperkirakan tidak terlalu sulit mengajukan capresnya. Apabila PDIP berkoalisi dengan Golkar, maka parpol-parpol papan tengah diperkirakan harus berkoalisi untuk mengajukan capresnya. Jadi bagaimana strategi untuk memenangkan pilpres 2009?. Pembentukan opini sebaiknya dibuat jauh hari sebelum pilpres, lebih baik lagi apabila dibentuk koalisi permanen. Koalisi permanen, penentuan capres dan cawapres sebaiknya diumumkan lebih dini, karena sosialisasi kepada konstituen tidak dapat dilakukan mendadak.


Kegagalan Golkar dan PDIP pada pilpres 2004 disebabkan koalisi mendadak, terjadi hanya singkat, pada pilpres putaran kedua dan hanya ditingkat elit berupa statement. Koalisi belum tersosialisasi mencapai akar rumput, yang justru sangat penting sebagai pemilih. Kalau untuk sasaran 2009 memang keduanya akan berkoalisi, yang perlu dilakukan adalah pembentukan koalisi lebih awal. Lebih ideal apabila direalisasikan dalam beberapa pilkada pada 2008 yang belum berlangsung, sehingga konstituennya sudah terlatih dan secara psikologis terkondisikan. Tanpa sosialisasi koalisi dari sekarang, kemungkinan besar capres PDIP-Golkar tetap akan kalah dengan SBY yang masih lebih popular.


Apabila dihadapkan head to head, terlihat dari hasil beberapa survey SBY masih menang dari Mega dan jauh diatas JK. Inilah strategi PD yang menghindari pernyataan koalisi lebih dini. Tanpa SBY bergerak, JK jelas merasa tidak etis bergerak. Apabila koalisi JK-Mega untuk pilpres baru dilakukan setelah pemilu 2009, jelas sudah bukan ancaman lagi terhadap SBY. Sementara itu kini PD cukup menjaga performance dan kredibilitas SBY dengan banyak cara sebagai incumbent. Hal ini bisa dilakukan sendiri oleh SBY yang semakin piawai..


Bila hasil pemilu 2009 perolehan suara PD mencapai 12-15 persen maka bargaining power PD jadi besar. Apabila kini tidak menghitung dengan benar, Golkar justru yang akan masuk dalam killing ground seperti kasus 2004, dengan perolehan suara besar, perannya kurang. Apabila SBY memutuskan tetap berpasangan dengan JK, maka lawan terberatnya adalah apabila Mega berpasangan dengan cawapres dari PKS (apabila perolehan suaranya mendekati 10 persen). Karena itu peluang koalisi permanen dengan PDIP kini terlihat menjadi pilihan terbaiknya.


Kemungkinan lain apabila PDIP berkoalisi dengan Golkar, SBY akan memilih cawapres dari PKS. PKS, yang hingga kini sudah memenangkan 88 dari 149 pilkada yang diikutinya patut diperhitungkan. Partai ini mampu membaca keinginan rakyat. Strateginya adalah mengakumulasi kemenangan pilkada untuk kemenangan pemilu legislatif. PKS akan mengajukan capres apabila perolehan suaranya mencapai 20 persen, tapi kelihatannya akan sulit tercapai. Jadi kemungkinan terbuka peluang koalisi dengan PD atau dengan PDIP.


Bagi SBY nampaknya peluang menang lebih besar apabila mengambil cawapres dari PKS, karena terjadi perubahan perilaku konstituen. Konstituen akan cenderung memilih capres/cawapres yang dikenal bersih dan jujur. SBY dengan upayanya yang serius memberantas korupsi, akan dinilai masyarakat sebagai tokoh yang jujur. Apabila disandingkan dengan calon PKS nampaknya akan memenuhi keinginan konstituen. PKS kuat aroma kejujurannya, karena selalu menonjolkan masalah kejujuran dan pengabdian kepada masyarakat.


Demikian perkiraan kasar terhadap peluang koalisi PDIP-Golkar, walau koalisi belum tentu terjadi, tetap menarik untuk terus diikuti perkembangannya. Pada pemilu mendatang PDIP dan Golkar boleh menang seperti 2004. Tetapi belum tentu menang pada pilpres, lawannya adalah SBY yang semakin hebat dan berkibar. Ada pepatah mengatakan siapa cepat dia dapat, siapa pintar dia bersinar, jadi siapa yang cepat dan pintar?. Mega dengan JK, SBY, atau calon alternatif?. Segala kemungkinan masih bisa saja terjadi, waktu masih cukup untuk berbuat sesuatu.


Tulisan ini untuk temanku Agung Laksono, yang pada 2004 suka berdiskusi, ngobrol-ngobrol, tukar pikiran, minum kopi di Hilton. Selamat berjuang Mas, semoga sukses di 2009. Saya tetap dijalur independen saja, jadi penulis dirumah, sambil minum kopi, mengamati yang pada sibuk dan ribut-ribut.

Senin, 01 September 2008

RESIKO SEORANG PIMPINAN NASIONAL

Oleh : Prayitno Ramelan
21 Agustus 2008


Enakkah menjadi seorang pimpinan nasional? Rata-rata orang menilainya sangat enak. Berkuasa, bergaji besar, hidup terjamin, dikawal, tidak pernah kena macet, dihormati, kemana-mana menggunakan mobil dan pesawat khusus. Pokoknya sungguh sangat enak. Jangankan yang bersangkutan, istri, anak, orang tua, mertua, saudaranya, semuanya ikut dihormati. Bahkan sopir dan pembantunyapun ikut pula disegani. Itu sisi enaknya.

Ternyata, selain sisi enak tersebut ada juga sisi tidak enaknya. Sisi tidak enak bahkan bisa berbentuk ancaman yang kadang sama sekali tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Ini yang disebut sebagai resiko jabatan. Gambaran resiko ini kiranya yang perlu diketahui dan direnungkan oleh seseorang sebelum memutuskan memberanikan diri untuk maju pada pilpres 2009. Kini, menjelang pemilu dan pilpres 2009, terlihat beberapa orang yang berambisi untuk menjadi pimpinan nasional (”Presiden”) mulai mempopularkan diri dengan segala cara, dan jelas dengan ongkos yang tidak sedikit.

Suatu berita mengejutkan datang dari Australia, kelompok aksi Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) menuding mantan Perdana Menteri Australia John Howard terlibat kejahatan perang karena mengirim tentara Australia bergabung dalam pasukan koalisi pimpinan AS saat menginvasi Irak pada Maret 2003. Senator Lyn Allison dari Partai Demokrat membenarkan tuduhan tersebut dan mengatakan supaya semua orang mempertanggung jawabkan perbuatannya. John Howard sebagai Perdana Menteri harus bertanggung jawab karena saat itu dia menjadi eksekutif pemerintahan. PM Kevin Rudd juga menyalahkan kebijakan John Howard yang dikatakannya terlalu menurut kepada sekutunya AS. Bahkan kini PM Rudd telah menarik pasukan Australia dari Irak.

Dapat dibayangkan seorang John Howard yang pada saat menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri demikian tegarnya, bersemangat, dada terbusung, selalu mengangkat derajat Australia. Tiba-tiba setelah lengser harus menghadapi tuntutan sebagai penjahat perang di negaranya. Penggalan kisah John Howard ini hanyalah salah satu isu terhangat dan contoh resiko yang harus dihadapi pimpinan nasional sebuah negara.

Contoh lainnya, Saddam Husein yang menjabat sebagai Presiden Irak sejak 1979, kurang apa jasanya kepada rakyat Irak. Upayanya dalam memberantas buta huruf, membangun banyak sekolah, infrastruktur, rumah rakyat, rumah sakit banyak dipuji. Irak mendapat penghargaan dari UNESCO karena dinilai memiliki sistem pemeliharaan kesehatan masyarakat terbaik di Timur Tengah. Tetapi, dengan tindakannya yang kejam, memerintahkan penyerangan ke Iran dan invasi ke Kuwait, keberaniannya menentang AS, menyebabkan pada tahun 2003 Irak diserang oleh pasukan koalisi pimpinan AS. Setelah mengalami kekalahan, Saddam bersembunyi, dan ahirnya tertangkap. Dengan penampilannya yang tua, letih, lusuh, Saddam Husein yang dahulunya demikian gagah perkasa ahirnya berahir tragis digantung rakyatnya.

Nasib buruk juga menimpa Zulfikar Ali Bhutto, yang menjadi Presiden Pakistan pada 1971, Perdana Menteri 1973. Pada tahun 1977 Ali Bhutto walau menang telak pada pemilu, tetapi situasi dan kondisi politik Pakistan justru memburuk. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Zia Ul Haq menetapkan darurat militer. Zulfikar Ali Bhuto ditahan dengan tuduhan KKN dan pelanggaran HAM. Kebijakan sosialisnya dituduh sebagai penyebab hancurnya perekonomian Pakistan. Pada bulan Maret 1978 Ali Bhutto dinyatakan bersalah dan dihukum gantung.

Nasib buruk juga menimpa Zulfikar Ali Bhutto, yang menjadi Presiden Pakistan pada 1971, Perdana Menteri 1973. Pada tahun 1977 Ali Bhutto walau menang telak pada pemilu, tetapi situasi dan kondisi politik Pakistan justru memburuk. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Zia Ul Haq menetapkan darurat militer. Zulfikar Ali Bhuto ditahan dengan tuduhan KKN dan pelanggaran HAM. Kebijakan sosialisnya dituduh sebagai penyebab hancurnya perekonomian Pakistan. Pada bulan Maret 1978 Ali Bhutto dinyatakan bersalah dan dihukum gantung.

Tindakannya yang keras dalam menumpas demonstran mengakibatkan 4000 orang meninggal, yang justru kemudian menyulut demo menjadi lebih besar. Sebagian personel Angkatan Bersenjata akhirnya memihak rakyat. Ceausescu dan istrinya kemudian melarikan diri setelah membunuh Menhan Jenderal Vasile Milea karena menolak perintah menembak rakyat. Keduanya ahirnya ditangkap polisi, diadili dan divonis mati dengan ditembak dikepalanya

Selain beberapa kisah diatas, masih banyak kisah pimpinan nasional yang pada masa atau ahir jabatannya mengalami penderitaan dan juga dihukum mati. Presiden Republik Komunis Demokratik Afghanistan Muhammad Najibullah, dituduh sebagai arsitek pembunuhan ribuan warga Afghanistan sebelum menjadi Presiden. Najibullah ditangkap pasukan Taliban, disiksa, ditembak, mayatnya diseret mobil dan digantung dipinggir jalan, diludahi rakyatnya. Presiden J.F. Kennedy berahir tragis meninggal karena ditembak sniper disamping istrinya. Keluarga presiden Marcos harus mengungsi ke AS karena dikejar rakyatnya.

Di Indonesia, saat Alm Bung Karno berkuasa, siapa yang tidak berlomba mendekat kepadanya, tapi saat jatuh, semua berlomba menjauh. Ironis memang nasib Bung Karno yang berjasa meletakkan sendi-sendi kenegaraan, tapi saat kejatuhannya terbaring lemah, sakit dan terisolir hingga ajal menjemput. Demikian juga Alm Pak Harto saat berkuasa, siapa yang tidak mendekat. Tetapi saat kritis kredibilitasnya hilang dimata rakyat, para pembantu terdekatnya justru yang pertama meletakkan jabatan dan meninggalkannya. Beliau terus dituntut dan kasusnya tidak kunjung selesai hingga akhir hayatnya. Keluarganya terus dipermasalahkan. Tetapi para pembantu yang meninggalkannya aman-aman saja hingga kini, tidak ada tuntutan apapun. Semua menjadi tanggung jawab Pak Harto

Nah, bagaimana kini dengan Presiden SBY? Survei Reform Institute bulan Juni-Juli 2008 menghasilkan data, Megawati memperoleh 19,4 %, SBY 19.07%, dimana dibandingkan survei bulan Februari-Maret 2008, posisi Mega naik 2,6% dari 16,8% dan posisi SBY turun 5,73% dari 24,8%. Sementara kandidat lainnya, Sri Sultan HB-X mendapat 7,12%, Amien Rais (6,14%), Prabowo (3,81%), Gus Dur (3,3%), Wiranto (3,05%), Jusuf Kalla (2,5%), Sutiyoso (1,57%). Walaupun masih cukup waktu untuk memperbaiki citranya, penurunan popularitas SBY terus berlanjut sejak tiga tahun terahir. Walaupun peluang untuk kembali menjadi presiden belum hilang, apakah para “inner circle” sudah menghitung kemungkinan terburuk bila terjadi pergantian pimpinan nasional

Adakah kemungkinan terjadinya penuntutan kepada beliau? Pada era demokrasi model kini, semua sangat mungkin saja terjadi. Kini mencari kesalahan seseorang semudah kita membalikkan telapak tangan. Dengan kemajuan teknologi, sulit sebuah rahasia disembunyikan. Selain itu kini juga sulit mencari orang yang setia, kesetiaan lebih banyak hanya kepada seseorang saat masih berkuasa, begitu sang pemimpin jatuh maka banyak yang berlomba menyelamatkan diri. Ini yang harus diwaspadai dan dihitung. Apakah mereka tetap akan setia menjadi benteng beliau?Atau justru “escape”, cepat-cepat menyelamatkan diri seperti yang terjadi pada era Bung Karno dan Pak Harto. Hal yang wajar didunia politik, yang berfikir dengan dasar kepentingan belaka

Semua yang dilakukan oleh Presiden SBY dalam kewenangannya selama menjadi Presiden kita tahu telah dipikirkan dan diputuskannya demi kebaikan negara. Tapi perlu diingat, keputusan yang terbaik yang dikatakannya untuk kepentingan negara belum tentu dinilai baik oleh masyarakat dan mereka yang terkena dampaknya. Contohnya masalah kenaikan harga BBM. Kebijaksanaan tersebut menumbuhkan rasa antipati a sebagian rakyat kepada SBY, belum lagi lawan-lawan politiknya. Titik rawannya disini, sehingga ada kemungkinan munculnya tuntutan rakyat dikemudian hari. Kini pemimpin di Indonesia harus siap, berani dan ikhlas dengan pemikiran rela berkorban.

Mantan Panglima ABRI Wiranto baru saja bisa bernafas lega dalam berkiprah didunia politik setelah terdapat kata sepakat antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Timor Leste tentang penyelesaian tuduhan pelanggaran HAM di Timor Timur. Padahal tuduhan pelanggaran HAM terjadi saat tuntutan tugas mengharuskannya melaksanakan tindakan untuk negara dan bangsanya. Itulah sulitnya di Indonesia masa kini. Dengan kata lain nasib seorang mantan pimpinan atau pimpinan nasional apabila menghadapi masalah, akan ditentukan juga oleh pimpinan nasional yang sedang menjabat. Seperti nasib Mantan Panglima ABRI Wiranto telah diselamatkan oleh kebijakan pemerintahan SBY.

Jadi, kesimpulannya, bagi mereka yang akan maju menjadi kandidat Presiden harus benar-benar siap mental, menimbang karakter, kepribadiannya serta niatnya. Apakah benar siap lahir bathin dan mampu untuk mengemban amanah sebagai pimpinan nasional dinegara yang sangat dinamis dan bebas ini, melebihi kebebasan Amerika Serikat yang sistemnya kini kita tiru. Dia harus mendapat dukungan dan perlindungan sebuah Partai politik atau koalisi yang kuat. Tanpa mengukur diri, dan hanya merasa dirinya pantas dan bisa, contoh menyeramkan diatas yang disebut sebagai resiko seorang pimpinan nasional sangat mungkin menghampiri dan akan menjadi mimpi buruk hingga diakhir hayatnya. Mari kita berfikir dan berhitung lagi.

INTELIJEN DAN TEROR BOM, SEBUAH ANALISA

Oleh : Prayitno Ramelan
Jakarta, Oktober 2005


Sebuah renungan dibulan suci Ramadhan............

Terjadinya tiga serangan Bom di daerah wisata Kuta dan Jimbaran Bali pada tanggal 1 Oktober 2005 dirasakan cukup mengejutkan bagi masyarakat Bali pada khususnya maupun masyarakat Indonesia pada umumnya, dengan serentak mereka mengatakan bahwa serangan tersebut adalah suatu teror yang dilakukan oleh teroris.

Kemudian, setelah media elektronik berlomba-lomba menayangkannya sebagai berita utama, yang menggambarkan kengerian dan keganasan serangan yang terjadi, munculah reaksi masyarakat yang menyalahkan Intelijen dan Kepolisian RI yang dinilai gagal untuk melindungi dan menjaga keamanan masyarakat terhadap serangan bom yang terulang kembali. Reaksi yang muncul tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga dari kalangan elit politik, bahkan termasuk Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyatpun memberikan penilaian yang kurang baik terhadap kinerja Badan Intelijen Negara.

Bom yang terjadi di Kuta dan Jimbaran tersebut adalah yang kedua kalinya terjadi di Bali dan kesekian kalinya terjadi ditanah air. Mencermati beberapa kasus serangan bom ditanah air serta pengetahuan masyarakat awam tentang teror, akan coba disampaikan sebuah analisa hubungan intelijen dan teror bom, agar kita dapat bersama-sama merenung, berfikir dan mudah-mudahan sependapat bagaimana mengantisipasi serta berusaha meniadakan serangan bom yang masih sangat mungkin terjadi lagi dikemudian hari.

Teror dan Sasaran Teror

Menurut Encyclopedia Americana dan Britanica, kata “teror” berasal dari peristiwa pada musim panas Tahun 1793 dimana telah terjadi revolusi Perancis, dan disana terjadi pembunuhan-pembunuhan pada jaman “Reign of Terror “. PBB mendefinisikan bahwa terorisme adalah segala bentuk tindakan atau perbuatan yang membahayakan atau mengambil nyawa orang tak berdosa atau membahayakan kemerdekaan.

Pendapat lain disampaikan oleh William Rodier seorang instruktur di AS yang ahli dalam incident management, bahwa terorisme adalah suatu symbolic act, sehingga bagi teroris, tujuan untuk membinasakan sesuatu bukanlah tujuan utama dan biasanya hal itu tidak begitu penting, berapapun banyak jatuh korban termasuk juga dirinya. Yang dikehendaki adalah terjadinya perubahan yang dituju baik oleh sipenyandang dana ataupun si perencana. Teori ini yang menempatkan teror menjadi alat yang sangat mengerikan.

Organisasi teroris didunia terus mengembangkan dan meningkatkan kemampuan serangannya dalam menghadapi tindakan counter,sehingga tiap serangan selalu menimbulkan daya kejut dan kengerian yang tidak pernah berhenti. Pada awalnya teror dilakukan dengan pembunuhan perorangan,berkembang menjadi pembajakan pesawat, kemudian berkembang lagi menjadi serangan bom (low or high order explosives), bahkan serangan terahir yang mengejutkan adalah serangan terhadap menara WTC yang diruntuhkan hanya dengan other explosives (bukan bahan peledak).

Serangan teror yang kelihatannya mereka nilai masih efektif dan efisien hingga saat ini adalah dengan pola bom bunuh diri, yang tingkat kegagalannya relatif kecil. Dalam beberapa tahun terahir, AS telah dipusingkan dan disibukkan karena menjadi target utama serangan teror diseluruh dunia, serangan telah terjadi didalam negeri AS, Afganistan, Iraq, Cassablanca, Riyadh,Yaman,Jordania, dan beberapa Negara lain termasuk juga di Indonesia.

Pada masa lalu, saat era perang dingin,didunia ini terdapat 2 blok yang saling berhadapan yaitu Blok Barat (dipimpin AS) dan Blok Timur (dipimpin Uni Soviet). Setelah era perang dingin selesai dengan keruntuhan blok Timur, kelihatannya hingga kini adalah peperangan antara blok AS dengan blok Teroris. Juru bicara Kemlu Rusia Alexander Yakovenko setelah serangan bom di Bandara Riyadh mengisyaratkan bahwa Rusia berpihak keblok AS dengan mengatakan “bahwa bom bunuh diri di Arab Saudi dan di Chechnya serta ditempat-tempat lain terhubung dalam satu mata rantai, sekarang makin tampak jelas bahwa teroris internasional Al Qaeda, setelah dikalahkan di Afghanistan berusaha untuk bangkit kembali dan menyerang dunia yang beradab”.

Di Indonesia, teror bom dalam 5 tahun terahir terjadi dikota-kota Jakarta, Medan, Ambon, Surabaya,Makassar, Poso dan Bali. Dari hasil penyidikan Polri, serangan bom di Bali dan Jakarta sementara disimpulkan mempunyai hubungan yang sangat sangat erat, dan bahkan sangat patut diduga berkait dengan jaringan internasional, dimana 2 tokoh misterius pakar serangan bom DR Azahari dan Noordin M Toop sebagai otak pelatih, pembuat bom dan perencana serangan yang hingga kini belum tertangkap adalah warga Negara Malaysia. Identitas kedua orang tersebut tidak dengan pasti diketahui, walaupun foto keduanya telah disebarkan Polri kemasyarakat.

Serangan bom dibungkus dengan suatu pesan psikologis, yaitu bukan ditujukan kepada warga negara dan fasilitas Indonesia, tetapi kepada sasaran Warga Negara asing dan fasilitas asing terutama AS dan sekutunya. Di Bali bom pertama yang diledakkan pada tanggal 12 Oktober 2002 mereka akui mempunyai berat 1,5 ton, dimuat dalam mobil L-300, merupakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh Arnasan alias Jimi di Sari Club, sementara pada waktu yang hampir bersamaan Isa alias Feri meledakkan bom rompinya (juga bom bunuh diri) di Paddy’s Club, Ali Imron hanya meletakkan bom 5 kg didekat konsulat AS.

Ledakan bom tersebut telah meluluh lantakkan daerah disekitar Sari Club, korban yang tewas sebanyak 202 orang,mayoritas warga Negara Australia tewas dan sekitar 300 orang menderita luka-luka, salah seorang perencana awal serangan bernama Idris menyebutnya serangan tersebut sebagai operasi Jihad. Bom Jakarta dilakukan dihalaman Hotel JW Mariot pada tanggal 5 Agustus 2003, dengan pola yang sama yaitu bom bunuh diri dengan mobil (Asmar Latin Sani), mengakibatkan kerusakan Hotel JW Mariot dan Plaza Mutiara yang cukup parah,11 orang meninggal dan 152 mengalami luka-luka.

Serangan selanjutnya di depan Kedubes Australia Jakarta dengan bom mobil, juga bom bunuh diri, mengakibatkan kerusakan dan kehancuran yang cukup parah di Kedutaan Australia dan bangunan disekitarnya, dengan korban 5 tewas dan ratusan luka-luka. Serangan bom bunuh yang terahir terjadi di Jimbaran dan Kuta (3 sasaran) dilakukan ditempat umum/restaurant, pihak Kepolisian menjelaskan bom bunuh diri tersebut dilakukan 3 orang yang membawa bom didalam tas/ransel yang hingga kini belum diketahui identitasnya, korban tewas 23 orang dan 102 luka-luka, kerusakan lingkungan tidak terlalu parah dibandingkan Bom Bali 2002, ataupun bom JW Marriot dan Kedubes Australia.

Intelijen

Intelijen dapat dilihat sebagai sebuah Organisasi, sebuah Kegiatan atau Ilmu Pengetahuan. Sesuai dengan harfiah katanya, seorang insan intelijen seharusnya seorang yang cerdas, lulus psikotest, terutama kecerdasan dan kadar kesetiaannya, dan harus lulus dari jenjang pendidikan intelijen. Sebagai suatu organisasi maka sebuah Badan Intelijen dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan Negara/organisasi pembentuk serta tujuan yang hendak dicapai dan merupakan mata dan telinga Pimpinan Negara ataupun organisasi dibawahnya seperti bidang militer/pertahanan, kepolisian, kejaksaan, imigrasi dll .

Tugasnya adalah melakukan pengumpulan informasi yang kemudian diolah untuk jadikan bahan keterangan ternilai yang disebut sebagai intelijen. Bahan intelijen tersebut hanya diberikan kepada user (pengguna/atasan), mencakup bermacam-macam hal, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan user. Pada pandangan intelijen, ”teror” adalah sebuah pengetahuan yang juga harus terus dipelajari, disamping pengetahuan ekstrim lain seperti sabotase, insurgensi, perang urat syaraf , propaganda dll.

Pengetahuan harus dikuasai, karena bagaimana personil intelijen dapat melakukan counter terhadap teror kalau dia tidak menguasai secara mendalam pengetahuan tentang teror yang terus berkembang. Pada sebuah badan intelijen, dinegara manapun para personil yang dilatih khusus menangani masalah teror biasanya adalah para personil penggalangan (conditioning), mereka dilengkapi dengan para spesialis penyelidikan dan pengamanan. Para personil tersebut terutama adalah mereka yang sudah memiliki pengetahuan dasar intelijen, kemudian dididik dan dimatangkan menjadi spesialis/analis penggalangan dan spesialis anti teror, diantaranya dapat bekerjasama ataupun digabungkan didalam pasukan/satgas anti teror.

Analis intelijen selalu dituntut harus mampu menyampaikan sebuah perkiraan apa kemungkinan yang akan terjadi/kemungkinan serangan akan terjadi, berdasarkan data-data yang ada pada the past and the present. Amerika Serikat sebagai sebuah Negara besar dengan badan intelijen yang tidak diragukan lagi (CIA), selalu melakukan pengumpulan informasi tentang kegiatan dan serangan teror diseluruh dunia dalam rangka meng “counter” kemungkinan serangan terhadap warga negara maupun fasilitasnya.

Operasi intelijen oleh badan-badan intelijen AS terutama CIA telah menghabiskan dana yang sangat besar karena daerah operasinya diseluruh dunia. Setelah serangan WTC, sejumlah anggota kongres dan senat AS mengatakan kasus WTC adalah kegagalan besar sistem intelijen AS, walaupun AS telah menghabiskan sedikitnya 10 milyar dollar dalam membiayai kegiatan intelijen dan anti teroris. Kegagalan tersebut disebabkan karena konsekwensi penerapan faham Hak Asasi Manusia dalam operasi intelijennya.

Pola lama (infiltrasi) yang biasa mereka lakukan kekelompok teroris digantikan dengan sistem pelacak canggih elektronis (signal intelligence) yang lebih mengandalkan kepada teknologi canggih. Disinilah kegagalan mereka, karena para teroris di AS membatasi penggunaan alat komunikasi dan lebih mengutamakan sistem personal meeting.

Indonesia mempunyai cukup lengkap Badan/Satuan Intelijen yang sebenarnya cukup mumpuni, juga bertugas menangani kegiatan anti teror, seperti BIN, Satgas Anti Teror Polri, Gegana, Bais TNI dan Satuan-satuan anti teror TNI(Gultor/TNI AD, Jalamangkara/TNI AL dan Bravo/TNI AU), disamping itu terdapat juga intelijen Kejagung, imigrasi, bea cukai dll. Pada beberapa waktu belakangan ini,secara hukum, yang lebih fokus menangani masalah teror adalah Kepolisian RI, sementara BIN melakukan kegiatan pengumpulan bahan keterangan untuk Kepala Negara, Intelijen TNI lebih dikonsentrasikan kepada kegiatan intelijen pertahanan.

Selain Badan/Satuan Intelijen diatas, di Komando Teritorial juga terdapat pejabat dan satuan intelijen yang dapat dikatakan sudah tertata dengan baik diseluruh wilayah tanah air, baik dalam tingkatan Kodam, Korem dan Kodim, dibawah Kodim terdapat Koramil yang walaupun tidak memiliki intelijen tetapi mampu berperan sebagai early warning, dengan Babinsa (Bintara Pembina Desa) sebagai pelaksana yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Analisa

Teror adalah kegiatan penyerangan yang tanpa belas kasihan menghancurkan sasaran yang telah ditentukan demi tujuan tertentu. Kelebihan pelaku teror adalah bahwa inisiatif serangan berada ditangan mereka, sementara aparat keamanan dan intelijen harus melindungi sasaran yang tersebar luas dibeberapa tempat. Penanganan terhadap kelompok teroris apabila sudah terjadi di suatu Negara tidaklah dapat dilakukan oleh satu atau dua instansi saja, upaya akan tidak efektif, karena yang dihadapi adalah suatu kelompok yang terorganisir, terlatih, terdukung dan nekat.

Dari hasil pemeriksaan beberapa orang dari kelompok teroris di Indonesia yang tertangkap, mereka mengaku pernah mengikuti latihan di Afganistan dan Philipina Selatan dan mereka rata-rata sangat meyakini tujuannya menjadi seorang teroris. Dari beberapa kasus serangan bom di tanah air, maka 4 kasus yang sangat patut diduga mempunyai rangkaian dan berhubungan erat adalah Bom Bali (2 kali/5 bom meledak), JW Marriot (1 kali), dan Kedubes Australia (1 kali). Tiap sasaran diserang dengan tenggang waktu sekitar 10 bulan hingga setahun, terjadi di Bali bulan Oktober 2002, JW Marriot Agustus 2003, Kedubes Australia September 2004 dan terahir Bali oktober 2005.

Tiga sasaran diserang bom mobil dengan daya ledak yang sangat besar, yang terahir sasaran diserang dengan 3 bom yang dibawa oleh pengebom. Keseluruh rangkaian serangan dilakukan dengan pola bom bunuh diri. Pada 3 serangan pertama mereka menggunakan bom mobil dengan jumlah dan berat bom yang sangat besar, sebagai contoh bom Bali yang meledak beratnya tidak main-main hingga mencapai 1500 kg. Setelah Bom 2002, aparat Kepolisian dan Intelijen terus mengejar pelaku dan jaringan teroris.

Walaupun dua serangan gagal diantisipasi, tindakan counter teror kelihatannya mulai berhasil membatasi ruang gerak para teroris, terlihat dari bom terahir yang diledakkan di Jimbaran dan Kuta bukanlah jenis bom besar, tapi relatif kecil dibandingkan 3 bom terdahulu. Kelihatannya persediaan bahan pembuat bom mereka mulai terbatas, karena telah diledakkan di 3 lokasi dalam jumlah banyak. Sejak 2002 aparat keamanan terus melakukan monitoring dan memperketat perdagangan bahan-bahan kimia didalam negeri yang dapat dibuat menjadi sebuah bom seperti potassium florat, belerang dan bubuk aluminium.

Disamping itu tindakan pemeriksaan kendaraan dan pengunjung ke tempat-tempat fasilitas umum, ke hotel, kekantor-kantor yang diperketat juga kelihatannya berhasil membatasi ruang gerak para teroris. Oleh karena itu, dengan keterbatasannya, mereka terahir di jimbaran dan Kuta menyerang sasaran terbuka yang tidak diperiksa aparat keamanan. Jumlah bom kecil tetapi diledakkan di 3 lokasi, dengan harapan efek psikologisnya diharapkan tetap besar.

Tindakan pengeboman selama ini mereka bungkus dalam pesan samar, yaitu dalam rangka menyerang sasaran asing, warga Negara Indonesia dan fasilitasnya bukanlah sasaran. Di Bali mereka mengatakan menyerang club tempat orang asing berkumpul, JW Marriot dikenal sebagai Hotel milik AS, Kedubes Australia adalah fasilitas asing. Jadi dengan demikian mereka menciptakan kondisi agar tidak dimusuhi oleh rakyat Indonesia dan pada kenyataannya demikian hasilnya. Terdapatnya korban Warga Negara Indonesia yang jatuh pada ahirnya akan dimaklumi masyarakat dengan kesimpulan mereka sedang sial saja berada ditempat ledakan terjadi.

Serangan mereka lakukan dengan interval 10-12 bulan, kelihatannya dalam rangka desepsi, pengamanan organisasi dan perorangan kelompoknya, serta menurunkan rasa kecemasan dan ketegangan masyarakat. Serangan yang intervalnya terlalu dekat dapat menyebabkan masyarakat was-was dan takut yang berlebih, lama-lama seluruh masyarakat akan dapat memusuhi mereka, hal ini kelihatannya yang mereka hindari. Mereka memang tidak secara jelas menjelaskan apa motif serangannya, secara tersamar yang terbaca adalah sasaran asing. Hal ini menunjukkan betapa hebatnya si perencana dalam mengkondisikan pola pikir masyarakat kita.

Masyarakat dan bahkan para ahli sosial, psikolog dan analis intelijen hingga saat ini belum dapat menyimpulkan secara pasti motif mereka, motif agama juga bukan, menyerang pemerintah juga tidak , hanya pernah diungkapkan oleh kelompok tersebut bahwa operasi bom Bali adalah operasi Jihad dengan sasaran warga asing. Hal tersebut tidak dibenarkan oleh Prof Dr Syafiii Maarif/Kompas 8 Oktober 2005, yang mengatakan “penafsiran jihad oleh kelompok fundamentalis sebagai kekerasan yang dilegalkan agama adalah bertentangan dengan konsep jihad yang dikenal dalam Islam, fundamentalisme agama yang sering dijadikan pembenaran bagi kelompok-kelompok yang beranggotakan anak-anak muda yang berani mati, dinilai sebagai sebuah gerakan politik yang didasari kepentingan parsial”.

Para pelaku jelas sudah berhasil di “brain wash” oleh pengendali operasi, terlihat dalam pengadilan, pelaku-pelaku yang tertangkap dengan tenang tertawa-tawa saat diadili, walaupun sudah dijatuhi hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati. Suatu hal yang patut segera ditindak lanjuti dengan sangat serius adalah segera menemukan siapa tokoh intelektual yang menjadi pengendali dan penyandang dana serangan-serangan yang terjadi.

Melihat dari organisasinya, kelompok teroris biasanya terdiri dari penyandang dana, pengendali operasi, agen pendukung dan pelaksana (eksekutor). Keberadaan 2 tokoh misterius dan yang selalu lolos dari penangkapan, DR Azahari dan Noordin M Toop, kelihatannya merupakan tokoh kunci serangan bom selama ini dan kemungkinan dapat melakukan serangan susulan bom ataupun serangan teror dalam bentuk lain di Indonesia. Secara jelas kita belum tahu, siapa kedua tokoh ini, kita hanya tahu keduanya sebagai warga Negara Malaysia.

Sedemikian hebatnya kedua orang ini bersembunyi sehingga sudah sekitar 3 tahun belum juga tertangkap, sedangkan foto-fotonya sudah disebarkan oleh Kepolisian RI dimasyarakat sejak lama. Kalau benar mereka masih di Indonesia, maka jaringan pendukung mereka (support agent) dapat dikatakan cukup kuat menyembunyikan mereka (Merujuk yang dikatakan Psikolog Sartono Mukadis Kompas 6 Oktober 2005 “Kalau mau jujur, banyak sebenarnya masyarakat yang bersimpati pada perbuatan mereka, ada yang terang-terangan, ada juga yang secara diam-diam, termasuk beberapa elit politik”).

Yang menjadi pertanyaan kemudian apakah kedua orang tersebut juga terkait masuk dalam jaringan kelompok teroris internasional, yang menyerang sasaran-sasaran AS dan bloknya diwilayah Indonesia. Berarti wilayah Indonesia sedang dijadikan ajang perang antara blok teroris dengan blok AS. Ataukah kesimpulannya dibalik, serangan bom dilakukan, dibiayai oleh suatu Negara dengan tujuan membuat kacau dan merusak stabilitas keamanan Indonesia, akan tetapi pesan dibungkus seakan-akan penyerang adalah jaringan teroris internasional yang menyerang Blok AS. Memang sulit mengungkap kebenaran kasus ini.

Kedua tokoh teroris luar negeri tersebut jelas bersembunyi/disembunyikan disuatu tempat khusus atau justru bersembunyi/disembunyikan justru ditempat terang. Yang dapat menjawab adalah hanya apabila kita bersama-sama, aparat dan masyarakat bahu membahu mengejar keduanya, ataukah intelijen sudah mampu meng “infiltrasikan” agennya, atau intelijen diberikan biaya besar oleh pemerintah untuk melengkapi pembelian peralatan canggih.

Seruan Presiden SBY pada peringatan HUT TNI 5 Oktober 2005 tentang melibatkan unsur teritorial TNI dalam menangkal teroris kiranya tidaklah perlu diributkan, kita kelihatannya sudah perlu memanfaatkan Komando Teritorial yang sudah tertata dan berpengalaman untuk membantu mengejar kedua sasaran utama dan kelompoknya, sementara kita singkirkan dahulu kecurigaan yang timbul terhadap TNI untuk tujuan penting ini.Yang diperlukan dalam pelibatan unsur teritorial dalam operasi anti teror ini adalah suatu “rule of engagement”.

Kita harus tetap waspada “the future”, dengan segala keterbatasannya, bukan tidak mungkin mereka akan kembali melakukan serangan kecil tetapi jumlahnya banyak, atau mereka merubah pola, dengan melakukan serangan perorangan terhadap sasaran-sasaran personil asing baik di Jakarta, Bali ataupun dimana terdapat kantor-kantor keluarga besar AS di Indonesia. Atau mereka menghentikan/menunda serangan lanjutan karena sasaran pokok sudah tercapai. Kalau kita tidak cepat memutuskan langkah terbaik meng-counter teroris, maka aparat keamanan harus siap-siap untuk kembali dipermalukan oleh mereka.

Selain itu, kalau rencana serangan kelompok teroris ini tetap tidak terdeteksi, maka kita hanya dapat berdoa mudah-mudahan kita ataupun anak,istri, suami, orang tua atau keluarga kita lainnya tidak sedang sial dan menjadi korban karena berada ditempat serangan. Dibutuhkan keseriusan yang tidak main-main dan kerjasama yang sangat erat dalam mengantisipasi mereka, memang sulit menghadapi teroris. Berlaku hukum dimanapun “A Terorist in one side is a patriot on the other”. Mudah-mudahan tulisan dibulan suci ini menggugah dan menyadarkan kita semua.Amin.

BOM BUNUH DIRI DITUJUKAN KEPADA SIAPA ?

Oleh : Prayitno Ramelan
10 Oktober 2005


Tanggal 12 Oktober 2005 genap tiga tahun terjadinya serangan bom Bali yang dengan dahsyatnya meluluh lantakkan kawasan sekitar Sari Club dan Paddy’s Club. Bom seberat 1,5 ton yang diledakkan dalam mobil L-300 yang hancur bersama sopir Arnasan alias Jimi serta Isa alias Feri meledak bersama bom di Paddy’s Club menyebabkan korban 202 tewas dan 300 orang cidera. Sebagian besar korban WN Australia dan Negara lainnya. Setelah itu serangan bom bunuh diri terus terjadi dengan interval waktu antara 10-12 bulan, JW Marriot 5 Agustus 2003, 11 tewas dan 152 luka-luka.
Beberapa bom yang kemudian terjadi dan diledakkan di Indonesia, Kedubes Australia Jakarta 9 September 2004, 5 tewas dan ratusan cidera, terakhir bom meledak pada tanggal 1 Oktober 2005 dikawasan wisata Kuta dan Jimbaran Bali dengan korban tewas 23, cidera 102. Serangan bom bunuh diri dengan pola yang sama tersebut kita katakan bersama sebagai sebuah teror yang dilakukan oleh teroris.

Secara umum teror adalah bentuk tindak kejahatan dengan kekerasan yang tidak mengindahkan norma-norma kemanusiaan dengan motif kriminal ataupun politik bertujuan untuk mempengaruhi emosi, kemauan, pandangan, sikap dan tingkah laku pihak lain, bertujuan untuk memenuhi tuntutannya. Lebih spesifik dikatakan oleh William Rodier seorang instruktur ahli dalam incident management, bahwa terorisme adalah suatu symbolic act, bagi teroris tujuan membinasakan sesuatu bukanlah tujuan utama dan biasanya hal itu tidak begitu penting, berapapun korban yang jatuh termasuk dirinya, yang dikehendaki adalah terjadinya suatu perubahan. Dari kedua pendapat tersebut, maka pada serangan teror bom bunuh diri yang terjadi sejak 2002-2005 di Indonesia, ada hal penting yang harus didalami yaitu apa yang ingin mereka pengaruhi dan apa tuntutan dan perubahan yang dikehendaki.

Secara eksplisit hal tersebut tidak pernah mereka sebutkan, para sosiolog, psikolog dan bahkan analis intelijen hingga saat ini secara ilmiah belum dapat menentukan motif dibalik serangan. Teror yang terjadi didunia ini dilakukan pada awalnya dengan pola pembunuhan perorangan, berkembang menjadi pembajakan pesawat, kemudian ditingkatkan dengan serangan bom, yang kemudian disukai para teroris adalah bom bunuh diri, kemajuan teroris yang paling mutakhir diterapkan justru di AS dimana menara kembar WTC runtuh dengan serangan tidak terduga yaitu bom “other explosives”.

Didunia pada saat ini yang sedang terjadi dimana-mana adalah suatu serangan teror, terutama ditujukan kepada AS dan sekutunya. Pada era perang dingin yang berhadapan sebagai musuh adalah Blok Barat (AS dengan sekutunya) dan Blok Timur (Uni Soviet dengan sekutunya). Yang terjadi kemudian didunia setelah runtuhnya Blok Timur adalah peperangan antara Blok AS disatu sisi dengan Blok Teroris dilain sisi. Setelah serangan WTC, pada saat itu Menlu AS yang masih dijabat Colin Powell mengatakan bahwa pemerintah AS akan mengejar dan menghancurkan kekuatan dibalik serangan tersebut, yang disebutnya sebagai “along and bloody war”.

Sementara Presiden George Bush mengatakan sebagai perang pertama pada abad 21. Maka dimulailah gegap gempita saling menyerang antara kedua blok tadi, dimana AS dengan teknologi tinggi berhasil menghancurkan kamp-kamp pelatihan teroris di Afghanistan. Teroris membalas dengan bom bunuh diri yang mengancam warga negara maupun fasilitas AS diseluruh dunia. Di Indonesia yang terjadi adalah bom bunuh diri yang dilakukan di tempat-tempat yang diperkirakan warga asing berada, di Bali sasaran adalah Club-club dan restaurant tempat berkumpulnya orang asing (terutama AS, Australia ), Hotel JW Marriot Kuningan dikenal sebagai hotel milik AS, Kedubes Australia di Rasuna Said adalah sekutu AS.

Apakah benar serangan tersebut dilakukan oleh jaringan teroris internasional yang menyerang blok AS di Indonesia, belum ada suatu pernyataan pasti dari kelompok tersebut. Memang beberapa pelaku diketahui pernah mengikuti pelatihan teroris di Afghanistan, Pakistan ataupun Phillipina Selatan, sementara beberapa pelaku peledakan yang ikut tewas adalah mereka yang di ”spot”/direkrut di Indonesia. Melihat pengorbanan nyawa pelaku, teori perang terbuka kedua blok dapat saja dibenarkan, Wilayah Indonesia dengan segala kekurangan dan kerawanan dibidang “counter terrorist” hanyalah dipinjam sebagai medan perang.

Akan tetapi apakah pernah kita pikirkan bahwa serangan bom bunuh diri dengan sasaran asing di Indonesia tersebut hanyalah sebuah sasaran antara/sasaran penyesatan (desepsi), sementara sasaran ahir yang dituju bukan tidak mungkin sebenarnya justru Indonesia. Kenapa Indonesia menjadi sasaran, siapa yang dituju, apakah pemerintah yang berkuasa?. Didalam teori intelijen disebutkan yang abadi disuatu Negara adalah kepentingan nasional. Dinegara manapun teori ini berlaku. Indonesia apabila memiliki stabilitas politik, ekonomi, keamanan yang baik, cukup sandang pangan, rakyat bersatu padu, negara mana disekelilingnya yang tidak segan dan takut. Sumber daya manusianya yang lebih dari 220 juta, kekayaan alam yang demikian berlimpah apabila semuanya disinergikan dan tertata dengan apik, akan mendudukan Indonesia sebagai ancaman terhadap kepentingan Negara lain.

Oleh karena itu maka serangan terhadap Indonesia tidak ditujukan kepada siapa yang memerintah, yang dituju adalah menempatkan Indonesia didunia internasional sebagai Negara yang tidak aman, memiliki resiko keamanan yang tinggi. Akibatnya jelas akan besar, arus investasi tersendat, arus pariwisata terganggu, kesulitan ekonomi akan meningkat,dilanjutkan dengan krisis politik dan Indonesia akan menjadi Negara yang tidak pernah tenteram, selalu ribut dan ahirnya akan menjadi Negara yang lemah, kalau lemah, bukankah mudah didikte/dikendalikan oleh Negara lain.

Kalau memang benar bahwa tujuannya demikian, maka tindakan teror bom yang terjadi menjadi hal yang sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia. Proses yang mereka lakukan adalah “conditioning”/dalam dunia intelijen disebut sebagai operasi penggalangan. Didalam organisasi teroris, terdapat penyandang dana (principle agent), perencana dan pengendali (agent handler), pendukung (support agent) dan pelaksana lapangan (ecsecutor). Sementara ini beberapa yang sudah berhasil tertangkap oleh Polri dan sudah diajukan kepengadilan adalah para eksekutor (yang masih hidup) dan pendukung.

Dua tokoh kunci perencana dan pengendali (DR Azahari dan Noordin M Top) yang merupakan WN Malaysia sampai saat ini (tiga tahun) belum tertangkap. Siapakah kedua tokoh misterius tersebut, yang bukan orang Indonesia, mampu bersembunyi dimasyarakat kita, apakah keduanya bukan agen Intelijen asing yang sengaja dipenetrasikan untuk tujuan-tujuan seperti tersebut diatas. Apabila keduanya tertangkap kemungkinan baru diketahui siapa si “principle”. Dalam melakukan operasinya di Indonesia, kelompok ini terbukti mempunyai keahlian yang cukup tinggi, kekuatan mereka tidaklah besar, akan tetapi kemampuannya sangat tinggi, yaitu mampu membuat bom mampu melakukan desepsi dari kejaran aparat keamanan, mampu merekrut jaringan dan mampu memberikan dukungan.

Selain itu suatu hal yang sangat perlu diperhitungkan adalah kemampuan mereka mengkondisikan masyarakat pada umumnya, dimana serangan bom dibungkus didalam pesan “hanya ditujukan kepada orang dan fasilitas asing”. Pada ahirnya pola pikir masyarakat diarahkan bahwa mereka tidaklah terancam, teroris di Indonesia bukan musuh masyarakat, dan masyarakat pada ahirnya secara umum menjadi tidak perduli dengan perang mereka. Para teroris tidak ditempatkan sebagai musuh bersama, mereka hanya musuh dan menjadi tanggung jawab aparat keamanan untuk menangkapnya. Bagaimana dengan korban orang Indonesia yang jatuh, mereka mengarahkan agar masyarakat menyimpulkan “orang tersebut sedang sial kebetulan berada ditempat ledakan terjadi”.

Yang lebih parah lagi adalah seperti apa yang dikatakan oleh Psikolog Sartono Mukadis, Kompas 6 Oktober 2005 “Kalau mau jujur, banyak sebenarnya masyarakat yang bersimpati pada perbuatan mereka, ada yang terang-terangan, ada juga yang secara diam-diam, termasuk beberapa elit politik”. Jadi bagaimana kita mau cepat memberantas teroris kalau banyak masyarakat yang ternyata sudah terkondisikan. Dalam kondisi sedemikian berbahayanya, maka sudah saatnya pemerintah menanggulangi ancaman teror bom bunuh diri dengan jauh lebih serius, masyarakat dilibatkan untuk bertindak sebagai early warning dalam mengejar kedua tokoh teroris tersebut, yang terpenting dari semuanya adalah lebih mempersempit ruang gerak mereka.

Dengan tindakan pengejaran, penyelidikan, dan pengamanan yang dilakukan oleh Polri dan Badan Intelijen, kelihatannya ruang gerak mereka mulai terbatas. Bom yang terakhir di Bali beratnya relatif kecil dibandingkan 3 serangan terdahulu, hanya agar efeknya tetap besar mereka memilih meledakkan ditempat yang ramai pengunjung. Hal tersebut mengindikasikan bahwa mereka mulai sulit menghindari pemeriksaan aparat keamanan apabila membawa bom besar, atau persediaan bahan bom mereka mulai terbatas.

Untuk kemungkinan serangan mendatang, kelihatannya pola mereka dapat saja sama, menyerang warga dan fasilitas asing di Indonesia, baik di Bali, Jakarta, atau ditempat beradanya fasilitas asing di Indonesia, seperti Surabaya, Medan dan Makassar. Pola ini kelihatannya akan mereka pertahankan, karena bagaimanapun mereka menghindari dijadikan musuh masyarakat. Kalau benar analisa kedua bahwa sasaran akhirnya adalah bangsa Indonesia, maka sudah saatnya kita menghilangkan prasangka buruk sesama kita.

Kita yakin apabila Polri, BIN, TNI dan masyarakat bahu-membahu mengejar DR Azahari dan Noordin M Top, dalam waktu yang tidak lama keduanya akan dapat ditangkap, sehingga teka-teki bom bunuh diri ditujukan kepada siapa dapat benar-benar terjawab. Tidak perlu ada yang disalahkan atau saling menyalahkan diantara kita, yang sangat perlu kita sadari bersama adalah kita menghadapi suatu jaringan teroris yang dibentuk dan diorganisir khusus untuk wilayah Indonesia, setiap saat dapat saja meledakkan bom disekitar kita. Dapat kita yakini bahwa ada dalang dengan skenario besar dibelakangnya, yang menurut mantan Kabais TNI Marsdya TNI (Pur) Ian Santoso pola-pola operasi intelijen seperti ini akan sangat sulit dibongkar dan dibuktikan secara tuntas.