Rabu, 01 Oktober 2008

PELUANG PURNAWIRAWAN SEBAGAI CAPRES?

Oleh : Prayitno Ramelan
12 Januari 2008

Tahun 2008 merupakan tahun penting bagi partai dan pelaku politik di Indonesia. Mulai terasa persiapan menghadapi pemilu dan pilpres 2009. Konstituen kelihatannya belum akan banyak bergeser dari pemilu 2004, masih dikuasai oleh partai papan atas Golkar dan PDIP. Disusul perebutan konstituen partai menengah PKB, PAN, PPP, PKS dan Partai Demokrat. Baru sisanya diperebutkan oleh parpol lainnya, termasuk partai baru. Budaya paternalistik masih sangat kental dinegara kita, yang juga akan sangat mempengaruhi dunia perpolitikan.

Tiap partai akan menonjolkan figur yang diperkirakan masih figur lama yang sudah cukup dikenal. PDIP tetap akan menggunakan kharisma Megawati putra proklamator Bung Karno, PKB masih dan hanya mampu menonjolkan Gus Dur sebagai keturunan pendiri NU, PAN mengusung Amin Rais, Sutrisno Bachir atau Dien Syamsudin sebagai tokohnya. PKS mencoba mengangkat tokoh Hidayat Nurwahid, PPP pada pemilu lalu mengusung Hamzah Haz mantan Wapres, hingga kini belum mempunyai tokoh yang sangat menonjol, kemungkinan Ketuanya Suryadharma Ali. Partai Demokrat jelas bersandar kepada nama besar Presiden SBY yang tidak perlu diragukan lagi.

Golkar sebagai partai terbesar yang saat itu tidak berhasil mengusung tokoh partainya, masih jauh berfikir untuk menentukan perkiraan calonnya. Beberapa tokoh seperti Agung Laksono, Surya Paloh, Ginanjar, Aburizal Bakri masih membutuhkan kenaikan satu tingkat lagi untuk menjadi sangat terkenal dan masuk bursa ikut persaingan. Secara perlahan Ketua umum Golkar Jusuf Kalla menjadi figur yang harus mulai diperhitungkan. Dengan gaya yang apa adanya, luwes,tegas, bisa menjadi alternatif calon pemimpin masa depan pada situasi dan kondisi masa kini. Walaupun ada aspirasi yang tetap menginginkan berpasangan dengan SBY.

Wiranto yang memenangkan konvensi Golkar saat itu kalah kelas dan terpukul black campaign, tidak mampu bersaing keputaran kedua. Belajar dari kekalahan pilpres 2004, mantan Panglima ABRI Jenderal (Pur) Wiranto bersama beberapa mantan petinggi TNI pada Desember 2006 mendeklarasikan Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat). Sedikit demi sedikit image Wiranto-Hanura mulai terbentuk. Apa kelebihannya? Partai ini menggunakan nama hati nurani rakyat, mencoba mengangkat isu kemiskinan. Orang pintar tau bahwa yang tidak bisa bohong adalah nurani, ini yang diarah oleh Hanura.

Untuk menang dalam pemilu 2009, yang perlu diperhatikan adalah masalah perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Kenapa? Kalau ingin menang pemilu dan pilpres kita harus bisa menyentuh hati konstituen. Rakyat sudah mulai lebih pintar, kebutuhan mendasarnya hanya ingin dan bisa hidup, mempunyai ruang hidup. Masyarakat selalu membandingkan mana yang lebih enak, pemerintah ini atau yang itu. Teori tolok ukur akan selalu dipergunakan sampai kapanpun. Mereka dalam kondisi masa kini yang sangat sulit, jelas akan membandingkan era pemerintahan Presiden SBY dengan era Presiden Megawati.

Memang saat ini kondisi masyarakat seperti yang dimunculkan di media cetak dan elektronik menyulitkan Presiden SBY sebagai pimpinan nasional. Terlebih “inner circle” nya sering salah omong. Sulit menghilangkan opini hidup rakyat yang semakin sulit. Kelangkaan minyak tanah, kasus kedelai/tempe, pembatasan premium, kenaikan harga pangan, penanganan bencana alam, banjir, lumpur lapindo yang tak kunjung usai, longsor, puting beliung dan lain-lain musibah terkesan terus menjadi masalah rakyat.

Sementara pemerintah yang dianggap rakyat sebagai dewa yang pernah dipilihnya, dengan segala keterbatasannya dan kondisi mental aparat, kebijaksanaan otonomi daerah, kadang terlambat memberi bantuan dan dinilai kurang serius menolong rakyat. Belum lagi apabila dikaitkan dengan merosotnya kondisi perekonomian global, kenaikan harga minyak dunia yang juga berdampak kepada Indonesia.

Dalam kondisi yang serba sulit dan berat ini, pertanyaannya untuk apa para tentara tua (“the old soldier”) itu mau repot dan sibuk bergelut kembali dipanggung politik?.Bukankah lebih enak menikmati masa pensiun, main golf, jalan-jalan, main dengan cucu, membersihkan qolbu dengan zikir dan sekali-sekali pergi umroh. Apa masih ada ambisi?, mencari kesibukan?, nafsu berkuasa?, suka saja atau apa?. Pertanyaan inilah yang kadang orang tidak tahu.

Didalam dunia kemiliteran seorang prajurit dididik pertama berke-Tuhan-an YME, kemudian mencintai negaranya yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Disinilah jawabannya, yaitu jiwa pengabdian kepada bangsa dan Negara. Dalam dada tiap prajurit TNI, pengorbanan jiwa demi bangsa dan negara bukanlah suatu yang istimewa, tetapi suatu keharusan. Semangat pengabdian dan berkorban terpatri dan terus terbawa hingga dia pensiun dan tidak pernah mati, baru akan berahir diliang lahat.

Banyak yang tidak tahu bagaimana prajurit saat itu harus meninggalkan rumah dan keluarganya selama satu tahun bertugas didaerah operasi,menjaga puncak gunung di kawasan Timor Timur, Aceh, Papua dengan ancaman jiwa tiap saat. Banyak yang tidak tahu masih berapa ribu pahlawan/anggota TNI yang hingga kini masih dimakamkan di Timor Leste dengan kondisi tidak terawat, tidak didatangi keluarganya dan jelas tidak akan dihormati oleh bekas lawannya.

Kesadaran, jiwa korsa, rela berkorban, cinta Negara, dan ingin memperbaiki keadaan itulah yang menyebabkan jago-jago tua kembali keluar kandang untuk mengabdi kepada bangsa dan Negara ini. Komposisi mantan Panglima ABRI Wiranto, dibantu dua mantan Kepala staf AD dan AL, Mantan Wapangab serta beberapa purnawirawan jenderal bergabung bersama politisi di Hanura akan meramaikan dunia perpolitikan ditanah air.

Hingga saat ini purnawirawan TNI yang terlihat akan ikut berkompetisi adalah Jenderal TNI (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono yang sudah mapan dengan Partai Demokrat, Letjen TNI (Pur) Sutiyoso masih mencari kendaraan politik, Jenderal TNI (Pur) Wiranto dengan Hanura, dan Letjen TNI (Pur) Prabowo dengan Partai Gerindra. Mereka tidak perlu ditakutkan, seperti yang dikatakan mantan Panglima ABRI Wiranto, tenang saja kami bukan militer lagi, itu yang diungkapkannya. Memang para purnawirawan itu sudah kembali menjadi warga sipil, tetapi mempunyai pengalaman kepemimpinan dan pengetahuan yang akan sangat bermanfaat bagi bangsa ini. Pertanyaannya bagaimana peluang para old soldiers tersebut?.

Survey Puskapis yang dilakukan 2-17 Juli 2007 menyebutkan Indonesia membutuhkan figur pemimpin yang berani, tegas, visioner, kapabel. Pasangan presiden dan wakilnya yang paling cocok diisi oleh pasangan calon yang berlatar belakang militer dan sipil/parpol atau sebaliknya (52%), terutama militer yang matang dibirokrasi. Persepsi masyarakat akan kebutuhan pemimpin kombinasi militer sipil atau sebaliknya, memberikan peluang kepada mereka.

Jelas banyak elit yang khawatir dan tidak setuju, tetapi pada akhirnya rakyat juga yang akan memutuskan siapa pimpinan nasional yang dipercayainya. Memang kita belum tahu dinamika politik satu tahun kedepan, tetapi pasangan Calon Presiden dan Wapres 2009 akan lebih solid dan kuat apabila terbentuk dari komposisi sipil militer dari kelompok dan warna yang sama. Kita tunggu saja!

1 komentar:

Suriswanto mengatakan...

Salam kenal, Marsekal Prayitno.
Saya Suriswanto, orang iklan. Senang melihat tulisan Bapak tentang peluang para purnawirawan jenderal pda pilpres 2009 ini.
Di kalangan rakyat tidak ada yang keberatan kok soal capres berlatar belakang militer, malah banyak orang senang kalau negara ini dipegang mantan militer. Tapi saya pribadi agak khawatir dengan 3 capres (utamanya 2 capres, P dan W) yang masih belum clear menjawab dispute di sekitar diri mereka. Saya menganggap, mereka menggendong 'bom waktu' yang akan mengganggu perjalanan mereka ke kursi RI-1.
Sekian, Pak. Silakan kunjungi weblog saya suriswanto.blogspot.com
Salam Suris