Sabtu, 10 Januari 2009

Incumbent Harus Hati-Hati, PDIP Dan Mega Sangat Serius.


Oleh Prayitno Ramelan - 9 Januari 2009 - Dibaca 760 Kali -

Hingga kini banyak pengamat, elit politik, lembaga survei memperkirakan bahwa yang akan bertarung memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan nasional pada pilpres 2009 adalah SBY dan Megawati. SBY adalah incumbent, masih menduduki jabatan sebagai presiden RI, sementara Mega adalah penantangnya dan partainya PDIP tetap konsisten menjadi oposisi pemerintah. Kalau diamati, maka popularitas atau elektabilitas keduanya turun naiknya selalu berbanding terbalik. Artinya kalau SBY menjadi lebih populer maka popularitas Mega pasti turun, juga sebaliknya bila SBY kurang populer maka Mega akan menjadi lebih populer.
Dari pendapat beberapa elit politik dan pengamat, dikaitkan dengan UU pilpres, maka nanti dalam pilpres 2009 kelihatannya yang akan bersaing hanya ada tiga pasangan capres-cawapres.

Persyaratan 20% kursi DPR atau 25% suara Nasional untuk pengajuan calon, baik sendiri maupun berkoalisi dirasa sangat berat. Hingga kini yang diperkirakan akan maju baru SBY dan Megawati. Untuk calon ketiga hingga kini belum dapat ditentukan, kekuatan parpol masih remang-remang menunggu hingga didapatnya hasil pemilu legislatif. Oleh karenanya maka dalam pembahasan ini hanya akan dilakukan terhadap kedua calon unggulan tersebut.
Dari peta kekuatan, SBY mempunyai kekuatan sebagai incumbent yang memegang kekuasaan, tiap kebijakan yng dinilai positif oleh masyarakat secara otomatis akan menaikkan elektabilitasnya. Tapi demikian juga sebaliknya, apabila terdapat kebijakan yang dinilai rakyat memberatkan, merugikan maka elektabilitasnya juga otomatis akan turun. Popularitas SBY masih cukup tinggi, beberapa aspek rasional yang dinilai positif mencakup kepuasan atas kinerja pemerintah, kondisi politik, keamanan, penegakan hukum, ekonomi nasional, program pemberantasan korupsi, program sosial meliputi bantuan langsung tunai, dana biaya operasional sekolah, dan penurunan harga bahan bakar minyak. Sementara Megawati sebagai oposan hanya menyampaikan serangan kurangnya perhatian pemerintah terhadap rakyat, seperti naiknya harga BBM, tingginya harga sembako.

Sebagai incumbent SBY telah mampu menciptakan sebuah opini dimana dia dan Partai Demokrat adalah suatu kesatuan, artinya setiap kebijakan positif yang diambilnya juga terkesan di masyarakat adalah kebijakan dari partainya. Bahkan Golkar yang direpresentasikan JK serta beberapa menteri di kabinet dalam beberapa waktu terakhir tidak mendapat penghargaan masyarakat, terlihat dari hasil beberapa lembaga survei, elektabilitas Golkar merosot dan berada dibawah partai demokrat. Dilain sisi Mega jauh lebih menyatu dengan konstituennya yang disebut “wong cilik”. Kemampuan Demokrat yang menggunakan sektor periklanan lewat media massa juga mampu diimbangi oleh PDIP.

Bagaimana dengan kerawanan SBY? Seperti telah diungkap oleh penulis pada beberapa artikel terdahulu, kerawanan SBY terutama karena dia menjadi patron, “pusat” segala-galanya dari Demokrat. Begitu nanti SBY mendapat gempuran, atau timbul masalah serius yang berkaitan dengan kondisi negara, maka otomatis elektabilitas keduanya akan turun. Sementara Mega dilain sisi tidak punya beban tanggung jawab atas pemerintahan, serangan terhadap Mega selama ini lebih diarahkan terhadap kekurang mampuannya. Beberapa saat yang lalu Mega telah berani membuktikan dan angkat bicara pada acara Kick Andy, yang oleh banyak pihak dipuji dengan kekaguman.

Posisi SBY di Partai Demokrat adalah Ketua Dewan Pembina, kedua SBY terikat pada aturan sebagai presiden menyebabkan gerakannya menjadi terbatas, kunjungan lebih bersifat formal, berbeda dengan Megawati yang bebas menyapa konstituen hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Mega sejak tahun 2007 telah aktif melakukan safari keliling, diantaranya ke Sumatera, pada bulan November 2008 safari keliling Jawa, bahkan juga sampai ke daerah kasus lumpur Lapindo Sidoarjo. Yang terakhir pada tanggal 6-9 Januari 2009 Mega melakukan safari ke KTI (Kawasan Timur Indonesia), yaitu Makassar, Manado, Sorong, Timika dengan tema “Silaturahmi dan Tali Kasih Mama Mega ke Indonesia Timur”.

Dengan melihat beberapa fakta diatas, terlihat bahwa PDIP dan Megawati sangat serius dalam upayanya mencoba merebut kembali posisinya sebagai parpol pemenang pemilu dan sekaligus menjadikan capres Megawati menjadi presiden. Memang banyak pihak meremehkan Megawati, tetapi perlu diingat bahwa kini capres yang terkuat pada posisi kedua hingga saat ini adalah Megawati, begitu SBY tergelincir atau popularitasnya menurun maka posisi teratas akan diduduki oleh Megawati.

Pembangunan hubungan batiniah antara parpol, capres dengan konstituen sebaiknya dilakukan dengan dua jalan yaitu iklan dan kunjungan. Setelah iklan ditebar, maka konstituen harus didatangi, tidak bisa hanya dari kejauhan, rakyat ingin lebih disapa, ingin lebih diperhatikan oleh para calon pemimpinnya. Rakyat menginginkan pemimpinnya mendengar apa keluhan dan kesulitan mereka. Dan hal ini tidak bisa hanya dilakukan dalam waktu sekejab, dibutuhkan waktu yang cukup lama, karena yang harus disentuh adalah hati manusia. Dalam kondisi masa kini, dimana rakyat lebih “melek” politik, mereka akan sangat mendengar siapa yang mendatangi mereka. Apabila pemilih tradisional tidak dijaga, mereka akan lari ketempat lain.
Popularitas SBY tinggi karena sebagai incumbent yang mampu memberikan kesejahteraan, sementara elektabilitas Mega sebagai kompetitor yang kuat tidak didapat begitu saja, tetapi melalui sebuah usaha yang cukup lama dikerjakan. PDIP tanpa disadari telah selangkah lebih maju, pada akhir bulan Januari ini kelihatannya hanya PDIP yang berani mengumumkan pasangan capres-cawapres. Oleh karena itu SBY dan Partai Demokrat memang harus mewaspadainya. Partai Demokrat jangan terlalu percaya diri dan terjebak dalam kemelut yang kemungkinan akan terjadi dengan partner koalisinya Golkar. Pertanyaannya apakah Golkar akan tetap setia menjadi partner koalisi?. Perlu diingat dalam tubuh Golkarpun sudah terdapat kekuatan yang menginginkan bersatunya Golkar dengan PDIP. Kalau Golkar melepaskan diri dan pindah, bukankah Demokrat akan agak melemah?.

Seperti permainan catur, hati-hati dengan langkah kuda, sekali di “schak mat” maka ratunya tidak bisa geser dan akan tumbang. Dengan meng-”underestimate” PDIP dan Mega, sejarah 2004 dapat saja terulang, saat itu SBY yang tidak diunggulkan justru yang menjadi presiden. Bisa saja ini terjadi pada Mega. Maaf pak, ini hanya pendapat blogger tua di Kompasiana…mungkin ada salahnya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.

PRAYITNO RAMELAN, Guest Blogger Kompasiana.

function fbs_click() {u=location.href;t=document.title;window.open('http://www.facebook.com/sharer.php?u='+encodeURIComponent(u)+'&t='+encodeURIComponent(t),'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');return false;}
html .fb_share_link { padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif?2:26981) no-repeat top left; }
Share on Facebook

20 tanggapan untuk “Incumbent Harus Hati-Hati, PDIP Dan Mega Sangat Serius.”

ojodumeh,
— 9 Januari 2009 jam 5:27 pm
memang analaisa seperti itu perlu dicermati dan kemungkinan bisa menjadi tolok ukur dalam menjalankan misi - misi berikut guna mencapai suatu keberhasilan dimasa yang akan datang, jangan sampai terlena karena sebagai incrumben. Justru harus lebih maju kedepan dibanding dengan yang lain, akan tetapi tetap harus fairplay. dengan itikad baik dan adil.
aramichi,
— 9 Januari 2009 jam 6:05 pm
Yth pak Prayitno Ramelan
Saya setuju dengan pendapat om, memang saingan paling kuat dari sby itu megawati. Megawati dan PDIP punya pendukung fanatik istilahnya pejah gesang nderek Bung Karno, nah pendukung fanatik BK ini melihat personifikasi BK pada diri Megawati, kenapa hanya Mega saya juga kurang mengerti. Tetapi kalau kita lihat dari sejarah PDIP berakar pada PNI yang sudah berurat berakar di seluruh penjuru tanah air basisnya terutama di Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur daerah mataraman dan surabaya, Bali, Lampung dan Indonesia Timur. Memang orang bilang politik aliran seperti yang dicetuskan oleh Cliford Geertz sudah kadaluarsa tetapi ternyata politik aliran tetap eksis sampai sekarang meskipun terjadi pergeseran2. Daerah Jawa Tengah dan bali seperti tidak bisa diutak utik seberapapun kuatnya SBY di masa lalu dan sekarang.
Dengan kondisi seperti tersebut sebenarnya modal Mega sudah ada tinggal perlu dipertajam kelebihannya dan ditutupi kekurangannya. Saya tidak melakukan survei tapi saya banyak mendengar obrolan di masyarakat bahwa kekecewaan yang besar itu terjadi pada kasus penjualan Indosat ini bukan masalah benar atau salah tapi begitu persepsi masyarakat yang saya tangkap, kadang kadang persepsi memang lebih penting dari realitas. Sosok Taufik Kiemas juga menjadi sorotan di masyarakat sekali lagi ini masalah persepsi dan persepsi masyarakat adalah negatif. Kemudian kesalahan yang fatal pada pemilu 2004 adalah slogan “coblos moncong putih ” slogan yang berupa instruksi padahal masyarakat tidak semuanya suka diperintah seperti itu, mungkin untuk kelompok masyarakat tertentu cocok tapi masyarakat yang lain butuh alasan kenapa harus mencoblos moncong putih, apa yang akan dia dapatkan kalau memilih moncong putih, hal ini yang alpa disampaikan seharusnya selain instruksi juga ada persuasi, mengajak.
Mengenai sembako murah yang ditawarkan sekarang juga saya tidak melihat PDIP menjelaskan bagaimana cara mencapainya, kalau saya lihat kenapa sembako itu mahal ya karena sistem perdagangannya memang tidak efisien buktinya inflasi di indonesia selalu tinggi kalau inflasi tinggi berarti kan sistemnya tidak efisien. Jadi bukan hanya masalah external ( internasional ) saja tapi internalnya juga bermasalah. Hal ini yang tidak dijelaskan bagian bagian mana yang akan diberantas untuk mencapai tujuan tersebut. Kemunculan intelektual dari PDIP juga sekarang agak kurang tidak seperti ketika jaman pak Kwik, saya pernah ngobrol2 dengan sopir taksi ternyata dulu dia memilih PDIP karena di PDIP ada pak Kwik yang dianggapnya cerdas. Jadi saya kira intelektualitas itu bisa menarik pemilih disamping tentu saja artis2, nah tinggal harus diteliti lebih efektif mana intelektualitas atau selebritas.
Tapi kalau menurut perspektif saya SBY vs Mega ini masih rame kansnya saya lihat 50-50 tergantung wapresnya siapa dulu. Kalau SBY- JK duel sama Megabuwono saya kira akan rame nih….
timur,
— 9 Januari 2009 jam 6:33 pm
Jari jemari ini sangat tajam bisa memecahbelah apa saja yang tersirat maupun tersurat, saya rasa tidak ada hubungannya antara yang baik2 untuk demokrat dan yang jelek2 untuk golkar sehingga popularitasnya menurun, itu terlalu dipotilisir.Saya dan keluarga tetap coblos golkar namun untuk presiden 2009-2014 tetap SBY-JK. untuk presiden 2014-2019 JK-Anas Urbaningrum……….Insyaallah.
Abuga,
— 9 Januari 2009 jam 6:58 pm
Karakter masyarakat kita itu masih aneh. Masyarakat yang lupa sejarah dan peristiwa masa lalu apalagi mau belajar dari mereka. Ini karena sebagian besar komposisi masyarakat kita masih sibuk bergulat dengan kehidupan hari ini. Persis ungkapan yesterday was history today is gift and tomorrow we don’t know. May be yes may be no ha…….. ha……..Contoh gamblangnya begini kalau saat ini susah makan terus ada orang yang ngasih beras ya memuji kepada yang ngasih beras. Tidak perlu ingat bahwa yang membuat kita tidak bisa makan karena sawah kita dijual oleh orang yang memberi kita beras sat ini. Kira - kira begitu Pak Pray.
Gambaran di atas juga berlaku pada partai politik kita yang suka berpikir pada saat pemilu saja. Idealnya sebagai partai besar golkar berani unjuk gigi dengan capres dan cawapres. Padahal dia punya banyak tokoh mumpuni. Nah karena berpikir sesaat saja maka impian kader dan konstituennya buyar. mereka berpikir bahwa golkar tidak gentelmen. Saya senang fenomena ini dengan demikian tenggelamnya golakr tdk memerlukan waktu lama lagi. Alangkah indahnya jika JK-Buwono tampil dari Golkar. Nah misalnya kalah saat ini kalah namanya masih harum di mata konstituiennya dan ini modal pemilu 2014. Kata Cak Nun “kudu jembar pikirane….kudu padhang rembulane…”
Mega memang kuda hitam apalagi kalau dia bisa dan mau merangkul Prabowo sebagai cawapres. Nah Prabowo ini diproyeksikan Pilpres 2014 dari PDIP. Bisa saja nanti Gerindra buyar karena tidak punya suara yg significant semua dukungan Prabowo menjadi milik PDIP. Kalau saat ini PDIP akan sulit mengegolkan jagonya melawan incumbent satu ini. Jadi harusnya berpikir setelah bu Mega itu siapa?? Krena ada 2014 bu Mega sudah tua dan itulah pertarungan yang sebenarnya ‘the road to istana merdeka’.
SBY memang oye saat ini. Lihat tampangnya saja ibu2 kesengsem jadi magnitnya luar biasa. Apalagi sebagai incumbent dia masih mempunyai membuat kebijakan yang populis. Bila dia berpadu dengan mbak Ani wa jos tenan.
Jika itung2an saya di atas benar Insya Allah kita akan memulai kehidupan demokrasi dengan parpol yang elektabilitasnya tinggi karena memang eligible dan kredible di mata rakyat. Parpol sekarang tak ubahnya pedagang sapi jadi bagi rakyat yg tidak berkepentingan mendingan golput. Wong sama saja setali tiga uang ujung2nya koalisi dan bagi - bagi posisi.
Ini itung2an wong ndeso lho Pak Pray nah terus gimana nasib Pak Wiranto, Rizal Ramli dan Bang Yos??
Salam
lemontea,
— 9 Januari 2009 jam 7:05 pm
Sebenarnya saya kecewa dengan Ibu Mega ketika ia menjadi presiden. Tapi setelah saya melihat komitmen partainya untuk menjadi oposisi dalam pemerintahan pusat, kekecewaan itu terobati. Tidak gampang lho berperan sebagai oposisi itu, tapi PDIP menjalankannya dengan baik, tidak haus akan uang dan kekuasaan dalam pemerintahan pusat. Saya akan memilih PDIP dan Ibu Mega di pemilu yang akan berlangsung ini.
uyungs,
— 9 Januari 2009 jam 8:02 pm
Menurut survei Kompas, yg diharapkan rakyat adalah capres generasi yg lebih muda. Hanya karena pilihan jawaban pada angketnya mungkin tdk mencantumkan nama2 tadi, akhirnya kembali pilihan jatuh pd SBY, Mega, Prabowo, Wiranto,Sultan, Amin dst. Dari data survei juga, mereka yg undecided kurang lebih mencapai 40 sd 50 persen. Sy kira golput akan berkisar pada angka 20-an persen, jadi masih tersisa 20-30 persen swing voters yang patut diperhitungkan oleh para tim sukses capres.
Saya pribadi sangat terkesan dg peran dan prestasi JK dalam pemerintahan koalisi ini, namun sy juga tidak tahu persisnya kenapa elektabilitasnya kok menurut survei kurang begitu mengesankan. Apakah kedekatannya dg Bakrie (dalam 2 peristiwa setidaknya: kasus lumpur Lapindo dan kasus suspensi BUMI) turut berperan dalam kecenderungan preferensi masyarakat?Namun kalau menurut analisa saya, justru positioning atau sikap Golkar yang kurang jelas dalam hal penegakan hukum, pemberantasan korupsi/KKN, reformasi birokrasi-lah yang akan terus menggerus kepercayaan masyarakat thd partai Golkar.
Jadi SBY mungkin sudah waktunya pula menimbang2 cawapres alternatif, seperti Sultan (meski kemarin ada insiden tak mengenakkan), Sutrisno Bachir, Hidayat Nur Wahid atau bahkan Sri Mulyani yang mampu mengerek kinerja ekonomi pemerintahan SBY-JK serta cukup sukses mencegah keadaan yang lebih buruk di tengah2 ancaman krisis global. Rakyat cukup menaruh perhatian pada kasus heboh BUMI Resources dan sangat apresiatif dg ketegasan dan sikapnya yang tidak ‘ngeman jabatan. Masalah popularitas dan pencitraan mbak Ani yang belum merata bergaung sampai ke pelosok2 negeri bisa disiasati dengan gencarnya iklan teve dll. Justru akan mwnjadi rival berat bagi SBY kalau Sutrisno Bachir atau Hidayat Nur Wahid (siapa pun capres yg dimunculkan oleh poros partai2 menengah) kalau Sri Mulyani dirangkul sebagai cawapresnya.
Berbeda dg pilcaleg yg lebih ideologis, pilcapres lebih diwarnai oleh sentimen masyarakat yg terbentuk oleh konteks ancaman krisis global dan harapan masyarakat terhadap terwujudnya visi Indonesia 2030 yang kadung populer. Situasi mirip2 pilcapres Amerika bisa saja terulang kembali di sini, kalau parpol2 menengah cukup cerdas membaca sentimen masyarakat pemilih. Yaitu memunculkan calon muda yg cukup kompeten, lumayan teruji dlm msalah kenegaraan dan piawai mengemas pesan2 perubahan dalam tawaran politiknya, serta bisa dipercaya omongandan janji2nya. Akankah itu harus menunggu tahun 2014? bisa saja itu terjadi dalam pemilu tahun ini! Beberapa clue-nya adalah ’sukses’ Dede Yusuf di Jabar, Khofifah (lumayan sukses) di Jatim, Dicky Chandra di Garut, Rustriningsih di Jateng, dst. Maaf Pak Pray, obrolan warung kopinya, itung2 buat obat ngantuk
Ranto Ferry,
— 9 Januari 2009 jam 10:58 pm
Apapun pilihannya …… tetep SBY FOR THE PRESIDENT 2009-2014
fadli,
— 9 Januari 2009 jam 11:11 pm
Kalau kita melihat pada tahun 2004. dimana survei 1 tahun sebelum pemilu sudah menunjukkan kemenangan SBY dibandingkan Mega. Jelas jika kita lihat kondisi sekarang masih cukup jauh buat Mega utk mengejar apalagi survei rata-rata di January masih mengunggulkan SBY lebih dari 15%. Tetapi, bagi tim partai demokrat tetap harus hati2, pemilih Indonesia terkadang pelupa. Prestasi yg sudah dibuat bertahun-tahun akan bisa hilang dalam waktu singkat. Sebaliknya, prestasi buruk orang akan terlupa dalam waktu singkat. Kondisi yg harus diawasi adalah ekonomi karena acuan utama pemilih menurut 1 survei. Harga BBM misalnya jika sampai dinaikkan maka akan memberikan kesan yg buruk dalam tahun ini. Untuk mengatasi ini, saya membaca adanya kelebihan dana dari tahun 2008 sebesar 50 trilyun. Sebaiknya, dana ini digunakan sebagai buntalan untuk mengatasi pergerakan BBM. Jika tidak ada kejadian atau kebijakan kontroversial kemungkinan besar SBY di 2009.
Relax,
— 9 Januari 2009 jam 11:59 pm
Klo aq udah punya pilihan.Yg jelas aq gamau pilih calon presiden yg skr jdi mantan presiden yg waktu pemerintahanya bnyak menjual aset negara.Kabinetnya bnyk yg korupsi bagi2 uang,kurang tegas.Yg ku pilih clon presiden yg sehat jasmani rohani.Tdi cuma main komentar dan merem melek.
prayitno ramelan,
— 10 Januari 2009 jam 12:09 am
@Ojodumeh, terima kasih atas tanggapannya, pokok bahasan dan analisa-analisa yang berada dijalur netral saat ini dirasa sangat diperlukan, agar kita bersama terbiasa mengikuti perkembangan dunia perpolitikan menjelang akan dilaksanakannya pesta demokrasi dinegara kita tercinta. Saya setuju, harus fair, yang penting semuanya demi kemajuan bangsa ini. Salam>Pray.
@Aramichi, saya suka kalau anda menanggapi, bagus menambah lengkap topik bahasan, rajin baca ya?Kalau orang suka dengan masalah politik, harus suka membaca masalah politik, dan perkembangan yg ada. Saya memang khusus mengangkat topik PDIP dan Partai Demokrat, karena ini dua parpol nasionalis yang segmennya luas, sehingga peluang menangnya juga besar. Khusus pemilih dari kalangan minoritas, saya melihat dua hari yang lalu dibahas di Metro TV bahwa PDIP merupakan pilihan pertama dari golongan minoritas, pilihan kedua adalah Partai Demokrat. Jadi memang kedua parpol ini bertanding dengan pola yang sama. Hanya PDIP saya pandang lebih luwes dan menggigit, karena Ketua Umum Parpolnya yang turun langsung ke Masyarakat bawah, sedang di Demokrat, SBY bukan Ketua Umum, tapi Ketua Dewan Pembina, sehingga kalau disandingkan PDIP akan jauh lebih unggul dalam persaingan dilapangan. Dilain sisi SBY tidak bisa mendekati konstituen saat ini karena jabatannya sebagai presiden yang harus berdiri disemua golongan. Nah, hal-hal yang sepertinya sederhana, kecil seperti ini biasanya kurang diperhatikan, tapi nanti pada saatnya akan mempunyai efek yang besar saat pemilu ataupun pilpres. Saya hargai perspektif anda bahwa kans SBY-JK masih sama, dan tergantung siapa cawapresnya….kembali PDIP menurut saya lebih confident akan menentukan cawapresnya Mega pada akhir Januari. Hal prinsip yang akan lebih menguntungkan dalam mensosialisasikan. Demikian Aramichi.Salam>pray.
@Mas Timur, terima kasih pendapatnya. Justru akhir-akhir ini diantara elit parpol Demokrat, Golkar serta beberapa parpol pendukung pemerintah saling mengklaim bahwa keberhasilan pemerintah karena disebabkan dukungan parpol-parpol tersebut. Hal ini wajar, karena mendekati pemilu, masing-masing parpol harus menunjukkan apa kinerja mereka yang dinilai membawa kebaikan bagi rakyat. Dengan tidak terasa mulai timbul persaingan diantara parpol2 tersebut, termasuk antara Golkar dan Demokrat. Yang perlu diingat bahwa parpol penguasa adalah Partai Demokrat, Golkar adalah parpol pendukung, yang kadang-kadang justru memprotes pemerintah. Kasus Pilkada Maluku Utara adalah contoh yang jelas. Terlebih ditubuh Golkar kini terdapat Faksi Surya Paloh yang menginginkan Golkar bergabung dengan PDIP, belum lagi ada kelompok muda dengan Yuddy Chrisnandy, ada lagi pendukung Sri Sultan, Marwah Daud, Fadel, Ginanjar. Ini semua merupakan kemelut diinternal Golkar yang menjadi pekerjaan rumah JK. Demikian ya Mas Timur, saya mencoba mengingatkan dan membuka sebuah pandangan saja, intinya didalam kita berpartai semuanya berawal dari sebuah kepentingan ini yg menjadi pegangan, tidak ada koalisi yang abadi, yang mutlak adalah kepentingan partai itu sendiri. Saya menghargai keyakinan Mas Timur yang akan tetap memilih Golkar, dan semoga saja seperti yg anda harapkan bahwa SBY akan tetap bersama dengan JK. Saya hanya memberikan analisa “worst condition” kepada Partai Demokrat, istilahnya agar tidak terkena pendadakan apabila hal itu memang terjadi. Begitu ya Mas Timur.Berbahagialah Golkar mempunyai pemilih setia seperti anda. Salam>Pray.
@Abuga, apa kabar?. Tanggapan-tanggapan anda itu bagus-bagus, mengalir enak…kenapa kok tidak membuat artikel, tentang Doha, ATP, Gulf sport atau apa saja, kan menarik. Nah kalau ungkapan anda “yesterday was history, today is gift and tomorrow we don’t know”, maka saya juga punya ungkapan nih “tomorrow not today hear the lazy people say”. Kalau anda berkaitan dengan beras dan sawah…maka saya mengungkapkan bahwa banyak dari kita itu yang malas, bagaimana besok aja deh, kira2 begitu. Nah seperti yg anda katakan terkait denganpemilu, banyak yang malas dan tidak peduli dengan pesta demokrasi ini. Oleh karenanya saya sangat hormat kepada para penanggap tulisan saya, kok ternyata masih ada yang peduli ya….?Seperti yang anda katakan, Golkar ini sayang, ini tidak mempunyai tokoh kuat sebagai capres, terkesan hanya mau jadi cawapres saja. Saya pada tulisan terdahulu saya uga mengutarakan kalau Mega lebih baik mengambil Prabowo sebagai cawapresnya….SBY yang mantan Jenderal, harus diimbangi dengan Jenderal juga, kalau Mega mengambil sipil, maka rakyat bisa menilai kalah “bobot”. Sementara begitu dulu ya Abu.Salam>Pray.
@Lemontea…wah beruntung PDIP mendapat pendukung baru nih. Memang masyarakat bersimpati kepada parpol atau Capres dengan banyak cara…diantaranya seperti yang terjadi pada Lemontea, simpati kepada konsisten sebagai oposisi. Salam deh Lemontea.>Pray.
@Mas Uyung, terima kasih pendapatnya. Kadang hasil survei tidak sesuai dengan keinginan. Untuk Golput kelihatannya akan lebih besar dari 20%, bahkan ada yang memprkirakan bisa mencapai 50%, kecuali seperti di AS, kharisma Obama telah meningkatkan jumlah pemilih yang tadinya Golput. Mudah2an di Indonesia juga para Golput juga berfikir lebih poitif, kalau bukan kita yang menyukseskan pesta demokrasi itu, terus siapa lagi kan?. Tentag SBY, semua kebijakan Partai Demokrat tentang pilpres akan ditentukan kelihatannya bulan Mei 2009, setelah ada hasil pemilu. Kok sepertinya “mepet” ya, tapi saya kira hal ini sudah diperhitungkan. Kalau untuk tahun 2009, kelihatanya masih berat calon muda akan muncul, karena kemungkinan koalisi alternatif, para capres yang akan muncul ya masih yang tua-tua. Ada beberapa misalnya Amin Rais, Sutrisno Bahir, Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, Sutiyoso, Din Syamsudin, Hidayat Nur Wahid, yah paling-paling yang itu-itu juga ya…agak beda dengan Pilkada yang persyaratannya ringan. Bayangkan parpol-parpol harus berkoalisi untuk memenuhu syarat 20% kursi DPR atau 25% suara sah nasional. Saya kira begitu ya Uyung.Obrolan warung kopi kita ini enak bukan, karena kita berdiskusi dengan santun…jadi nyaman kan.Salam>Pray,
Novrita,
— 10 Januari 2009 jam 11:08 pm
Kelebihan sebagai incumbent adalah jika memang membuat kebijakan yang populis akan segera di respon positf, namun sebaliknya jika kebijakannya dianggap kurang sesuai dengan harapan rakyat tentu saja akan langsung drop.. Begitu juga sebagai pesaing terberat (kalau bisa dibilang seperti itu), Megawati dengan posisi sebagai ketua umum dan sentral PDIP bisa memanfaatkan sisi kelemahan incumbent.Jika kita hanya berbicara tentang SBY versus Megawati..(dengan asumsi bahwa untuk sementara yang lain dikesampingkan dulu), memang keduanya harus memainkan strategi yang cantik. Terlalu menohok kelemahan pesaing akan menampilkan kesan tidak bisa kooperatif dan kurang dewasa. Namun memanfaatkan celah kelemahan adalah suatu manuver yang bisa langsung mengena. Jadi musti pintar melemparkan kritik sebagai bagian untuk mempromosikan diri serta menawarkan solusi demi menghadirkan simpati.Gerak SBY kelihatannya lebih enak karena apapun kebijakannya akan langsung diserap dan direspon, tapi ya itu sedikit saja salah maka respon publik langsung menghujam. Selama ini menurut saya SBY cukup hati-hati dan berhitung dalam setiap kebijakannya, terlebih menjelang pemilu ini. Beliau cukup sadar bahwa saat ini adalah sebagai presiden RI.Megawati sebenarnya lebih enak, karena apapun yang dilakukan atau statement yang diikeluarkan, adalah seratus persen sebagai ketua umum PDIP. Beliau boleh dan sah mengenakan atribut PDIP. Sedangkan SBY untuk saat ini adalah seorang presiden RI, yang tidak bisa setiap saat mengeluarkan statement atau bertindak membawa bendera Partai Demokrat.
Ketika masing-masing bisa memahami posisi dan tahu batas-batas kepantasan, tentu pertarungan akan semakin seru. Dan disinilah pembelajaran politik bagi rakyat Indonesia, ketika para tokoh utama dari panggung demokrasi berlaga secara ’sportif’.Wah..pak Pray.. bahasa perumpaaan saya apa tidak terlalu amburadul nih..? Saya sekedar menyampaikan komentar yang ada saja sih.. Mohon dikoreksi ya..
prayitno ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 5:32 am
Novrita, terima kasih tanggapannya, memang menarik kompetisi antara keduanya, karena yg satunya presiden, yg satunya mantan presiden. Yang satunya mempunyai fasilitas yang satunya tidak punya. Megawati bebas bergerak dan membawa bendera partai, sementara SBY tidak bebas karena masih menjadi presiden. Jadi itulah kondisi dunia perpolitikan di negara kita. Memang sebaiknya seseorang kalau duduk atau menjabat sebagai presiden atau wakil presiden sebaiknya melepaskan jabatan di parpolnya. Bagus istilah yg disampaikan, kalu masing2 memahami posisi dan tahu batas2 kepantasan….Jadi kita tunggu perkembangan politik lebih lanjut yang saya kira akan semakin ramai dan bersemangat ya. Salam.Pray
mahendra,
— 11 Januari 2009 jam 9:49 am
selamat pagi pak pray,wah dari kemarin persaingan yg seru baru 2 orang ini ya? terus yang lain belum ada kabarnya ya? pak rizal ramli itu kayaknya kok terkesan di dzalimi? dijadikan tersangka atas demo rusuh menuntut penurunan bbm, wah jangan-jangan nanti malah jadi kuda hitam juga nich, bisa melonjak tuh popularitasnya. saya juga percaya kemampuan beliau untuk menjadi capres, beliau sepertinya memiliki visi n misi yang cemerlang. mudah2an saja bisa maju jadi capres. kalo cuma 2 orang itu saja mending enggak dech,,,udah pernah semua. apakah begitu pak pray??salam.
Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 11:48 am
Mas Mahendra, maaf baru balas nih, dari td pg sibuk terus…maklum sbg ketua Er-Te dikomplek harus buat acara temu warga, meningkatkan rasa kekeluargaan, agar tercipta rasa saling menghormati dan memperhatikan, maklum di ibukota banyak yg tidak saling mengenal…individualis gitu kan. Nah ke pokok bahasan, Rizal Ramli ya bisa saja maju, hanya keberanian dan keyakinan saja rasanya kurang cukup kali ya, saya pikir pemilu dan pilpres masa kini sangat berat, baik bagi caleg maupun capres-cawapres. Semakin maju dan diatur UU-nya oleh partai besar. Jadi nanti yang kemungkinan akan sukses, caleg yang terkenal atau yg punya uang….dia tinggal di Ibukota tapi nyalegnya nun jauh disana, bagaimana mau dipilih, rakyat saja tidak kenal. Yg untung ya artis2 itu sudah “beken” dan punya penggemar, seperti Eko Patrio mungkin akan masuk ke parlemen. Demikian juga untuk capres, Rizal itu sulit melawan SBY atau Mega, ia harus didukung aturan yg 20% atau 25% itu, partai apa yg bisa diyakinkan?Karena parpol2 juga mempunyai calon sendiri kan. Tapi bisa saja nanti ada capres alternatif (entah siapa) kira2 akan terlihat setelah ada hasil pemilu legislatif. Amin Rais mengatakan siap maju melalui poros penyelamat bangsa, terus siapa yg mau dukung? Hidayat Nur Wahid sudah punya elektabilitas, tapi PKS mau koalisi dengan siapa?Sri Sultan yg elektabilitasnya cukup tinggi, apakah Golkar mau mendukungnya?Wiranto?Prabowo?Din Syamsuddin?Sutrisno Bahir?Jadi gambaran capres ketiga harus nunggu ya Mas. Kalau parpol2 menengah berfikir sudah koalisi saja dengan yg kuat, maka kelihatannya hanya akan ada dua capres. Sangat mungkin kasus Pilkada DKI bisa terulang, mayoritas parpol bergabung disatu sisi, dan ada dua atau tiga parpol menjadi kompetitornya. Demikian Mas Mahendra perkiraan saya. Mau tidak mau, suka tidak suka bisa terjadi seperti itu. Nanti di 2014 baru ramai dengan para calon yg muda2, rame tuh. Rasanya jd ingin cepat2 pemilu nih…Salam ya. Pray.
ibas,
— 11 Januari 2009 jam 12:20 pm
Selamat Siang pak Pray,Senang sekali membaca ulasan-ulasan anda, mungkin saya agak melenceng dari apa yang di bahas anda saat ini.Saya hanya tergelitik mengenai keputusan MK tentang calon terpilih anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota menggunakan suara terbanyak. Kalau bisa Pak Pray ulas secara mendalam mengenai keputusan ini, dampak apa saja yang mungkin terjadi pada masa depan perpolitikan kita. Saya jadi berpikir, dengan keputusan ini maka di masa yang akan datang jumlah partai politik di Indonesia akan lebih sedikit, karena orang tidak lagi perlu mengejar nomor urut dan saya kira fungsi DPD sudah tidak perlu lagi, toh anggota DPR RI yang terpilih berdasarkan suara terbanyak sudah merupakan presentasi masyarakat di daerah. Karena tidak mungkin seseorang terpilih menjadi anggota DPR RI apabila tidak mempunyai basis masa yang luas di daerah pemilihannya seperti masa lalu.Salam.
Prayitno Ramelan,
— 11 Januari 2009 jam 5:30 pm
Mas Ibas, entah umur anda berapa saya pangggil Mas saja ya, karena sy sudah simbah2 nih, biasanya kalau memanggil anak terkecilpun dengan tambahan Mas. Saya kira anda juga bukan putranya pak SBY yg terkecil, Eddy Baskoro, panggilannya juga “Ibas”. Saya senang dan bersyukur kalau anda suka dengan ulasan2 yg saya buat, karena tujuannya sebagai sumbang pemikiran saja tentang gambaran politik dinegara kita, tanpa ada rasa keberpihakan sedikitpun. Itu ya Mas Ibas posisi saya. Tentang keputusan Mahkamah konstitusi tentang menggunakan suara terbanyak yang menggantikan nomor urut, wah ini jelas menggentarkan para caleg2 yang sudah didaftarkan akan maju.
Pengaruhnya sangat2 besar, karena selain caleg suatu parpol bersaing denga caleg parpol lain, juga terjadi persaingan diinternal parpol itu sendiri. Mereka juga agak gentar menghadapi persaingan popularitas dengan artis-artis politik. Bahkan muncul pendapat kalau mereka nanti jadi, maka mereka merasa suksesnya bukan karena parpolnya, tapi karena upayanya sendiri. Nah bisa kesetiaan kpd parpolnya bisa tidak 100%, karena yg dikejar adalah posisi jabatan, fasilitas yg dia terima, belum lagi mungkin saja ada target harus mengembalikan modal yg sudah dikeluarkan…ini gosip2 sih. Nanti deh mungkin suatu saat bisa diulas lebih jauh ya.
Jumlah parpol pada masa mendatang saya kira kemungkinan juga akan semakin sedikit, karena UU yang dibuat demikian beratnya bagi sebuah parpol untuk dapat terus eksis. Tentang DPD saya kira akan tetap ada, karena UU menentukan demikian, DPD adalah bagian dari Trias politika dalam fungsi legislatif disamping MPR dan DPR, kita kan juga meniru faham demokrasi dinegara Barat sana, ada senat dan kongres. Walaupun topik bahasan bukan tentang DPD, tidak ada salahnya deh kita refresh sedikit tentang DPD ya :
Dewan Perwakilan Daerah (disingkat DPD) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang anggotanya merupakan perwakilan dari setiap provinsi yang dipilih melalui Pemilihan Umum. DPD memiliki fungsi : Pengajuan usul, ikut dalam pembahasan dan memberikan pertimbangan yang berkaitan dengan bidang legislasi tertentu. Pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang tertentu. Anggota DPD dari setiap provinsi adalah 4 orang. Dengan demikian jumlah anggota DPD saat ini adalah 128 orang. Masa jabatan anggota DPD adalah 5 tahun, dan berakhir bersamaan pada saat anggota DPD yang baru mengucapkan sumpah/janji.
Tugas dan wewenang yang penting menurut saya adalah “Mengajukan kepada DPR Rancangan Undang-Undang yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran, dan penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam, dan sumber daya ekonomi lainnya serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. DPR kemudian mengundang DPD untuk membahas RUU tersebut.”
Oleh karena itu karena karena sistem di Indonesia sudah menentukan demikian, maka untuk menghilangkan fungsi DPD kelihatannya akan sangat sulit, rapat2nya pasti lamaaaa sekali….itu posisi yang bagus juga kan?. Saya kira demikian ya Mas Ibas. Salam.Pray.
anto,
— 12 Januari 2009 jam 12:18 pm
Selamat siang Pak Pray..Kalo menurut saya pak, karakter kita nih biasanya suka “heboh” di saat-saat terakhir..Kalo ada ujian belajarnya sistem kebut semalam, bikin tugas juga suka deket-deket batas akhir, nyampaiin spt mepet 31 maret, yang terbaru kemarin Sunset Policy nya DJP heboh di akhir tahun sampai akhirnya diperpanjang…Saat pemilu nanti juga saya yakin akan terjadi hal seperti ini, siapa yang hebat di saat-saat terakhir dialah yang menjadi pemenang…Saya sendiri sih lebih berharap yang paling “heboh” itu KPU pak pray. Berkampanye agar setiap orang berlomba-lomba menggunakan hak pilihnya. Jadi setiap orang sadar bahwa dengan hak pilihnya dia bisa menentukan nasib negaranya.Maaf pak pray, hanya pendapat pribadi, terinspirasi dari filmnya Kevin Costner, “Swing Vote”
Prayitno Ramelan,
— 12 Januari 2009 jam 5:20 pm
Mas Anto, Selamat sore…baru bisa balas nih, bagus sekali pendapatnya tu…Iya betul, kalau kampanye jelas akan heboh saat-saat terakhir, karena banyak yang berfikir itulah saat yang paling tepat, tapi ada yang lupa bahwa sesuatu yang terburu-buru didunia perpolitikan bukan cara yang tepat. Kini masyarakat lebih “melek” politik, sejak keran kebebasan dibuka, secara tidak sadar bangsa ini memiliki kemajuan, ya belajar politik, belajar dari globalisasi, belajar neoliberalisme, belajar menjadi kapitalisme, belajar berdemo, belajar merubuhkan pagar, belajar bakar ban, mogok makan…pokoknya belajar macam-macam. Oleh karena itu, kalau para elit parpol waspada, pembentukan citra dan opini tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang sangat pendek, tetapi butuh waktu yang lama. Apa yang akan dilihat rakyat pada akhirnya…konsep capres itu, nah kalau tadinya tidak pernah bicara dan mempraktekkan konsepnya…maka rakyat akan bisa menterjemahkan…partai ini pasti hanya akan membohongi saja, janji manis saat pemilu, tujuannya merebut kekuasaan. Saya setuju sekali agar KPU yjuga harus heboh, bagaimana meminimalisir Golput. Saya belum nonton Swing Vote nya Kevin Costner tu..bagus ya??Saya pernah membuat artikel tentang Golkar, karena terispirasi filmnya Kevin Costner “The Bodyguard”. Begitua dulu ya Anto.Salam>Pray.
nda ndot,
— 12 Januari 2009 jam 10:40 pm
malem pak Pray,
wah akhirnya sempet juga nulis komen nya.memang sampai saat ini bisa dibilang hanya megawati satu2nya capres penantang incumbet yang paling poluper dibanding kandidat lain. nama besar bung karno dan ter-kuyo2 nya mega di masa orde baru adalah faktor terbesar yang menyebabkan mega mendapat tempat di masyarakat. terlebih lagi trade mark pdip sebagai partai wong cilik adalah faktor lain, meski trade mark ini bisa dikatakan hanya label saja.
dalam suatu course tentang cross culture, saya mendapati bahwa masyarakat indonesia adalah “masyarakat masa lalu” yang senang mengenang kebesaran masalalu. kejayaan majapahit, kebesaran sriwijaya, darah biru, anak si anu, keturunan si itu dsb. begitu bangganya pada masa lalu sering kita lupa bahwa kita tidak sejaya majapahit, tidak sebesar sriwijaya, si anu tidak sehebat buyutnya dsb. bahkan ada orang yang berani mengajukan diri menjadi pemimpin bangsa ini hanya karena dia menikah dengan cucu salah satu pahlawan besar negeri ini….!!!
mestinya kita lebih rasional, bahwa yang dihadapi bangsa ini adalah krisis multidimensi yang tak berkesudahan, yang kita butuhkan adalah pemimpin yang benar2 tangguh dan berkomitmen pada rakyat.
kans megawati akan tetap besar mengingat kultur masyarakat kita. akan tetapi seiring makin cerdasnya masyarakat kita, tentu ini akan menjadi tantangan sendiri untuk megawati dan pdip nya. mega harus mampu meyakinkan publik akan kapabilitasnya yang banyak diragukan berbagai kalangan. tak kurang, wapres JK menyatakan salah satu sebab kekalahan mega pada pemilu 2004 adalah kurangnya mega tampil di debat publik. bahkan prof. tjipta lesmana dalam bukunya, “dari soekarno sampai sby : intrik dan lobi politik para penguasa” mengungkapkan bahwa daya konsentrasi mega dalam berdiskusi yang menyangkut rakyat atau pekerjaan nya sebagai presiden sangatlah terbatas. mega justru lebih tahan jika ngobrol masalah shoping dan berkebun.jika ini masih terjadi, maka tak ada gunanya popularitas kosong yang bersandar pada kebesaran masa lalu. sekali lagi, sekarang kita butuh pemimpin tangguh, karena tantangan ke depan makin berat, dan kita menggantungkan harapan, bahkan hidup kita pada pemimpin yang kita pilih.
oleh karena itu, mega dan pdip harus membuktikan kepada publik bahwa ia memang layak memimpin negeri ini karena ia capable, mampu melaksanakan tugas2 mahaberat sebagai pemimpin negeri yang carut marut ini.
Prayitno Ramelan,
— 13 Januari 2009 jam 6:41 pm
Nda Ndot, terima kasih tanggapannya, memang selama ini banyak fihak selalu mengatakan bahwa Mega itu kurang capable, kurang bisa bicara, nah dia pernah muncul di Kick Andy, mencoba mengatakan inilah aku…menurut saya boleh juga beliau menjawab pertanyaan2 berat dari Andy Noya. Memang yang sebaiknya kita pilih adalah pemimpin, kita bukan mau memilih seorang rektor universitas kan yg harus bergelar ini dan itu. Tapi kita akan memilih seorang pemimin yang bijaksana, mengerti tentang permasalahan bangsa ini dan pemimpin yang bisa mengambil keputusan bagaimana yang terbaik. Jelas pemimpin sebuah bangsa tidak akan mampu menguasai semua masalah kan, seorang ekonom belum tentu mampu apabila kita ajak berdiskusi mengenai masalah politik. Saya pikir ya Nda Ndot (kok lucu sekali sih namanya?), kita harus memilih pemimpin, mau tidak mau siapa nanti yang akan maju, itulah pilihan yang harus diambil, pemimpin yang mampu memimpin, kalau yg ahli ya dipilih dari para ilmuwan disini. Nah, nanti katanya akan ada acara debat terbuka atau apalah, semacam pemaparan visi, misi….disitu akan terlihat, siapa calon yang pantas menjadi pemimpin, paling tidak dia tahu apa masalah mendasar dari bangsa ini, dan bagaimana konsepnya. Dia tdk usah menerangkan sampai detail angka-angka….tapi mengetahui semua masalah baik IPOLEKSOSBUD Hankam, kalau dia tidak faham secara garis besar….ya forget it kali Ndot. Salam>Pray.

Jumat, 09 Januari 2009

Mega Mulai Mengimbangi SBY


Oleh : Prayitno Ramelan - 20 Desember 2008

Sumber : kompasiana,com- Dibaca 751 Kali
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang disampaikan oleh Denny JA pada (19/12) menyebutkan bahwa PDIP kembali menempati posisi sebagai partai pilihan rakyat nomor satu dengan 31,0%, Partai Demokrat di posisi kedua dengan 19,3% dan Partai Golkar diposisi ketiga mendapat 11,9%. Menurut Denny, kini muncul persepsi negatif terhadap SBY dalam bidang ekonomi, masyarakat yang merasa ekonominya semakin sulit lebih banyak (35,2%) dibandingkan yang merasa ekonomi semakin baik.

Lebih khusus muncul ketidak puasan masyarakat dalam pemenuhan terhadap sembako yang harganya semakin mahal. Sekitar 63% masyarakat menganggap pemerintahan SBY gagal dalam pemenuhan kebutuhan atas sembako. Selain itu responden juga menyatakan kecewa terhadap pemenuhan kebutuhan atas kesempatan kerja yang dianggap tidak berhasil (61,4%), yang mengganggap berhasil 33,7%. Pemerintahan SBY dianggap berhasil di bidang kesehatan (74,1%) dan pendidikan (68,3%). Kepuasan tertinggi dibidang keamanan (75%), bidang hukum (68%).Dibidang ekonomi kepuasan hanya 36,7%, yang tidak puas 59,5%. Dalam bidang ekonomi ini popularitas SBY mengalami defisit kepuasan hingga 22,8%.
SBY dinilai masih mendapat apresiasi positif dari publik sebagai presiden pilihan apabila capresnya hanya berdua dengan Megawati. Jika calonnya hanya dua maka sebanyak 42,9% publik akan memilih SBY, sementara Megawati dipilih oleh 40,7%.
Dari data survei Lingkaran Survei Indonesia tersebut terlihat bahwa PDIP dengan mengiklankan masalah sembako murah telah kembali terangkat keposisi teratas hingga 31%. Rekor ini dinilai cukup tinggi dan positif dalam persiapan menghadapi pemilu 2009 nanti. Sementara Partai Demokrat dengan perolehan yang memperoleh dukungan 19,3% semakin memperlihatkan kelasnya untuk mencoba merebut posisi sebagai parpol papan atas. Partai Demokrat terlihat mulai menggeser kedudukan Partai Golkar yang mulai terpuruk ke posisi ketiga agak jauh dari posisi kedua.
Sementara ini diperkirakan kemungkinan keterpuruknya Golkar disebabkan karena timbulnya konflik internal, dimana ada empat kadernya yang mencalonkan diri sebagai capres diluar struktur partai. Para pemilih kini terlihat jenuh dengan konflik pada parpol, yang jelas menurunkan pencitraan. Suatu hal yang perlu dilakukan Golkar untuk mendongkrak suara adalah dengan mengimbangi upaya mengiklankan partai di media massa. PDIP dan Demokrat yang secara konsisten sudah bermain disektor iklan sejak beberapa waktu belakangan ini terlihat lebih menonjol dan stabil.
Dalam masalah pemilihan calon presiden, Megawati yang apabila diadu secara “head to head” dengan SBY walaupun masih kalah, terlihat mulai mengimbangi. Kerawanan SBY yang perlu mendapat perhatian terletak pada turunnya kepuasan publik atas masalah ekonomi, karena menurut survei LSI publik menganggap isu pentingnya kesejahteraan ekonomi mencapai 72,7%, isu korupsi (hukum) hanya 12,5% dan isu keamanan hanya 4,1%. Dengan kondisi perekonomian global yang diperkirakan akan semakin sulit, menurut pengamat ekonomi juga akan berimbas kepada perekonomian Indonesia, maka isu ini sangat perlu mendapat perhatian utama dari kubu SBY. Menurunnya dukungan publik terhadap SBY dalam masalah ekonomi akan menaikkan dukungan terhadap Megawati yang mulai lebih taktis mensikapi perkembangan situasi.
Pemilu masih tersisa sekitar tiga bulan lebih, kini mulai terlihat gambaran persepsi kekuatan parpol yang akan menduduki papan atas dan kekuatan capres yang sementara ini masih didominasi oleh dua kubu SBY dan Megawati yang masih ketat dalam persaingan. PDIP terlihat mulai lebih menemukan “ritme” baik menghadapi pemilu legislatif maupun pilpres. Mendatang, kubu yang pandai dan piawai dalam membaca perkembangan situasi dan mengangkat “kunci” melalui media massa lah yang akan memenangkan peperangan. Kunci tersebut adalah “masalah perekonomian”.
PRAYITNO RAMELAN.Guest Blogger Kompasiana.
20 tanggapan untuk “Mega Mulai Mengimbangi SBY”
ayi,
— 20 Desember 2008 jam 3:00 pm
ah Ibu, semakin memahami tebar Pesona yang ibu ciptakan sendiri, inget dong zamannya ibu mega jadi presiden ?Iklan Sembako murah akan jadi obral mual aja ..kebiasaan PDIP kan begitu.Saat ini masih blm ada yg lebih baik daripada SBY, aku nunggu yg lebih baik kalo ada.daripada bu Mega… mendingan milih bu RT saya, orangnya jujur ndak kayak ibu.
ari,
— 20 Desember 2008 jam 6:02 pm
Ah ibu Mega belum pernah terlihat cerdas saat berbicara. Hanya bicara tolong pilih yang cantik saja. Coba sekali-kali bicara ekonomi, teknologi or rencana masa depan buat Indonesia.
adi,
— 20 Desember 2008 jam 6:21 pm
lebih baik sby, ha ha ha ha ha, bagiku ngak ada yang lebih baik, baik sby maupun mega,gusdur ataupun habibie, dan terutama suharto, ngak ada yang lebih baik, mereka sama2 jelek di maataku
Junanto Herdiawan,
— 20 Desember 2008 jam 6:46 pm
Pak Prayit, ini sebenarnya yang menjadi ciri khas pemilih kita. “Easy to forget and forgive”. Mungkin mbak Ayi banyak benarnya. Suasana kekinian yang dibangun melalui harapan dalam iklan, kata-kata, dan janji, lebih mengedepan ketimbang mengingat hal-hal nyata yang pernah ada di masa lalu. Mungkin ini yang dimaksud para psikolog dengan “psychological present tense”. Secara psikologis kita selalu berada di suasana masa kini, tanpa punya konteks histori dan visi. Mega sudah pernah jadi presiden, Gus Dur juga sudah pernah jadi presiden, dan SBY saat ini presiden. Rasionya kita sudah bisa membaca karena semua ada. Menurut hukum alam, tak akan jauh hasilnya nanti. Tapi pak, inilah realita kita di jaman serba bungkusan. Seperti kata bapak, membaca perkembangan situasi dan mengangkat “kunci” melalui media massa lah yang akan memenangkan peperangan. Bukan hanya “kunci”, tapi “media massa” melalui periklanan menjadi penting, terlepas dari apa yang dikerjakan. Mudah-mudahan siy tidak begitu ya pak. Kita mencari pemimpin yang bukan hanya bungkusan, tapi juga yang dalemnya bagus. Kalau tidak, Indonesia hanya akan sekedar utopia…
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 7:09 pm
@Ayi, pada saat ini sedang musim kampanye…jelas semua partai akan membeberkan semua terbaik apa yg bisa mereka berikan dan janjikan pada m,asa mendatang…itulah relita dinegara kita, nanti saja kita lihat, siapa yg menang…apakah benar atau seperti lagu lama yg berbunyi “janji palsu belaka, manis dimulut saja, pandai mainkan lidah”…semoga tidak begitu harapan kita ya. Mari kita doa bangsa ini akan mendapat pemimpin terbaik yg mendapat ridho dan perlindungan Allah SWT. Tks ya tanggapannya>salam>Pray.
@ Yunanto, tks koment nya. saya setuju, kalau pemimpin akan sulit berubah, karena masing2 mempunyai kepribadian, habbit, karakter yg sudah terbentuk dan dimilikinya sejak dia kecil. Jadi ya kira2 akan tidak jauh plus minusnya kalau dia nanti menang pada 2009, kecuali ada sebuah stimulus yang demikian mempengaruhinya, baru dia akan berubah. Ttg kunci yg saya sebutkan tadi, adalah sebuah realita, dalam konteks pertempuran demi pertempuran yg harus dimenangkan oleh masing2 parpol, hanya menilai saja kok Yun,sebagai pihak luar yg ikut mengamati dan mencoba membahas, dimana letak kuncinya agar para petarung lebih mawas diri dan waspada….Yg kuat di media massa yg akan mendominasi, karena inilah perkembangan dan kemajuan jaman. Memang saya setuju sekali yg kita cari adalah pemimpin yang benar2 mampu, mempunyai dedikasi, loyalitas, pengabdian, rela berkorban, berjanji kepada dirinya dan Tuhan akan membawa bangsa ini menuju ke cita-cita luhur, makmur dan sejahtera…kembali saya tulis nij..gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo. Gitu ya…Salam>Pray.
lufki,
— 20 Desember 2008 jam 7:10 pm
Saya setuju dengan 2 saudara di atas…kalau kita mau jujur sama diri kita sendiri tanpa di campur adukkan dengan isu politik dan saya sendiri bukan orang dari partai manapun. dari Presiden kita yang pertama sampai yang sekarang bisa dilihat secara riil dan konkrit hasil kerja mereka masing2. dan saya melihat kalau Presiden kita yang sekarang masih lebih baik dari para pendahulunya terutama maaf kalau saya berterus terang..jauh lebih baik dari kepemimpinan Gusdur dan Mega dulu. yang hanya bisa ngomong dan mengkritik tetapi ketika dihadapkan dengan masalahnya malah bingung sendiri dan lupa sama janji2 mereka waktu kampanye sebelum jadi Presiden. jadi untuk saya biarkan Presiden kita yang sekarang ini yaitu SBY untuk menyelesaikan Semua Program2 serta Visi dan Misi yang di Rancang sedemikian rupa yaitu 4 tahun mendatang..dan walaupun saya tidak bisa membaca hati dan pikiran Presiden SBY tapi saya merasa bahwa beliau lebih serius, bersih, tegas, bijaksana, dan tenang dalam menyesaikan berbagai masalah di negara yang kita cintai ini dan yang lebih utama dia selalu mengutamakan takut TUHAN…Insya Allah kalau Pemimpin kita takut TUHAN mereka akan lebih hati2 dalam menjalankan Amanat dari Rakyat indonesia ini yang akan dipertanggung jawabkan di AKhirat nanti…sekali lagi saya tekankan saya ini bukan orang partai demokrat saya hanya melihat hasil kerja para presiden kita yang dulu dan sekarang dan saya juga saat ini sedang berdomisili di USA dan banyak juga saudara2/i kita disini merasa lebih puas dan percaya dengan kepemimpinan SBY..
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 7:35 pm
@Ari, Nah Ari nanti ada waktunya pada saat acara debat menjelang pilpres, setelah pemilu legislatif, kita tunggu dan lihat bagaimana ya. Tks ya.Pray
@Adi, saya percaya ini mesti golput, ya kini sih boleh menurut UU, memilih untuk tidak ikut memilih, tapi kalau nanti dinyatakan golput “haram” wah…, mosok jadi golput mesti masuk neraka ya. Pray.
@Lufki yg di AS, terima kasih tanggapannya. Memang kalau kita menilai kemampuan presiden SBY, terlebih saat berada di luar negeri wah presiden kita ini bisa dibanggakan, bahasa Inggrisnya faseh, mampu bergaul dan menempatkan diri dalam pergaulan internasional. Pendek kata pinter…tapi ya Lufki pada kenyataannya rakyat kita yg memang membutuhkan pemimpin pintar, kebanyakan justru konstituen berada dibawah garis rata2 pendidikan, maksudnya banyak yg kurang melek huruf dan kurang melek politik. Merekalah ini yg akan menentukan dan memilih siapa pemimpin kita dimasa mendatang. Jadi kita harus mendasarkan kepada realitas yg ada ya Lufki,kondisinya memang begitu. Kini ada dua calon terkuat, SBY dan Mega, dan masing2 punya strategi pemenangan sendiri2. Jadi kita sebagai orang yg tidak terlibat langsung akan melihat perjalanan bangsa ini pada th 2009. Saya di Kompasiana hanya berdedikasi memberikan sebuah informasi dan sedikit analisa sedikit dari kemampuan saya, dengan tidak memihak, “jujur”, agar para netter dan pembaca dimanapun berada mempunyai gambaran tentang situasi yang sedang berlangsung, tanpa informasi, artinya kita berjalan dilorong yg gelap, bisa kesasar tuh…Itu saja kok Lufki, dengan harapan semoga isi Kompasiana ini bermanfaat bagi kita semua…saya melihat apa yg saya kerjakan sebagai bagian dari ibadah saya pada usia senja ini. OK, salam>Pray.
Novrita,
— 20 Desember 2008 jam 9:15 pm
Waduuh..waduuh.. baru lihat dari hasil survei saja kok sudah banyak yang mencela bu Mega. Saya sendiri bukan pengagum beliau dan bukan juga simpatisan PDIP, tapi kok kasihan kalau banyak yang mencela para mantan presiden kita. Susah lho jadi presiden Indonesia itu…
Seperti yang ada di komentar pak Pray bahwa “pada kenyataannya rakyat kita yg memang membutuhkan pemimpin pintar, kebanyakan justru konstituen berada dibawah garis rata2 pendidikan, maksudnya banyak yg kurang melek huruf dan kurang melek politik. Merekalah ini yg akan menentukan dan memilih siapa pemimpin kita dimasa mendatang. ” saya jadi khawatir kalau para pemilih yang kebanyakan kurang melek politik akan memilih pemimpin yang salah. (Semoga tidak ya…)Dengan adanya pemasangan iklan yang bagus dan gencar, seseorang bisa menokohkan dirinya sebagai yang terbaik dan menancapkan hal tersebut di benak orang-orang yang menontonnya(saya gak tahu apa istilahnya tentang hal ini. Apakah secara psikologis orang seperti dihipnotis…? ). Ada beberapa tokoh yang membuat iklan yang bagus yang selalu tayang di layar kaca, dan tentu saja hal tersebut memakan biaya yan amat besar. Saya akui iklan tersebut amat bagus dan menarik untuk dilihat. Tapi apakah cukup hanya dengan melihat tontonan tersebut kita akan menilai bahwa tokoh tertentu adalah yang paling baik untuk bisa memimpin Indonesia..?Saya jadi sedih kalau para pemilih di negeri ini cuma terpukau dari tontonan di media dan iklan2 saja tanpa menilisik lebih dalam. Takut kalau mereka nanti salah pilih, yang kecewa kan juga mereka sendiri nantinya…
Saya sangat cinta negeri ini… saya berharap bahwa siapapun presidennya bisa membawa kebaikan negeri ini. Partai apapun (yang termasuk mayoritas) bisa menampung dan menyalurkan jeritan hati rakyat Indonesia.Saya berharap bahwa semua partai …semua calon presiden.. semua calon pemimpin bangsa…mempunyai niat yang tulus dan ikhlas untuk mengemban amanah menjaga dan menuntun bangsa ke masa depan yang makmur sejahtera. Jangan ada yang MEMANFAATKAN ‘rasa nasionalisme’nya untuk kekuasaan semata.
Mudah-mudahan 2009 rakyat Indonesia tidak salah pilih dan kita bisa mendapatkan pemimpin yang tangguh, cerdas, mumpuni dan disegani semua bangsa. Amiin..
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 10:17 pm
Novrita, terima kasih ya tanggapannya. Yah memang demikian kalau kita membicarakan masalah politik itu, ada pro kontra ada suka dan tidak suka, pokoknya banyak sekali pernak dan perniknya. Ada yg suka Pak SBY, ada yg suka Bu Mega, demikian juga sebaliknya. Tapi apapun kata orang maka masa depan bangsa ini akan ditentukan lagi pada bulan April dan Juli 2009, oleh sebahagian besar dari kita, setuju atau tidak pemilu dan pilpres akan tetap dilaksanakan. Yg saya katakan tadi memang sebenarnya sebahagian besar pemilih berada di level agak bawah, 60% pemilih berada di pulau Jawa. Nah, kini di kompasiana kan boleh dikatakan pembaca, terlebih penanggap adalah orang2 yg cukup terpelajar, mengerti tentang politik, lihat saja komentar2nya. Kini, saya memberikan informasi yg perlu diketahui oleh para netters agar tidak salah membaca situasi dan kondisi yg sedang berlaku…kenapa?karena saya menulis hanya mendedikasikan pikiran dan sedikit apa yg saya miliki tanpa adanya pengaruh dari siapapun. Maaf, mungkin agak berbeda dengan beberapa yg memang menulis karena adanya suatu kepentingan. Itu ya Novrita. Terus memang kenyataan sekarang seperti tulisan saya terdahulu sedang terjadi silent revolution, dimana media sangat berperan dalam kompetisi ini. Saya sangat menghargai tanggapan akhir anda, mudah2an rakyat tidak salah dalam memilih dan kita mendapatkan pemimpin yang tangguh, cerdas dan mumpuni…(bersumpah kepada Allah akan memajukan dan mensejahterakan bangsa ini). Salam.Pray
henky,
— 20 Desember 2008 jam 10:57 pm
saya warga keturunan dan sudah 3 tahun ini sekolah di luar negeri.. Selama ini hidup di negara yang lebih maju, membuat hati saya berkata kapan negara saya bisa seperti ini…? Sangat disayangkan hingga saat ini negara kita masih terpuruk dari berbagai aspek kehidupan karena kita semua tahu negara Indonesia benar2 negara yang kaya akan SDA, itu kenyataan, seharusnya negara Indonesia bisa menjadi jauh lebih bae dan mungkin saja menjadi negara kuat di Asia, jika pengelolaanya dispilin. Yang saya harapkan siapapun presiden yang akan datang, benar2 bekerja keras dalam mengelola dan membawa ke jalur yang benar. Yang sangat penting dan tidak boleh dilupakan, hukum masih harus lebih ditegaskan lagi! aturi aturan hukum dan PRAKTEKKAN! kalo bisa korupsi dihukum mati! karena korupsi di Indonesia benar2 sudah berakar dari atasan sampai bawahan. dari pusat sampai daerah. Sudah berapa banyak korupsi yang dilakukan koruptor Indonesia? Tidak ada yang mampu menjawabnya kan.. karena sudah benar2 keterlaluan! Negara kita menjadi melarat! menurut saya penegakkan hukum benar2 langkah pertama untuk kebangkitan Indonesia, harus tegas seperti hukum di malaysia ataupun brunei. Semoga saja dengan berlakunya hukum yang tegas untuk selanjutnya kita bisa mengerjakan pr2 laen, yaitu ekonomi, transportasi, pendidikan dan kesehatan. Setahap demi setahap. Untuk SBY, kalo saja terpilih lagi nanti, saya harapkan bapak SBY lebih tegas lagi dalam hukum dan di dalam pemerintahan itu sendiri. Maju Indonesia.
Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 11:58 pm
Hengky yang sedang sekolah di LN, terima kasih tanggapannya. memang betul kita mempunyai kekayaan yang diberikan Tuhan demikian banyaknya, tetapi banyak yg heran kenapa rakyat kita banyak yang miskin. Karena sistem, atau karena manusianya. diantaranya karena kasus korupsi. Dan juga saya setuju kalau Law Enforcement perlu ditegakkan, akan banyak membantu mensejahterakan bangsa ini. Saya kira itu ya keinginan anda.Ok Hengky, selamat menempuh pendidikan, semoga sukses. Salam>Pray.
mahendra,
— 21 Desember 2008 jam 9:56 am
kalau calon presiden presiden cuma SBY dan MEGA kayaknya kurang seru! gimana kalo ada presiden dr jalur independen? capresnya anak muda yg ganteng n cawaprenya sandra dewi (yang artis cantik itu loh?) pasti seru dech..! dari pada perseteruan 2 kandidat itu yang makin lama makin mbosenin juga kayaknya…
Prayitno Ramelan,
— 21 Desember 2008 jam 1:45 pm
Mas Mahendra, sebenarnya bisa juga tuh ide, kan sudah mulai ada selebriti yg jadi politisi…kalau ada jalur independen…kenapa jauh2, saya mau nyalonkan orang kompasiana saja…itu ada mbak marissa guest blogger kita, terkenal, selebriti, intelektual, …mas pepih gimana nih?
balog helmi,
— 23 Desember 2008 jam 7:37 am
Saya sangat setuju dengan komentar Novrita,mari kita doakan agar pemilu tahun 2009 dapat berjalan lancar aman,tertip,bebas rahsia.Semoga dapat tepilih pimpinan yang dapat menyatupadukan rakyat Indonesia untuk menghadapi dampak badai krisis financial global di tahun-tahun mendatang.mulailah dari diri kita sendiri ,untuk dapat meningkatkan kepekaan krisis financial ini, sehingga minimal ekonomi keluarga tidak terjngkal, maaf komentarnya ngak nyambung ,tapi apa boleh buat inilah yg ada dalam pikiran saya yg cetek,
salam mas Pray dan Novrita, balog.
viant,
— 23 Desember 2008 jam 4:25 pm
suka gak suka gambaran semua pemimpin kita saat ini sama, atau mungkin bisa jadi saat ini seluruh pemimpin dunia ini sama, apa yang sama.. semua hanya menyelamatkan dirinya sendiri beserta kawan2nya (baik yang di partai atau luar partai), tapi rakyat kita juga begitu, giliran ada kampanye berbondong-bondong seakan-akan ikut mensukseskan kampanye (entah benar2 apa tidak) dengan segala atribut kesenangannya (hiburan, dangdut, game, dll..), tiba waktunya memilih blank akhirnya, akhirnya terpilihlah pemimpin asal2an. kita rakyat memang WAJIB untuk memilih pemimpin (apalagi seorang muslim), tapi perhatikanlah sebenar-benarnya…, jangan nanti sudah terpilih gak suka demo atau saat pemilihan gak mau ikut milih (golput katanya) tapi kalau di ajak demo ikut demo juga (ngerusak lagi), jadi kita ini sebagai rakyat yang menentukan pemimpin (katanya..) kapan kita mau belajar sebenar-benarnya agar pemimpin kita gak salah lagi nantinya, itu yang kita perlu sebagai rakyat (memahami sesuatu)dan informasi yang sejujur2nya dari calon pemimpin.
Prayitno Ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 10:01 pm
@Mas Helmi, Terima kasih ya tanggapannya, yah kmari kita sama2 berdoa agar pemilu th 2009 berjalan dengan aman dan tertib, Amin.Salam>Pray.
@Viant, terima klasih tanggapannya, semoga pemimpin yang dipilih nanti bisa memenuhi apa keinginan rakyatnya, dan rakyat juga berperilaku baik demi kemajuan bangsa ini.Salam>Pray.
Rahardjo,
— 24 Desember 2008 jam 10:21 am
Saya pengagum berat SBY yang telah terbukti 4 tahun lebih ini membawa perubahan dan kesegaran terutama dalam membrangus para koruptor yang selama ini menggrogoti uang rakyat. Insya Allah SBY terpilih lagi, pemerintah yang berani membrangus koruptor itulah yang akan membawa kesejahteraan rakyat. Mudah2ah kalau terpilih lagi dapat lebih mendengarkan suara rakyat kecil, saya percaya kok kalau nanti SBY akan menutupi kekurangannya selama ini. Bu Mega kurang pintar dan gampang disetir orang2 disekelilingnya. beliau banyak didukung karena PDIPnya bukan program2nya, terbukti teman2 tukang sayur, tukang ojek dan prt disekeliling saya banyak yang tidak tahu programnya tapi penggemar berat Bu Mega, iklan sembako menurut saya akan menjadi bumerang, nggak gampang nurunkan harga sembako, Prabowo itu hebat tapi kalau jadi Presiden terus First ladynya siapa?.Salam hormat Pak Pray ….
prayitno ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 11:11 am
@Mas Rahardjo, pengagum berat SBY, terlebih ibu2 itu ya, sudah gagah, pinter katanya, memang memberangus koruptor upayanya yg bagus. Tapi sayangnya yg berhasil ditekan baru dari kalangan Kelompok Politisi yg disebut sebagai Kekuasaan Kelompok Kepentingan,terbukti langsung lumpuh begitu di tetapkan sebagai tersangka. Tetapi para pelaku ekonomi (Hegemoni Elit) yang terkait dalam kasus BLBI itu sebenarnya target utama menurut saya, konon ada 600 trilyun yg dibawa kabur, baru berapa banyak sih yg bisa dikembalikan ke negara?Butuh keberanian ekstra melawan sindikat tersebut, karena jaringannya sudah sangat luas. Contoh kecil sudah ada bukan “Artalyta”, hanya pucuk kecil dari jaringan gurita itu, itupun sudah melibatkan dan mampu mempengaruhi banyak orang kan mas. Tentang Bu Mega, kalau dikatakan kurang pintar sebenarnya tidak juga, ini saya katakan jujur, saya bukan pendukung Mega, saya sedang kembali akan menulis ttg Mega. Tapi yah yang sekarang terbentuk opini Mega ini kurang pintar, jauh dibandingkan SBY…begitu kali ya. Kalau Prabowo sebaiknya diambil bu Mega jadi Cawapresnya, dia yg akan bisa menandingi SBY nanti, kualitasnya hampir sama tuh. Ok Mas Rahardjo,terimakasih banyak ya.Salam>Pray.
Fadli,
— 27 Desember 2008 jam 4:05 pm
Saya takut negeri kita mengalami kemunduran jika Mega berkuasa. Apakah Aceh bisa damai seperti sekarang jika Mega berkuasa? Apakah negara kita tidak akan dipermalukan lagi didunia international seperti Sipadan Ligitan? Apakah tidak ada lagi penjualan asset penting dan penjualan gas murah? pembunuhan aktivis? negara kita akan mengalami lagi kemunduran…saatnya pesan2 seperti ini disebarluaskan keseluruh pemilih..supaya seperti kata Sukarno “jangan sekali kali melupakan sejarah” bisa kita ingat..Jika ada yg mau membuat iklan utk mengingatkan hal tersebut saya bersedia menyumbang…
Prayitno Ramelan,
— 27 Desember 2008 jam 9:18 pm
Wah, ini ada Mas Fadli mau nyumbang kalau ada yang mau buat iklan anti Mega, coba hubungi saja parpol2 lawan politik yang rata-rata sedang kesulitan dana, mesti pada bersemangat tuh Mas. Salam>Pray.

PKB Yang Dulu Hebat, Kini…?


Oleh : Prayitno Ramelan - 19 Desember 2008

Sumber : www. kompasiana.com - Dibaca 499 Kali -

Pada artikel terdahulu telah dibahas bahwa sejak pemilu tahun 1955 hingga pemilu 2004 belum sekalipun ada partai yang berbasis Islam mampu mengalahkan perolehan suaranya dari partai nasionalis. Salah satu kelemahan partai Islam diantaranya karena sistem pengelolaan partai dilakukan secara tradisional, upayanya lebih terfokus dalam menarik konstituen tradisional yang beragama Islam.

Apabila diperhatikan, sebenarnya PKB sebagai partai Islam pada pemilu 1999 pernah berhasil membuktikan bahwa manajemen parpol secara modern, dikaitkan dengan “patron” akan mampu menarik konstituen. PKB dibawa bergeser ketengah dengan pintar dan demokratis. Upaya dan keberhasilan PKB pada dua pemilu yang lalu menjadi sebuah fenomena yang kiranya perlu dijadikan sebuah pelajaran bagi partai Islam lainnya, dan dicontoh untuk kemajuan masing-masing.

PKB dideklarasikan pada tanggal 23 Juli 1998 dihalaman depan kediaman KH Abdurrahman Wahid dihadapan ribuan warga NU, disaksikan perwakilan partai dan juga dihadiri dua mantan petinggi ABRI Jenderal Try Sutrisno dan Jenderal Edy Sudradjat (Alm). Gus Dur yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU menetapkan KH Ma’ruf Amin sebagai Ketua Dewan Syura dan H Matori Abdul Djalil (alm) sebagai Ketua Umum Dewan Tanfidz, sebagai Sekjen diangkat Drs Muhaimin Iskandar.

Nama PKB sesungguhnya sudah digunakan oleh leluhur NU pada tahun 1916 saat mendirikan organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa). Kebangkitan adalah terjemahan dari kata “nahdlah” yang digunakan NU (Nahdlatul Ulama), kata “Bangsa” dipilih dengan pemikiran strategis, dikaitkan dengan kondisi bangsa Indonesia yang terdiri dari dari beragam agama, suku dan golongan, diharapkan bersatu dalam payung atas nama bangsa Indonesia.

Dibawah kepemimpinan Pak Matori, PKB dikelola secara modern, para pengurus mendapat pesan khusus Matori agar menjauhkan PKB dari kesan “terbelakang”. PKB bekerja sama dengan Matari Advertising, menggarap logo, stempel, kop surat, kartu nama dan atribut PKB yang diformat dengan sentuhan artistik, semuanya disesuaikan dan diseragamkan. Logo PKB dibedah, disesuaikan lebih cantik serta berfilosofi dengan memberi 9 goresan. Angka 9 sudah melekat dikalangan NU, mulai bintang sembilan, wali sembilan, panutan Nabi Muhammad, 4 khalifah dan 4 madzhab juga berjumlah sembilan.

Dibawahnya logo ditambah slogan “Maju Tak Gentar, Membela Yang Benar”, dengan dasar pemikiran dan harapan PKB akan menjadi pilihan semua orang. Matori menciptakan yel-yel dengan isyarat jari jempol dan telunjuk diacungkan keatas. Jika isyarat sudah diacungkan dan diucapkan, “PKB Membela yang Benar”, maka massa akan menjawab,”Benr,Benar,Benar…!”. Yel-yel dan slogan itu sempat menjadi “tagline” di mana-mana. Dalam kampanye pemilu 1999, iklan di TV yang menampilkan Matori dan Gus Dur, menjadi iklan favorit. Matori mampu mempopulerkan “Maju Tak Gentar,Membela Yang Benar” identik dengan PKB.

Nah, hal-hal diatas tidak pernah dipikirkan oleh politisi biasa saat itu, semua sentuhan modern dilakukan Matori dan Matari. Hajatan pertama di Senayan, dahsyat, diisi sambutan Gus Dur yang karena sakit tidak dapat hadir, ditampilkan melalui rekaman video ”Meski saya tidak bisa melihat, namun saya dapat mendengar bangsa Indonesia sedang bernyanyi…., mari kita bangkit dan maju tak gentar membela yang benar bersama PKB!” demikian sambutan Gus Dur yang disambut tangis dan teriakan haru membahana dari seluruh yang hadir. Peresmian atribut PKB divisualisasikan secara dramatik, dan berhasil membangkitkan kepercayaan diri serta kebanggaan pada PKB.

Demikian juga saat peresmian DPW dan pelantikan 28.855 pengurus cabang, ranting seluruh Jawa Timur, acara dihadiri ratusan ribu simpatisan, dimeriahkan berbagai atraksi kesenian, termasuk kesenian “Cina”, barongsai, liong yang sebelumnya ditabukan. Penyebaran PKB kedaerah-daerah dan wilayah sangat cepat, selain dikelola secara profesional, juga didukung infrastuktur NU yang sudah mapan diseluruh Indonesia.

Dari semua jerih payah Matori dan pengurus, maka pada pemilu 7 Juli 1999 yang diikuti oleh 48 Partai politik, hanya 21 yang lolos ke Senayan, PKB menduduki “tiga besar”. PDIP meraih 35.689.73 suara (33,74%), Golkar 23.741.758 (22,44%) dan PKB diurutan ketiga memperolah 13.336.982 (12,61%). Sementara PPP sebagai partai lama mendapat 10,71% (kehilangan 31 kursi dibanding pemilu 1997) dan PAN mendapat 7,12%.

Pada pemilu 2004, PKB masih berada diposisi ketiga perolehan suara nasional terbanyak. Dengan urutan Golkar posisi pertama (21,58%), PDIP (18,53%), PKB (10,57%), PPP (8,15%), Partai Demokrat (7,45%), PKS (7,34%), PAN (6,44%).

Sebagai parpol yang baru saja terjun pada pemilu 1999, keberhasilan PKB disebabkan karena tiga hal, PKB dibentuk oleh PBNU yang mempunyai massa “nahdliyin” yang jelas di bawah “network” pesantren-pesantren NU. PKB dikelola secara profesional dan modern oleh Ketua Dewan Tanfidz “Matori Abdul Djalil’ (Alm), PKB memiliki tokoh sentral “Gus Dur” yang dikalangan nahdliyin kedudukannya sangat dihormati. Dikalangan nahdliyin berkembang mitos bahwa ditanah Jawa terdapat dua keturunan “darah biru”, yaitu darah biru keturunan raja Jawa dan darah biru Islam keturunan KH Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU.

Para keturunan KH Hasyim Asy’ari disebut sebagai kiai “Nasab”, umumnya dipanggil dengan gelar “Gus” (Gus Dur, Gus Coi, Gus Sholah, Gus Ipul dan lainnya). Selain kiai nasab dikalangan NU juga terdapat kiai karier yaitu orang biasa yang belajar dan memperdalam ilmu ke Islaman hingga mendapat gelar kiai, diantaranya adalah KH Hasyim Muzadi. Sebagai kiai nasab Gus Dur sangatlah dihormati, bahkan diperlakukan bak seorang raja di antara nahdliyin. Oleh karena itu maka begitu PKB diterjunkan pada pemilu 1999, langsung menyedot nahdliyin, dan PKB langsung berada di posisi “tiga besar”.

Sejak pemilu 1999-2004 seperti biasa, terjadi konflik berat, Matori dipecat oleh Gus Dur karena langkah politiknya, Alwi Shihab melanjutkan kepemimpinan di PKB, dan dengan sisa kharisma Gus Dur PKB masih berada di posisi tiga besar, tapi perolehan suaranya merosot dari 12,61% menjadi 10,57%. Konflik terus berlanjut, Alwi Shihab juga dipecat, Muhaimin Iskandar (keponakan Gus Dur) menggantikan Alwi. Kasus terparah Cak Imin juga dipecat, dan bersama Lukman Edy melakukan perlawanan hukum, hingga akhirnya Cak Imin disyahkan oleh pemerintah dan KPU sebagai pimpinan PKB yang sah.

Diakui ataupun tidak secara langsung massa PKB mulai jenuh dengan konflik yang tak kunjung usai. Kemerosotan PKB terlihat dari Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur, calon gubernur yang diusung PKB hanya menduduki posisi bawah, PKB menjadi “lumpuh” di sarangnya sendiri. Kini masih beruntung dua kandidat cagub/cawagub Jatim yang bertarung masih berbau kaum Nahdlatul Ulama.

Nah, dari perjalanan suramnya, masih mampukah PKB kembali duduk sebagai tiga besar pada pemilu 2009?. Ini pertanyaan yang menggelitik. Konflik masih berlanjut, bingungnya nahdliyin, turunnya kharisma kepemimpinan, hilangnya “patron”, politik bumi hangus Gus Dur yang menyerukan golput, bergesernya Gus Dur ke posisi parpol lain, pendirian Ormas GATARA oleh Gusdur pada 3 Desember 2008. Semua itu seharusnya disadari oleh elit PKB, untuk segera melakukan langkah-langkah penyelamatan.

Konstituen pemilu masa kini terlepas dari asas apapun sudah lebih memahami kondisi politik dimana dia akan menyalurkan haknya. Perubahan pola komunikasi yang mengutamakan media massa sebagai sarana harus disikapi dengan cerdik. Kalau tidak, PKB hanya akan mendapat suara tradisional dari kaum nahdliyin yang dikontrol kiai. Walau secara hukum sang raja “Gus Dur” sudah dibuat tidak berdaya, tapi pengikut fanatisnya masih cukup besar, inilah tantangan berat yang harus diatasi oleh Muhaimin Iskandar.

Sangat disayangkan, sebenarnya PKB sebagai partai yang pernah menjadi juara dua kali pemilu dikalangan partai Islam kini terlihat kurang meyakinkan, elitnya kurang mampu mengatasi “manajemen konflik” Gus Dur sebagai pemain utamanya. Maka massa PKB sebagai “ikan-ikan” gemuk akan dituai oleh PPP, PKNU dan partai Islam lainnya. Mari kita lihat bagaimana kemampuan Cak Imin dan Lukman Edy menjaga ini semua. Mampukan dalam sisa waktu tiga bulan meniru gurunya Pak Matori? Selamat berjuang, ingat slogan keramatnya : “PKB Membela Yang Benar”…Benar,Benar,Benar…tapi maaf nggih, benar ingkang pundi???. Teriring salam hormat penulis untuk Mbah Dim (KH Dimyati Rais, Kaliwungu).


16 tanggapan untuk “PKB Yang Dulu Hebat, Kini…?”

Pepih Nugraha,
— 19 Desember 2008 jam 10:02 am
Waduh, lengkap dan mantapppp sekali postingan Pak Pray tentang PKB ini. Terus terang, mungkin karena saya luput baca saja, baru kali ini saya mendapat pencerahan politik soal PKB. Peran Pak Matori yang kemudian mendirikan PKD setelah dipecat Gus Dur ternyata begitu besar, sesuatu yang jarang atau belum terungkap selama ini.

Dalam perjalanan liputan politik periode 1996-2001, saya kebetulan pernah bersinggungan dengan Gus Dur, Matori, Alwi Shihab, dan bahkan Muhaimin Iskandar. Dengan Cak Imin kalau bertemu di tempat keramaian (malaum dia sudah jadi orang penting dan terus dikawal-kawal), saya teriakan saja “EDUSKUNTA”, Cak Imin pasti akan menoleh dan tahu persis siapa yang meneriaki kata sandi untuk kami berdua. Memang tugas berat bagi Cak Imin yang dipundaknya saat ini harus bertarung di pileg dan pilpres. Pileg April nanti akan menjadi ujian terberatnya, apakah PKB mampu (setidak-tidaknya) tetap menduduki posisi tiga, atau paling tidak perolehan kursi (suara) tidak melorot dari dua pileg sebelumnya.

Tahun 2006 saat terjadi kerusuhan Tuban, jawa Timur, pasca pilkada, saya bertemu dengan komunitas Tionghoa yang sangat menghormati Gus Dur (di mata mereka Gus Dur adalah pahlawan). Warga Tionghoa pasar sampai elit menyatakan mencoblos PKB karena Gus Dur. “Katakan Gus Dur bikin partai lain, kami akan pilih partai lain itu,” demikian kata tokoh warga Tionghoa Tuban saat saya wawancarai. Saya tidak berkesempatan mewawancara warga pesantren. Tetapi saya rasa, para santri tentulah menokohkan Gus Dur sebagai panutan utama mereka dalam tataran politik praktis.

Bukan bermaksud mendahului kalau saya katakan tugas Cak Imin dengan PKB nya saat ini teramat sangat berat. “Politik bumi hangus” Gus Dur yang menggiring pengikutnya untuk golput pastilah sangat berpengaruh, meski saya tidak tahu sebesar apa pengaruhnya. Secara de jure untuk konteks PKB, Gus Dur memang kalah. Tetapi de facto, tokoh mana di kalangan Nahdliyin saat ini yang mampu mengatasi popularitas dan kharisma Gus Dur? Maaf kalau saya katakan, belum ada.

Suka atau tidak, meskipun kita (pers) mendorong terciptanya suatu “partai politik modern” yang tidak boleh bergantung pada satu figur sentral dan harus terdepan karena program-programnya, tetap saja figur ini masih mendominasi ruang pikir para pemilih saat hendak menyalurkan suaranya. Artinya, PKB sebenarnya masih sangat bergantung pada figur Gus Dur. Ketika Gus Dur sudah menyatakan politik bumi hangus (aduh serem sekali istilahnya) dan menegaskan tidak mendukung PKB lagi, kita bisa mengira-ngira hasilnya. Saya cenderung mengatakan perolehan suaranya “turun” untuk tidak mengatakan “anjlok”. Semoga kesimpulan saya keliru….


eepkhunaefi,
— 19 Desember 2008 jam 11:29 am
Berat dan berat sekali perjuangannya. Dalam kondisi seperti ini saya punya keyakinan kuat perolehan suara PKB di bawah PKS yang semakin cerdas dalam berkampanye, salah satunya dengan diadakannya PKS Award.

Ayo PKB berdamailah agar saya senang lagi pada Anda! Agar bapak saya yang dulu fanatik kembali lagi ke pangkuanmu. Buat Gus Dur, bersabarlah! Buat Cak Imin, mampukah Anda meyakinkan pendukung PKB bahwa tanpa Gus Dur partai ini akan tetap eksis dan meraih suara bagus dalam pemilu nanti. Kita tunggu ya.
Buat Pak De, saya tunggu selalu karya-karya Anda. Semakin uzur kian produktif aja nih.

Prayitno Ramelan,
— 19 Desember 2008 jam 11:40 am
Mas Pepih, terima kasih sekali tanggapannya yang sangat melengkapi dan juga memperkuat argumentasi yang saya sampaikan. Kalau dipikir sayang ya dengan PKB ini…partai lain setengah mati untuk mendapatkan konstituen, eh…PKB yang konstituennya sudah jadi kok melalaikannya. Tapi yah itulah…Pak Matori pernah bercerita kepada saya bahwa saat beliau akan menjadi Ketua PKB pertama yg ditentang beberapa tokoh di PBNU, Gus Dur membela mati2an dan mengatakan “tidak apa2, kalau tidak ada perbedaan pendapat bukan di NU” dan Gus Dur akan mendirikan partai lain kalau Matori ditolak.


Jadi sejak awal pembentukan jelas sudah terjadi konflik ditubuh bayi PKB. Itulah yang menurut saya suatu kelemahan sebuah partai dengan budaya pesantren, disana peran kiai sangat kuat, sementara sebagai suatu partai PKB harus bergerak sesuai dengan dinamika politik yang sedang terjadi. Dua pemikiran yang sulit dipertemukan tadi menurut saya diantaranya yang sangat berpengaruh terhadap pecahnya PKB. Cak Imin dan Lukman Edy adalah sebuah bukti pemberontakan anak muda terhadap kultur budaya pesantren yang sangat ketat tadi. Sebagian kekuatan PKB telah pecah menjadi PKNU, sebagian ke Cak Imin dan sebagian ke Gus Dur. Mereka yang sulit dipersatukan atau mungkin tidak sadar sengaja ada memecah? Berat memang tugas “EDUSKUNTA” yg Mas Pepih sebut tadi. Salam>Pray.


Prayitno Ramelan,
— 19 Desember 2008 jam 11:44 am
@Mas Eep, semoga bisa terpuaskan ya membaca artikel ini, kan anda juga yang minta saya nulis tentang PKB, nah hanya sebegitulah kira-kira kemampuan saya memberikan fakta dan analisis. Semoga tanggapan anda dibaca oleh para elit PKB itu>Terima kasih.Pray

Novri,
— 19 Desember 2008 jam 4:41 pm
Terima kasih pak Pray…Saya jadi ada pengetahuan baru tentang PKB dan seluk beluk internalnya.. Selama ini yang saya tahu ada konflik di tubuh PKB dan tokoh sentral PKB ya Gus Dur. Ya cuma itu thok… Apalagi pengetahuan saya tentang politik masih samar-samar (belum bisa dibilang dangkal, karena memang blasss belum tahu)Jadi ya.. baca tulisan pak Pray dan baca komentar yang masuk, bisa bikin saya mlek PKB.
Comment saya sih..(orang yang awam politik) : Kalau di internal aja ada konflik, gimana bisa menampung dan memanage aspirasi luar..
Nuwun sewu kalau saya salah.


prayitno ramelan,
— 19 Desember 2008 jam 9:02 pm
Novri, syukur kalau tulisan itu bermanfaat sebagai penambah wawasan, saya kebetulan pernah mendampingi Pak Matori saat beliau jadi Menhan selama 2,5 tahun, ya otomatis jadi mengikuti gerak langkahnya saat berkonflik dengan Gus Dur. Jadi itulah kira2 gambaran PKB, pada kesimpulannya tulisan saya buat berdasarkan pengamatan saya dikalangan PKB. Saya bukan warga PKB, tapi tentara tulen yg berprinsip NKRI yg berdasarkan Pancasila dan UUD45 adalah final, kebetulan saya ikut masuk mendampingi beliau ke pesantren2 dan kesemua jaringan PKB. Sehingga sedikit banyak mengetahui kultur didalamnya. Ya begitulah, sangat disayangkan memang PKB sebagai Partai Islam terunggul akhirnya tercerai berai karena ambisi dan kultur serta sikap tidak mau mengalah para elitnya. Saya belum melihat kini seorang pimpinan partai yg berfikir jauh kedepan, modern dan mempunyai kemampuan sehebat Pak Matori. Saya setuju Novri pendapat anda, kalau didalam saja terus berkonflik…bagaimana mau maju (saya tambah dikit ya.). Salam>Pray.


Junanto Herdiawan,
— 20 Desember 2008 jam 6:03 pm
Pak Prayit, tulisan yang sungguh mencerahkan. Pandangan Bapak sebagai orang dalam sekaligus bukan warga PKB menjadikan tulisan ini memiliki bobot dan kredibilitas. Seperti mengungkap hal yang belum terungkap. Saat ini calon presiden yang memiliki massa fanatik hanya dua, Gus Dur dan Mega. Keduanya memiliki massa yang “pejah gesang nderek bapak/ibune”. Apapun kata pimpinan, kami taklid, ngikut. Untuk karakter bangsa kita saat ini, sifat itu sungguh wajar. Bukan irrasional, tapi metarasional. Tak bisa dijelaskan dengan rasio, seradikal apapun rasio kita. Oleh karenanya, sungguh sayang apabila PKB memang tidak memanfaatkan metarasionalitas para pemilih itu. Mungkin di masa-masa depan menarik tuh pak kalau dibuat buku, judulnya “PKB, riwayatmu dulu…”. Buat mengenang bahwa PKB dulu pernah ada (di tiga besar) dan jaya…. Salam pak.


Prayitno Ramelan,
— 20 Desember 2008 jam 6:32 pm
@Yunanto, justru itu, sebenarnya pkb bisa diharapkan sebagai sebuah partai yg moderat, dia oleh Gus Dur tadinya sudah benar dibawa ketengah, menampung beragam etnik dan agama, tapi akhirnya Gus Durpun juga tergelincir kurang menerapkan kepemimpinan dengan kulturnya dalam sebuah kehidupan politik…nah akhirnya terjadi konflik yg berlanjut, dengan siapa saja, pak Matori, Alwi dan Muhaimin. Semuanya kurang menyadari konflik cepat atau lambat akan merusak parpol itu sendiri. Dan kenyataannya ya demikian bukan,kini secara perlahan akan terpuruk, padahal partai ini yg tadinya bisa diharapkan sebagai parpol Islam unggulan, sudah dua kali pemilu berada diposisi ketiga…entah 2009 dia akan duduk diposisi berapa. Padahal kabarnya warga nahdliyin jumlahnya lebih dari 30 juta…dan mereka tidak mampu memanfaatkan yg anda sebut itu metarasionalitas para pemilih, karena tokohnya sudah berada diluar sistem. Saya kira bagus kalau dibuat buku dengan judul itu, PKB, riwayatmu dulu. Terima kasih tanggapannya ya.Salam>Pray


Gi,
— 21 Desember 2008 jam 1:57 pm
Salam,
Semakin menarik, bahasan parpol berimbang, terfokus dan mendalam. Sesuai dengan fakta di lapangan.
Apa mungkin bapak akan membahas ke-38 kontestan parpol Pemilu 2009 ini nanti, hehe…
PKB di mata saya pribadi, memanglah parpol besar (peringkat 3 di Pemilu 2004) dengan suara 11 juta suara lebih (lumbungnya di Jawa Timur dan sebagian Kalimantan Selatan). Memang disayangkan banyak terjadi konflik internal yang tak berujung. Sehingga melahirkan peranakan-prenakan baru PPNUI (2004), PKNU (2009), dan yang bungsu baru terlahir GATARA (2009) namun bukan (belum) menjadi kontestan, mungkin di 2014? Entahlah… Politik pastinya akan tetap dinamis dan banyak hal yang tak terduga dalam waktu singkat.
Salam,Gi


prayitno ramelan,
— 21 Desember 2008 jam 9:51 pm
Gi, terima kasih pendapatnya, saya kira tidak cukup waktu nij untuk membahas 38 parpol, wah mengumpulkan data beberapa parpol saja mata sudah berat Gi, maklum mata sudah agak umur nih, tidak terlalu tahan dimuka layar PC lama-lama, belum lagi kan membalas tanggapan para sahabat2 dan teman2 baik itu yg saya sangat hargai. Begitu ya Gi.Salam>Pray


mahendra,
— 22 Desember 2008 jam 8:28 am
PKB memang membuat saya merinding waktu dulunya pertama kali berdiri… tapi lama kelamaan semakin tidak memberikan kesan yang berarti, itu knp pak? konflik berkepanjangan kah? atau kebijakannya mungkin? tapi yang jelas PKB tanpa Gus Dur seperti tubuh tanpa nyawa, lihat saja nanti PKB muhaimin untuk memcapai 5 besar saja kayaknya sulit bukan main.malah nanti yang menduduki urutan nomer 3 adalah golput yang di serukan gusdur. (maaf pak pray ya, ini cuma tebakan saya aja yang sok tau)


prayitno ramelan,
— 22 Desember 2008 jam 8:41 am
Mas Mahendra, memang sayang ya melihat PKB yang akhirnya tercerai berai, kalau mau besar lgi, Gus Dur dan Muhaimin harus kembali bersatu, saya pernah membuat artikel dan ditayangkan di Koran SINDO dengan judul “Imbauan Kepada Gus Dur”…saya setuju PKB akan tidak bisa menduduki tiga besar…lima besar juga saya setuju sulit seperti yg dikatakan Mas Mahendra. Tks ya>Salam>Pray.


aramichi,
— 22 Desember 2008 jam 9:49 pm
Yth Pak Prayitno
NU dan PKB memang sesuatu yang unik pak, kalau saya lihat dari dulu massa yang paling soliditu massa NU. Pemilu 1955 NU nomor 3 padahal petingginya sering diremehkan sebagai kaum sarungan berbeda dengan petinggi Masyumi yang berpendidikan Barat, Tahun 1971 NUdibulldozer tapi tetap eksis perlawanan dilakukan oleh Subhan ZE , demikian juga tahun 1977 dan tahun 1982. Tahun 1987 PPP digembosi NU dan hasilnya suara PPP merosot drastis di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kemudian seperti yang bapak sampaikan 1999 dan 2004 PKB tetap No 3 tapi ada keganjilan di sini sekalipun suaranya no 3 kursi DPRnya selalu di bawahnya, tahun 1999 no 4 setelah PDIP, Golkar dan PPP. Tahun 2004 lebih parah lagi No 6 setelah Golkar, PDIP, PPP, Partai Demokrat, PAN. Padahal PKB itu 10,57 % tapi kursi DPR bisa kalah dengan PAN yang 6,44 %, PAN 53 kursi PKB hanya 52 kursi. Berarti sistem pemilu tidak menguntungkan untuk partai dengan karakteristik seperti PKB, sistem pemilu lebih menguntungkan untuk partai seperti PPP dan PAN yang suaranya menyebar di seluruh penjuru Tanah Air karena ada yang disebut sisa suara, jadi kursi DPR yang didapatkan dari hasil sisa suara yang tidak habis dibagi .

Itu kalau kita lihat dari sistem pemilu, kalau kita lihat dari pindahnya kiai Khos lebih parah lagi, kiai yang pindah ke PKNU itu adalah patron di daerah masing masing. Kalau kita melihat Madura saja biarpun Gusdur bilang PKB itu keluar dari ayam ( maksudnya NU ) tetap saja di Sampang dan Pamekasan PPP bisa unjuk gigi itu karena peran kiai lokal seperti Alawy Muhammad. Tahun 2004 KH Fawaid As’ad pindah dari PKB ke PPP dan suara PPP di Situbondo yang tadinya terpuruk tiba tiba melejit, sekarang saya dengar Lora Cholil As’ad bergabung ke PKNU. Simpul PKB itu Kiai dan pondok pesantren kalau simpul sudah lepas kondisi akan berat biarpun ditopang Gusdur sekalipun apalagi kalau Gusdur menyerukan penggembosan bisa bisa kejadian yang dialami PPP tahun 1987 terjadi pada PKB tahun 2009. Kalau prediksi saya kemungkinan besar suara PKB akan turun dan kursi DPR juga turun jadi kemungkinan nilai tawar PKB akan lebih rendah dari 2004 tapi kalau “kiprah di pemerintahan seperti sekarang ” saya rasa masih dapat tergantung apakah calon yang didukung PKB bisa jadi presiden atau tidak.


prayitno ramelan,
— 23 Desember 2008 jam 11:12 pm
Aramichi, wah bagus sekali tanggapannya, terima kasih sudah semakin melengkapi tulisan tentang PKB itu, yah memang sama perkiraan kita itu, pada pemilu 2009, PKB akan berat sekali untuk kembali muncul sebagai juara dikalangan parpol yang berasas Islam. PKNU bisa2 cukup besar suaranya ya…Ok deh, tks.Salam>Pray.


adhy,
— 24 Desember 2008 jam 2:44 pm
begitulah nasib partai-partai yang bersandar kpd Figur… PKB, PAN. siapa lagi akan menyusul ?
PDIP juga rentan. 2014 apakah PDIP jg masih sekuat sekarang? kalo 2009 Mega jadi presiden lg mungkin umur PDIP masih akan bertahan agak lama. tp kalo gagal…
waktu saya kuliah pernah ikut latihan kepemimpinan. dapat ilmu, bahwa pemimpin yang sukses adalah bukan dilihat pada karyanya yg banyak ketika memimpin, tapi siapa dan bagaimana pengganti setelahnya.kalo penerusnya lebih buruk dg dirinya, maka sebesar apapun berkembang organisasi dibawahnya akan hancur tak bersisa oleh penerusnya.


Prayitno Ramelan,
— 24 Desember 2008 jam 3:54 pm
Adhy, iya saya setuju memang lebih baik kalau partai tidak bersandar pada satu figur, rentan,mudah diserang, PKB sekarang agak lemah saya kira karena figurnya tersingkirkan. Dan bagus itu, memang benar bahwa pemimpin yang baik harus mampu mengkaderisasi. Kita lihat nanti tahun 2014 mudah2an kaderisasi sudah berjalan dan capres2 muda yg akan bersaing. OK, salam>Pray

Minggu, 28 Desember 2008

Jangan Bunuh Diri, Berbahaya !

Oleh : Prayitno Ramelan

Pada siang ini, setelah penulis membaca-baca koran, membuat bahasan masalah politik, terbersit keinginan membuat selingan artikel. Hari ini penulis mampu menyelesaikan artikel masalah “gaib” yang sudah sekian lama dibuat tetapi selalu tidak pernah selesai dikerjakan. Beberapa waktu lalu setelah melihat di teve kisah seorang ibu yang yang bunuh diri, setelah sebelumnya meminumkan racun pada anaknya yang masih kecil, tulisan ini di putuskan untuk ditayangkan, dengan harapan ada manfaatnya untuk kita yang masih hidup agar jangan bunuh diri karena “berbahaya” untuk ketenangan ruhnya. Sebuah kisah nyata di keluarga yang diikuti dan disikapi penulis seperti mengalirnya air disebuah sungai. Penulis tidak faham tentang masalah gaib, sehingga tidak akan mampu mengurai lebih jauh lagi, karena merasa bahwa batiniah (qolbu) ini terasa masih kotor.

Bunuh diri adalah keputusan pendek seseorang yang mental dan jiwanya tidak mampu menghadapi masalah atau tekanan hidup didunia. Keputus asaan dan penderitaan yang sangat berat dapat memicu seseorang untuk mengambil jalan pintas menyelesaikan masalahnya dengan membunuh dirinya. Dari beberapa kasus pemberitaan, cara bunuh diri dilakukan dengan meminum racun, gantung diri, terjun dari gedung bertingkat, dan banyak cara lainnya.
Biasanya penyebab bunuh diri disebabkan karena tekanan masalah ekonomi, penyakit berat, putus cinta, masalah keluarga, dan banyak lagi penyebabnya.

Keputusan mengambil jalan pintas yang dirasa akan membebaskan diri dari masalahnya tersebut, ternyata merupakan masalah baru yang ternyata jauh lebih menakutkan, kalau boleh di katakan mengerikan. Tulisan ini dibuat berdasarkan sebuah kisah “gaib” yang coba dikupas sedikit menggunakan referensi agama Islam, karena penulis bukan ahli agama. Penulis mencoba menggabungkan sebuah kejadian gaib dengan pencerahan dari tulisan seorang penulis buku-buku Islam Agus Mustofa dalam serial diskusinya Tasawwuf Modern yang berjudul “Mengubah Takdir”.

Agus Mustofa menyampaikan didalam bukunya, “Allah melarang seseorang untuk bunuh diri, Ini menunjukkan bahwa kematian bisa diusahakan oleh seseorang. Sebagaimana pula kesehatan bisa diusahakan. Dengan kata lain, kalau Allah sudah menentukan kematian seseorang secara wajar, mestinya bagaimana pun seseorang melakukan usaha bunuh diri, ia tidak akan bisa terbunuh. Tapi karena ia bisa terbunuh, maka Allah pun melarang mereka untuk bunuh diri”.
Referensi Agus Mustofa diambil dari QS. Al Hijr (15) : 56 yang terjemahannya ; Ibrahim berkata : “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat” . Yang kedua diambil dari surat QS. An Nisaa’ (4) : 29 yang terjemahannya ; ” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”.

Nah, kini kita memasuki sebuah kisah nyata tentang alam gaib, yang sedikit sekali dibukakan oleh Allah kepada manusia, berbeda dengan ilmu pengetahuan yang dibuka seluas-luasnya. Hanya orang tertentu yang mendapat rahmat dan ijin Allah di beri kemampuan melihat alam gaib tersebut.

Penulis mempunyai sanak keluarga yang pada enam tahun lalu masih kuliah di Universitas Trisakti. Pada suatu hari si gadis ini sekembalinya dari kuliah dengan terengah-engah menceritakan bahwa dia tadi di fakultasnya ditabrak “kerbau”. Dan yang aneh kerbau tadi melewati dirinya tanpa ada rasa apa-apa. Setelah kejadian tersebut, maka mulailah rangkaian peristiwa-peristiwa yang aneh tetapi nyata. Kalau ke toilet dia mengaca, maka dikaca terlihat banyak wanita yang berpakaian putih-putih yang berdiri di belakangnya ikut mengaca, mukanya macam-macam, aneh-aneh.

Perasaan takut dan rasa terganggu terus membayanginya, tapi katanya ada yang aneh, kalau dia mempunyai rasa takut berjalan disuatu tempat mesti ada suara yang mengingatkan dengan berbisik, jangan melihat kekiri atau kekanan. Bisa dipastikan ada mahluk yang aneh dan bentuknya macam-macam dan menakutkan. Berhubung kondisi ini dirasa terus mengganggu, maka penulis atas informasi dari beberapa pihak kemudian membawanya ke daerah Kuningan, kerumah seorang kiai, seorang tokoh Islam yang bertempat tinggal dilereng gunung Ciremai, dikenal bernama Raden Rasmaya Satria Sakembaran, beliau biasanya dipanggil “Romo”.

Menurut Romo, si gadis ini ternyata atas kehendak Allah terbuka mata batinnya hingga mampu melihat dua sisi dunia, dunia biasa dilihat dari matanya, dunia gaib dilihatnya dari mata batinnya. Kita umumnya hanya mampu melihat dengan mata biasa, tidak mampu melihat dengan mata batin, disebabkan karena batin (qolbu) manusia umumnya kotor, jelas Romo. Penulis mohon bantuan Romo untuk menutup frekwensi yang satunya itu karena dirasa sangat mengganggu kehidupan dan kuliah si gadis tadi. Oleh Romo kemudian dijelaskan bagaimana cara berkomunikasi dengan alam gaib tersebut, yang diperkuat dengan doa dan zikir untuk menguatkan batin, dibutuhkan waktu tiga bulan untuk menutup “pandelengan batin” tersebut jelas Romo. Dikatakannya bahwa si gadis mempunyai nama alam gaib “Ratu Ayu Delifah”, ini adalah keturunan ketujuh yang menitis dari sesepuh keraton Yogya. Memang dari silsilahnya nenek moyang si gadis dari pihak ibunya mempunyai garis keturunan dari Sri Sultan Hamengku Buwono Kedua.

Setelah kembali dari Ciremai, maka “Ayu” (nama gaib si gadis) banyak menemui mahluk-mahluk aneh dimana-mana, di tempat pamannya dia selalu ketakutan, katanya ada beberapa mahluk setinggi rumah, giginya panjang, ternyata itulah isi (qodam) dari keris si paman. Beberapa kali dia menjumpai sebuah rumah ada yang menjaga mahluk setinggi tiga meter, berpakaikan prajurit jawa, itulah jin penjaga. Dia suatu saat menolong temannya yang kesurupan, ternyata temannya diikuti oleh mahluk yang kakinya hanya satu tapi menempel terus. Pernah dirumah menemukan dikamar kakaknya ada macan putih yang sangat besar sedang duduk, dan setelah diminta baru si macan pergi. Pernah Ayu bertemu dengan arwah ayah temannya dan dimintai tolong berbicara kepada ibunya, ruh si Ayah katanya terkunci dirumah tersebut disebabkan istrinya belum ikhlas ditinggal pergi. Masih banyak lagi kisah seram alam gaib yang dialami oleh Ayu.

Nah, yang paling penting, Ayu pada suatu hari sekitar jam tujuh malam diperintah datang kerumah salah seorang dosennya dibilangan Rangunan. Dimuka rumah si dosen terdapat pohon kelapa, dia terkejut saat melewati pohon kelapa tersebut, ada mahluk halus sedang duduk menangis, jenisnya wanita, rambutnya terurai dan gembel, mukanya agak berlendir, dan banyak kutil-kutilnya. Ayu tahu ini adalah sebuah wujud arwah penasaran, kemudian saat ditanya kenapa duduk dan menangis disitu? Dijawab ruh penasaran tadi ” tolong ‘ndoro’, saya sakit sekali, saya menderita, saya dingin, saya sengsara sudah lama sekali”. Baiklah kata Ayu, dia faham bahwa mahluk tadi tersiksa dan butuh didoakan. Kemudian oleh Ayu dibacakan surat Al-Fatihah, dan didoakan agar Allah mengampuni dosa-dosanya, setelah itu “si ruh” tadi tersenyum, berterima kasih, menyembah Ayu dan masuk kedalam pohon kelapa tadi.

Saat bertemu si dosen dan ditanya apa di pohon kelapa pernah ada kejadian, dosen menjelaskan bahwa dahulu anak sipemilik rumah yang kemudian rumahnya dibeli dosen itu “bunuh diri” di pohon tersebut. Astaghfirullah. Saat ditanyakan kepada Romo tentang ruh penasaran tadi, dijelaskan bahwa ruh orang yang bunuh diri tidak bisa kemana-mana, dia akan tersiksa terus menerus ditempat dia bunuh diri. Pengalaman bertemu dengan ruh penasaran juga terjadi beberapa kali, bahkan ada yang mengikuti wujudnya setengah badan, terbang disamping mobil sambil merintih-rintih meminta didoakan.

Kemudian setelah tiga bulan, Ayu kembali dibawa penulis ketempat Romo, ternyata ada suatu acara “haul”, banyak berdatangan kiai dari pesantren-pesantren dari Banten, Garut, Tasikmalaya, sedang melakukan “pengukuhan”. Disebelah romo yang berpakaian gamis dan bersorban, terdapat sebuah kursi kosong, kemudian Ayu yang diharuskan memakai pakaian hijau-hijau maju kemuka Romo, bertapa terkejutnya dia, melihat ada wanita yang sangat cantik dan sangat berwibawa berpakaian seperti putri raja sedang duduk dikursi kosong tadi, sorot matanya sangat tajam menusuk, menurut Ayu mukanya mirip-mirip “Chintami Atmanegara”. Putri tadi tersenyum dan memegang dan mengelus-elus kepala Ayu.

Setelah acara selesai, Romo menjelaskan bahwa dari sekian banyak yang hadirpun tidak ada mampu melihatnya. Putri tadi adalah “Kanjeng Ratu Amanah”, dia dialam gaib dia adalah ibunda dari Ayu (Ratu Ayu Delifah). Wah, bukankah Kanjeng Ratu Amanah itu Ratu Segoro Kidul atau Nyi Loro Kidul?.

Setelah kembali ke Jakarta, Ayu kembali kekehidupan normalnya, frekwensi gaibnya tertutup tetapi Romo menjelaskan bahwa sudah takdirnya, nanti pada umur 26 mata batin itu secara otomatis akan terbuka sendiri, tapi diharapkan secara kedewasaan mental sudah matang. Kini, Ayu berumur 25 tahun, sudah menjadi sarjana, dan berkerja di sebuah perusahaan, hatinya lembut, bersih, bahkan agak terlalu halus dan perasa. Kalau mendengar penjelasan Romo maka pada tahun depan mata batinnya kembali akan terbuka. Mudah-mudahan stabilitas mentalnya sudah jauh lebih mapan dalam menerima karunia Allah tersebut.

Kira-kira setahun yang lalu Romo meninggal dunia, dan dua bulan setelah wafat, disuatu malam sekitar jam setengah tiga ruhnya membangunkan Ayu. Ayu sangat terkejut, memeluk kaki Romo dan menangis, menyadari bahwa yang datang adalah ruh suci. Romo yang terlihat sangat bersih, berbau sangat wangi, sewangi parfum arab, berpakaian gamis putih, bersorban dan memakai selendang hijau yang dikalungkan dileher dengan tulisan arab “La ilaaha illallaah” menuntun Ayu untuk sholat tahajud dan berzikir. Beliau memesankan jangan meninggalkan sholat lima waktu, berzikir dan berdoa serta selalu mendengar apa kata orang tua agar mendapatkan ridho, itulah pesannya.

Pembaca, apa hal terpenting? Dari yang disampaikan Agus Mustofa, bahwa orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan adalah orang yang sesat. Allah tegas-tegas melarang orang untuk bunuh diri. Dikaitkan dengan pertemuan Ayu dengan “ruh penasaran”, jelas bahwa bunuh diri adalah jalan yang salah, jelas dilarang oleh Allah dan akibatnya ruh-nya akan tersiksa menangis terus menerus dengan kondisi rusak, terasa sakit yang amat sangat, menderita berkepanjangan menunggu hingga hari kiamat datang yang entah kapan. Penyesalan selalu berada diakhir tidak pernah berada dimuka. Ini yang perlu kita sadari.

Bagi kita yang masih hidup, diingatkan agar jangan lupa mendoakan orang tua, sanak keluarga dan kerabatnya, karena ternyata ruh-ruh orang yang sudah meninggal selalu membutuhkan dan menanti doa. Semoga tulisan ini bermanfaat, tidak ada maksud apapun, hanya memberikan sebuah penjelasan bagi kita yang masih hidup…agar tidak tergelincir mengambil jalan pintas dan akan merasakan akibatnya, merasakan kesengsaraan dalam waktu yang sangat lama, mungkin bermilyar tahun. Dia sudah ditetapkan Allah sebagai orang yang ”sesat”. Penulis memohon maaf atas segala kekurangan dalam tulisan ini, karena kekurang tahuan atas segala sesuatu dalam masalah gaib yang memang sangat tertutup itu.