Jumat, 10 Oktober 2008

WHERE HAS ALL THE MONEY GONE ?

Sumber : The Stock Capitalist - 5 Oktober 2008
Penulis : Prayitno Ramelan


Pagi ini saya menerima sebuah email dari rekan dr doddy, yang memberikan data dari stock capitalist, tentang krisis keuangan di AS. Subjectnya sangat popular di AS, where has all the money gone. Mengikuti kasus jatuhnya beberapa lembaga keuangan Amerika yang selama ini dikenal sebagai sebuah negara super power, orang biasa dan awam yang melihat krisis tersebut biasa-biasa saja. Ternyata krisis tersebut sangatlah menakutkan dan menggentarkan dunia. Semua bergetar, tidak ada yang tidak terimbas, karena kali ini gempa keuangan epicentrumnya dipusat kekuasaan Amerika Serikat. Kekuatannya melebihi 8 skala richter, hingga berpotensi akan menimbulkan gelombang tsunami diantero dunia.

Periode pemerintahan di AS yang hampir berakhir dan masih dipimpin oleh Presiden George W. Bush dari Partai Republik kini sedang menerima ujian kredibilitas penyelamatan krisis keuangan. Demikian besarnya kerugian lembaga-lembaga keuangan di AS, yang selama ini sangat sulit diperkirakan akan terjadi. Melihat data-data kerugian Lembaga-lembaga keuangan AS tersebut, sulit dibayangkan berapa lama AS akan dapat kembali menstabilkan situasi dan mengembalikan uang yang hilang tersebut.

Ketua Kongres Nancy Pelosy telah melancarkan suatu kritik keras kepada CEO Lembaga Keuangan dan Wallstreet yang diperkirakan merupakan sumber malapetaka krisis di AS. Kritik keras Pelosy dinyatakan dalam bentuk pernyataannya “keserakahan para CEO”. Sebuah pernyataan yang sangat dalam dan lebih menjelaskan.

Pada saat Lehman Brother dan Nerrill Lynch jatuh, ada terpikir di benak penulis, Is this conditioning operation?

Serangan dan perang terhadap negara sebesar dan sekuat AS sulit dilakukan secara frontal, secara kwa kemampuan dan kualitas tidak ada yang mampu mengungguli, kecuali Rusia yang juga terus membina kekuatan “penyeimbang”. Ada beberapa sasaran disebuah negara yang bisa dihitung kerawanannya. Kerawanan adalah titik terlemah sebuah negara yang apabila dieksploitir maka negara tersebut akan lumpuh. Apakah AS akan lumpuh, mungkin tidak, AS terlalu kuat untuk lumpuh. Tetapi, paling tidak akan terganggu.

Salah satu teori pertahanan untuk menangkal sebuah serangan atau sebuah tekanan, adalah dengan membuat persoalan kepada lawan anda dititik rawannya. Maka dia sementara akan lupa kepada kita karena harus menyelesaikan persoalannya dahulu, semakin berat persoalan yang dihadapinya akan semakin turun tekanan kepihak kita. Kadang serangan terhadap suatu sasaran intelijen sering tidak terlihat sebagai serangan, dilaksanakan dengan cover yang ketat, hanya kemudian sasaran hancur tanpa diketahui penyebabnya. Semakin wajar hasil penghancuran, maka semakin berhasillah nilai serangan tersebut. Tetapi, ini hanyalah sebuah intelligence estimate yang didukung teori conditioning.

Apa yang dapat dipetik dari krisis di AS tersebut? Diperlukan kehati-hatian bagi para penyelenggara negara ini, setiap saat kitapun harus waspada dengan kemungkinan serangan. Serangan bisa terjadi dilini manapun. Kini dengan penerapan reformasi demokrasi, terjadi keributan di Maluku Utara dengan dilantiknya Gubernur yang baru, pihak yang kalah tidak menerima keputusan pemerintah tersebut. Kasus serupa juga terjadi pada beberapa pilkada lainnya.Ini adalah ekses dari penerapan reformasi demokrasi.

Apakah kita akan begini terus? Kita harus hati-hati dan waspada, pilpres 2009 semakin dekat, kalau kondisi mental konstituen tetap seperti sekarang, siapkah aparat keamanan menangani kerusuhan yang mungkin terjadi seperti di Maluku Utara, tetapi berskala Nasional. Kasihan rakyat kecil yang selalu dijadikan alat dalam keributan, sangat berdosa sekali kalau kita membuat alasan demi demokrasi atau konsolidasi demokrasi.

Kasus AS jelas berimbas ke Indonesia, diperlukan kehati-hatian bagi penyelenggara negara, jelas banyak spekulan yang akan menangguk diair keruh. Semoga kita dapat melalui imbas krisis yang melanda dunia ini dengan selamat.

Data dari stock capitalist dengan judul “Worth of US Companies” :

* A I G - Then: $178.8 billion… Now: $5.46 billion. Down 96.95%.
* Bank of America - Then: $236.5 billion… Now: $123.4 billion. Down 47.82%.
* Citigroup - Then: $236.7 billion… Now: $76.34 billion. Down 67.75%.
* Merrill Lynch - Then: $63.9 billion… Now: $30.2 billion. Down 52.74%.

* Fannie Mae - Then: $64.8 billion… Now: $0.45 billion. Down 99.3%
* Morgan Stanley - Then: $73.1 billion… Now: $41.1billion. Down 43.78%
* Wachovia - Then: $98.3 billion… Now: $19.44 billion. Down 80.22%
* JP Morgan Chase - Then: $161 billion… Now: $130.2 billion. Down 19.13%

* Capital One Financial - Then: $29.9 billion… Now: $16.9 billion. Down 43.48%
* Washington Mutual - Then: $31.1 billion… Now: $3.64 billion. Down 88.3%
* Lehman Bros. - Then: $34.4 billion… Now: $0.80 billion. Down 97.6%
* Goldman Sachs - Then: 97.7 billion… Now: $40.6 billion. Down 58.7%

* Wells Fargo - Then: $124.1 billion… Now: $111.25 billion. Down 10.35%
* National City - Then: $16.4 billion… Now: $2.8 billion. Down 83%
* Fifth Third Bancorp - Then: $18.8 billion… Now: $7.9 billion. Down 57.6%
* American Express - Then: $74.8 billion… Now: $37.5billion. Down 43.78%

* Freddie Mac - Then: $41.5 billion… Now: $0.16 billion. Down 58.7%
* Suntrust Banks - Then: $27 billion… Now: $16.07 billion. Down 58.7%
* BB&T - Then: $23.2 billion… Now: $18.4 billion. Down 20.69%
* Marshall & Ilsley - Then: $11.6 billion… Now: $4.48 billion. Down 61.3%

* Keycorp - Then: $13.2 billion… Now: $5.68 billion. Down 56.97%
* Legg Mason - Then: $11.4 billion…Now: $4.96 billion. Down 56.49%
* Comerica: Then - $8.3 billion…Now: $4.74 billion. Down 42.89%
* Countrywide Financial - Then: $11.1 billion…Now: $0.00 billion. Down 100%
* Bear Stearns - Then: $14.8 billion…Now: $ 0.00 billion. Down 100%.

Together these 25 companies have lost investors a total of$992,690,000,000 over the last 12 months… or nearly USD 1 trillion…

2 komentar:

Junanto Herdiawan mengatakan...

where has all the money gone? ke bawah bantal oom. Yang terjadi sekarang adalah "loss of confidence, regardless the fundamental". Itulah saat dimana pasar panik melikuidasi asset2 keuangan mereka.

Pelajaran dari krisis AS, sektor keuangan yang selama ini terlihat besar dan megah, tak lebih dari sekedar buih yang rapuh. Di sinilah kebijakan ekonomi kita perlu belajar, untuk lebih memerhatikan sektor riil, petani, nelayan, dan umkm. Di sanalah kekuatan kita.

opini-prayitno.ramelan mengatakan...

Iya ya...bener juga kebawah bantal, kebawah kasur...Rasanya kini orang punya uang banyakpun rasanya tidak aman. Nyimpan di Bank di Indonesia yg dijamin hanya 100 juta, mau nyimpan di Bank asing banyak yg bangkrut. Nah dari kasus krisis di AS yg mengakibatkan loss of confidence tadi ternyata kemegahan yg nampak bukanlah sesuatu yg hebat. Seperti kasus terjadinya musibah angin tornado, puting beliung, tsunami, manusia harusnya kembali merenungkan musibah keuangan yg membuat banyak orang mendadak miskin...inilah peringatan Allah yg harus juga disikapi dengan pendekatan kesabaran, keikhlasan, agar dijauhkan dai kesombongan...agar kita selamat. Tks tanggapannya ya Mas Junanto.